batampos.co.id – Gundala sosok komik yang melegenda pada tahun 1980-an.

Sutradara Joko Anwar mengengkatnay dalam sebuah film. Lewat film ‘Gundala’, banyak pesan moral yang disampaikan oleh Joko Anwar.

Dimulai dari kisah Sancaka kecil yang diperankan oleh Muzakki Ramdhan yang berjuang sejak kecil setelah ditinggalkan orang tuanya. Nilai keluarga di mana Sancaka sayang dengan kedua orang tuanya juga menjadi pesan bagi publik.

Joko Anwar mengakui selalu menyelipkan kisah keluarga di dalam setiap filmnya. Dia ingin memberi pesan pentingnya keluarga untuk membentuk karakter dan moral seseorang.

“Memang film-film saya banyak bercerita tentang keluarga. Sancaka tumbuh seperti itu karena sosok ayah meninggal dan ibunya meninggalkannya,” ujar Joko Anwar dalam konferensi pers Gala Premiere Film Gundala di Epicentrum, Jakarta, Rabu (28/8)..

Begitu juga ada cerita tentang kesenjangan para elit dan masyarakat kecil seperti pedagang pasar yang diceritakan dalam film tersebut. Joko Anwar membuat jalan ceritanya sangat relevan dengan apa yang terjadi dewasa ini di negara Indonesia.

“Memang sengaja dibuat sedih, jangan sampai nangis ya. Jadi memang semua jalan ceritanya harus personal, kami buat karakter relevan dengan Indonesia sekarang. Pumya tokoh Gundala yang besar banget, dikenal semua orang,” paparnya.

Sutradara film ‘Pengabdi Setan’ itu berusaha menyuarakan isu-isu kekinian yang dihadapi masyarakat. Terutama sindiran bagi kesenjangan elit dan rakyatnya.

“Salah satu di Indonesia, menyuarakan isu yang memang riil. Kami enggak bisa seperti Marvel yang melawan Alien dan lain-lain. Kami bikin yang sesuai di Indonesia saat ini,” ujarnya.

Tahun ini merupakan ulang tahun ke-50 karakter ciptaan Harya Suraminata (Hasmi) tersebut. Gundala pertama kali muncul dalam komik Gundala Putra Petir (Penerbit: Kentjana Agung, tahun rilis 1969). Gundala lahir di saat maraknya komik silat di pasaran, Hasmi bersama beberapa rekannya malah tampil dengan gaya berbeda, mengadaptasi komik asing namun diserap dengan kearifan lokal.

“Pak Hasmi yang dulu bikin komik atau para penulis komik, barangkali di zaman itu mereka ingin sekali bersuara tapi tidak punya kebebasan. Makanya mereka buat satir. Nah di saat ini kami punya kebebasan, saya manfaatkan itu,” tutur Joko Anwar.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan sosok patriot di mana era saat ini membentuk seseorang menjadi lebih egois. Banyak orang acuh tak acuh saat melihat orang lain sulit atau mengalami kejahatan.

“Orang Indonesia itu dari top sampai bottom, mementingkan diri sendiri. Orang kaya bisa lepas dari hukum karena punya uang. Yang bawah juga merasa boleh langgar hukum karena demi punya uang. Jiwa patriot sangat jarang di Indonesia. Banyak orang enggak peduli. Seperti Sancaka yang awalnya mendiamkan ketidakadilan. Maka film ini sangat relevan untuk dikenalkan saat ini di tahun ini,” tegasnya. (JPC)