Kualitas sebuah keputusan seperti elang yang menyerang dengan cepat. Menukik menyerang dan menghancurkan korbannya. (Sun Tzu)

Jika bukan karena pandemi Covid-19, pencinta balapan Formula One (F1) sudah menikmati race pertama pada 15 Maret 2020 lalu. Harusnya, race pertama itu diselenggarakan di sirkuit Albert Park, Melbourne, Australia.

Namun penggemar harus kecewa, karena Australia memilih mengundurkan diri jadi tuan rumah karena Covid-19. Jadwal F1 berantakan. Padahal, race di sirkuit ini sangat ditunggu. Pencinta F1 menanti-nanti ada pembalap yang mampu memecahkan rekor legenda hidup F1, Michael Schumacher.

Rekor itu dibuat oleh Schumi – panggilan akrab Michael Schumacher, pada tahun 2004. Schumi mampu membuat lap tercepat dengan catatan waktu 1 menit 24.125 detik. Rekor ini bisa dibilang ajaib, karena Sirkuit Albert Park memiliki lintasan yang tak mudah.

Lintasan di Albert Park memiliki panjang 5,303km dengan 16 tikungan. Paduan high speed dan  tikungan membuat sirkuit ini banyak disukai pembalap. Penuh tantangan, dan tak mudah ditaklukan. Itu juga yang menjadi alasan, rekor Schumi belum terpecahkan selama 16 tahun.

Memang tak mudah memecahkan rekor di kompetisi F1. Karena ini adalah pertandingan antar jet darat dengan kecepatan lebih dari 300 KM/jam. Betul-betul seperti panah melesat. Jika satu kedipan mata 400 mili detik, itu berarti mobil F1 dapat menempuh 35 meter dalam satu kedipan mata.

Cepat banget kan?

Kecepatan yang luar biasa ini harus dikendalikan. Bukan hanya di trek lurus. Terutama saat berada di tikungan. Jika tidak mampu mengendalikan, alhasil potensi kecelakaan yang tinggi akan jadi ancaman serius bagi pembalap.

Itulah sebabnya pembalap tak hanya dituntut punya skill. Tapi juga harus mampu mengambil keputusan yang tepat, dalam waktu yang sangat cepat. Terlambat satu kedipan mata saja, bisa berdampak fatal.

Lalu, bagaimana caranya pembalap mampu mengambil keputusan yang tepat dalam waktu yang cepat?

Proses kompetisi F1 sebenarnya sudah didukung oleh teknologi sejak tahun 1990 an. Mobil F1 dilengkapi dengan sistem transmisi data yang disebut dengan telemetri. Satu mobil dilengkapi dengan 150 sampai 300 sensor yang mengirimkan data secara real time setiap 2 mili detik ke server.

Data-data itulah yang kemudian dianalisa oleh pembalap dan teknisi. Mereka akan menyimpulkan strategi balapan secara detail. Mereka perlu insight agar dapat membuat keputusan dengan tepat. Tidak bisa meleset 1 mili detik. Karena kemenangan di F1 ditentukan selisih waktu yang sangat ketat. Hanya dalam 1/1000 detik. Wow !

Nah, Anda lihat kan. Bukan jamannya lagi mengambil keputusan hanya berdasarkan pengalaman. Sudah lewat. Anda harus bisa mengambil mengambil keputusan yang cepat dan tepat berdasarkan data yang cukup. Tidak hanya di F1, namun juga dalam proses manajemen, atau dalam kehidupan Anda.

Pengambilan keputusan sebenarnya harus melewati beberapa proses. Dimulai dari menetapkan tujuan dari pengambilan keputusan. Kemudian mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, membuat analisa, mengukur resiko, baru pengambilan keputusan.

Prosesnya memang cukup panjang. Namun basis data yang memadai memiliki peran yang paling penting. Tanpa itu, Anda tidak mampu membuat analisa yang baik. Kemudian akan mendapat alternatif keputusan yang salah. Dan yang paling bahaya anda malah membuat keputusan yang menimbulkan resiko dan ancaman yang lebih besar.

Inilah konsekuensi keputusan tanpa analisa data, dan hanya atas dasar feeling atau malah atas dasar rasa like and dislike.

Sebagai perusahaan yang telah menerapkan  Smart Water Management System, ATB sangat mengandalkan basis data dalam langkah dan proses pengambilan keputusan. Kami tidak pernah mengambil keputusan hanya berdasarkan perasaan.

Untuk mendapat dukungan data yang tepat dan aktual, ATB memasang hampir 400 sensor di lapangan.  Hampir setiap titik yang berkaitan dengan distribusi dan produksi air bersih dilengkapi dengan sensor yang mengirimkan data secara real time ke server.

Data-data inilah yang kemudian kami gunakan untuk membantu membuat keputusan. Sehingga pelayanan air dapat berjalan dengan baik. Dan hasilnya, ATB berhasil melakukan berbagai progres positif yang belum pernah dicapai perusahaan air bersih manapun di Indonesia.

