Cinta yang kuat tak pernah mengukur. Dia hanya memberi. (Bunda Teresa)

Ada kemiripan yang sangat jelas antara perusahaan-perusahaan raksasa dunia. Mereka dermawan, peduli dan peka. Perusahaan-perusahaan ini tak ragu menyisihkan keuntungan untuk memberikan sumbangsih terhadap peningkatan kualitas kehidupan dan lingkungan.

Beberapa nama besar seperti Microsoft, Google, Goldman Sach tak luput dari daftar tersebut. Uang yang digelontorkan untuk kegiatan sosial bisa mencapai ratusan juta US Dollar. Atau sama dengan Triliunan Rupiah.

Alokasinya macam-macam. Mulai dari mendanai penelitian HIV/AIDS atau Kanker, memberikan bantuan makanan dan pendidikan di negara-negara kelas tiga, hingga mendukung peningkatan taraf hidup masyarakat ekonomi lemah.

Saya akan coba ambil beberapa nama untuk Anda.

Misalnya perusahaan Bioteknologi Amerika Serikat, Gilead Sciences. Perusahaan ini pernah menggelontorkan hampir USD 447 juga untuk kegiatan sosial. Sebagian dana tersebut digunakan untuk penelitian tentang HIV / AIDS dan penyakit hati.

Tahun 2015 Google menggelontoran USD 167,8 juta untuk medukung penyelesaian masalah sosial di beberapa negara. Seperti mendanai bantuan tunai kepada orang miskin, mendanai dan mengasistensi pengembangan Micronavigation App untuk orang buta, hingga mendukung upaya advokasi reformasi peradilan pidana di sejumlah negara.

Microsoft sedikit lebih gila lagi soal kedermawanan. Tidak hanya menggelontorkan angka yang fantastis, perusahaan ini juga menggunakan keterampilan teknologi para Enginer untuk mendukung kegiatan sosial di beberapa negara kelas tiga.

Sebenarnya, apa yang diharapkan perusahaan-perusahaan ini melalui aktifitas sosial macam itu? Apakah ketika mendonasikan uangnya ke negara-negara yang kekurangan pangan seperti di Afrika, lantas perusahaan mendapat nilai tambah langsung? Ternyata tidak.

Lantas, mengapa mereka sengotot itu melakukan kegiatan sosial bernilai triliunan rupiah?
Mereka sadar, bahwa keuntungan yang diperoleh harus memberikan kontribusi lebih bagi perbaikan kualitas hidup dan lingkungan. Sehingga mereka berlomba-lomba untuk berdonasi dengan berbagai cara. Sehingga Kontribusi yang diberikan mendorong peningkatkan kualitas kehidupan.

Itulah bagian dari kepedulian dan kepekaan. Mereka tak mendapatkan keuntungan secara langsung.Tapi ada multiplier efect yang ditimbulkan karena kepedulian mereka. Inilah yang disebut “Investasi Sosial”.

Budaya peduli, harus diadopsi menjadi budaya inti perusahaan dan terus menerus diasah. Soal peduli ini pulalah yang menjadi salah satu landasan penting yang kami junjung di ATB. Sehingga menjadi salah satu bagian tak terpisahkan.

Saat ini ATB adalah salah satu yang paling peduli di Batam. Kepedulian ini dimanifestasikan melalui sejumlah program yang dirancang khusus untuk peningkatan kualitas hidup dan lingkungan di kota Batam. Kami beri nama, ATB Peduli.

Kepedulian ini memberikan dampak kepada berbagai lapisan masyarakat. Beragam. Ada yang memberikan menjangkau dan memberikan dampak kepada sedikit orang. Seperti Beasiswa yang menjadi bagian dari program ATB Peduli Pendidikan. Kegiatan ini hanya menjangkau ratusan pelajar dan mahasiswa berprestasi.

Tapi tak jarang pula kepedulian ATB memberikan dampak kepada ribuan orang. Seperti contohnya, Festival Hijau, yang menggerakan 1.500 sampai dua ribu orang untuk turut peduli terhadap lingkungan. Ada ATB Futsal Competition, yang memberikan dampak kepada hampir 10 ribu orang.

