Jika kamu ingin tumbuh, temukan kesempatan yang baik. Jika kamu ingin menjadi perusahaan yang baik, pikirkanlah permasalahan yang bisa kamu beri solusi. (Jack Ma)

“Aduh, kok hasil fotonya kayak gini? Jelek banget. Sia-sia deh kemaren udah foto capek-capek.”

“Aku kok kelihatan bulet nih, padahal sebenarnya ngga seperti itu kan”

Beberapa keluhan ini dulu mungkin sering kita dengar. Mungkin Anda juga pernah mengeluh seperti itu. Susah-susah datang ke sebuah lokasi dan menghabiskan banyak waktu untuk berfoto. Banyak gaya sana sini. Setelah hasilnya dicetak, ternyata tidak sesuai harapan.

Mengapa?

Memang itulah kondisi pada era tersebut. Dimana tak semua orang bisa memotret dengan baik. Untuk menghasilkan foto yang bagus, pengguna dituntut untuk mengerti banyak hal tentang fotography. Mengerti pengaturan cahaya, fokus, diafragma, dan seterusnya. sangat rumit.

Peralatan Fotography saat itu belum canggih. Masih sangat manual. Belum bisa memberikan solusi praktis bagi pengguna. Apalagi, Anda baru bisa melihat hasilnya setelah dicetak.

Tapi jaman sekarang, fotografi jadi sangat sederhana. Anda hampir tak bisa membedakan hasil jepretan seorang profesional dan seorang amatir. Hampir tidak ada bedanya.

Untuk menghasilkan foto yang bagus, Anda bahkan tak perlu menenteng kamera berukuran besar. Kalau dulu Anda dibuat ribet membawa kamera DSLR saat traveling demi punya foto yang bagus, sekarang cukup membawa telepon genggam. Sudah banyak pilihan-pilihan lain yang lebih praktis.

Dulu, telepon genggam memang hanya kita gunakan untuk telepon dan saling berkirim pesan singkat. Tidak ada fitur lain kecuali kedua itu saja. Tapi sekarang Telepon genggam tak lagi dipertimbangkan hanya sebagai alat komunikasi.

Sekarang telepon genggam memberikan semua solusi. Sampai-sampai muncul istilah, dunia dalam genggaman. Anda bisa dapat semua solusi dalam 1 genggaman. Mulai dari pesan tiket, pesan makan, menyelesaikan transaksi perbankan, membuat materi dokumen. Apa saja yang anda inginkan, selesai hanya dalam 1 gadget.

Kamera telepon genggam juga termasuk yang menjadi unggulan. Kualitasnya tak kalah dengan kamera DSLR yang ukurannya besar itu. Resolusi kamera di telepon genggam bisa mencapai 108 mega pixel. Wow! Bukan main bukan? Bahkan kamera digital-pun belum sampai di kelas itu.

Inilah yang kita sebut dengan bisnis yang memberikan solusi. Produk-produk ini dibuat dengan menggunakan teknologi terbaru, dan terus menerus berinovasi meningkatkan kualitas. Sehingga, pengguna bisa mendapat hasil yang maksimal, dengan usaha yang minimal.

Bisnis yang tak menawarkan kemudahan dan solusi, bukan bisnis yang tepat di jaman Now. Sudah tak laku lagi. Dan malah menimbulkan resiko. Jadi, jika ingin unggul, Anda juga harus mampu membuat produk yang menawarkan solusi.

Seperti apa sih produk yang menawarkan solusi itu?

Harus yang ringkas, mudah, tapi bisa menyelesaikan banyak masalah. Karena orang jaman sekarang tak mau lagi dibuat ribet dan pusing. Apalagi kalau disuruh belajar. Tak akan mau. Mereka cenderung mau yang mudah dan instan, tapi semua urusan bisa selesai dengan hasil memuaskan.

ATB sendiri telah meraba kebutuhan ini sekitar 10 tahun yang lalu. Kami merasa, pengelolaan air di Batam tak boleh lagi dilakukan secara manual atau main perasaan. Kita harus sadar bahwa manusia paling sering lalai dan membuat kesalahan.

