Ayah miskin saya sering berkata, “Berinvestasi itu berisiko.” Tapi Ayah kaya saya berkata, “Tidak berpendidikan secara finansial itu berisiko.” (Robert T Kiyosaki)

Saat ini, investasi telah menjadi tren. Terutama di kalangan para milenial. Kebanyakan dari mereka tak lagi mempercayakan uangnya hanya pada institusi Perbankan. Namun, sudah membagi sebagian penghasilannya untuk membeli instrumen-instrumen investasi.

Tapi, tak sedikit dari mereka yang belum teredukasi dengan baik mengenai investasi yang sehat. Kebanyakan ingin melakukan investasi kecil, kemudian mendapatkan hasil maksimal. Dalam waktu singkat pula. Tak peduli bagaimana caranya. Ini yang kita sebut sebagai “High Risk High Return”

Kondisi ini dimanfaatkan oleh sejumlah perusahaan. Salah satu yang sedang hot adalah Memiles. Perusahaan investasi berkedok bisnis Digital Advertising. Perusahaan ini menawarkan investasi yang bisa membuat Anda terbelalak. Hanya dengan Rp 17 juta, bisa langsung dapat mobil mewah seperti Mercedes Benz atau Pajero Sport.

Ini gimana ceritanya? Masuk akal gak ini? Secara logika, hal itu tak mungkin bisa dipenuhi. Yang paling mungkin adalah 1 kata. Penipuan.

Perusahaan Asuransi-pun saat ini turut menjadikan investasi sebagai salah satu instrumen “jualan” mereka. Kita tentu sadar, perusahaan Asuransi yang awalnya hanya menawarkan produk perlindungan, kini turut berkembang dan menawarkan pengelolaan investasi.

Dulu, tak ada perusahaan Asuransi yang memberikan return atau pengembalian atas Premi yang telah diberikan Nasabah. Karena pada prinsipnya, produk utama Asuransi memang hanya perlindungan terhadap potensi resiko atau bencana yang tidak diinginkan oleh Nasabahnya. Anda membayar Premi untuk mendapatkan perindungan. Tidak lebih.

Namun, dalam perjalanannya produk ini jadi kurang menarik bagi Nasabah. Hal ini berdampak terhadap pendapatan perusahaan Auransi yang cenderung stagnan. Apalagi, persaingan kian ketat karena perusahaan Asuransi yang semakin menjamur.

Kondisi ini mendorong perusahaan Asuransi melakukan terobosan. Harus ada nilai tambah. Sehingga lahirlah apa yang kita kenal dengan istilah Bancassurance atau biasa kita kenal dengan produk Link. Produk Asuransi yang memberi perlindungan, dipadankan dengan produk investasi yang memenuhi kebutuhan finansial jangka panjang nasabah.

Lahirnya Bancassurance membuat persaingan antar perusahaan Asuransi bergeser. Dari yang hanya menawarkan produk perlindungan, kini mereka juga mengiming-imingi nasabah dengan imbal hasil investasi yang tinggi.

Namun masalah akan muncul, bila imbal hasil yang ditawarkan berada di atas angka wajar. Karena akan mendorong perusahan Asuransi untuk mencari lahan investasi yang menjanjikan nilai pengembalian yang lebih besar pula.

Apakah ini sehat?

Mari kita telisik. Anda tentu tak asing dengan istilah High Risk, High Return. Dalam kasus ini, ungkapan tersebut sangat relevan. Jika perusahaan Asuransi mengharapkan pengembalian yang tinggi dalam jangka pendek, maka resiko investasi yang diambil juga cenderung tinggi pula.

Hal inilah yang membuat Asuransi terperosok. Apalagi bila mereka berinvestasi ke lahan yang salah, ke bidang yang salah, dengan orang yang salah. Bukannya untung, malah buntung dan berhutang besar.

Perusahaan Asuransi Plat Merah seperti Jiwasraya telah jadi korban. Gagal membayar pengembalian dana nasabah. Banyak praduga yang muncul. Mulai dari korupsi, penggelapan dan seterusnya. Sah-sah saja.

Tapi dari kacamata saya, sesungguhnya kejadian ini adalah bagian dari konsekuensi atas investasi yang tidak mempertimbangkan resiko dengan matang. Kasus Jiwasraya semata-mata adalah masalah Risk Management yang tidak mengedepankan kehati-hatian.

Padahal investasi sebuah perusahaan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Harus dengan wawasan dan pengetahuan yang cukup. Ketika investasi dilakukan dengan cara yang tidak benar dan tanpa kalkulasi resiko, maka Anda sedang masuk dalam proses kehancuran.

Jadi, bagaimana caranya Anda bisa tahu perusahaan tersebut telah melakukan investasi dengan benar?

Cara paling mudah adalah dengan melihat laporan keuangannya. Laporan keuangan perusahaan seperti medical chek up atau laporan kesehatan bagi sebuah perusahaan. Jadi, laporan keuangan adalah potret kesehatan perusahaan.

