Butuh waktu 20 tahun untuk membangun reputasi yang baik dan hanya lima menit untuk menghancurkannya. Jika kamu memikirkan hal ini maka dalam hal apapun kamu akan bertindak hati-hati dan berbeda (Warren Buffet)

Sebelum tahun 2001, Enron adalah perusahaan terbesar ketujuh di AS. Sejak dibangun tahun 1985, perusahaan ini selalu membuat investornya tertawa.

Mengapa?

Laporan keuangan perusahaan selalu untung. Keuntungan tumbuh tiap tahunnya. Siapa yang tak mau investasi di perusahaan yang selalu untung?

Apalagi jika laporan keuangan itu diaudit dan diverifikasi oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) sekelas Arthur Andersen.
Arthur Andersen ini bukan perusahaan kaleng-kaleng. Masuk jajaran The Big Five. Lima besar firma jasa profesional terbesar di dunia.

Dengan garansi Arthur Andersen, Enron tampak seperti sebuah kesuksesan. Sebuah perusahaan tempat orang ingin bekerja dan berinvestasi.

Reputasi yang sangat prima turut mendorong kepercayaan publik dan investor. Saham perusahaan terus menanjak. Dari hanya USD 20 per lembar saham pada tahun 1998, naik hampir 350 persen dalam waktu 2 tahun.

Tapi akhir tahun 2001 hal yang tak terduga terkuak. Ternyata laporan keuangan Enron yang sangat menjanjikan itu adalah hasil manipulasi. Arthur Andersen sebagai auditor dan konsultan perusahaan terbukti berperan besar dalam kebohongan tersebut.

Terungkapnya kasus ini membuat reputasi Enron terjun bebas dari langit ke tanah. Perusahaan tengkurap. Harga per lembar saham yang tadinya USD 90, menjadi hanya 45 sen. Para investor menjerit karena kehilangan portofolio kekayaannya dalam jumlah besar.

Tidak hanya Enron yang kena getahnya, Arthur Andersen juga harus merasakan dampak buruk. Dengan sukarela, KAP ini menyerahkan izin praktiknya kepada negara. Karena tak lagi dipercaya.

Kok berani-beraninya Enron dan Arthur Andersen melakukan itu? Padahal perusahaan publik loh?

Selidik punya selidik, Enron tak sabar ingin segera mewujudkan impiannya menjadi perusahaan energi terbesar di dunia. Untuk itu, perusahaan butuh uang besar. Dan salah satu sumber pembiayaan yang memungkinkan adalah melalui hutang.

Enron tak ragu mempertaruhkan reputasinya demi impian tersebut. Perusahaan mengambil jalan pintas. Untuk mendapatkan pinjaman besar inilah Enron memanipulasi pembukuannya.

Dengan demikian perusahaan bisa mendapat pinjaman. Juga tetap menjaga kepercayaan investor yang bisa saja khawatir jika rasio hutang yang membengkak.

Harus diakui bahwa keuntungan adalah tujuan perusahaan. Tapi jangan sampai Anda menggadaikan reputasi dengan melacurkan diri hanya untuk meraih itu.

Membangun reputasi itu tak cukup waktu setahun dua tahun. Bertahun-tahun. Setelah kerja keras panjang itu, apakah Anda rela menghancurkannya hanya demi ambisi sesaat yang tidak terukur?

ATB tak mau seperti Enron dan Arthur Andersen. Komitmen menjaga reputasi ini kami jaga dengan ketat sampai saat ini.
ATB telah bekerja keras membangun reputasinya selama puluhan tahun. Sejak awal perusahaan ini berdiri, kami memberikan yang terbaik bagi semua pelanggan dan stakeholder.

Komitmen ini kami tunjukkan dengan menjaga kualitas di segala lini. ATB telah menerima sertifikat ISO 9001:2000 sejak tahun 2006 untuk sistem manajemen mutu. Sistem tersebut terus dibangun dan dikembangkan secara konsisten.

Anda tahu, apa dampak dari usaha kami menjaga reputasi tersebut?

Hingga kini, ATB adalah perusahaan air yang pertama kali menerima sertifikat ISO 9001 versi terkini, yaitu ISO 9001:2015. Bahkan untuk memastikan mutu hasil uji dari Laboratorium Uji Mutu Air dan Laboratorium Kalibrasi Meter Air, ATB telah menerima Sertifikat ISO 17025:2005 dari Lembaga Akreditasi Nasional.

