Pemimpin berfikir dan berbicara mengenai solusi, sementara pengikut berfikir dan bicara mengenai masalah (Bryan Tracy)

Jack Welch adalah legenda. Setidaknya bagi General Electric (GE). Bagaimana tidak, Jack Welch adalah sosok yang behasil mengubah GE dari dari sebuah perusahaan bola lampu pijar dan peralatannya, menjadi sebuah kerajaan bisnis.

Apa yang dilakukan Jack Welch di GE? Mari kita lihat bersama.
Welch adalah CEO termuda di GE. Diangkat pada tahun 1981. Hal pertama yang dilakukannya saat menjadi CEO adalah membongkar dan merampingkan perusahaan di segala lini. Mulai dari sistem manajemen, karyawan, hingga unit bisnis.

Dalam 5 tahun, Jack menyusutkan jumlah karyawan dari 411 ribu, menjadi 299 ribu. Berkurang 112 ribu karyawan. Sekitar 37 ribu diantaranya adalah karena bisnis yang dijual, dan 81 ribu dikurangi selama berjalannya usaha.

Jack juga menutup banyak pabrik, mengurangi biaya gaji dan memotong unit bisnis yang berjalan lambat. Jack menegaskan, setiap bisnis GE harus berada di posisi satu atau dua di tiap industrinya. Jika tidak, lebih baik ditutup. Pengelolaan bisnis memang harus focus!

Apakah keputusan Jack berjalan mulus?

Memangkas karyawan itu bukan masalah kecil. Apalagi merampingkan unit usaha. Biasanya perusahaan yang telah memangkas karyawan dan unit bisnis memberikan sinyal akan segera tenggelam. Pemangkasan karyawan identik dengan pengurangan beban usaha. Yang juga sering dikaitkan bahwa perusahaan itu tengah dalam posisi tidak sehat dan tentu tidak efisien.

Ini tentu akan berpengaruh kepada citra perusahaan. Apalagi bila perusahaan Anda melantai di bursa. Keputusan restrukturisasi dan efisiensi biasanya akan membuat pasar bertanya-tanya. Apa yang terjadi di dalam perusahaan? Nilai saham bisa turun drastis akibat sentimen negatif.

Jack Welch sadar keputusan yang diambilnya tidak populer. Butuh sebuah keberanian dan strategi yang tepat dalam mengambil sikap, demi mewujudkan sebuah kemajuan. Dan dia melakukannya dengan baik.

Apa yang terjadi kemudian?

Strategi Welch ini justru banyak diadopsi oleh Pimpinan Eksekutif lainnya. Walaupun pada awalnya ia banyak ditentang karena kebijakannya, namun pada akhirnya ia mendapatkan rasa hormat.
Tapi lebih dari itu, Jack Welch membawa GE menjadi perusahaan raksasa. Pendapatan GE bertumbuh sangat fantastis. Dari sekitar USD 26, 8 miliar di tahun 1980, menjadi USD 130 miliar di tahun 2000.

GE juga sempat menjadi perusahaan paling berharga dan paling besar di Dunia di tahun 2004, dengan nilai USD 410 miliar. Padahal, sebelum dipimpin Jack Welch, nilai perusahaan ini hanya USD 14 miliar.

Begitulah seorang pemimpin sejati. Mampu mencari solusi dalam setiap masalah. Namun lebih dari itu, Pemimpin harus punya keberanian dan strategi yang tepat untuk mengeksekusi solusi tersebut. Walaupun solusi itu tidak populer. Pemimpin yang hebat mampu membawa melalui badai yang hebat!

Demikian juga yang terjadi di ATB. Perusahaan ini bukan perusahaan yang dikenal oleh banyak orang pada awal-awal berdiri. Bahkan tak dikenal oleh warga Batam sendiri. Mereka baru tahu ATB jika sudah ada masalah saja. Selebihnya tidak.

Namun, pengelolaan perusahaan oleh pemimpin yang andal dan profesional menjadikan ATB terus berkembang. Sekarang, perusahaan ini eksis, tidak hanya di Batam tapi juga di Indonesia. Terutama dalam 5 sampai 9 tahun belakangan.

