Kecepatan adalah inti dari sebuah perang (Sun Tzu)

Siapa yang tak kenal Sony di era tahun 1990 sampai awal 2000. Perusahaan ini rajanya produk elektronik. Produk-produk ikonik Sony semacam Walkman atau televisi Trinitron menguasai pasar. Tak cuma Asia, bahkan sampai Amerika.

Saat itu memang era emas bagi produk elektronik Jepang. Semua orang ingin punya produk elektronik dari negeri Sakura itu. Kalau bukan merk Jepang, sepertinya tak bonafit. Begitu kira-kira persepsi yang terbangun saat itu.

Tapi setelah memasuki era tahun 2000an, situasi berubah. Produk elektronik Jepang pelan-pelang tergeser oleh produk negeri Gingseng. Salah satu produk yang kemudian muncul adalah Samsung. Brand asal Korea Selatan ini bahkan mampu meng-KO Sony.

Apa iya?

Ini salah satu buktinya. Tahun 2015, majalah Fortune merilis daftar 500 perusahaan terbesar dunia. Samsung menduduki peringkat ke-13 dengan pendapatan USD 195 miliar dan untung USD 21 miliar.

Dimana Sony?

Duduk di peringkat ke-116 dengan pendapatan USD 74 miliar dan rugi USD 1 miliar. Jelas sekali bagaimana sekarang Sony kalah telak dengan perusahaan elektronik kemaren sore.
Mengapa perusahaan yang sarat pengalaman justru bertekuk lutut dengan perusahaan bau kencur di sektor Elektronik?

Sony kalah cepat. Tradisi orang Jepang yang hati-hati dan detil sepertinya telah mendarah daging dalam perusahaan ini. Sayangnya, kehati-hatian ini tak didukung oleh kecepatan. Sony lebih memilih Alon-alon Waton Kelakon.

Apa dampaknya?

Sony lambat mengeluarkan varian produk baru. Setahun mungkin sekali. Atau bahkan belum tentu ada varian produk baru dalam setahun.

Sebaliknya Samsung sukses karena kecepatannya. Tradisi serba cepat ini pula yang mendorong Samsung jadi perusahaan yang kompetitif.

Samsung bisa mengeluarkan dua sampai tiga varian produk elektronik setiap tahunnya. Bahkan lebih. Setiap varian selalu dilengkapi dengan inovasi baru.

Inovasi serba cepat yang dilakukan Samsung akhirnya membuat penyempurnaan produk jadi jauh lebih cepat. Hanya dalam waktu beberapa tahun saja, kita bisa menyaksikan perkembangan yang luar biasa. Dari TV Plasma, jadi LED TV. Kemudian masuk era

Quantum LED, sampai yang terbaru Nano LED.

Dulu?

Wah! Lambat sekali. Perubahan dari TV Tabung menjadi TV Plasma saja butuh waktu lebih dari 10 tahun.

Anda harus menyadari, kecepatan adalah segalanya saat ini. Terutama menghadapi dinamika yang berubah demikian cepat. Perkembangan yang melaju luar biasa. Anda lambat, siap-siap tergilas.

Perusahaan Anda harus cepat dalam segala hal. Terutama dalam mengambil keputusan. Segala sesuatu harus diputuskan dengan cepat. Tentu saja tak cuma cepat, tapi harus mempertimbangkan resiko. Harus matang.

Bagaimana caranya membuat keputusan yang matang dengan cepat?

Tentu saja harus berdasarkan masukan informasi yang tepat, akurat dan terverifikasi. Juga dari sumber-sumber valid yang bisa diandalkan.

Itulah mengapa ATB berjuang keras dan berinvestasi besar dalam hal pengembangan teknologi. Langkah ini kami ambil bukan hanya untuk wah wah-an atau menambah marketing tools perusahaan saja. Sama sekali tidak.

Pembangunan sistem teknologi informasi ini semata-mata untuk memberikan management suport. Agar manajemen bisa mengambil keputusan dengan cepat dalam segala hal.
Contoh yang telah jelas terbukti adalah kesukesan ATB menekan angka kebocoran hingga rata-rata 16.6 persen tahun 2018. Bahkan September 2019 lalu, suudah menyentuh angka 12,9 persen.

Kenapa ATB bisa menekan kebocoran begitu rendah?

Karena ATB mendapatkan informasi yang akurat, valid, dengann cepat. Sehingga setiap titik kebocoran bisa diatasi secepat mungkin.

Teknologi ATB memungkinkan untuk menangkap informasi lokasi kebocoran dan mengapa kebocoran itu terjadi. Dengan data yang lengkap dan akurat itu, petugas bisa melakukan penanganan dengan cara yang tepat pula.

Sistem juga mencatat kapan waktu perbaikan dimulai dan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Dengan data-data tersebut, ATB bisa mencegah terjadinya kebocoran di masa mendatang. Ini semata-mata sebuah kecepatan.

Bahkan teknologi ATB ini sudah ditingkatkan menjadi Bisnis Intelegence. Sehingga setiap informasi yang dikumpulkan oleh sistem, bisa dimonitor melalui telepon genggam. Tak lagi terikat oleh ruang. Fleksibel. Mobile. Bisa buka dimana saja.

Selain itu, kami juga punya Dashboard Integrated Operation System. Dashboard ini didesain agar bisa segera memberikan informasi jika terjadi gangguan. Lengkap dengan peta lokasi dan informasi yang sangat rinci. Dengan demikian, ATB bisa cepat membeirkan tindakan.

Bisa anda bayangkan, bagaimana bila ada perusahaan air minum tanpa Dashboard seperti ATB?

Saya jamin mereka tak bisa mengambil keputusan dengan cepat. Karena masih harus meraba-raba dan menduga-duga. Jika Anda tak mendapat informasi yang tepat, maka Anda tidak bisa membuat keputusan.

Itulah yang membantu ATB bisa membuat keputusan dengan cepat dan tepat. Itu pula yang membuat ATB memiliki daya saing tinggi. Ketika orang lain belum tahu, ATB sudah melihat segalanya. Bahkan sudah memprediksi masa depan. Itu yang tidak dimiliki oleh perusahaan yang lain.

Perusahaan yang berorientasi pelanggan, atau menjalankan uang masyarakat, atau bertanggungjawab menyediakan kebutuhan masyarakat, sudah seharusnya memiliki sistem yang bisa membantu untuk membuat keputusan dengan cepat dan tepat.

Tapi mengapa sampai sekarang banyak yang enggan bergerak cepat? Masih berfikir-fikir untuk melengkapi diri agar mampu mengambil keputusan dengan cepat dan akurat dan lebih memilih meraba-raba dan menduga-duga. Mari kita pikirkan.

Salam Kopi Benny. (*)