Yang tidak memiliki keandalan, sama sekali tak berguna (Confucius)

Akhirnya Boeing mengaku bersalah dan menyampaikan permintaan maaf. Persis setahun setelah jatuhnya Lion Air JT 610 di Laut Jawa. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh sang CEO, Dennis Muilenburg.

Butuh waktu setahun. Sampai akhirnya Boeing berbesar hati mengaku bersalah atas kegagalan teknologi Boeing 737 MAX 8 yang mengorbankan ratusan nyawa di Indonesia dan Ethiopia.

Anda tentu ingat kejadiannya. Ketika pesawat Lion Air jatuh di Laut Jawa pada 29 Oktober pagi. Hanya beberapa menit setelah lepas landas dari bandara di Jakarta. Ada 189 nyawa yang melayang saat tragedi itu terjadi. Tak sampai lima bulan, kejadian yang sama terulang lagi. Ethiopians Airlines penerbangan 302 jatuh hanya 6 menit setelah lepas landas. Nyawa 157 orang penumpang, termasuk kru kabin dan pilot melayang.

Kedua maskapai tersebut menggunakan Boeing 737 Max 8. Pesawat terlaris dalam sejarah. Awalnya pesawat ini dibuat untuk menyaingi pesawat besutan Airbus yang hemat bahan bakar dan hemat biaya.

Karena itu, Boeing melakukan beberapa pembaharuan dan inovasi terhadap produk barunya ini. Beberapa sistem dan teknologi baru diaplikasikan. Termasuk diantaranya fitur Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS).

Fitur otomatis ini memproteksi pesawat dari manuver yang berbahaya. Seperti mengangkat hidung pesawat terlalu tinggi, sehingga mengakibatkan Stall. Sederhananya Stall itu adalah kondisi saat sayap pesawat mengalami peningkatan hambatan udara dan penurunan daya angkat.

Biasanya Stall terjadi karena kemiringan pesawat terlalu tinggi saat take off. Nah, MCAS akan otomatis menurunkan hidung pesawat jika kemiringinnya dinilai berbahaya dan bisa menyebabkan pesawat jatuh. Jadi, selain hemat bahan bakar harusnya Boeing 737 Max 8 juga lebih aman.

Tapi apa yang terjadi?

Menurut investigasi sejumlah lembaga kredibel – termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), justru teknologi baru inilah yang menjadi salah satu pemicu jatuhnya kedua pesawat tersebut. Kok bisa?

Pilot sempat kaget saat hidung pesawat turun tiba-tiba sesaat setelah lepas landas. Pilot mencoba menaikan kembali agar pesawat kembali ke posisi normal. Namun, sistem MCAS melawan kendali pilot dan kembali menurunkan hidung pesawat. Berkali-kali ini terjadi, sampai akhirnya pesawat jatuh.

Sebuah simulasi yang dibuat oleh tim Ahli sempat dipublikasikan dan menggambarkan dengan jelas bagaimana kondisi di udara saat itu. Pesawat berkali-kali naik turun, naik turun, hingga akhirnya jatuh.

Lalu, mengapa sistem termutakhir Boeing ini justru jadi sumber masalah?

Ternyata terjadi kesalahan setting pada sensor yang dipasang di pesawat. Kalibrasi sensor tersebut deviasi 21 derajat dari seharusnya. Dengan demikian, data yang dikirim ke MCAS juga tidak akurat. Sehingga memicu MCAS aktif pada waktu yang tidak seharusnya.
Ketidakandalan sistem teknologi ini mengakibatkan masalah besar. Yang paling buruk, korbannya lebih dari 300 nyawa manusia. Itulah gambaran nyata betapa berbahayanya sebuah pengembangan teknologi yang tak Andal.

Kita semua sadar, inovasi teknologi memang menjadi kebutuhan bagi perusahaan yang ingin maju. Karena inovasi teknologi bisa mendorong terjadinya efisiensi. Tapi bukan sembarangan inovasi yang bisa Anda implementasikan. Harus yang andal. Konsisten. Dan Persisten. Tidak boleh tidak.

