Inovasi membedakan siapa yang jadi pemimpin, siapa yang jadi pengikut.
Steve Jobs, Pendiri Apple Corporation

Nokia sempat jadi raja. Kemudian turun tahta. Karena satu saja kesalahan kecil. Gagal mengambil keputusan penting, dikala arus perubahan akibat revolusi teknologi begitu cepat menyapu siapa saja yang tak mampu berinovasi.

Dulu Nokia memimpin pasar. Dipasarkan di lebih dari 130 negara. Menurut perusahaan riset teknologi informasi Amerika Serikat, Gartner Inc, Nokia menguasai 50,8 persen pangsa pasar ponsel dunia pada kuartal kedua 2007. Lebih dari separuh pasar dunia.
Fantastis bukan? Siapa yang bisa melawan Nokia?

Saat itu semua orang menduga Nokia akan tetap jadi raja.

Tapi tidak. Sistem operasi baru bernama Android menjadi kerikil yang menggulingkan Nokia dari tahta penguasa pasar ponsel.

Ketika perusahaan ponsel lain sibuk bereksperimen dengan sistem operasi Android, Nokia masih nyaman dengan sistem Symbian miliknya.

Kenapa Nokia kekeuh tak melirik Android?

Chairman Nokia, Risto Siilasmaa sempat menuliskan kisahnya melalui buku ‘Transforming Nokia: The power of paranoid optimism to lead through colossal change‘. Dia mengaku sudah mengusulkan penggunaan Android sejak 2009. Tapi tak direspon dengan baik. Alih-alih hijrah dari Symbian ke Android yang sedang digandrungi pasar, Nokia malah memilih Sistem Operasi Windows Phone yang belum teruji.

Pilihan yang berbeda dari perusahaan ponsel kebanyakan.

Apakah salah?

Sebenarnya tidak. Berbeda justru bagus. Produk Anda bisa punya diferensiasi. Tapi syaratnya, harus lebih unggul dari pesaing.

Keputusan itu harus dibayar mahal. Penjualan Nokia jatuh. Gartner Inc mengungkapkan, pangsa pasar Nokia turun drastis menjadi 25,5 persen pada kuartal pertama 2011. Nilai perusahaan juga ikut anjlok. Dari 29,5 miliar Euro menjadi 11 miliar Euro. Hanya dalam waktu 3 tahun.

Puncaknya, pada tahun 2014 Nokia dijual murah ke Microsoft. Hanya 5,4 miliar Euro. Atau sekitar Rp 79 triliun.

Andai saja sejak awal perusahaan ini mampu melihat dan menganalisa perubahan dengan inovasi yang tepat, mungkin Nokia masih jadi pemimpin di pasar. Tak harus pakai Android.

Apa saja. Asal lebih baik.

Perusahaan pelopor kamera dari Amerika Serikat, Kodak juga sama. Bahkan nasibnya cenderung lebih tragis.

Kodak adalah pionir industri produk fotografi. Lebih dari 130 tahun. Dari Kodak lah kita kenal fotografi. Sampai-sampai, ada masanya ketika kita menyebut kamera dengan sebutan Kodak.

Lalu di mana Kodak saat ini?

Bangkrut. Kalah saing dengan industri fotografi digital. Tanggal 19 Januari 2012, Kodak mengajukan permohonan perlindungan kepailitan.

Tahu kenapa?

Kodak gagal mengantisipasi perubahan di era teknologi digital. Padahal ide fotografi digital itu justru datang dari dalam Kodak sendiri.

Kok bisa?

Seorang karyawan Kodak, Steven Sasson adalah penemu cikal bakal teknologi fotografi digital. Dia mempresentasikan temuannya kepada Kodak tahun 1977. Namun alih-alih tertarik, teknologi itu ditolak mentah-mentah oleh Kodak.

“Teknologi cetak telah hidup bersama kami selama lebih dari 100 tahun, tak ada siapapun yang mengeluh tentang cetak. Selain itu, cetak juga murah. Mengapa orang-orang kemudian menginginkan melihat gambar mereka melalui televisi?” kata petinggi Kodak saat itu.

Coba Anda bayangkan, ide yang begitu visioner, demikian inovatif, tapi ditanggapi sangat dingin. Kodak gagal menangkap kesempatan emasnya untuk sekali lagi mengukuhkan diri sebagai pionir.

Andaikata inovasi Sasson ditangkap dan diakomodir menjadi bagian dari riset dan pengembangan Kodak, mungkin kita masih akan melihat kamera Kodak saat ini. Mungkin pula Kodak masih menjadi pemimpin pasar fotografi. Tapi sekarang kita tak lagi mendengar nama Kodak. Kita kenalnya Nikon, Canon, Olympus, Leica, Fuji Film dan kawan-kawannya.
Kodak? Tenggelam.

