“Detail adalah kesempurnaan, kesempurnaan bukanlah detail”
“Justru kesederhanaan adalah keanggunan yang sejati” (Leonardo Da Vinci)

Rolex adalah salah satu karya seni yang brilian. Bentuknya sederhana. Tidak rumit. Bahkan terkesan biasa saja. Tapi, Anda pasti setuju bahwa daya pikat Rolex justru terpancar dari kesederhanaan itu.

Namun berapa banyak yang tahu, bahwa kesederhanaan Rolex yang memikat itu lahir dari kompleksitas yang tinggi? Berapa banyak orang yang sadar, bahwa ternyata untuk membuat satu jam tangan Rolex butuh waktu paling tidak satu tahun?

Bahkan beberapa produk masterpiece butuh waktu lebih lama. Ada yang lebih dari 5 tahun. Kaget kan? Kok lama sekali?

Saat didirikan pada tahun 1905 Rolex hanya punya satu tujuan. Produk ini harus jadi yang paling andal, tapi sederhana dan memikat. Bukan pekerjaan mudah. Karena keandalan jam tangan, seringkali harus mengorbankan kesederhanaan tampilan.

Tak percaya?

Jam tangan mekanik biasanya terdiri dari 50 sampai 100 bagian. Tapi untuk mendukung keandalannya, Rolex dibuat dengan lebih dari 250 bagian. Jadi, bagaimana caranya sebuah jam tangan yang komponen penyusunnya lebih banyak 3 sampai 5 kali lipat bisa tetap tampil sederhana? Apalagi harus memikat? Bukan perkara mudah.

Karena itu Rolex tak pernah sembarangan membuat jam tangan. Setiap bagian jam tangan diperhatikan dengan teliti. Materialnya. Cara merakitnya. Estetikanya. Akurasinya.

Daya tahannya. Semuanya.

Urusan bahan baku, Rolex tak main-main. Jam tangan Rolex dibuat dari bahan baku terbaik. Dirakit dengan perhatian yang mendalam terhadap detail.

Perusahaan ini merancang, mengembangkan dan memproduksi sendiri semua komponennya. Agar sesuai dengan standar yang paling tepat. Rolex punya ahli batu berlian terbaik di dunia. Pembuat logam – termasuk emas dan platinum – yang juga di atas rata-rata.

Bahkan, Rolex punya Research and Development (R&D) Department dan laboratorium penelitiannya sendiri. Gunanya untuk meneliti material yang lebih unggul dan teknik manufaktur yang lebih efektif dan efisien.

Tapi diatas semuanya, kerumitan ini tak membuat tampilan Rolex jadi ribet dan komplek. Walaupun lahir dari kompleksitas dan ketelitian tingkat tinggi. Namun pada akhirnya, untuk menjadi lebih sempurna, Rolex tetap menampilkan kesederhanaan.

Seperti ungkapan Maestro era Renaissance asal Italia, Leonardo Da Vinci. Detail adalah kesempurnaan. Namun kesempurnaan bukanlah detail. Justru kesederhanaan adalah keanggunan yang sejati.

Detail dan kesederhanaan adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Kedua-duanya harus ada dalam tempat yang sama sebagai sebuah keseimbangan. Seperti yang Rolex lakukan.

Demikian juga sebuah inovasi teknologi yang sejatinya memang rumit. Tapi tak perlu ditampilkan dengan cara yang rumit pula. Justru harus ditampilkan sesederhana mungkin.
Saat ini ATB menggunakan berbagai macam alat dengan berbagai jenis system. Tetapi kami berhasil membangun ATB Integrated Operation System. Sistem ini digunakan untuk mengontrol produksi, distribusi hingga pengelolaan kebocoran. Ini adalah sistem yang sangat rumit. Karena dibangun dari banyak program.

Namun, kami juga membangun sebuah Dashboard khusus. Sebuah tampilan virtual yang sangat sederhana. Anda bisa melihat informasi dengan mudah di Dashboard tersebut. Orang awam pun bisa langsung memahami tanpa perlu penjelasan panjang lebar.

Anda bisa mengidentifikasi tekanan air hanya dengan melihat peta di Dashboard. Kalau merah artinya tekanannya kurang. Kalau hijau artinya tekanannya normal. Kalau biru, artinya tekanannya berlebihan.

Demikian juga tabel permintaan dan suplai. Sangat sederhana dan mudah dipahami. Bahkan Anda bisa tahu berapa total cadangan air di seluruh Batam hanya dengan melihat Dashboard tersebut. Angkanya ditampilkan. Dashboard Inilah jantung operasi pelayanan air ATB! Semua jadi terlihat sederhana dan mudah, ya kan.

Kalau tak percaya, main-mainlah ke Booth ATB di Mall Pelayanan Publik (MPP) Batam Center. Disana Anda bisa lihat secara terbuka dan buktikan sendiri.

Karena sangat sederhana, petugas kami bisa sangat mudah dan cepat memahami informasi yang ditampilkan di Dashboard. Dan mereka bisa dengan cepat mengambil keputusan untuk menyikapi informasi tersebut. Baik yang berkaitan dengan tekanan air. Atau aliran air. Atau bahkan produksi.

Inilah yang kami sebut, kesederhanaan menjadi kecanggihan yang luar biasa. Tidak rumit.
Bayangkan jika tampilan Dashboard yang kami buat itu rumit?

Kami punya 287 ribu sambungan pelanggan. Akan sangat sulit mengontrolnya jika tidak sederhana. Alih-alih kami bisa menjalankan tugas dengan mudah, malah jadi dibebani dengan keruwetan. Dan belum tentu bisa memecahkan masalah utamanya.

Tapi tahukah Anda bahwa dibelakang teknologi yang tampaknya sederhana itu ada kerumitan yang luar biasa?

Kami butuh waktu lima tahun untuk membangunnya. Proses pembangunan teknologi ini sangat berat. Berdarah-darah. Karena harus menggabungkan seluruh instalasi dalam satu tampilan. Butuh ketelitian yang sangat presisi. Hingga noktah terkecil. Kami sangat detil dalam hal ini.

Apalagi ATB membangunnya betul-betul dari nol besar. Tanpa contoh atau acuan sama sekali. Jadi jangan heran bila ATB akhirnya mendapatkan Paten atas teknologi tersebut. Karena memang ATB adalah penemunya. Bangga bisa jadi perusahaan yang tidak hanya mikirin bisnis, tapi juga bisa jadi penemu!

Sesungguhnya, teknologi ini lahir dari hal-hal yang biasa digunakan orang. Hanya saja memang prosesnya rumit. Namun ditangan anak bangsa yang bekerja keras, pantang menyerah dan mau berinovasi, ATB mampu menciptakan sesuatu yang luar biasa dari hal-hal yang dianggap biasa. Sebuah mahakarya. It’s a Masterpiece.

Sayangnya, diluar sana masih banyak perusahaan yang pingin kelihatan wow dengan menampilkan system yang complex dan ruwet. Alih – alih mereka jadi keren, malah masalah yang mereka panen. Tampilan yang rumit tak menyelesaikan masalah. Mungkin justru akan menimbulkan kerumitan baru. Tampilan yang sederhana justru adalah kecanggihan yang sesungguhnya.

Lalu mengapa mereka pilih yang rumit, kalau mereka tahu bahwa sederhana itu hebat? Mungkin dari yang rumit, jadi rumit juga buat dilacak. Mari Kita Pikirkan.
Salam Kopi Benny. (*)