batampos.co.idStanding ovation menutup skrining perdana sekaligus world premiere Joker di Venice International Film Festival, dua bulan lalu. Bahkan, saat itu, credits belum bergulir. Penampilan Joaquin Phoenix sebagai villain ikonis dengan dandanan badut itu menuai pujian. Bahkan, para kritikus yang hadir langsung menjagokan Phoenix masuk nominasi Oscars untuk kategori Aktor Terbaik.

“Tawa” Joker pun bergaung hingga pemutaran perdananya akhir pekan lalu. Di Amerika Utara, film besutan Todd Phillips itu memuncaki box office dengan USD 93,5 juta (Rp 1,324 triliun).

Catatan itu sekaligus jadi rekor pendapatan penayangan perdana tertinggi di bulan Oktober. Di mancanegara, Joker pun tak tertandingi. Hingga Minggu (6/10), film tersebut meraup pendapatan hingga USD 234 juta (Rp 3,314 triliun).

Sambutan apik tersebut juga mengantar Joker masuk jajaran film adaptasi komik terbaik. Di IMDb, film tersebut mendapat rating 9,7. Catatan itu jauh lebih tinggi ketimbang pemegang rekor sebelumnya, Avengers: Endgame yang meraih 8,6. Namun, di Rotten Tomatoes, film keempat Ave-ngers tersebut tetap yang terunggul di jajaran film adaptasi komik. Film rilisan Marvel Studios mengantongi rating 94 persen, sama seperti The Dark Knight. Sementara, Joker “hanya” dapat skor 89 persen.

Kesuksesan Joker berhasil mendobrak beragam “tembok” peringatan yang ditebar ketika film rilis. Bahkan, sejak awal, pihak rumah produksi juga mewanti-wanti penonton. Joker dipasarkan sebagai film R-rated –yang berarti penonton di bawah 17 tahun harus didampingi orang dewasa– dengan tema kelam.

Ketika resmi ditayangkan, Joker pun tetap dikawal ketat. Sebab, film berdurasi 122 menit itu menayangkan banyak adegan kekerasan. Alhasil, di Amerika Serikat, pihak bioskop diwajibkan memperketat keamanan. Pihak Kepolisian New York bahkan menerjunkan petugas untuk mengawal penayangan.

“Sejauh ini, tidak ada ancaman spesifik atau berarti. Namun, selama penayangan berlang-sung, kami akan melakukan pengawasan ketat,” tegas salah satu juru bicara Kepolisian New York, sebagaimana dikutip The Hollywood Reporter. Di samping itu, pengunjung bioskop juga dilarang menggunakan riasan wajah, topeng, maupun membawa senjata mainan. Setiap penonton bakal dicek kartu identitasnya. Mereka yang berusia di bawah 17 tahun juga harus didampingi orang dewasa ketika menonton.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Di Amerika Serikat, penayangan film adaptasi komik pernah diwarnai teror. Pada 20 Juli 2012, penayangan The Dark Knight Rises berakhir penuh duka. Sebanyak 12 orang meninggal dunia, sementara 70 orang lainnya mengalami luka-luka. Ketakutan tersebut masih tertinggal.

Di Aurora, lima keluarga menulis surat terbuka untuk Warner Bros. Isinya, tentang kekhawatiran mereka terhadap Joker, yang mungkin memantik aksi penembakan serupa. Pihak pemilik bioskop tempat terjadinya tragedi itu memutuskan tidak akan menayangkan Joker. Seakan dituding karyanya menebar teror, perwakilan Warner Bros. memberikan pernyataan tegas.

“Karakter fiksi Joker, maupun film tentangnya, sama sekali tidak bertujuan untuk mendukung kekerasan –dalam bentuk apa pun– di dunia nyata,” papar pihak rumah produksi dalam pernyataan tertulis. Dalam konferensi pers, Phoenix dan sutradara Phillips juga menegaskan, mereka sama sekali tidak berniat mempromosikan kekerasan. Dalam karpet merah jelang premiere Holly-wood pada Sabtu (28/10), pihak pelaksana meniadakan sesi doorstop untuk menghindari pertanyaan serupa.

