Bukanlah spesies yang paling kuat atau paling cerdas yang mampu survive, tapi mereka yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan. (‘ Survival of the fittest’ – Charles Darwin)

Tanggal 21 April 2020, sejarah kembali terukir. Harga minyak mentah anjlok sangat dalam.

Bahkan dibawah USD 0, atau berada di teritori negatif. Kondisi ini belum pernah terjadi sepanjang sejarah.

Kita tahu, Minyak adalah komoditas dengan harga mahal. Harganya pernah mencapai USD 148,93/Barel pada tahun 2008. Itu adalah harga tertinggi sepanjang sejarah.

Namun, 21 April kemarin harga minyak untuk kiriman Mei 2020 anjlok hingga minus USD 37/Barel!

Anda pernah membayangkan kondisi semacam ini akan terjadi? Harga minyak jadi sangat tidak berharga.

Dunia memang tengah mengalami perubahan-perubahan yang di luar dugaan.

Banyak komoditas yang dulu dianggap barang mahal, harus bergeser posisi.

Selain minyak, Anda juga pasti setuju bila Wine pernah jadi barang mahal. Komoditas yang sudah diproduksi di Mesopotamia sejak 6.000 tahun sebelum masehi ini seringkali disebut sebagai lambang kemakmuran. Hanya orang-orang kelas atas yang bisa meminumnya.

Semakin tua umurnya, semakin mahal pula harganya. Saat ini harga pasaran perbotolnya berkisar antara USD 4 sampai USD 200. Jika dikonversi dengan kurs Rp. 15 ribu/ USD, berarti sekitar Rp 60 ribu hingga Rp 3 juta.

Tapi eksistensi Wine perlahan digeser oleh Kopi. Komoditas yang baru saja ditemukan di Ethiopia pada abad ke-9. Dulu kopi identik dengan minuman murah.

Minuman rakyat biasa, karena dianggap mampu membangkitkan semangat dan stimulan bagi kesegaran tubuh.

Namun sekarang situasinya terbalik. Beberapa varian kopi unggulan malah sudah dibanderol dengan harga yang gila-gilaan. Kopi Luwak misalnya.

Single shot Espresso menggunakan biji kopi Luwak bisa dihargai hingga Rp 1 juta. Sementara biji kopinya sendiri, dibanderol dengan harga Rp 10 juta/kg.

Minuman rakyat itu sudah jadi lebih mahal dari minuman kelas atas seperti Wine. Anda lihat sebesar apa perubahan yang terjadi?

Kita kembali lagi kepada pembahasan di atas. Soal minyak.

Minyak sempat dianggap simbol kemakmuran. Negara-negara penghasil minyak kaya raya karena meraup Dolar dalam jumlah besar. Karena mahal dan mampu membawa kemakmuran, minyak sering dijuluki sebagai “Emas Hitam”.

Mengapa minyak bumi pernah jadi sedemikian mahal?

Cadangannya hanya sedikit. Saat ini, cadangan minyak mentah di seluruh dunia hanya tersisa 165 miliar barrel.

Jika asumsi kebutuhan harian saat ini adalah 97 juta barel per hari, maka cadangan tersebut hanya akan bertahan selama 47 tahun.

Cadangan yang sedikit ini juga harus diperoleh dengan cara yang sulit. Kadang-kadang, Anda harus menambang di lepas pantai untuk mendapatkannya. Kondisi yang sulit ini membuat biaya investasi menjadi sangat tinggi.

Selain itu, minyak bumi sempat menjadi sumber energi utama untuk aktifitas berbagai negara di dunia.

Baik untuk kebutuhan industri, maupun untuk memenuhi kebutuhan harian penduduk. Sehingga tak heran, negara manapun bersedia merogoh kocek dalam-dalam demi mendapat minyak.

Tapi itu dulu. Walaupun cadangannya tinggal sedikit, harga minyak dunia justru semakin turun. Hingga 21 April 2020 silam terkapar di titik terendah sepanjang sejarah.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Karena kebutuhan energi tak lagi hanya tergantung dari minyak. Sekarang sudah ada sumber-sumber energi terbarukan yang bisa dijadikan alternatif. Minyak tak lagi jadi satu-satunya.

Sudah banyak negara memanfaatkan energi panas bumi, atau gas bumi, atau bahkan matahari.

Sementara kendaraan bermotor perlahan-lahan mulai berevolusi. Dari menggunakan bahan bakar minyak, menjadi menggunakan listrik. Beberapa kendaraan listrik juga sudah dilengkapi dengan panel surya, agar mampu me re-charge diri saat mendapat sinar matahari.

Kondisi ini diperparah dengan datangnya pandemi COVID-19. Dimana aktifitas industri dan manusia tereduksi demikian dalam.

Sehingga penggunaan minyak untuk aktifitas tersebut juga turun tajam. Alhasil, minyak terpukul ke titik terendah.

Jika minyak telah bertemu dengan subtitusinya, maka ada satu substansi yang sampai hari ini tidak bisa digantikan. Padahal, substansi itu semakin hari semakin langka.

Apa itu? Air!!

Selama ini, air masih dianggap sebagai barang yang mudah didapat, dan harganya murah. Bahkan seringkali kita menganggap air adalah anugrah gratisan yang turun dari langit dalam bentuk hujan. Tinggal tunggu saja, pasti akan datang sendiri.

