“Bukan berapa banyak yang kita berikan, tapi berapa banyak cinta yang kita masukkan ke dalam sebuah pemberian” (Bunda Theresa)

Tak sedikit perusahaan yang langsung alergi kalau dengar kata Corporate Social Responsibility (CSR). Tanggungjawab Sosial Perusahaan. Dalam benaknya, mereka terpaksa harus menyisihkan profitnya untuk hal-hal yang tak produktif.

Biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk program CSR dianggap tak mendatangkan nilai tambah bagi perusahaan. Hanya jadi beban.

Kenapa demikian?

Dulu CSR dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab perusahaan terhadap kerusakan lingkungan yang ditimbulkan perusahaan. Contohnya perusahaan tambang.

Alih-alih untuk berkontribusi, program CSR malah sering dimanfaatkan untuk greenwashing. Menjaga eksistensi agar tak didemo atau dikomplain masyarakat akibat perusakan lingkungan.
Nah, perusahaan yang merasa tak berkontribusi merusak lingkungan tak menganggap CSR sebagai bagian dari tanggungjawab mereka. Karena itu program CSR dilakukan dengan ogah-ogahan.

Tapi apa benar program CSR itu merugikan?

Tak juga. Justru kalau Anda ingin perusahaan berumur panjang, maka program CSR menjadi jawabannya.

Lihat saja Microsoft, yang menggelontorkan miliaran Dollar tiap tahun melalui program CSR. Mereka membantu riset untuk penyembuhan kanker, pendidikan, pengembangan pertanian, dan membantu menjawab isu-isu sosial lainnya.

Apakah Microsoft merusak lingkungan sampai harus mengeluarkan biaya besar untuk program CSR? Tidak.

Apakah Microsoft jadi rugi dan bangkrut karena CSR nya royal sekali? Kita bisa lihat sendiri. Perusahaan ini masih berdiri kokoh.
Bahkan Bill Gates sebagai pemilik Microsoft masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia. Melalui yayasannya, dia menyumbangkan harta kekayaannya untuk kepentingan sosial. Terbaru, dia membayarkan hutang Nigeria kepada Jepang senilai Rp 950 miliar.
Tapi Bill Gates dan Microsoft tidak rugi. Bahkan semakin dicintai.

CSR menjadi bagian dari program branding perusahaan di masa kini. Perusahaan yang memiliki program CSR yang baik, biasanya akan langgeng. Semakin berumur panjang. Karena masyarakat merasa perusahaan itu menjadi bagian dari masyarakat.

Sementara yang tak memasukkan CSR sebagai bagian dari program, selain bisa dikatakan perusahan itu tidak etis, maka dia akan sulit bertahan dalam jangka panjang.

Lalu kapan perusahaan harus mulai melakukan program CSR?

Apakah harus nunggu besar dulu? Harus nunggu eksis? Tidak.

ATB sudah melakukannya sejak lebih dari 9 tahun lalu. Kami sadar bahwa ATB adalah bagian dari Batam. Sehingga harus berkontribusi memberikan kredit poin bagi masyarakat.

Karena itu, ATB harus punya program CSR yang didesain sedemikian rupa, sehingga memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat.

Kami punya program CSR di berbagai lini. Mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, sosial, dan olahraga. Kami beri tajuk

“ATB Peduli”. Karena kami tidak merasa CSR sebagai bentuk paksaan. Tapi kepedulian.

Program-program yang kami jalankan telah menjadi bagian dari masyarakat Batam. Selalu ditunggu-tunggu. Bukan karena jumlah uang yang besar, namun karena hubungan kami yang semakin dekat dengan masyarakat Batam.

Implementasinya pun bertepatan dengan hari besar. Sehingga jadi momentum yang tepat untuk bisa memaknainya dengan CSR kami.

Untuk pendidikan misalnya. Kami punya program beasiswa dan cerdas cermat. Program ini menjadi bentuk tanggungjawab sosial ATB untuk membuat masyarakat Batam lebih teredukasi.

