Banyak orang bisa hidup tanpa cinta, tapi tidak ada satu orangpun yang bisa hidup tanpa air. (Anonim)

Air Bersih Semakin Langka. Potensi Gagal Panen Miliaran Rupiah. Daerah Jawa Dilanda Kekeringan. Upaya Cegah Gagal Panen – Air Waduk Menyusut. Kekeringan Landa Tujuh Provinsi, Paling Parah di NTT. Derita Akibat Kekeringan: Warga Membeli Hingga Pakai Air Kali.

Rangkaian judul-judul berita seperti itu marak ditampilkan sejumlah media massa. Hampir dua bulan terakhir ini.
Kompas bahkan menampilkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam sebuah infografis.

Informasi itu menyebutkan, bencana kekeringan melanda 2.620 desa di 758 Kecamatan, di 101 Kabupaten/Kota.

Ada wilayah yang sudah 100 hari tidak mengalami hujan. Di NTT ada satu wilayah yang sudah 157 hari tidak mengalami hujan.

Lebih jauh, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sekitar 97 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Kemarau panjang ini diperkirakan berakhir perlahan mulai Oktober sampai Desember.

Beberapa wilayah sudah berstatus tanggap darurat. Artinya, ancaman bencana yang terjadi sudah mengganggu kehidupan masyarakat. Ini terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.

Lebih parah lagi, sudah ada yang ditetapkan berstatus siaga darurat. Ancaman bencana kekeringan sudah mengarah kepada bencana. Beberapa daerah yang sudah siaga darurat antara lain Kabupaten Brebes, Purworejo, Blora, dan Lumajang.

Saya gak kebayang, kenapa hal ini bisa terjadi. Ke mana air yang selama ini berlimpah? Bukankah ketika musim hujan tiba, sumber air berlimpah? Bahkan banjir di mana-mana. Tapi saat kemarau tiba, sumber air yang tadinya melimpah, mendadak kering.

Masalahnya di mana?

Masalahnya adalah manajemen tata kelola air di Indonesia – termasuk Batam, belum dijalankan dengan baik. Ketika hujan berlimpah-limpah, kita banjir. Air terbuang ke mana-mana. Menggenangi, menenggelamkan, dan menjadi musibah. Ketika musim kemarau, air hilang. Kekeringan. Musibah juga.

Artinya kita gagal menjaga ketersediaan air di musim kemarau. Padahal tadinya di musim penghujan melimpah. Kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah. Apalagi jika terjadi Elnino akibat hujan tak turun dalam jangka waktu yang panjang.

Kondisi Batam lebih menyedihkan. Daerah ini tak seberuntung Jawa atau daerah lain, yang punya sumber air melimpah. Batam tak punya sumber air yang cukup. Tak ada sungai, atau mata air, atau air tanah yang secara ekonomis bisa menunjang kebutuhan hidup bagi masyarakat banyak.

Satu-satunya yang menjadi tulang punggung hanyalah curah hujan yang ditampung di 5 Dam. Itupun 70 persen sumber air ditampung di Dam Duriangkang yang dulunya air laut.

Jadi bisa Anda bayangkan, betapa butuhnya daerah ini dengan air hujan. Karena cuma itu harapan satu-satunya.

Beruntungnya, air bersih di Batam dikelola dengan manajemen operasi yang efisien. Air baku yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan. Dan pendistribusian dikontrol sedemikian rupa menggunakan perangkat Informasi Teknologi.

Kebocoran ATB ada di angka 16,7 persen setahun. Paling rendah di Indonesia. Dengan efisiensi itu, Batam masih mendapatkan layanan air yang baik, meskipun di kota lain sudah mengalami kekeringan dan kesulitan air.

Seandainya tingkat kebocoran Batam berada di atas 20 persen – seperti kebanyakan PDAM di kota lain, mungkin air di Batam sudah habis sejak dulu.

Tapi, sampai berapa lama ini bertahan?

Saya kasih bocoran. Sebenarnya ketersediaan air yang ada di Batam sudah mencapai titik yang relatif kritis. Cadangan air baku di Batam saat ini adalah 3.850 liter/detik. Sekitar 3.500 liter/detik sudah dikelola. Artinya cadangan air di Batam hanya tersisa 10 persen.

Sudah hampir 25 tahun – dari tahun 1995, tidak ada tambahan cadangan air baku yang bisa menjamin Batam bisa bertahan hingga 50 tahun lagi.

Anda tahu berapa perkiraan tambahan kebutuhan air Batam dalam 50 tahun mendatang? Setidaknya 5.000 liter/detik.

Kondisi ini diperburuk lagi dengan kualitas Daerah Tangkapan Air (DTA) yang turun. Terjadi alih fungsi lahan yang masif di DTA kita. Anda harus sadar, ketika DTA rusak, tinggal tunggu waktu saja sampai Batam menghadapi musibah besar.

Baru-baru ini kami menggandeng pemerintah untuk mengajak masyarakat Batam melihat hutan di DTA Sei Harapan melalui kegiatan tanam pohon di Festival Hijau 2019. Mungkin Anda salah satu yang ikut kegiatan tersebut. Banyak yang kaget melihat hutan di sana.

