Ketika sesuatu menjadi begitu penting, lakukan. Bahkan jika kemungkinannya tidak menguntungkan anda sekalipun. (Elon Musk)

“Tok, Tok, Tok,”

Suatu siang pintu rumah Anda diketuk. Ternyata driver transportasi online yang ingin mengantarkan makan siang Anda.

Sebelumnya Anda memang memesan makan siang menggunakan aplikasi Online. Anda tak mau keluar rumah karena Anda sedang WFH dan melakukan social distancing sesuai anjuran pemerintah.

Mudah sekali. Pilih mau makan apa dan driver akan membelikan untuk Anda.

Lalu anda bisa pantau perjalanan pesanan anda. driver langsung mengantar makanan sampai ke depan pintu rumah Anda.

Tidak nyasar kemana-mana, walaupun itu adalah pertama kalinya dia ke rumah Anda.

Hebat kan?

GPS adalah salah satu teknologi dasar yang digunakan oleh perusahaan transportasi online seperti Gojek, Grab, Uber atau yang lainnya.

Mereka berinovasi, memanfaatkan teknologi sederhana ini, dan meraup untung besar.

Hanya dalam waktu 4 tahun sejak berdirinya, Gojek telah berkembang menjadi perusahaan rintisan yang menyandang status Decacorn pertama dari Indonesia.

Dengan nilai valuasi perusahaan mencapai lebih dari sepuluh triliun Rupiah.

Bayangkan, hanya dengan memanfaatkan GPS untuk melakukan tracking proses, perusahaan-perusahaan jadi raksasa.

Anda tentu tahu apa itu GPS. Teknologi sederhana yang sering digunakan untuk mencari posisi tertentu.

Biasanya orang menggunakannya dalam bentuk aplikasi Google Map, atau Waze, untuk mengarahkan perjalanan mereka.

Tak banyak yang tahu, bahwa teknologi GPS ini ternyata berbasis satelit.

Sehingga tak perlu pulsa untuk mengaktifkannya. Asal Anda masih dalam jangkauan satelit, maka teknologi GPS aktif.

Saat ini ada lebih dari 80 satelit yang setiap saat mengorbit mengelilingi Bumi dan memberikan informasi. Jadi sebenarnya, posisi Anda itu selalu terlacak.

Hanya masalahnya, apakah mau berbagi lokasi atau tidak. Itu saja.

Nah, setelah mengetahui prinsip dasarnya, ternyata GPS bisa menjadi salah satu senjata kita untuk melawan perkembangan Virus Corona.

Dimana relevansinya ya?

Mari saya jelaskan kepada Anda.

Di tengah merebaknya virus Corona, Lockdown jadi salah satu pilihan yang ditawarkan untuk membatasi penyebaran Virus Corona.

Mengapa?

Karena kita tak pernah tahu, siapa saja yang sudah terinfeksi. Siapa saja yang sudah ditetapkan sebagai suspek, Orang Dalam Pemantauan (ODP), atau Pasien Dalam Pengawasn (PDP).

Kita buta sama sekali. Bisa saja Anda berpapasan dengan salah satunya tanpa sengaja.

Namun di sisi lain, resiko yang ditanggung ketika Lockdown dilakukan sangat besar. Terutama bagi mereka yang mengandalkan penghasilan harian.

Gaji hari ini, untuk kebutuhan esok hari. Jika Lockdown diterapkan, maka mereka akan kesulitan mendapatkan penghasilan.

Tak punya uang untuk makan. Atau mungkin bayar kontrakan. Atau memenuhi kebutuhan lainnya.

Akhirnya, potensi munculnya masalah sosial  atau kerusuhan jadi sangat tinggi.

Karena itu, Kebijakan Lockdown untuk negara seperti Indonesia perlu dipertimbangkan dengan matang.

Namun, apakah Lockdown jadi satu-satunya solusi untuk menekan penyebaran Virus Corona?

Tentunya tidak. Salah satu solusi lain yang bisa kita lakukan adalah dengan menggunakan teknologi GPS, guna mengurangi interaksi dengan orang-orang yang sudah dinyatakan sebagai Suspek, ODP mapun PDP.

Dengan teknnologi ini, kita bisa melakukan pemetaan secara live terhadap penduduk yang dinyatakan telah berstatus suspek, ODP dan PDP. Prinsip kerjanya sama seperti yang sering Anda lihat ketika memesan melalui aplikasi Online.

Anda pasti dapat melihat, dimana saja posisi para driver berada. Tapi kalau terpantau begitu, gimana soal privasi mereka? Identitas mereka akan terbongkar dong?