Lagi-lagi pilihan yang salah. Kursi empuk menjadi sang raja sering lupa untuk membuat keputusan yang mungkin bisa merubah masa depan.

Perusahaan Anda bisa jadi pemimpin atau tidak, bukan ditentukan oleh takdir. Tapi karena pilihan Anda sendiri. Pilihan dalam membuat keputusan yang kritikal. Dan pilihan yang harus diambil adalah, jangan berhenti berinovasi.

Anda harus sadar, inovasi bukan tuntutan, tapi keharusan. Harus dilakukan berkesinambungan dan terus menerus. Tidak boleh berhenti. Begitu berhenti, Anda tenggelam. Hanya akan jadi bagian dari masa lalu. Seperti Kodak dan Nokia.

Kami menyadari hal itu. ATB telah menentukan dirinya untuk jadi pemimpin industri pengolahan air bersih di Indonesia. Itu pilihan kami. Hal ini sesuai dengan misi kami “menjadi benchmark perusahaan air minum terbaik di Indonesia”. Dan ATB berkomitmen untuk mencapainya.

Apa yang kami lakukan?

Sekali lagi inovasi. Dalam hal ini, ATB melakukan inovasi berbasis sistem informasi, diantaranya membangun Roadmap IT dan IT Blue Print sejak tahun 2009. ATB bahkan melakukan pemetaan sendiri untuk membuat peta Geographic Information System (GIS). Saat itu, peta pulau Batam secara detail memang belum ada di Google Map.

Saat ini, peta ATB bahkan mungkin lebih lengkap dari Google Map. Kaget kan?

Apalagi yang berkaitan dengan seluruh pelanggan ATB. ATB punya semua data informasi tentang pelanggan, mulai dari nama, alamat, nama perusahaan, pola pemakaian air, tagihan, hingga jenis keluhan. Ada yang mau cari info? Bayar cepek dulu..

ATB membangun sistem berbasis informasi sebagai bagian dari inovasi berkelanjutan. Inovasi ini memungkinkan ATB mendapatkan insight atau wawasan dalam bentuk informasi-informasi berkelanjutan.

Historical Data yang dikumpulkan ini diolah melalui analisa Big Data. Yang pada akhirnya membuat ATB mampu mempelajari pola, dan kebiasaan, sehingga bisa memprediksi masa depan. Melihat potensi kerusakan, potensi kebocoran, dan banyak hal lainnya.

Dengan demikian, ATB bisa melakukan langkah-langkah antisipasi. Bukan hanya bergerak reaktif. Karena dengan langkah antisipatif, ATB mampu meminimalisir potensi masalah.

Andaikata ATB hanya bergerak reaktif, maka penyelesaian masalah akan sangat lamban.
Tapi kalau bocor kena tabrak mobil ataupun back hoe, itu tentu di luar jangkauan ATB. Meski bisa diprediksi, terkadang ada hal lain di luar kontrol kita.

Contohnya ya kecelakaan tadi. Atau hal ketersediaan air baku. Air baku merupakan domain pemerintah. ATB sudah kasih insight tentang potensi krisis kekurangan air baku di masa depan. Selanjutnya tergantung pada respon dan kesadaran mereka, akan menjadi seperti apa Batam dimasa depan adalah keputusan yang juga harus diambil oleh mereka.

Kembali ke inovasi sistem berbasis inovasi ATB. Sistem ini kami buat karena ATB menentukan dirinya untuk menjadi pemimpin. Dan terbukti berhasil mengantarkan ATB menjadi leader.

Parameternya apa?

Saat ini cakupan pelayanan ATB telah mencapai 99,7 persen. Kebocoran sekitar 16,6 persen. Kontinuitas pengaliran 23.7 jam perhari dan Rasio karyawan perseribu pelanggan cuma 2,14. Itu adalah parameter ATB menjadi yang terbaik di Indonesia. Dan saat ini tidak ada lawannya di Indonesia!

Apakah ATB puas?

Tidak. Kami masih terus menerus berinovasi. Jika kami berhenti berinovasi untuk mengantisipasi perubahan, maka suatu saat ATB akan jadi pengikut. Tapi itu bukan pilihan kami.

Sekarang mari kita buktikan, apakah ada perusahaan air minum yang lebih baik dari ATB di Indonesia? Mari kita pikirkan.

Salam Kopi Benny. (*)

 

Ir Benny Andrianto, MM
Presiden Direktur PT ATB