Ada kecukupan di dunia untuk kebutuhan manusia, tetapi tidak untuk keserakahan manusia. (Mahatma Gandhi) Batam ingin dikenal sebagai apa?
Jika pertanyaan itu muncul, apa jawaban Anda? Berbagai sudut pandang akan muncul. Jawaban Anda pasti hebat-hebat.
Mungkin ada yang akan menjawab ingin dikenal sebagai kota industri terkemuka di ASEAN. Ingin dikenal sebagai kota pariwisata paling diminati. Bandar dunia madani. Dan macam-macam jawaban canggih lainnya.
Tapi ketika pertanyaan itu disampaikan kepada saya, justru kekhawatiran yang muncul.
Bukan karena pesimis. Saya optimis. Namun ada beberapa fakta yang terlihat jelas dari sudut pandang saya, yang cenderung diabaikan oleh sebagian besar pihak.
Apa itu? Lingkungan. Lebih spesifik lagi, air bersih. Entah kenapa, pertanyaan itu justru mengarahkan ingatan saya kepada tragedi Minamata.
Nun jauh di teluk Minamata, Prefektur Kumamoto di Jepang. Tahun 1959. Tidak ada yang tidak tahu musibah yang menggemparkan ini.
Waktu itu, secara tiba-tiba penduduk Minamata mengalami gangguan kesehatan yang aneh.
Kejang-kejang, tidak bisa bicara dengan jelas, berjalan dengan terhuyung-huyung, lumpuh, koordinasi gerakan terganggu, dan gangguan fungsi kerja sistem syaraf lainnya.
Apa yang terjadi? Kena santet? Bukan. Waktu itu tak ada yang tahu mengapa kejadian tersebut mendadak terjadi.
Tapi setelah diteliti lebih dalam, ternyata mereka terpapar Mercury.
Tidak secara langsung. Tapi melalui ikan-ikan yang mereka makan. Kok bisa?
Musababnya adalah pencemaran yang dilakukan pabrik besar yang bernama Chisso.
Berdiri sejak tahun 1908. Pabrik ini membuang sampah Methyl-mercury ke teluk Minamata.
Inilah yang menjadi cikal bakal tragedi Minamata. Laut yang telah tercemar menyebabkan seluruh ikan dan hewan laut lainnya di teluk Minamata juga  tercemar.
Apa hubungannya sama penduduk Minamata? Anda harus tahu, penduduk Minamata itu doyan makan ikan.
Konsumsi ikan rata-ratanya adalah 3 kilogram perorang perharinya. Karena itu, lama kelamaan penduduk Minamata juga terpapar Mercury.
Hingga saat ini, hanya sekitar 2.900 korban yang diakui. Sementara itu ada lebih dari 60.000 orang hidup dengan gejala penyakit Minamata di Jepang.
Anda bisa bayangkan, 60 ribu orang hidup membawa penyakit akibat pencemaran lingkungan itu hingga hari ini. Bagaimana keadaan mereka?
Ada yang lumpuh, tak bisa bicara, keterbelakangan mental, dan lain sebagainya.
Akibat kejadian tersebut, nama Minamata akhirnya diabadikan menjadi nama penyakit.
Sindrom Minamata, yakni penyakit kelainan fungsi syaraf akibat terpapar Mercury.
Apa hubungannya dengan Batam? Kualitas air baku di Batam cenderung semakin memburuk.
Terbukti dari penggunaan bahan kimia yang semakin tinggi dalam pengolahan air baku.
Saya jelaskan hal teknis sedikit. Kualias air yang diolah ATB berpatokan pada standar World Health Organisation (WHO).
Untuk mencapai standar tersebut, maka penggunaan bahan kimia untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme dibutuhkan.
Ini juga sesuai dengan standar dari Kementerian Kesehatan.
Nah, jika takaran bahan kimia yang digunakan semakin tinggi, maka dipastikan kualitas air yang diolah semakin buruk.
Kenapa kualias air baku kita memburuk? Jawabannya adalah karena pencemaran.