Tak perlu khawatir. Aplikasi ini tidak akan mengungkap identitas sama sekali. Tidak ada nama, atau identitas. Hanya ada titik-titik  berwarna.

Warna Kuning untuk yang berstatus suspek, Oranye bagi ODP dan merah bagi PDP. Tergantung selera kita.

Dengan aplikasi ini, Anda bisa memantau kondisi tempat yang akan Anda tuju.

Apakah steril atau tidak? Apakah ada orang yang sedang berstatus suspek, ODP atau bahkan mungkin PDP yang sedang berkeliaran atau tidak?

Jika ternyata ada, Anda bisa menghindari tempat tersebut. Sehingga, potensi Anda tertular virus Corona akan sangat kecil. Karena potensi masyarakat berinteraksi dengan suspek, ODP dan PDP Corona tersebut menjadi bisa dihindari.

Anda bisa lihat manfaatnya kan? Banyak negara maju telah menjalankan metode ini.

Selama ini kita merasa tidak nyaman bertemu dengan orang lain. Dalam pikiran kita “Jangan-jangan dia membawa virus Corona.” Itu terjadi karena kita buta sama sekali, siapa yang sudah jadi suspek, carier, ODP ata PDP. Corona seperti hantu!

Dengan demikian, potensi penyebaran virus Corona bisa ditekan tanpa harus melakukan Lockdown.

Namun sebelumnya pemerintah harus terlebih dulu melakukan marking suspek,ODP atau PDP.

Di sini dibutuhkan sebuah kesadaran untuk tidak menyembunyikan status yang bersangkutan, demi kepentingan yang lebih besar.

Memang butuh pengorbanan. Tapi, kita hanya bisa membantu menekan penyebaran virus Corona dengan pengorbanan.

Pengorbanan yang mungkin dampaknya lebih kecil dibandingkan bila harus dilakukan Lockdown. Dibandingkan dengan pengorbanan para tenaga medis.

Apakah teknologi ini sulit dibuat?

Ini termasuk teknologi yang mudah untuk dibuat dan diaplikasikan dalam berbagai macam penerapan praktis.

ATB sendiri telah memanfaatkan teknologi GPS ini sejak 2009. Dalam banyak implementasi pekerjaan.

Salah satu contoh adalah bagaimana dalam hal pemetaan kebocoran. Kami melakukan maping terhadap lokasi kebocoran tersebut menggunakan GPS.

Sebagai informasi, ada sekitar 700 titik kebocoran yang terjadi di Batam setiap bulannya.

Akan sangat sulit memonitor kebocoran tersebut tanpa menggunakan GPS.

Dengan bisa dipetakan, itu akan jadi insight sehingga kebocoran berulang bisa kami hindari. Jadi tak heran bila kebocoran air ATB saat ini adalah yang paling rendah di Indonesia.

GPS juga dimanfaatkan untuk pembacaan meter. Kami telah menerapkan Mobile Meter Reading dengan memanfaatkan  Smartphone. Pembacaan dilakukan secara real time.

Sebelumnya, pembacaan meter dilakukan secara manual. Ditulis sendiri oleh petugas. Sulit untuk dimonitor. Kadang-kadang pembaca meter yang bandel cuma mojok di warung kopi, tak kerja, kemudian mengarang data.

Ini menimbulkan perbedaan data antara pembacaan meteran dan data penggunaan sebenarnya.

Tapi dengan teknologi GPS yang digunakan untuk membaca meteran, hal itu tak bisa lagi dilakukan.

Posisi pencatat meter ketika mencatat penggunaan air pelanggan termonitor.

Belum lagi teknologi GPS yang dimanfaatkan pada bagian Operasi dan Distribusi.

ATB bisa memantau seluruh armada yang turun. Implementasinya kira-kira sama dengan yang dimiliki oleh Blue Bird atau perusahaan taksi lainnya.

Dengan demikian, manuver dan kinerja mereka jadi lebih terukur.

ATB siap membantu membuat aplikasi guna memonitor orang-orang yang sudah dikategorikan sebagai suspek, ODP dan PDP Corona. Jika pemerintah kota setuju.

Aplikasi ini tidak hanya bisa membantu pemerintah untuk mengawasi suspek atau ODP yang diminta untuk Self Quarantine.

Jika mereka terpantau tidak melakukan kewajibannya, Satuan Gugus Tugas bisa langsung memperingatkan saat itu juga.

Bahkan bisa dihubungkan dengan command centre sehingga bisa dipantau jarak jauh.

Jaman gini gak pake informasi digital, kayaknya sudah ngga laku. Informasi digital telah mampu mengubah budaya manusia.

Pilihan ada di tangan pemerintah. Mau pake informasi digital, mau manual atau malah mau Lockdown?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)

nny