Kenapa?

Pemandangan yang disajikan sudah jauh dari harapan kita bersama. Warna hijau yang sejatinya menghiasi bukit-bukit sudah jarang terlihat. Pohon-pohon sudah jarang. Beberapa titik sudah gundul.

Pemandangan di beberapa area juga cukup menggelisahkan. Ada pohon-pohon yang sudah gosong. Entah sengaja dibakar, atau terbakar alami. Apapun alasannya, kondisi DTA Sei Harapan sudah tak asri lagi. Tak lagi bisa diandalkan untuk mendukung tangkapan air.

Batam juga punya Duriangkang. Dam Estuari yang dibangun dengan membendung laut. Inilah harapan terbesar di Batam saat ini. Sekitar 70 persen kebutuhan air di Batam dipasok melalui dam tersebut. Tapi apakah kondisinya lebih baik dibanding Sei Harapan?

Mari saya ajak imajinasi Anda menjelajah Duriangkang. Jika Anda masuk ke dalam hutan Duriangkang melalui pos penjagaan di depan perumahan Legenda Malaka, maka Anda akan langsung menjumpai perkebunan rakyat.

Pohon-pohon yang seharusnya berjajar rapat sudah diganti dengan barisan tanaman singkong, jagung, serai, pepaya, dan tanaman bernilai ekonomis lainnya. Terik matahari sudah terasa hingga ke tanah, karena dedaunan rindang sudah tak ada lagi.
Ini membuktikan, kesadaran terhadap ketersediaan air masih sangat-sangat rendah. Tak cuma kesadaran masyarakat umum. Juga pemerintah. Komitmen menjaga air di masa depan masih sangat kecil.

DTA rusak karena tidak dijaga. berubah menjadi daerah hunian, perkebunan, tambang ilegal, dan aktifitas ilegal lainnya. Ini sudah jadi rahasia umum. Semua pihak tahu. Tapi dibiarkan.

Mereka cenderung meremehkan dan menunggu hingga musibah terjadi, baru bereaksi. Kejadian ini terus berulang, tapi tak pernah ada progres untuk memperbaiki.

Siapa yang harus bertanggungjawab?

Sudah jelas-jelas Batam tak punya sumber air yang memadai, kecuali air hujan. Seharusnya ada kebijakan yang pro terhdap upaya konservasi air baku. Saya memperkirakan, setidaknya ada 5 kebijakan strategis yang harusnya dijalankan.

Pertama, tetap menjaga DTA sebagaimana fungsinya. Artinya, jangan ada alih fungsi lahan yang bisa merusak tata kelola air.

Dua, menjaga setiap buangan air yang masuk ke dalam wilayah Dam. Buangan-buangan itu harus sudah di-treatment. Ini penting guna menghindari penurunan kualitas dan proses pendangkalan di Dam.

Ketiga, membatasi industri yang menggunakan banyak air. Seperti pengolahan limbah plastik, daur ulang kertas, dan lain sebagainya. Industri-industri seperti itu tidak cocok dengan kondisi keterbatasan air yang ada di Batam.

Keempat, jangan membiarkan air hujan dengan segera melimpah ke laut. Harus ada sistem yang dibangun agar air hujan tidak terbuang sia-sia. Misalnya membangun embung-embung untuk menampung air. Sehingga air hujan berhenti sebelum sampai ke laut.

Kelima, menghemat air dengan menggunakan metode Reduce, Reuse, dan Recyle, atau yang lebih dikenal dengan 3R. Ini adalah salah satu cara yang bisa dijalankan agar Batam bisa bertahan seperti negara tetangga, Singapura. Singapura juga tak punya sumber air yang cukup, tapi mampu menopang kebutuhan air bagi warganya.

Jika Batam tak cepat mengambil langkah, bukan tak mungkin air akan semakin langka dan semakin mahal. Saya jadi ingat film Mad Max. Air jadi barang langka yang diperebutkan. Sama langkanya dengan sumber energi seperti minyak. Apakah kisah Mad Max akan jadi kenyataan di Batam, bahkan Indonesia?

Kita harus waspada. Butuh komitmen, konsistensi dan tanggungjawab buat masa depan air kita. Karena keberlanjutan akses terhadap air tidak terjadi dengan sendirinya. Sangat tergantung dari kesadaran kita untuk menjaga sumber air yang ada dan memanfaatkannya secara bijak.

ATB sudah memberikan kontribusi melalui banyak hal. Mulai dari program CSR – seperti penanaman pohon dan edukasi, juga dengan menjadikan dirinya sebagai perusahaan air bersih paling efisien di Indonesia.

Kami akan terus berkomitmen untuk terlibat aktif dalam upaya konservasi air. Komitmen ini akan kami wujudkan dalam program nyata.

Lalu bagaimana komitmen kita bersama? Mengapa alih fungsi lahan dan kerusakan di DTA masih terus berjalan? Akan jadi apa Batam 50 tahun lagi kalau ini tetap dibiarkan?

Mari kita pikirkan.

Salam Kopi Benny. (*)

 

Ir Benny Andrianto, MM
Presiden Direktur PT ATB