“Cara paling mulia menjadi bijak dengan refleksi diri, Cara terburuk menjadi bijak adalah belajar dari pengalaman pahit”. (Konfusius)

Kota Wuhan, di Provinsi Hubei, Tiongkok mendadak menjadi sangat terkenal. Kota ini telah menjadi “Ground Zero” virus Corona, 2019-nCOV. Virus baru yang telah membuat orang di seluruh dunia terancam ketakutan.

Keberadaan virus ini telah terindikasi sejak awal Desember 2019 lalu dan mulai merebak. Tak perlu waktu lama, memasuki Februari 2020, New York Times mencatat ada 1.016 jiwa asal Tiongkok meregang nyawa akibat terjangkit virus Corona.

Kini, Corona telah menjadi pandemik. Tidak hanya di Tiongkok, tapi virus ini telah menjadi wabah di seluruh dunia. Secara keseluruhan, sudah ada 16 negara yang terpapar Corona. Diantaranya adalah negara-negara maju seperti Korea Selatan , Italia dan Singapura. Tidak terlewatkan juga Indonesia.

Tentu saja penyakit ini tak mengenal negara maju atau tidak. Negara kaya atau miskin. Dia akan menyerang semua orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah dan tak menjaga kebersihan.

Per tanggal 7 Maret 2020, sudah 100.656 penduduk bumi terjangkit virus Corona. 3.411 diantaranya meninggal dunia, dan 55.753 penderita berhasil disembuhkan.

Namun dibalik kisah sedih ini, ada cerita lain yang menarik perhatian. Apa itu?

Terjadi kepanikan luar biasa di berbagai daerah. Kepanikan ini sampai mendorong banyak orang melakukan sejumlah tindakan yang tak rasional. Memborong masker besar-besaran untuk kebutuhan sendiri.

Bahkan, ada yang melakukan Panic Buying, dengan memborong kebutuhan pokok dalam jumlah besar. Mereka menimbun untuk kebutuhannya sendiri, tak peduli orang lain. Karena merasa takut keluar rumah dalam waktu yang lama.

Yang lebih menyakitkan adalah perilaku sekelompok orang yang justru memanfaatkan situasi ini. Mereka mengesampingkan etika, demi mendulang untung sebesar-besarnya. Menimbun masker, kemudian menjualnya kembali dengan harga yang sangat fantastis.
Inilah yang kita sebut dengan mengail di air keruh. Mengambil kesempatan di atas penderitaan orang lain. Mengorbankan pihak lain yang lebih membutuhkan.

Mendadak manusia menjadi begitu egois. Sebagian orang hanya memikirkan dirinya sendiri, dan menolak kerabatnya yang akan datang ke Indonesia hanya gara-gara takut tertular.

Apakah kepanikan ini beralasan?

Mari kita lihat faktanya. Jika melihat lebih dari 100 ribu orang yang tertular Coronoa, hanya 3 persen yang tidak terselamatkan. Sementara lebih dari 90 persen masih berpeluang untuk disembuhkan. Kepanikan yang berlebihan justru membuat kondisi ini jadi sangat memprihatinkan dan menunjukkan kita belum dewasa.

Kita lupa, bahwa Indonesia adalah Negara yang penuh toleransi. Namun ketika musibah datang, dimana kata toleransi itu? Corona bukan hukuman mati!

Musibah memang jadi alat uji yang efektif untuk mengukur kedewasaan dan kematangan kita. Bagaimana kita bisa saling peduli, tanpa mementingkan kepentingan diri sendiri.

Tidak lama lagi Batam juga akan mengalami musibah yang kurang lebih sama. Tentu bukan karena Virus Corona. Kita tahu, air di Waduk Duriangkang telah menyusut sedemikian dalam. Saat ini, elevasinya telah berada di level -3,07 M di bawah bangunan pelimpah air.
Sedangkan kita hanya bisa mengambil air hingga -5,0 M. Tersisa kurang dari 2 meter lagi.

Bahkan lebih buruk lagi, Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Tanjungpiayu dan sebagian Mukakuning hanya mampu mengambil air hingga -3.4 M. Artinya, lebih kurang 33 cm lagi.

Anda harus tahu, saat ini air turun rata-rata 2 sampai 3 cm setiap harinya. Dengan asumsi tersebut, maka kita hanya punya waktu selama 80 hari dari sekarang. Ketika hujan tidak segera turun, maka ancaman atas ketersediaan air bersih menjadi masalah di depan mata.