Namun pernahkah kita menghitung, sebenarnya berapa banyak air yang bisa kita manfaatkan?

Anda harus tahu, 97 persen air di muka bumi ini adalah air laut. Hanya 3 persen yang berupa air tawar. Dari 3 persen itu, 2,5 persennya ada di dalam tanah dan sulit didapat. Hanya 0,5 persen yang bisa kita gunakan langsung.

Sulit membayangkannya?

Baik, akan saya jelaskan dengan ilustrasi yang lebih sederhana. Jika seluruh air di Bumi ini kita mampatkan dalam 1 drum, maka yang bisa dimanfaatkan langsung hanya 3 sendok teh.

Kaget? Jangan kaget. Itulah kenyataannya. Betapa sedikitnya yang bisa benar-benar bisa kita gunakan. Dan kedepannya, air semakin sulit didapatkan.

Lalu, bagaimana cadangan air tawar yang ada di negara kita?

Dilansir dari IDN Times, Indonesia memiliki cadangan air tawar sebesar 2.019 km kubik. Cadangan air sebanyak itu membuat Indonesia jadi negara dengan cadangan air tawar terbesar ketujuh di dunia. Sementara cadangan air terbesar ada di Brazil, yang mencapai 8.233 km kubik.

Cadangan air tawar di Indonesia ini menyebar di sejumlah daerah secara tidak merata. Sebagian besar berada di Indonesia bagian barat. Sementara Indonesia bagian Timur dan Selatan hanya memiliki cadangan air tawar yang sangat rendah.

Sebagai pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia, Jawa hanya memiliki 4,5 persen cadangan air tawar di Indonesia. Namun ironisnya, 65 persen penduduk Indonesia berada di pulau ini.

Ini membuat pulau Jawa terancam krisis air, karena cadangan air tidak bertambah, sementara tingkat pemakaian dan jumlah penduduk cenderung bertumbuh,

Kondisi ini tak berbeda jauh dengan Batam. Air baku yang tersedia di kota Industri ini hanya sekitar 100 juta meter kubik. Sementara produksi air setahun adalah 100 juta meter kubik. Artinya, Batam tak memiliki cadangan air sama sekali.

Sementara itu tingkat pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan aktifitas ekonomi di kota Batam terus menerus mengalami peningkatan yang signifikan.

Tahun 2019 silam, penduduk kota Batam sudah mencapai 1,3 jiwa. Naik signifikan dari 2010, yang hanya 944.285 jiwa. Pertumbuhan penduduk tentunya akan berimbas kepada pertumbuhan kebutuhan air.

Kita juga sama-sama tahu, Batam adalah kota yang menggantungkan kebutuhan air sepenuhnya terhadap hujan. Jika curah hujan rendah, maka potensi krisis air mulai mengintai di depan mata. Batam benar-benar dalam kondisi yang sangat rentan.

Walaupun kita sangat tergantung kepada hujan, sayangnya manajemen sumber daya air belum baik. Ini terjadi tidak hanya di Batam, tapi sejumlah wilayah di Indonesia. Ketika hujan turun, air terbuang sia-sia ke laut. Kita tak punya cukup tempat untuk menampung air tersebut.

Namun sebaliknya, saat musim kemarau tiba, kita mengalami kekurangan air dimana-mana. Bahkan beberapa daerah harus mengalami gagal panen, karena air yang tidak cukup.

Jadi, apa yang harus dilakukan?

Kita harus menyikapi perubahan ini dengan bijaksana. Harus ada langkah-langkah strategis yang dilakukan, agar kondisi tidak semakin buruk.

Mulai dari membiasakan hemat air, membudayakan 3R (Reduce, Reuse dan Recycle), juga tidak melakukan alih fungsi lahan di sekitar area resapan air.

Yang tak kalah penting, kita harus menambah cadangan air dengan membangun banyak waduk. Dengan demikian, kita mampu mengelola air yang terbatas semaksimal mungkin untuk kebutuhan bersama.

Kita harus sama-sama ingat apa yang pernah disinggung oleh Sir Jhon Beddington dalam penelitiannya  “The Perfect Storm 2030”. Penelitian ini meramalkan potensi kesulitan Makanan, Energi, dan Air (Food, Energy and Water) di tahun 2030.

Yang paling mengkhawatirkan adalah laju pertumbuhan kebutuhan air bersih yang semakin tinggi. Air bersih adalah hal yang tak bisa disubtitusi. Sumbernya terbatas, dan semakin sedikit. Jangan sampai kelangkaan ini membuat harga air semakin mahal.

Sekarang saja kita sudah merasakan mahalnya air minum kemasan. Bahkan lebih mahal dari 1 liter minyak mentah. Jika 1 Barel (159 liter) minyak mentah berharga USD 10, maka 1 liter hanya sekitar Rp 950. Sementara 1 liter air minum kemasan bisa berkisar Rp 5 ribu.

Mari persiapkan diri dengan langkah-langkah taktis yang terukur. Dalam kondisi yang cenderung terus berubah, hanya mereka yang siap dan  bisa menyikapi perubahan dengan baik yang akan survive. Sementara yang take it for granted, akan menghadapi masalah kedepannya dan mungkin akan hilang dan punah.

Sudahkah kita menyiapkan diri atas perubahan yang terus terjadi atau malah kita terus mengeluh dan menyalahkan atas perubahan ini?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)