Reputasi juga kami bangun dengan menjadikan lingkungan kerja di ATB selamat dan sehat, serta ramah lingkungan. Secara Internasional, ATB telah menerima sertifikat OHSAS 18001:2007 pada tahun 2013, diperbaharui dengan sertifikat ISO 45001:2018, untuk sistem manajemen K3. Sistem Manajemen Lingkungan yang diterapkan juga sudah mendapat Sertifikat ISO 14001 di tahun 2015.

Apakah setelah mendapat sertifikat kami puas dan tak melakukan apa-apa?

Tentu tidak. ATB tetap berjuang. Dalam audit tahunan untuk sertifikat ISO yang telah kami terima, tak pernah ada catatan merah yang diberikan. Selalu sempurna selama hampir 14 tahun. Itu komitmen kami menjaga kualitas dan kepercayaan.

ATB juga membangun dan menjaga reputasinya melalui kepercayaan. Kami transparan dan terbuka dalam setiap aktifitas perusahaan. Tak ada yang ditutup-tutupi.

Padahal, ATB bukan perusahaan publik. Tak ada kewajiban kami untuk terbuka kepada publik. Namun kami punya komitmen, tanpa diminta sekalipun ATB tetap terbuka.

Terbuka dalam hal apa?

Semuanya. Termasuk soal kualitas distribusi air. Kami menampilkan kondisi pelayanan dan distribusi air yang ada di Batam secara terbuka. Anda bisa melihat dengan bebas di Mall Pelayanan Publik (MPP) Batam Centre. Terpampang.

Anda bisa lihat kualitas suplai di masing-masing wilayah. Termasuk daerah mana yang layanannya kurang baik. Bukan hanya yang baik-baik saja yang ditampilkan. Kami bukan sedang pencitraan.

Tapi menjaga kepercayaan.

Apakah ada perusahaan utilias lain yang seberani itu? Rasanya belum ada. Apalagi jika terjadi gangguan. Malah kalau bisa ditutupi supaya tak ada protes. Kami tidak. Pelanggan bebas mengetahui informasi itu.

Kami juga menjalankan proses tender untuk memilih vendor atau kontraktor. Padahal ATB adalah perusahaan swasta yang tak wajib melakukan itu.

Lebih dari itu, ATB sudah berfikir lebih jauh. Yakni ketersediaan air baku. Itu bentuk tanggungjawab moral. ATB tak hanya mementingkan kepentingan usahanya. Tapi lebih mementingkan kelangsungan air di masa depan.

Kalau hanya mikirin profit, maka kami akan memilih melayani semua pabrik plastik dengan senang hati. Konsumsi airnya tinggi. Artinya kami akan dapat untung besar. Tapi kami tak memikirkan keuntungan semata.

ATB sebagai perusahaan harus untung. Tapi keuntungan harus diraih dengan penuh etika. Demikianlah ATB menjaga reputasinya.

Mengapa Enron gagal?

Dia tidak transparan. Dan tak menjaga kepercayaan yang diberikan oleh banyak orang.

Tapi ATB memilih jalan berbeda, dengan selalu menjaga kepercayaan dan melakukan semua proses secara transparan.
Kini reputasi ATB tak hanya dikenal di Batam. Tapi sudah mencapai tingkat Nasional, bahkan Regional dan Internasional. Untuk urusan air, tak ada yang tak kenal ATB.

Apa buktinya?

ATB sering diminta untuk jadi pembicara di konferensi dan pertemuan internasional. Terbaru, saya diminta oleh Malaysia International Water Convention (MIWC) untuk berbicara terkait implementasi teknologi 4.0 di perusahaan air.

Kenapa saya yang diminta jadi pembicara? Kok bukan perusahaan lain? Apa saya minta jadi pembicara?

Saya tak pernah minta. Tapi reputasi ATB sebagai Smart Water Company sudah terdengar sampai ke dunia. Bahwa ATB layak menjadi benchmark penerapan Industri 4.0 bagi perusahaan air bersih. Tanpa reputasi yang baik, saya tak mungkin diminta jadi pembicara.

ATB juga sempat disambangi perusahaan teknologi terbesar di Tiongkok, Huawei. Mereka mendengar bahwa ATB telah menerapkan Internet of Thing (IoT) dalam proses produksi dan bisnisnya. Setelah datang dan melihat langsung, Huawei malah tertarik memperkuat sistem ATB.

ATB telah membangun reputasi dengan baik. Dikenal sampai dunia internasional. Dan kami ada di Batam sampai hari ini. Melayani kebutuhan air bersih untuk Batam. Apakah yang seperti ini mau diganti? Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)