Jika urusan tidak diserahkan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran (HR. Bukhari)

Tahun lalu saya mampir di salah satu rumah makan favorit saya. Saya sering kesana, karena ikan bakarnya enak sekali. Selain karena bumbu khasnya adalah rahasia keluarga turun temurun, si bapak memang sudah ahli membakar ikan. Pokoknya ikan yang dibakar olehnya enak banget.

Setelah pesanan datang, langsung saya santap. Gak sabaran, karena sudah lama gak makan ikan bakar.

Tapi anehnya, ikan bakar pesanan saya kali ini beda. Rasanya kok gak karu-karuan gitu. Bumbunya sih enak. Tapi ikan bakarnya sama sekali gak enak. Pahit. Saya panggil ibu pemilik rumah makan – yang kebetulan memang saya kenal, lalu saya tanya.

“Kok ikan bakarnya gak kayak biasanya ya bu?” tanya saya.

“Oh, maaf. Si Bapak lagi sakit. Jadi sementara ini anak saya yang bantu-bantu bakar ikan,” jawabnya.

Mendengar jawaban ibu itu, saya langsung paham. Anak pemilik rumah makan ini bekerja sebagai engineer di sebuah perusahaan elektronik. Dia memang ahli dalam bidang otomasi industri, tapi bukan ahli memasak. Jadi, wajar saja kalau rasa ikannya jadi gak karu-karuan seperti ini.

Itulah yang akan terjadi bila sebuah pekerjaan tidak diserahkan kepada ahlinya. Bukannya mendapat hasil yang optimal, malah berpotensi menimbulkan masalah.

Karena itulah perusahaan-perusahaan besar kelas dunia sangat berhati-hati dalam membuat produknya. Mereka lebih memilih menyerahkannya pada ahlinya, ketimbang mengerjakannya sendiri.

Contoh sederhana adalah ketika kita bicara soal produk Apple. Baik itu MacBook, Iphone, atau Apple Watch. Semuanya tidak dibangun oleh Apple sendirian. Perusahaan lebih memilih untuk menyerahkan kepada perusahaan lain yang memang sudah ahli di bidangnya. Walaupun itu perusahaan pesaing.

Apple lebih memilih menggunakan layar Amoled yang dikeluarkan Samsung pada produk Iphone dan Apple Watch. Kita tahu, Samsung memang rajanya layar Amoled. Tidak ada pesaingnya. Sementara urusan Chip, Apple mempercayakannya kepada SMTC.

Perakitannya juga tidak dilakukan oleh Apple. Tapi Foxconn. Perusahaan perakitan asal Taiwan yang memang sangat terkenal keahliannya. Foxconn tidak hanya melakukan perakitan untuk Apple, tapi juga untuk beberapa produk terkenal seperti Playstation, Blackberry, Nintendo Wi, X-Box.

Apple tidak sendirian, banyak produk kelas dunia lainnya juga mempercayakan perakitannya ke perusahaan lain. Dell, Toshiba, Acer, HP dan beberapa produk laptop yang anda kenal mempercayakan Compal Computer untuk merakit produk mereka.

Kenapa sih mereka tidak lakukan sendiri? Kan lebih hemat?

Jawabannya sederhana. Pada dasarnya semua hal akan menjadi baik, jika dikerjakan oleh ahlinya. Dan mereka bukan ahlinya. Mereka gak mau sok ahli yang malah berdampak masalah.

Ketika dikerjakan oleh yang bukan ahlinya, maka belum tentu barang yang dihasilkan akan punya kualitas yang baik. Secara waktu belum tentu lebih cepat dan biaya belum tentu lebih murah. Itulah sebabnya, produk-produk terkenal itu dikerjakan oleh pihak lain yang memang ahli di bidangnya.

Nah, kalau untuk urusan pengelolaan air di Indonesia, ATB memang ahlinya.

Ini bukan sekedar pengakuan semata. Sebelum Covid – 19, ATB sudah menjadi rujukan untuk perusahaan air minum terbaik. Kami melayani rata – rata 60 sampai 70 kunjungan dari berbagai daerah di Indonesia dalam setahun. Tidak hanya dalam negeri, beberapa negara tetangga juga menjadikan ATB sebagai rujukan.

Diukur dari beberapa parameter, pencapaian kami selalu yang terbaik. Pertama cakupan pelayanan. Jangan bilang ahli jika cakupan pelayanannya baru 8 persen, seperti yang terjadi di Pekanbaru. Atau Cuma 65 persen seperti di Jakarta.

