Kisah perjuangan legenda hidup bulu tangkis wanita Indonesia, Susi Susanti, dalam mengharumkan nama bangsa di kancah dunia, akhirnya diangkat ke layar lebar. Secara serentak, film biopik tersebut tayang di bioskop Indonesia mulai 24 Oktober lalu.

Berjudul Susi Susanti: Love All, sang legendaris badminton Susi Susanti yang diperankan Laura Basuki, mampu menghidupkan kembali gambaran perjuangan wanita kelahiran Tasikmalaya itu di jagat bulu tangkis Indonesia.

Ya, Indonesia pernah dikenal gahar di dunia bahkan menjadi pesaing terberat negara lain dalam olahraga bulu tangkis, di era 80an hingga 90an.

Tak lain, berkat perjuangan dan kesungguhan para atlet di tengah keterbatasan, salah satunya adalah Susi Susanti yang beretnis Tionghoa.

Film garapan sutradara Sim F ini turut menyuguhkan gambaran pahit etnis Tionghoa di era Orde Baru saat itu.

“Baru tahu Susi Susanti karena searching waktu mau nonton, siapa dia. Dan setelah nonton, jadi se­dih banget,” kata salah satu pe­nonton di bioskop Mega XXI Batam Me­ga Mall, Rini, Senin (29/10/2019) malam.

Rasa harunya muncul kala melihat kesungguhan Susi yang berambisi untuk menjadi peraih medali emas, sebagai pemenuhan utangnya pada sang Ayah.

“Dia janji medali emas sama ayahnya itu bikin haru, sampai benar-benar bisa raih emas pertama untuk Indonesia di Olimpiade. Auto nangis,” tuturnya sembari menyembunyikan wajah di balik bahu sang kakak, Riza.

Siswi kelas IX SMPN 30 Batam ini mengaku tak tahu dengan sosok Susi dan legenda bulu tangkis lainnya yang pernah menjadi kebanggaan Indonesia.

Sang legenda badminton Susi Susanti (dua dari kiri) berfoto bersama Laura Basuki (kiri) yang memerankan dirinya dalam film Susi Susanti: Love All. Foto: Jawa Pos

“Gara-gara nonton film ini jadi tertarik mengenal bulu tangkis dan ingin jadi salah satunya (atlet),” ungkap remaja 14 tahun itu.

Sementara penonton lainnya, Iwan, juga memberikan tanggapan positif dari sisi lain.

Over all bagus. Apalagi dari sinematografinya, juara! Nuansa era 80an dan 90an-nya dapat sekali,” ujar mahasiswa Multimedia Politeknik Batam itu, yang sengaja ingin menonton meskipun sendiri.

Film berdurasi 1 jam 36 menit tersebut diawali dengan kisah Susi kecil diperankan Moira Tabina Zayn, yang lebih memilih menonton pertandingan bulu tangkis abangnya melawan juara bertahan bulu tangkis di Tasikmalaya.

Ia kabur dari lomba yang harus diikutinya, untuk menampilkan tarian balet. Namun sayang, sang abang kalah.

Kekalahan itu memancing ejekan dari sang lawan, yang membuat Susi kesal dan kembali menantang lawan abangnya itu.

Bahkan bertaruh untuk membeli bakpao buatan ibunya, satu gerobak. Ambisinya yang tinggi mampu membalikkan nama baik sang abang melalui kemenangan yang ia peroleh.

Dari situlah, kiprah Susi dalam dunia olahraga bulu tangkis dimulai. Pertandingan tanpa disengaja itu membawa kesempatan Susi untuk berlatih di PB Jaya Raya, tempat pelatihan yang dikembangkan idolanya, Rudy Hartono (diperankan Irwan Chandra).

Rentetan adegan yang ditampilkan menunjukkan ambisi yang tinggi dari seorang Susi yang ingin menjadi nomor wahid.

Terlebih, janjinya kepada sang ayah, Risad Haditono (diperankan Iszur Much­tar) yang juga atlet PON bulu tangkis, untuk menyum-bang emas di Olimpiade.

Motivasi dari sang ayah se­cara perlahan mengantarkan Susi dalam memenangkan World Championship Junior 1985, dan melangkah ke pelatihan nasional PBSI.

Di sana ia bertemu teman-teman atlet seperti Ardy B Wiranata (Nathaniel Sulistyo), Hermawan Susanto (Rafael Tan), Sarwendah Kusumawardhani (Kelly Tandiono), dan atlet yang kelak menjadi jodohnya, Alan Budikusuma (Dion Wiyoko).

Dibimbing pelatih Liang Chiu Sia (Jenny Zhang) dan Tong Sin Fu (Chew Kin Wah), ia menemukan ritme bermainnya yang khas hingga sukses menuntaskan target dari Ketum PBSI Try Sutrisno (Farhan).

Susi mengantongi emas di Sudirman Cup perdana di Jakarta 1989. Sia juga menggembleng Susi untuk maju ke Olimpiade di Barcelona pada tahun 1992.

Susi berhasil mewujudkan impian bangsa dan melunasi utangnya pada sang ayah, dengan meraih medali emas pertama untuk Indonesia di turnamen bergengsi tersebut.

Agar berwarna, kisah percintaannya dengan Alan yang disebut sebagai pasangan Olimpiade juga digambarkan dengan apik nan romantis.

Sisi lain yang tak kalah film ini menyuguhkan catatan kelam tentang status kewarganegaraan etnis Tionghoa di era Orde Baru.

Bahkan gambaran kekecewaan Susi dan atlet beretnis Tionghoa lainnya, nasib pelatih Sia dan Tong yang tak kunjung mendapat pengakuan status usai balik dari Tiongkok, hingga rasisme, menjadi pengetahuan baru bagi para penonton.

Namun sayang, respons masyarakat di Batam tak sebagus kemasan film biopik yang dramatik ini.

Tidak semua bioskop di Batam menayangkan film Susi Susanti: Love All. Jumlah penontonnya pun berada di kategori kurang.

Sehingga film ini diturunkan dari bioskop-bioskop di Batam meskipun belum sepekan tayang.(FEBBY ANGGIETA PRATIWI)