Kelam dan sadisnya kisah Joker memang nyata adanya. Daily Mail memberitakan, banyak penonton yang memilih keluar dari bioskop lebih awal. Gara-garanya, tidak tahan dengan adegan kekerasan yang ditampilkan di film. “LARANG PENAYANGAN FILM INI!!! Mereka menggunakan pendekatan psikologi yang amat nyata! Aku mendukung Joker hingga kengerian ini muncul,” cuit pemilik akun @only_taye. Di Twitter, beberapa pengguna pun mengunggah komentar senada. “Aku enggak pernah keluar bioskop lebih awal. Hal itu nyaris terjadi saat (menyaksikan) Joker,” tulis Katie Carter. Ada pula yang menilai, Joker terlalu mengagung-agungkan isu kesehatan mental dan kekerasan.

Berbeda dengan film DC Comics dan Warner Bros. lainnya, Joker memang tidak lagi menempatkan Joker sebagai musuh Batman. Di sini, villain Gotham City itu jadi tokoh sentral. Perjalanan Arthur Fleck, pria di balik riasan Joker, dikupas habis. Termasuk transformasinya dari seorang biasa menjadi pembunuh mengerikan.

Pengembangan karakter Joker yang mengerikan juga dirasakan sang pemeran uta-ma, Phoenix. Aktor yang tiga kali masuk nominasi Aktor Terbaik Oscars itu menjelaskan, Joker adalah tokoh yang sulit didefinisikan.

“Dia amat kompleks. Kalian pasti enggak mau menjadi dia,” tutur Phoenix. Mendalami karakter berdandanan khas itu pun jadi pe-er besar buatnya.

“Dia punya banyak sisi. Joker di awal syuting, amat jauh dari yang digambarkan di akhir film,” lanjut aktor berusia 44 tahun itu. Selain itu, Phoenix juga sulit buat menemukan “tawa” Joker. Baginya, hal tersebut cukup menyita waktu.

“Enggak nyaman rasanya tertawa di depan hadapan banyak orang,” kata Phoenix.

Dibandingkan empat pemeran dan pengisi suara Joker sebelumnya (Cesar Romero, Jack Nicholson, Mark Hamill, Heath Ledger, dan Jared Leto), tawa Joker yang digaungkan Joaquin Phoenix boleh dibilang yang terdengar paling ‘sakit’. Rasanya penonton bisa merasakan siksaan batin yang dialami Arthur Fleck di sepanjang film. Bahkan banyak penonton yang keluar dari bioskop dengan keadaan merenung, masih belum move on dari kelamnya kehidupan Arthur. Banyak orang yang mengaku relate dengan kondisi Joker. Bahkan sampai muncul ungkapan ‘orang jahat adalah orang baik yang tersakiti’. Meskipun ungkapan itu tidak seratus persen benar.

Dibandingkan dengan film-film Joker sebelumnya, Todd Phillips sebagai sutradara memang melakukan pendekatan yang lebih humanis terhadap salah satu musuh besar Batman ini. Tawa Joker yang tidak kenal waktu itu merupakan akibat dari kondisi mental yang dalam dunia nyata disebut Pseudobulbar Affect (PBA). Yakni suatu gangguang emosional di mana ekspresi seseorang benar-benar tidak berhubungan dengan suasana hati mereka sesungguhnya. Biasanya bermanifestasi dalam tawa yang tidak terkendali, seperti Joker, atau berupa tangisan keras. Gangguan itu merupakan dampak dari kerusakan otak dan disebut berkaitan dengan kemarahan pasca-stroke. Dalam film pun dijelaskan penyebab Arthur mengalami kondisi tersebut.

Ada beberapa hal yang dialami Arthur cocok dengan gejala PBA sesungguhnya. Misalnya ketika episode tawa itu muncul tidak sesuai kondisi. Polanya khas, tawa menjadi semakin keras ke puncak, kemudian perlahan turun. Tawa itu menggambarkan guncangan di dalam dirinya. Namun, perlu diingat bahwa sesungguhnya PBA dan stres tidak saling berhubungan.

Air mata dan tawa tidak berkaitan dengan suasana hati seseorang. Itulah mengapa PBA sering salah didiagnosis sebagai depresi, meskipun kedua hal itu dapat terjadi secara bersamaan, seperti yang dialami Arthur. Namun, Arthur tampak sedikit lega ketika episode tawanya selesai. Nah, hal itulah yang tidak terjadi pada penderita PBA sesungguhnya.(The Hollywood Reporter/Variety/fam)