Apa yang terjadi di ATB dalam kurun waktu 5 sampai 9 tahun belakangan ini? Sehingga perusahaan bisa bertransformasi sedemikian pesat?

Jawabannya sederhana saja. ATB memiliki pemimpin yang visioner, fokus dan memiliki strategi yang jitu untuk membawa perubahan besar bagi bisnis ATB. Dimana perusahaan tidak hanya mengedepankan keuntungan, tapi juga memberikan kinerja yang memuaskan.

Para pemimpin di ATB adalah orang yang solutif dan inovatif. Kami harus bisa menemukan jalan keluar yang tepat bagi setiap masalah yang ditemukan. Tidak ada yang mengeluh dan berpangku tangan ketika ada masalah. Apalagi menyerah. Tidak boleh.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Perusahaan ini mampu melakukan banyak terobosan. Sehingga mendorong perusahaan semakin efisien.

Apakah kami tak mendapat masalah pelik dalam kurun waktu 9 tahun belakangan?

Wah, masalah pelik terjadi beruntun. Salah satunya adalah tidak adanya penyesuaian tarif air dalam kurun waktu hampir 10 tahun terakhir. Ini tentu saja akan sangat berpengaruh kepada bisnis ATB. Karena di satu sisi semua komponen produksi dan pendukung naik berkali-kali lipat, tapi di sisi lain, tarif air yang menjadi pendapatan kami tidak boleh naik.

Belum lagi masalah terbatasnya ketersediaan air baku. Kalau tidak jago sudah dari dulu Batam kekurangan air. Beruntunglah ATB ada di Batam, hingga saat ini pelanggan masih bisa menikmati layanan air dengan baik, ketika daerah lain menjerit karena kekeringan.

Mungkin kami mengeluh juga, karena kesepakatan telah dilanggar. Tapi apakah lalu terus tetap mengeluh? Atau lalu mencari kambing hitam?

Tidak. Kami tidak menghabiskan waktu yang berharga untuk mengeluh. Kami juga tidak mau mengorbankan pelanggan kami yang menanti layanan air yang berkualitas. Kami memilih untuk mencari solusi, dan akhirnya malah melahirkan terobosan-terobosan baru.

Apa yang terjadi?

ATB bertransformasi menjadi perusahaan yang profesional, dengan kinerja yang semakin hari semakin moncer. ATB telah menjadi ‘Benchmark’ bagi perusahaan air minum terbaik.

‘Benchmark’ bagi perusahaan yang sukses dan profesional.
Inilah bagian dari kerja keras seorang pemimpin. Yang mampu menggerakan teamwork-nya, sehingga perusahaan bisa memberikan hasil yang maksimal dan memuaskan. Menuju pengakhiran, ATB tidak semakin surut tapi malah semakin berkibar.

Lalu bagaimana bila sebuah perusahaan tidak dikelola oleh pemimpin yang profesional?

Mungkin kita bisa lihat beberapa perusahaan di Indonesia. Terutama yang berstatus BUMN, BUMD bahkan PDAM. Banyak yang tak fokus dengan pekerjaannya. Bahkan, cenderung mengakomodir kelompok tertentu. itu yang membuat perusahaan menjadi tidak sehat.

Apalagi bila BUMN, BUMD bahkan PDAM menjadi bagian dari alat kekuasaan. Mereka tak menempatkan orang yang tepat pada tempatnya. Tak mendapat pemimpin yang memiliki kemampuan yang cukup. Merekrut orang bukan atas dasar pertimbangan profesional. Hanya karena kekeluargaan, atau alasan sejenis.

Ini membuat banyak terjadi benturan kepentingan di dalam perusahaan. Sehingga, sedikit sekali perusahaan seperti ini yang bisa tumbuh besar. Inilah yang menyebabkan banyak BUMN, BUMD dan PDAM yang gagal.

Apakah hal seperti ini suatu factor kebetulan, atau jangan – jangan memang diinginkan? mari kita pikirkan.

Salam Kopi Benny (*).