“Saya menemukan harapan di hari-hari yang paling gelap, dan fokus pada yang paling cerah. Saya tidak menghakimi alam semesta” –  Dalai Lama

Sabtu sore saya menerima sebuah video unik melalui pesan Whatsapp.

Dalam video tersebut, barisan petugas medis di Kota Wuhan, di Provinsi Hubei, China melepas maskernya satu persatu.

Video itu diambil di depan salah satu rumah sakit darurat yang dibangun pemerintah China untuk menangani pasien yang terjangkit virus Corona.

Pelepasan masker itu rupanya dijadikan semacam simbol ditutupnya rumah sakit sementara tersebut.

Karena ternyata sudah tidak ada pasien Corona baru di kota Wuhan.

Wow! Kabar baik yang melegakan tentunya.

China menjadi negara pertama yang berhasil menurunkan jumlah kasus baru Corona secara signifikan.

Bagaimana tidak, sejak Januari silam negeri Panda ini sudah mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk menangani krisis Corona.

Tidak main-main, China langsung mengisolasi Wuhan untuk meminimalisir penyebaran virus Corona.

Pemerintah juga membangun 16 rumah sakit hanya dalam 10 hari untuk menangani pasien yang telah terjangkit virus.

Lalu lintas barang dan orang keluar masuk Wuhan serta Hubei dilarang.

Aktifitas industi dihentikan guna meminimalisir penyebaran virus di tempat kerja. Semua diisolasi total.

Ini adalah keputusan yang pahit. Karena dengan demikian, ekonomi China sudah dipastikan merosot.

Kepala ekonom Mac Quarie Group, Larry Hu mengatakan, penurunan ekonomi China saat ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah.

Seram kan?

Namun, pemerintah China tak lagi memikirkan untung rugi dalam menangani krisis ini.

Mereka mengesampingkan kepentingan ekonomi. Mereka tidak peduli dengan cibiran orang tentang sikap yang mereka ambil.

Yang paling penting bagi mereka, krisis ini bisa ditangani dengan cepat, dan dampaknya bisa ditanggulangi segera.

Ternyata pengorbanan itulah yang akhirnya membuat China jadi negara yang sukses dalam menangani virus Corona.

Kecepatan, Ketepatan penanganan, Pengorbanan serta Komunikasi yang baik jadi kunci dalam “Crisis management”.

Inti dari manajemen krisis itu adalah mengambil langkah dengan cepat dan tepat, dan perlu pengorbanan. Selain itu, perlu komunikasi yang baik kepada semua pihak yang berpotensi mengalami ancaman atas krisis yang sedang terjadi, sehingga musibah yang lebih besar dapat dihindari. Dan kemudian perlu upaya antisipasi agar bencana serupa tak terulang kembali.

Batam juga tengah berpotensi mengalami krisis ketersediaan air baku. Potensi ini sudah ada di depan mata.

Sangat nyata. Kita bisa saksikan sendiri, bagaimana Volume air di waduk Duriangkang mengalami penyusutan yang luar biasa.

Padahal, Duriangkang adalah harapan besar masyarakat Batam. Karena Waduk inilah yang memenuhi kebutuhan air bersih bagi 80 persen penduduk kota Batam.

Namun kebanyakan dari kita belum sadar terhadap potensi krisis ini. Kita masih menganggap air di Dam masih baik-baik saja. Masih cukup untuk memenuhi kebutuhan Batam.

Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana Anda menjelaskan pengertian banyak tersebut? Apakah air yang Anda lihat di waduk-waduk yang ada saat ini memang benar-benar masih banyak?

Saya akan sedikit berbagi informasi kepada Anda. Saat ini ATB mengolah hampir 9 juta kubik air setiap bulannya, guna memenuhi kebutuhan seluruh pulau Batam. Baik untuk pelanggan domestik, komersil, maupun Industri.

Mari kita bandingkan dengan kapasitas waduk yang ada saat ini.

Kapasitas tampung waduk Mukakuning adalah sekitar 13 juta kubik. Sementara air yang bisa diolah hanya sekitar 9 hingga 10 juta kubik.