Tapi ATB tak berhenti disitu. Di malam pergantian tahun 2019 menuju 2020, ATB menyajikan kepedulian yang lebih besar lagi melalui kegiatan ATB Dendang Pesisir. Event ini kami gelar dengan bekerjasama bersama Pemerintah Kota Batam dan BP Batam.

Anda tahu dampaknya bisa dirasakan berapa orang?

Paling sedikit 40 ribu orang. Mereka adalah masyarakat Batam yang hadir di Dataran Engku Putri, dari berbagai latar belakang. Tua dan muda, berpendidikan dan tak berpendidikan, punya uang atau tidak punya uang. Semua tumpah ruah pada malam itu.

Dendang Pesisir adalah upaya ATB untuk menciptakan momentum yang memberikan ruang bagi seluruh masyarakat Batam bisa berkumpul bergembira bersama. Untuk semua kelas. Tidak ada yang dibedakan.

Dimana masyakat Batam bisa merasakan kehangatan berkumpul bergembira bersama saudara-saudaranya? Tanpa harus dibatasi sekat-sekat imajiner? Bukankah ini yang sekarang kita butuhkan? Momen yang membangun kebersamaan dan kebahagiaan bersama.

ATB tak minta pamrih. Goalnya Cuma satu. Kalau masyarakat Batam bisa menikmati kegiatan tersebut, itulah keberhasilan yang ingin dicapai ATB. Karena kami hanya ingin memberikan ruang dan waktu agar warga Batam punya moment yang bisa dinikmati bersama.

Dan Anda harus tahu, kami tidak menggelar acara itu asal-asalan. ATB memperhatikan hingga detail terkecil. Acaranya dikemas sedemikian rupa, sehingga pengunjung juga sekaligus bisa belajar dan mendapat pengalaman baru. Jadi tidak hanya asal dibuat.

ATB tidak setengah-setengah dalam melakukan menunjukan kepeduliannya. Kami totalitas dalam mengelola air – dimana itu memang keahlian kami. Tapi kami juga totalitas di bidang yang tidak kamu kuasai, demi menunjukan kepedulian kami kepada masyarakat kota Batam. Motto kami adalah, melakukan yang terbaik atau tidak sama sekali. Itu kata kunci yang harus diingat baik-baik.

Anda tentu betanya-tanya, memangnya apa dampak kegiatan tersebut kepada ATB? Apakah ATB mencari keuntungan?

Kami tidak mencari keuntungan apapun. Kami tak jualan tiket untuk mendapat income. Tapi inilah bagian dari misi ATB untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kenikmatan masyarakat Batam. Kami tak hanya memikirkan diri sendiri.

Saya harus menyebut ini sebuah terobosan. Batam punya puluhan, mungkin ratusan perusahaan raksasa. Beberapa diantaranya adalah perusahaan multinasional, atau beromset triliunan rupiah. Berkali-kali lipat dari omset ATB.

Tapi, ATB adalah perusahaan swasta pertama yang menunjukan kepedulian melalui Dendang Pesisir. Kami bangga, sebagai perusahaan yang menjadi pelopor. Kami adalah aset kota Batam. Sehingga ATB wajib memberikan kontribusi bagi Kota Batam.

Jangan menunggu untuk jadi perusahaan yang peduli. Jangan tunggu omset Anda triliunan rupiah. Karena kalau sekarang Anda masih menunggu, Anda tidak akan pernah mulai berbuat atau berkontribusi untuk Batam.

Indonesia, khususnya Batam akan menjadi lebih besar lagi, ketika banyak perusahaan yang memiliki kepedulian dan kepekaan untuk bisa meningkatkan kualitas kehidupan di Lingkungannya.

Masih banyak perusahaan swasta lain di Batam. Bahkan banyak yang lebih eksis dan lebih mapan dari ATB. Tapi apakah mereka pernah memikirkan untuk memberikan kontribusi lebih bagi masyarakat Batam seperti yang dilakukan ATB? Mari kita pikirkan.

Salam Kopi Benny. (*)