Kebutuhan penggunaan teknologi yang memberi solusi menjadi sangat mendesak.
Apalagi Batam merupakan daerah tujuan investasi. Hari ini saja, Batam telah dihuni oleh sekitar 1,3 juta penduduk, dengan lebih dari 290 ribu sambungan. Semuanya dilayani melalui pipa sepanjang lebih dari 4.000 KM. 4 kali panjang pulau Jawa!

Anda harus tahu, ini adalah pekerjaan yang sangat kompleks bila dilakukan secara manual. Anda akan menemui banyak masalah di lapangan. Anda harus bekerja sangat keras, namun kualitas dari layanan yang dihasilkan tidak akan maksimal dan memuaskan. Alih – alih malah Resiko yang kita peroleh. Kita bisa kehilangan daya saing dan investasi bisa kabur.

ATB membangun rencana induk pengembangan teknologi informasi sejak 10 tahun yang lalu. Namun masalahnya, tak mudah mengimplementasikan penggunaan teknologi dalam pengelolaan air. Karena air ini punya sifat yang sangat natural dan cenderung rendah teknologi. Sehingga, mengintervensinya dengan teknologi akan sangat sulit.

Start awalnya adalah dengan melakukan pemetaan jaringan di seluruh pulau Batam menggunakan teknologi Geographic Information System (GIS). Pemetaan yang kami lakukan, bahkan bisa lebih lengkap dari yang dimiliki oleh Google Map.

Setelah itu, saya menemukan sistem baru yang membuat pengelolaan air di Batam jadi lebih mudah dan lebih efisien. Yakni pemetaan tekanan air dengan menggunakan sistem terintegrasi untuk optimalisasi jaringan dan efisiensi suplai air bersih. Sistem ini telah mendapat Hak Paten dari Kementerian Hukum dan HAM RI.

Pembangunan system ini membutuhkan waktu bertahun-tahun, karena sifatnya Customized, Comprehensive, dan terus menerus disempurnakan.

Sistem yang kami implementasikan ini bisa mengetahui informasi-informasi detail terkait produksi, distribusi, hingga kontrol kebocoran. Bahkan, informasi pelanggan juga kami petakan secara detil.

Analisa Big Data juga kami lakukan. Dengan demikian, ATB tidak hanya bisa bereaksi setelah sebuah masalah terjadi, namun lebih dari itu, kami bisa mendektesi masalah sebelum terjadi.

Apakah itu mungkin?

Sangat mungkin, karena kami telah melakukannya. Tanpa bantuan teknologi ini, Batam telah kehabisan air bersih sejak 3 tahun silam. Namun, karena ATB telah menggunakan teknologi, kami telah mengidentifikasinya sejak dini dan mempersiapkan langkah-langkah pencegahan.

Di masa depan, dengan meningkatnya kompleksitas, kota-kota akan mengalami keterbatasan air, sementara permintaan air terus meningkat, tidak ada pilihan lain kecuali menggunakan teknologi yang sifatnya solutif. Memberikan penyelesaian.

Tanpa itu, kita akan kembali ke jaman batu. Kita akan punya masalah yang tidak ada habisnya. Kita hanya akan berkutat dengan masalah, dan akan kehilangan fokus untuk masalah lain yang lebih penting.

Teknologi ini adalah satu – satunya di Indonesia, dan hanya dimiliki oleh ATB. Sejumlah kota besar di Indonesia, telah mencoba membangun sistem serupa. Namun sudah bertahun-tahun mencoba, mereka tetap saja gagal. Mereka cuma dapat kulit luarnya saja, sementara isinya tidak mereka dapatkan.

Lalu, ketika kita bisa menggunakan solusi cerdas, apakah Anda masih ingin melakukan yang manual. Ketika kita punya pilihan yang lebih mudah, haruskah kita mengambil pilihan yang lebih sulit? Bukankan seharusnya kita mempertahankan yang baik dan membuang yang buruk? Mari kita pikirkan.

Salam Kopi Benny. (*)