Bagaimana jika inovasi teknologi yang Anda terapkan tidak andal?

Anda bisa belajar dari kasus Boeing 737 MAX 8. Inovasi Teknologi yang tak andal berpotensi menimbulkan masalah besar. Alih-alih mendorong efisiensi, Anda justru mempertaruhkan reputasi perusahaan Anda.

Kami di ATB juga melakukan inovasi di berbagai lini. Tapi, sebelum inovasi teknologi itu benar-benar diimplementasikan, ada serangkaian tes dan uji coba panjang yang harus dilalui. Berbagai parameter kami ukur dengan teliti. Bersama banyak tenaga ahli.

Untuk apa?

Agar kami benar-benar memastikan, bahwa pengembangan apapun yang kami buat, benar-benar andal. Bisa mendorong efisiensi. Bukan malah menimbulkan masalah.
Saat ini ATB memiliki sebuah Dashboard yang biasanya digunakan untuk memonitor dan mengontrol pelayanan air di seluruh Batam. Melalui dashboard tersebut, ATB bisa melihat berapa jumlah aliran yang dibutuhkan ke suatu daerah. Berapa tekanan air ke suatu daerah. Secara real time.

Kami tidak hanya bisa monitor, lebih dari itu bahkan juga bisa melakukan kontrol operasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) secara remote. Dikendalikan dari jarak jauh. Bahkan melalui perangkat telepon genggam. Life is in your hand. Pada saat yang sama bisa jadi masalah ada dalam genggaman.

Kenapa begitu?

Sekarang pertanyaannya, apa yang terjadi jika ternyata teknologi yang kami gunakan ini tidak andal?

Apa yang terjadi bila sensor yang kami pasang di lapangan mengirimkan data yang salah, sehingga Dashboard menunjukan hal yang berbeda dari kondisi sebenarnya? Atau informasinya datang terlambat, tidak real time?

Tentu akan jadi masalah besar. Karena respon dan reaksi yang diberikan oleh petugas kami jadi tidak sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya. Alih-alih menyelesaikan masalah, justru malah bikin masalah baru.

Itulah mengapa teknologi yang kami kembangkan harus lebih dulu diuji secara presisi. Sehingga terbukti keandalannya. Bukan hanya andal sekali dua kali. Tapi andal di segara kondisi. Di semua medan. Dan berbagai macam parameter. Sehingga Anda tidak perlu ragu.

Karena keandalannya yang telah teruji, kamipun berani mematenkan teknologi ini. ATB menjadi satu-satunya perusahaan air yang mematenkan teknologi tersebut. Bukan hanya di Indonesia, bahkan dunia. Keren kan! Teknologi inilah yang nantinya akan diduplikasi untuk perusahaan air lain di Indonesia. Supaya pelayanan air di daerah lain juga semakin baik. Tidak hanya di Batam saja yang baik.

Itu misi besar ATB.

Kebocoran yang masih di atas 30 persen bisa diturunkan. Cakupan pelayanan yang masih di bawah 70 persen, bisa dinaikan mendekati 90 persen. Belum lagi efisiensi pemakaian listrik dan bahan kimia bisa ditingkatkan. Efisiensi penanganan kebocoran, kemudahan melakukan pengelolaan air yang menjangkau seluruh kota tanpa harus beranjak dari tempat duduk.

Dituntut sebuah keandalan untuk mencapai itu. Dan kami menyediakan teknologi yang andal untuk mencapai tujuan tersebut.

Namun sayangnya, tak banyak perusahaan yang mau berinovasi. Apalagi memiliki teknologi yang andal. Kebanyakan tak mau ambil resiko, karena takut gagal. Padahal inovasi teknologi yang andal akan meningkatkan efisiensi perusahaan.

Akhirnya mereka terjebak dengan cara-cara tradisional. Perusahaan seperti ini akan berakhir dengan tidak efisien, karena mereka tidak andal.

Jadi apa pilihan anda? Maju dengan konsekuensi harus andal? Atau menggunakan cara konvensional, mungkin aman, tapi mengorbankan efisiensi?

Mari Kita Pikirkan.

Salam Kopi Benny. (*)