Saat ini, cakupan pelayanan tertinggi dipegang oleh Surabaya, yang mencapai 94 persen. Tapi cakupan pelayanan ATB sudah mencapai 99,5 persen. Wow. Fantastis bukan? termasuk yang tertinggi di Indonesia.

Bicara kontinyuitas, aliran air ATB di Batam telah mencapai 23,7 jam. Juga salah satu yang tertinggi di Indonesia. Betul kami belum sempurna. Karena kami belum 24 jam. Masih tersisa 2.500 pelanggan yang belum mengalir 24 jam.

Tapi coba kita bandingkan dengan Tanjungpinang yang hanya mengalir 3 jam sehari. Itupun bergonta-ganti hari. Hari ini ngalir di wilayah ini tiga jam, kemudian pindah ke wilayah lain 3 jam. Jadi bukan setiap hari 3 jam.

Demikian juga di Pekanbaru, dengan jumlah penduduk yang kurang lebih sama dengan Batam, cakupan pelayanannya cuma 8 persen. Dan kebocorannya mencapai 70 persen. Itu salah satu yang tertinggi di Indonesia. Jangankan bicara soal Kontinyuitas, cakupan pelayanannya saja masih sangat minim.

Selain diukur dari kuantitas dan kontinyuitas suplai, baik tidaknya pelayanan air juga dapat diukur dari kebocoran. Tidak ada gunanya juga jika air mengalir 24 jam, cakupan pelayanan 100 persen, tapi kebocorannya tinggi. Karena di jaman seperti ini, kita harus mampu menyelamatkan air untuk masa depan.

Jika sebuah layanan sebuah perusahaan air bagus, tapi kebocorannya tinggi, maka secara keseluruhan perusahaan itu dinilai tidak bagus.

Bagaimana kebocoran air di ATB?

Saat ini, kebocoran air ATB ada di angka 14 persen. Merupakan yang terendah di Indonesia, untuk kelas pelanggan di atas 200 ribu sambungan.

Kebocoran terendah lainnya itu ada di Aetra Tanggerang, yakni hanya 6 persen. Akan tetapi, Aetra Tanggerang baru melayani 40 ribu sambungan pelanggan. Itu setara dengan salah satu DMA yang dilayani oleh ATB dengan kebocoran sekitar 3-4 persen.

PDAM lain gimana? Angkanya masih di atas 30 persen. Kebocoran di Jakarta masih 42 persen. Pekanbaru masih di atas 70 persen. Air terbuang sia-sia.

Dengan tingkat kebocoran yang sangat rendah, ATB telah membantu menyelamatkan Batam yang seharusnya sudah defisit air sejak tahun 2015. Kita harus bersyukur, karena masih bisa menikmati layanan air yang baik dari ATB hingga hari ini.

Kita juga beruntung karena air di Batam dikelola oleh ATB, sehingga Batam layak untuk menjadi daerah tujuan investasi. Karena tidak mungkin ada investasi masuk, ketika dukungan layanan airnya tidak baik.

ATB  juga bisa membuktikan bahwa apa yang kami lakukan bisa membantu meningkatkan layanan air di Indonesia. ATB tak berfikir sempit hanya untuk pulau Batam. Tapi ATB berfikir besar, agar peningkatan layanan air juga bisa terjadi di bagian kota lain di Indonesia.

Karena itu ATB berupaya menciptakan inovasi baru yang nantinya bisa digunakan di daerah lain. Saat ini, ATB menjadi perusahaan air bersih pertama dan satu-satunya yang menjadi penemu dan mengantongi Paten dari Kementerian Hukum dan HAM RI.

ATB membuktikan, dirinya tak hanya mampu menjalankan pengelolaan dengan baik, tapi juga memiliki kecerdasan yang bisa membantu meningkatkan kualitas layanan air di Indonesia dalam bentuk Paten manajemen pengelolaan air yang terintegrasi berbasis SCADA.

Di berbagai even kompetisi, ATB mendapat penghargaan kelas paling atas. Salah satunya adalah SNI Award. ATB adalah satu-satunya perusahaan swasta dan bukan BUMN yang pernah mendapat raihan Platinum. Jika ATB masih ikut dalam kompetisi tersebut tahun ini, kami berpeluang mendapat SNI Grand Platinum.

Ini semua membuktikan bahwa ATB adalah Maestro di bidang air.

Batam sebagai daerah tujuan investasi punya segudang masalah yang kompleks tentang ketersediaan air. Siapapun yang menjalankan operasi air di Batam, maka mereka harus perusahaan yang ahli di bidangnya.

Untuk urusan air yang sedemikian penting , masihkah kita ingin coba – coba ?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)