Perusahaan-perusahaan elite, biasanya akan menerapkan audit keuangan yang ketat. Oleh Kantor Akuntan Publik yang juga kredibel, dan metodologi audit yang juga ketat. Ini semua demi memastikan, bahwa perusahaan memanajemen keuangannya dengan baik. Termasuk mengelola investasi dengan cara-cara yang sehat.

ATB Sendiri telah menjadi salah satu perusahaan yang memandang audit keuangan sebagai hal yang sangat penting. Kami adalah perusahaan swasta yang salah satu pemegang sahamnya adalah perusahaan terbuka yang melantai di New York Stock Exchange. Sehingga, ATB dituntut untuk mengelola keuangannya setransparan dan seprofesional mungkin.

Bagaimana cara memastikan pengelolaan keuangan ATB dilakukan secara profesional dan transparan?

ATB diadit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang masuk dalam jajaran Top 5 dunia. Perusahaan ini pernah diaudit oleh KAP sekelas PricewaterhouseCoopers (PwC). Sekarang ATB diaudit oleh Ernst & Young (EY).

Proses auditnya juga tidak abal-abal. Kami diaudit dengan standar Sarbanes Oxley. Sarbanes Oxley adalah salah satu audit yang paling ketat, dengan tingkat pengawasan dan transparansi yang tinggi. Audit Sarbanes Oxley yang diterapkan kepada ATB keluar dengan hasil yang memuaskan.

Mengapa audit ini menjadi penting? Mengapa ATB yang hanya perusahaan lokal ini harus diaudit oleh KAP Top 5? Dengan standar Sarbanes Oxley pula? Apa pentingnya?

Untuk menjamin tidak terjadi kesalahan manajemen dalam melakukan pengelolaan keuangan. Termasuk dalam meletakan investasi.

ATB merupakan perusahaan yang berinvestasi untuk jangka panjang. Hasil investasinya tak bisa langsung dinikmati saat itu juga. Butuh waktu yang panjang. 25 tahun misalnya. Jadi, investasi yang dilakukan ATB adalah investasi membeli masa depan. Membeli prospek.

Ketika ATB menjalankan investasinya, belum ada jaminan bahwa investasi itu akan memberikan hasil yang tepat dan maksimal pada waktu yang diinginkan. Apalagi, ATB adalah perusahaan swasta yang tak menggunakan uang negara. Uang yang dikeluarkan untuk Investasi murni milik perusahaan.

Sehingga ATB harus sangat prudent dalam melakukan investasi. Kegagalan dalam melakukan investasi, baik dari sisi waktu, pilihan investasi maupun jenis investasi akan memberikan dampak yang berbahaya bagi masa depan perusahaan.

Disinilah kejelian dan kehati-hatian sangat dituntut. Kami mengkalkulasi semuanya, hingga bagian-bagian terkecil. Kami memilih bentuk investasinya, cara dan waktu investasinya dengan sangat teliti. Dengan memperhitungkan faktor resiko yang mungkin muncul.

Di dalam melakukan proses investasi, salah satu parameter yang tak pernah dilupakan adalah memperhitungkan resiko. Sehingga dengan investasi yang tepat, kami mampu menakar resiko dengan tepat.

Hampir 25 tahun kami berada di Batam, ternyata ATB telah terbukti mampu melakukan investasi dengan cermat dan tepat. Sehingga mengurangi potensi investasi yang terbuang sia-sia, dan potensi resiko yang muncul akibat investasi yang salah.

Inilah yang kemudian membuat bisnis pengelolaan air menjadi menarik bagi banyak pihak. Ini semua gara – gara ATB sukses mengelola air di Batam. Semua menjadi terlihat mudah dan menjanjikan.

Investasi yang dilakukan ATB dapat memberikan nilai tambah, tidak hanya bagi perusahaan namun juga bagi pelanggan kami yang ada di Batam. Anda harus sadar, investasi yang baik tidak hanya berdampak bagi keuntungan perusahaan tapi juga pelanggan.

Mengapa demikian?

Investasi yang berhasil, tidak hanya diukur dari keuntungan materil berupa uang. Tapi juga dia berhasil mendapapatkan reputasi, kredibilitas, branding, dan tentu juga peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Point terakhir menjadi sangat penting, karena memang pada dasarnya investasi sebuah perusahaan harus mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Kita sudah melihat banyak perusahaan lain yang melakukan investasi besar-besaran. Tapi pada akhirnya mereka tak melakukan peningkatan kualitas layanannya. Tapi hanya sekedar menguntungkan bagi perusahaan itu sendiri. Inilah yang disebut investasi yang salah tempat dan tidak tepat.

Akhir-akhir ini banyak fakta mulai terbuka, tentang perusahaan yang ternyata punya masalah terhadap pengelolaan keuangan. Terutama ketika mereka berinvestasi. Saya yakin Anda bisa sebutkan contohnya satu persatu. Beberapa diantaranya malah perusahaan BUMN, dan perusahaan terbuka.

Apakah ketika berinvestasi mereka lupa menakar resiko? Atau, mereka tak peduli dengan resiko?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)