Baik karena aktifitas ekonomi ilegal yang dilakukan di Daerah Tangkapan Air (DTA), maupun karena limbah-limbah rumah tangga yang mengalir langsung ke Dam tanpa diolah terlebih dahulu.
DTA nya sudah dirusak oleh aktifitas ilegal, kondisi Dam-nya juga tak jauh beda.
Eceng Gondok menutupi  sebagian besar permukaan Dam. Anda tahu, kalau Eceng Gondok tumbuh subur, artinya telah terjadi pencemaran limbah organik yang sangat parah disitu.
Limbah-limbah rumah tangga tak kalah banyaknya. Sampah plastik kemasan yang paling banyak. Jenisnya macam-macam.
Anda sebut saja satu-satu, hampir pasti ada disana.
Kondisi airnya?
Wah, saya malu menceritakannya. Sekali-sekali Anda lihat saja langsung kesana. Sambil sepedaan boleh. Toh sudah banyak yang sepedaan disana.
Kita tampaknya tak trauma dengan kejadian Dam Baloi. Dam yang dulu jadi cikal bakal harapan Batam untuk bisa mendapatkan layanan air bersih yang andal.
Dam Baloi termasuk yang paling tua di Batam. Dulu jadi tulang punggung untuk melayani kebutuhan air bersih di pusat ekonomi Batam, Nagoya.
Tapi kemana Dam Baloi sekarang? Berubah jadi Septic Tank umum. Maaf kalau bahasa saya agak kasar. Tapi itulah faktanya.
DTA nya tak lagi berupa hutan. Tapi berubah jadi hunian liar. Makin hari bukan makin habis.
Tapi makin banyak. Kondisi ini menyebabkan pencemaran di Dam Baloi jadi luar biasa tak terkendali.
Limbah rumah tangga, limbah solid, sampai limbah manusia dibuang langsung ke Dam.
Jadi tidak salah kalau saya sebut Septic Tank umum kan? Karena memang semua limbah masuk tanpa disaring.
Semasa dam Baloi masih berfungsi, ATB mengolah air Dam Baloi untuk dialirkan kepada penduduk. Itu sama dengan mengolah air Septic Tank.
Jadi tidak hanya Singapura yang bisa mengubah air limbah menjadi air tawar. ATB juga bisa mengubah air Septic Tank menjadi air minum.
Tapi pencemaran air di Dam baloi semakin hari semakin parah. Sampai akhirnya diputuskan, Dam Baloi tutup pada tahun 2012. Kita kehilangan 1 sumber air karena tidak awas.
Saya tidak tahu pasti bagaimana kondisinya sekarang. Tapi dari penelitian terakhir Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terakhir yang saya baca, parameter menunjukan konsentrasi yang lebih besar daripada konsentrasi maksimum.
Diantaranya adalah konsentrasi Deterjen, Kromium, Kadmium dan Timbal.
Tiga nama terakhir adalah logam berat. Jika pencemaran terjadi terus menerus, maka bukan tak mungkin konsentrasi logam berat akan semakin tinggi.
Sangat berbahaya sekali kalau Anda mengkonsumsi air yang terkontaminasi logam berat seperti Timbal.
Dampaknya tak akan langsung terjadi. Lama. Bertahun-tahun. Jika anda terus menerus minum air yang tercemar mikroba, senyawa kimia, atau logam berat, Anda bisa kena penyakit tiroid dan kanker untuk dampak jangka panjangnya.
Jadi ingat Minamata bukan? Apa itu yang kita mau terjadi di Batam?
Kita sudah punya pengalaman dengan Dam Baloi. Tapi tampaknya belum jera juga.
Justru sejumlah Dam sedang menuju nasib yang sama dengan Dam Baloi. Ada Sei Harapan.
Ada Nongsa. Bahkan Duriangkang yang 70 persen kebutuhan air di Batam disumbang olehnya.
Kita tahu, di sekeliling dam Sei Harapan itu penuh dengan hunian penduduk.