Berapa besar uang yang dikeluarkan untuk program ini? Tidak besar juga. Tapi usaha untuk melakukan dan mengemas CSR ini dengan sungguh-sungguh yang jarang ditemukan.

Kegiatan lomba cerdas cermat dan lomba jingle, misalnya, selalu dinantikan oleh sekolah-sekolah yang ada di Batam. Momennya pun pas. Hari Sumpah Pemuda. Tak hanya ber-CSR, ATB pun mengajak peserta mengingat momen bersejarah. Persiapan mereka untuk lomba ini bahkan dilakukan 6 sampai 7 bulan sebelumnya.

Kenapa sampai segitunya?

Karena program ini dianggap memberikan nilai tambah bagi sekolah. Pemenang lomba Jingle dan lomba cerdas cermat ATB menjadi tolak ukur sekolah favorit. Ini bagian yang luar biasa. Program CSR ATB telah menjadi ikon seperti itu ditunggu-tunggu.

Gak kebayang kan?

Program “ATB Peduli Sosial” juga dinanti. Saya ingat cerita salah satu manager saat menyerahkan hewan kurban jelang Idul Adha, beberapa waktu lalu. Ternyata sebelum ATB, sudah ada perusahaan utilitas yang menyerahkan hewan kurban. Jumlahnya fantastis. Puluhan.

Namun menurut penuturan masyarakat, mereka lebih antusias menyambut ATB. Karena hewan kurban yang akan diserahkan, diantarkan langsung oleh direksi dan jajaran manajer ATB.

Kami sadar, program CSR harus dijalankan dengan hati. Karena itu, apapun programnya, kami mengantarkan dengan hati. Sampai ke masyarakat. Itu membuat program CSR ATB beda banget.

Masih ingat Festival Hijau di bulan Juli lalu?

Kalau hanya menanam bibit pohon, perusahaan lain mungkin bisa. Di Festival Hijau, kami konsep dengan cara lain. Bersinergi dengan banyak pihak, baik komunitas pecinta lingkungan, pemerintah, maupun komunitas pesepeda, ATB kemas CSR tersebut melalui kegiatan sepeda santai.

Di momen Hari Lingkungan Hidup sedunia, pesepeda diajak untuk melihat langsung kondisi waduk dan hutan Sei Harapan, sekaligus bersama-sama menanam bibit pohon. Dengan begitu, ada keberlanjutan. Kesadaran menjaga lingkungan dan sumber daya air akan terpatri di masyarakat Batam.

Selepas penanaman pun, kami masih bersinergi. Merawat dan memastikan agar pohon-pohon tersebut tumbuh dengan baik. Inilah yang kami sebut CSR dengan hati.

Siapa yang tak tahu ATB Cup Futsal Championship?

Bukti bakti ATB di bidang olahraga, bertepatan Hari Air Sedunia. Gaungnya pun menggema hingga se-Pulau Sumatera. Jadi ajang futsal yang paling dinanti di Kepri, tak hanya untuk tim nya, tetapi juga supporternya.

Kita harus sadar, eksistensi perusahaan tak melulu diukur dari seberapa besar profitnya. Tapi seberapa besar perusahaan itu dicintai karena memberikan kontribusi kepada masyarakat dan lingkungannya.

Sayangnya, kesadaran ini tidak dimiliki oleh kebanyakan perusahaan. Di Batam misalnya. Ada banyak perusahaan multinasional yang berdiri di kota ini. Baik swasta, maupun milik pemerintah.

Omzetnya fantastis. Namun berapa besar dampak program CSR yang telah dinikmati masyarakat?

Andaikata penerapan program CSR ini bisa diimplemetasikan dengan sinergi, maka dampaknya pasti sangat luar biasa.

Peningkatan kualitas di berbagai sektor akan sangat terasa.
Contohnya saja hotel. Ada sekitar 200 hotel di Batam. Jika mereka bersinergi, maka akan jadi kekuatan yang dahsyat.

Namun apakah perusahaan-perusahaan yang tak memberikan CSR itu memiliki kesadaran dan kepedulian yang sama? Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)

 

Ir Benny Andrianto, MM
Presiden Direktur PT ATB