Jika kita menggunakan air di Waduk Mukakuning untuk memenuhi kebutuhan air seluruh kota Batam, maka hanya dalam waktu sebulan waduk tersebut sudah kering kerontang. Airnya kosong tak bersisa.

Sekarang mari kita lihat bagaimana kapasitas Waduk terbesar di Batam. Waduk Duriangkang. Kapasitas tampungnya sekitar 80 juta kubik.

Namun yang bisa diolah hanya 60 juta kubik. Jika kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan air seluruh kota Batam, air di waduk ini hanya akan bertahan sekitar 7 bulan.

Saat ini kita cuman punya waktu maksimum 80 hari untuk bisa menggunakan air dam Duriangkang.  Tanpa turun hujan.

Setelah Anda melihat fakta-fakta tersebut, masihkan Anda mengatakan air di Batam ini cukup? Apalagi banyak? Meskipun kita melihat air itu seolah-olah banyak, namun sesungguhnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh pulau Batam.

Tidak sustainable. Kita sangat tergantung dengan curah hujan. Idealnya kita punya cadangan sekitar 50 juta meter kubik, atau sekitar 5 buah Dam Muka Kuning.

Sehingga kita punya ruang untuk bernafas kalau hujan tak turun 5 bulan.

Lalu bagaimana?

Kita tidak perlu panik. Selalu ada jalan keluar meski dalam kondisi sesulit apapun.

Batam harus sudah segera mencari solusi untuk mencegah dampak bencana yang sudah di depan mata ini. Solusi yang harus ditempuh mungkin tidak populis.

Tidak ideal. Karena memang, dalam kondisi krisis seperti saat ini berlaku hukum-hukum yang tidak ideal.

Kita tak bisa lagi berharap mampu menikmati kenyamanan seperti ketika sedang tidak krisis. Butuh pengorbanan.

Apakah air yang sekarang ada mau dihabiskan sekarang, atau mau diperpanjang dengan melakukan puasa?

Salah satu opsi yang sempat mencuat adalah penggiliran. Sudah barang tentu hal ini menyakitkan semua orang.

Tanpa kecuali. Karena mengganggu kenyamanan. Tapi ini adalah pilihan yang barangkali harus diambil. Inilah pengorbanan.

Penggiliran adalah upaya untuk memperpanjang usia pemakaian waduk. Karena dengan penggiliran, kita bisa menikmati air sedikit lebih lama.

Sembari menunggu curah hujan. Jadi tangki air bukan solusinya, karena masalah utamanya adalah air baku, bukan masalah pipa dan jaringannya.

Pemerintah perlu memikirkan yang terbaik buat kota ini agar bisa bertahan dan mampu melalui krisis. Kita semua harus siap membantu,

Kita masih tetap harus berdoa serta terus berharap agar hujan turun dan segera mengakhiri masa kering. Tapi dibalik doa itu, ikhtiar juga tetap harus dilakukan.

Tak bisa setelah doa kita hanya berpangku tangan. Harus ada upaya-upaya nyata yang dilakukan untuk mengantisipasi.

Apalagi April dan Mei mendatang kita sudah berhadapan dengan bulan suci Ramadhan. Sementara prediksi BMKG, curah hujan baru akan turun pada bulan Mei.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Dalam kondisi krisis ini, dibutuhkan komunikasi yang baik. Antara para pihak yang memiliki kemampuan, dengan pihak-pihak yang berpotensi terdampak.

Sehingga mereka bisa mengerti dan mengatur strategi agar lolos dari kondisi yang kritis ini.

Mari jangan saling menyalahkan, agar kita bisa kuat dan mampu melalui krisis ini dengan selamat.

Tak ada yang tidak mungkin ketika kita mau menjalankannya secara all out.

Lebih dari itu, yang dibutuhkan adalah langkah antisipatif, sehingga potensi krisis ini tidak kembali terulang. Kuncinya ada di dua hal.

Proses pengisian kembali dan tambahan cadangan kapasitas. Karena seharusnya, dengan pengolahan sudah 100 juta kubik, Batam sudah harus memiliki kapasitas tampung hingga 200 juta kubik.

Siapkah kita berkorban, untuk masa depan Batam yang lebih baik?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny.(*)