Berkontribusi besar terhadap terjadinya pencemaran. Juga pendangkalan Dam. Efek lain yang pasti akan terjadi jika ada pencemaran.
Dam Harapan belum pernah dikeruk sejak pertama kali dibangun. Sehingga kapasitas tampungnya merosot hingga 30 persen.
Jika dilakukan abstraksi ketika air penuh, tak berapa lama akan segera habis. Artinya apa?
Disinilah kita harus mulai mulai menyadari, bahwa kesadaran akan air bagi masa depan masih sangat rendah.
Boro-boro kita mau bicara soal menambah kapasitas. Yang ada saja terdegradasi dan tidak dijaga dengan baik. Kualitas maupun kuantitasnya turun.
Apa kita mau bernasib sama seperti Cape Town? Kota ini pernah terancam Day Zero. Dimana air tidak akan mengalir sama sekali.
Beruntung, Day Zero urung terjadi pada 2018 silam, karena hujan mengguyur kota itu.
Apa yang mereka lakukan? Hemat air. Menjaga daerah tangkapan air. Memperbaiki tata kelola air.
Intinya, kesadaran kalau sumber air yang mengandalkan hujan harus benar-benar mereka rawat dipupuk agar semakin besar.
Day Zero tahun 2018 berlalu.
Tapi Capetown masih dilanda kecemasan sampai hari ini. Karena kalau mereka lalai, bisa jadi air lenyap sama sekali dari kota terbesar kedua di Afrika Selatan ini.
Pelajaran lain bisa dipetik dari Sao Paulo, Brazil. Brasil memiliki pasokan air tawar sangat besar.
Sekitar 12 persen persediaan dari seluruh volume air tawar di dunia. Itu menurut Global World Resources Institute (WRI).
Tapi situasinya jadi jauh berbeda sejak terjadi penebangan hutan besar-besaran di Sao Paulo.
Deforestasi mengangkat sejumlah besar air ke udara, dan mengurangi curah hujan ke wilayah tengah dan selatan Brasil.
Akibatnya, 70 persen lahan penghasil air di Amerika Selatan secara efektif dapat berubah menjadi gurun.
Mengerikan bukan? Jika kota dengan cadangan air terbesar di dunia saja bisa merasakan hal yang demikian mengerikan akibat lalai menjaga hutan, apalagi Batam.
Apa kita mau Batam jadi seperti Cape Town atau Sao Paulo?
Keterbatasan air bisa benar-benar jadi ancaman di masa depan.
Sehingga setiap insan, tidak hanya pemerintah, wajib melestarikan ketersediaan air di masa depan.
Dengan menggandeng pemerintah, ATB sudah melakukan kontribusi melalui program penanaman pohon.
Kami bukan ingin pamer kegiatan. Tapi membangun kesadaran tentang pentingnya air di masa depan.
Kami juga membangun kesadaran melalui program edukasi. Mendidik anak-anak soal pentingnya menghemat air melalui school campaign.
Mengedukasi masyarakat melalui program kontak forum. Mengundang pelanggan untuk melihat kondisi waduk secara langsung melalui program Customer Visit.
Ini adalah bagian dari upaya ATB membangun awareness atau kesadaran bahwa pengelolaan air itu tidak mudah, dan mari kita jaga ketersediaan air.
Apapun impian Anda tentang Batam di masa mendatang, tanpa menjaga keberlangsungan sumber daya air itu akan hanya jadi mimpi.
Indonesia sudah dikenal seabgai penyumbang sampah plastik terbesar nomor 2 di dunia.
Jakarta dikenal dengan kota dengan polusi terparah nomor 2 di Dunia. Jangan sampai Batam juga dikenal dengan predikat-predikat serupa.
Itu bukan prestasi yang ingin kita capai. Kenapa kesadaran untuk menjaga kelestarian dan ketrsediaan air tidak juga tumbuh?
Apakah karena mereka tak sadar bahwa air di Batam terbatas? Atau karena mereka tak peduli?
Haruskah kita menunggu sampai musibah seperti tragedi Minamata? Mari kita pikirkan. Salam kopi Benny.(*)