Ini bukan semata-mata masalah pengolahan. Tapi masalah ketersediaan air baku. Sehebat apapun ATB, tak akan bisa berbuat banyak tanpa ketersediaan air baku.

Dalam rangka memperpanjang daya tahan ketersediaan air, maka BP Batam telah bersepakat untuk melakukan penggiliran dengan cara 2 hari OFF dan 5 hari ON. Ini harus dilakukan, karena air baku yang harus diolah semakin terbatas.

Jadi, kembali saya sampaikan, pengiriman tangki air tidak bisa jadi solusi. Karena masalah utamanya adalah air baku yang harus diolah terus berkurang, bukan pada pengolahannya.

Penggiliran ini menjadi salah satu musibah terburuk dari yang pernah terjadi semenjak ATB beroperasi. Karena penggiliran ini akan memberikan dampak kepada hampir 230 ribu pelanggan. Atau hampir 80 persen dari seluruh pelanggan di Kota Batam. Seluruh pelanggan di wilayah suplai Duriangkang akan terkena dampaknya. Tanpa kecuali!
Kondisi ini juga menimbulkan kepanikan luar biasa di seluruh Batam. Banyak yang berbondong-bondong memborong tampungan air. Drum bekas, tandon dan alat penampungan air lainnya mendadak jadi primadona.

Tidak hanya itu, sebagian orang mungkin juga mengambil kesempatan untuk mendapat keuntungan ekonomis yang besar. Mereka memanfaatkan kelangkaan ini, untuk menjual air dari sumber-sumber yang tidak sehat. Menembak dari atas punggung kuda.

Yang lebih parah lagi, ada yang mengarahkan situasi ini ke ranah politik untuk menyudutkan ATB. Mereka mengalihkan isu utama, dari kelangkaan air baku, dan menuding ATB sedang melakukan manuver karena perusahaan ini sedang menuju pengakhiran konsesi. Sangat menyedihkan. Disini setiap orang menunjukkan jati diri yang sesungguhnya.

Kondisi ini sangat mirip dengan bagaimana manusia menyikapi dampak dari virus Corona. Dimana orang menunjukan egonya. Jati dirinya. Merasa dirinya lebih penting dari yang lain. Kita lupa, kalau kita tak bisa hidup sendiri. Kita butuh orang lain.

Lalu, apa yang harus kita lakukan di tengah ancaman bencana krisis air ini?

Marilah kita saling bertoleransi. Ketika sedang terjadi penggiliran, pikirkan juga saudara kita yang lain. Jangan gunakan air secara berlebihan. Karena saudara-saudara kita yang berada di hilir, diujung pipa, dan tempat yang tinggi masih membutuhkan air bersih.
Jangan menyikapi penggiliran ini secara berlebihan. Gunakan air seperlunya. Faktanya, satu keluarga dengan 5 orang anggota hanya membutuhkan maksimum 1 kubik perhari. Tampunglah air seperlunya. Karena air akan mengalir esok hari.

Dengan menggunakan air seperlunya, Anda membuktikan bahwa kita adalah Bangsa Indonesia yang penuh dengan toleransi.

Ancaman krisis air ini bukan yang terakhir kali. Tapi bisa terulang kembali kalau kita tak belajar dari pengalaman pahit kali ini.

Inilah saatnya kita peduli dengan lingkungan. Kita harus mulai berhemat, karena memang cadangan air baku sangat terbatas. Cadangan kapasitas air baku perlu segera ditingkatkan. Bukan saatnya lagi bicara normatif, tapi perlu tindakan riil yang segera bisa mengantisipasi kejadian yang lebih pahit terjadi.

Selama ini, kita terlalu percaya diri. Kita terlalu naif. Seolah-olah perubahan tidak akan pernah terjadi. Kita terlalu menganggap remeh. Karena sejauh ini air masih terkesan melimpah. Sehingga kita lupa untuk menjaga lingkungan. Kita juga lupa menambah cadangan air baku.

Pada kenyataannya, kita sama-sama sadar bahwa tak ada yang abadi dalam dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri.

Kita semua tak akan punya masa depan, ketika air tidak tesedia, dan semua akan menjadi sia – sia.

Masihkan kita akan terus abai? Masihkah kita akan terus lalai? Dan masihkah kita tidak peduli dengan masa depan?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)

 

oleh:
Presiden Direktur ATB, Ir Benny Adrianto Antonius