Masak iya sih? Mari kita lihat beberapa contoh.

Ketika ATB belum menerapkan basis data seperti sekarang, kami harus menangani 1.600 titik kebocoran setiap bulannya. Kami kesulitan mengidentifikasi dimana kebocoran itu terjadi. Tidak tahu berapa waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki kebocoran tersebut. Apakah sudah diperbaiki dengan benar atau tidak, apakah terjadi pengulangan atau tidak. Artinya banyak ketidakpastian.

Selain itu, banyaknya titik kebocoran membuat biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan sangat besar. Jika 1 titik butuh biaya Rp 2,5 juta, itu artinya ATB harus merogoh kocek sebesar Rp 4 miliar sebulan hanya untuk memperbaiki kebocoran. Atau sekitar Rp 48 Miliar setahun. Besar banget itu.

Namun sejak menerapkan Smart Water Management System, kami dapat memantau setiap kebocoran yang terjadi di seluruh Batam. Kami dapat memetakan titik-titik kebocoran dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses perbaikan.

Kami juga dapat mengerti apa yang jadi penyebab kebocoran. Dengan demikian, kami dapat mengambil langkah preventif, sehingga masalah serupa tak lagi terjadi di masa mendatang.

Apa hasilnya?

Dengan menggunakan analisa data, ATB dapat menurunkan titik kebocoran dari 1.600 titik perbulan, menjadi hanya sekitar 400 titik sebulan. Artinya, terdapat penurunan kebocoran rata-rata 1.200 titik sebulan.  Dari sisi materi, kami dapat melakukan penghematan Rp 3 miliar setiap bulannya, atau Rp 36 miliar setahun. Hebat kan!!

Tidak sampai disitu. Kami juga bisa menghemat air yang hilang. Sebelumnya Batam harus kehilangan 1,8 juta kubik perbulan. Sekarang bisa turun menjadi hanya 1 juta kubik perbulan. Artinya ada air yang diselamatkan 800 ribu kubik sebulan atau setara dengan pemakaian 40 ribu pelanggan rumah tangga!

ATB jadi satu-satunya perusahaan pengelola air bersih di Indonesia yang mampu menekan angka kebocoran hingga 14 persen pertahun. Rata-rata kebocoran air Indonesia masih di angka 35 persen pertahun. ATB mampu memanfaatkan air yang terbatas ini, sehingga bisa dimanfaatkan lebih optimal bagi seluruh masyarakat Batam.

Tidak hanya dalam hal pendistribusian air bersih, basis data yang dimiliki ATB juga membantu dalam hal pelayanan pelanggan.

Sebelum memiliki basis data, kami kesulitan mengelola keluhan pelanggan. Keluhan-keluhan apa saja sih yang paling banyak disampaikan? Daerah mana saja sih yang mengeluh? Apa masalah yang mereka hadapi? Kami tak punya data.

Tapi sekarang beda cerita. Kami mencatat setiap keluhan yang masuk. Dan mengklasifikasikannya dalam kelompok-kelompok tertentu. Dengan data itu, kami dapat melihat secara terang benderang masalah apa yang tengah dihadapi konsumen kami.

Dengan basis data yang jelas, kami mampu menyelesaikan keluhan pelanggan dengan sangat cepat. Hanya sekitar 2,36 hari dari target yang seharusnya 6 hari. Kami bisa memberikan kepuasan yang lebih baik kepada para pelanggan dengan mengambil keputusan yang tepat secara cepat. Serta memastikan masalah yang sama tidak terulang kembali.

Pengaruhnya sangat besar. Dulu, kami menerima keluhan rata-rata 430 ribu setiap tahunnya. Tapi saat ini, tinggal 140 ribuan. Penurunannya sangat luar biasa.

Dan tentu masih banyak lagi manfaat dari basis data dalam membantu manajemen membuat keputusan. Tak terkecuali tentang bagaimana kami melakukan evaluasi kinerja karyawan. Singkatnya tak ada keputusan yang hanya mengedepankan rasa like and dislike.

Dalam perjalanan bisnis, efisiensi dan kemajuan perusahaan itu sangat tergantung dari seberapa tepat dan cepat dalam proses pengambilan keputusan. Inilah mengapa, banyak perusahaan yang sudah lama berdiri tapi tak sukses. Sementara saat ini banyak perusahaan start up yang baru berdiri, tapi cepat menjadi sukses.

Di jaman digital seperti ini, Anda sudah tak bisa lagi berlambat-lambat. Anda harus dapat mengambil keputusan yang tepat dalam waktu yang cepat. Pepatah Alon-alon waton kelakon sudah tak lagi relevan digunakan. Apalagi mengambil keputusan hanya berdasarkan feeling.

Mengapa Perusahaan Datuk Anak Mantu, perusahaan dengan banyak kroni masih exist dan  masih jadi pilihan?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny.(*)