Dua prajurit paling kuat adalah kesabaran dan waktu (Leo Tolstoy)

Apa yang ada dalam benak Anda ketika melihat orang hilir mudik menggunakan masker di depan rumah Anda, atau di tempat-tempat umum pada dua atau tiga tahun lalu? Apalagi kalau maskernya model galon. Hampir pasti Anda akan curiga dengan orang tersebut.

“Ngapain keluyuran pakai masker?”

“Jangan-jangan lagi menyembunyikan identitas? Atau habis melakukan tindak kriminal?”

“Atau orang ini jangan-jangan sakit jiwa?” mungkin itu yang akan Anda katakan.

Tapi sekarang justru terbalik. Anda malah akan curiga dan was-was jika ada orang yang keluyuran tak pakai masker. Anda akan cenderung menghindari orang tersebut. Sambil ngomel-ngomel: orang ngga tahu aturan!!!

Apa sih yang salah dengan masker pada beberapa tahun yang lalu? Apa bedanya dengan sekarang?

Sebenarnya tak ada yang salah dengan maskernya. Namun waktu dan situasinya sudah berbeda.

Dulu, masker belum jadi kebutuhan semua orang seperti saat ini. Orang paling menggunakan masker ketika naik motor, atau lagi flu.

Tapi saat pandemi Covid-19 melanda seperti saat ini, masker telah menjadi kebutuhan semua orang. Menggunakan masker di tempat-tempat umum sudah jadi kewajiban.

Semua orang pakai masker. Gayanya pun macam-macam. Ada masker motif batik, motif scuba, atau pake respirator. Malahan ada yang bikin masker dengan moncong harimau atau hewan lainnya.

Masker jadi komoditas yang laris manis, karena waktunya memang benar-benar tepat.

Waktu memang menjadi elemen penting dalam kesuksesan sebuah program atau produk. Jika produk tersebut hadir terlalu cepat, tidak memberi manfaat. Konsumen tidak akan menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan. Sehingga tidak diterima dan akhirnya gagal.

Sebut  saja seperti rokok elektrik yang sekarang kita kenal dengan nama “Vape”. Mungkin tak banyak yang tahu, kalau sebenarnya Vape itu produk lama. Menurut Kompas.com, Phil Ray dan Norman Jacobson mengkomersilkan rokok elektrik dan memberi nama “Vape” pada produk tersebut pada tahun 1979.

Tapi waktu itu produk ini tidak laku. Para pencinta rokok masih menganggap “Vape” barang yang aneh.  Rokok konvensional masih tetap jadi favorit. Belum ada yang melirik Vape.

Tapi sekarang Vape sangat terkenal. Anda bisa menemukan banyak varian produknya. Berbagai macam bentuk dan rasa. Bahkan Anda bisa dengan mudah menemukan Vape Shop di berbagai tempat. Mereka menganggap rokok elektrik dapat mengurangi dampak buruk dari rokok konvensional.

“Podcast” atau “Ipod Broadcasting” juga sebenarnya punya sejarah yang tak jauh beda. Podcast muncul bersamaan dengan lahirnya produk Ipod pada tahun 2001. Nama Podcast sendiri baru mulai digunakan pada tahun 2004.

Tapi dulu siapa yang peduli dengan Podcast. Walaupun telah dimasukan sebagai salah satu fitur di Itunes, namun tak banyak yang benar-benar menggunakannya. Podcast justru baru terkenal beberapa tahun belakangan.

Nah, Anda bisa lihat, banyak produk yang sebenarnya bermanfaat, tapi harus gagal karena muncul di waktu yang salah. Karena itu, waktu yang dipilih untuk meluncurkan sebuah produk atau terobosan harus benar-benar dengan pertimbangan yang matang. Karena apapun itu, hanya dapat bermanfaat dan bisa memberikan nilai tambah jika muncul di waktu yang tepat.

Nah, ATB yang saat ini Anda kenal sebagai perusahaan yang sukses juga pernah mengalami kegagalan karena waktu yang tidak tepat. Baik karena terlalu cepat mengimplementasikan sebuah terobosan, atau terlalu lambat. Saya akan ceritakan keduanya

Mulai dari waktu yang terlambat dulu. Saya harus akui, kami termasuk terlambat mengadopsi Teknologi Informasi dalam operasional perusahaan dan pelayanan pelanggan secara menyeluruh. Sebelum era tahun 2009, ATB adalah perusahaan yang sangat tradisional dan sangat jadul.

Saat itu IT System hanya identik dengan  Billing System. Kami cuma punya 1 orang tenaga IT. Bahkan jaringan di kantor-pun tidak ada. Apalagi Website dan Communication Channel seperti yang bisa Anda akses kapan saja sekarang ini. Semua tidak ada. Sangat memalukan.

Untuk sekedar menginformasikan ada gangguan atau informasi lain kepada pelanggan saja, kami harus menggunakan surat kabar atau radio. Terlambat satu hari. Banyak pelanggan complain karena tidak mendapat informasi gangguan secepat mungkin. Padahal Medsos dan communication channel sudah ada sejak sebelum tahun 2009. Mengapa begitu ya?

Kami juga pernah terlalu cepat melakukan terobosan. Bukannya memberikan nilai tambah, terobosan yang terlalu cepat ini justru menelan cost yang cukup besar.

Salah satunya adalah ketika ATB mulai mengaplikasikan jaringan pipa dengan menggunakan material HDPE di tahun 2000. Saat itu pipa HDPE masih langka dan belum jamak di Indonesia. ATB adalah perusahaan air bersih pertama yang menggunakan material ini.

Apa yang terjadi?

Kami menemui banyak kesulitan. Kesulitan mencari Vendor, kesulitan mencari alat. Instalatur belum siap untuk melakukan pemasangan dan kesulitan mencari sparepart untuk perbaikan.

Itulah contoh ketika kami terlalu prematur menerapkan produk yang advance.

Tahun 2009, ATB menggelontorkan investasi puluhan miliar Rupiah untuk membangun beberapa tanki air. Tanki ini nantinya akan digunakan sebagai salah satu instrumen untuk menekan kebocoran dan meningkatkan layanan.

Sayangnya, tanki itu harus mangkrak selama hampir 5 tahun. Apa yang terjadi?

Sumber Daya Manusia (SDM) belum siap menerima terobosan ini. Petugas operasi di lapangan menganggap tanki yang dibangun bukan solusi yang tepat. Menurut mereka, penggunaan tanki air justru berpotensi menyebabkan kualitas distribusi air bersih menjadi makin buruk.

Akhirnya, keberadaan tanki yang seharusnya bermanfaat jadi tak ada gunanya. Investasi puluhan miliar Rupiah tak memberikan nilai tambah apapun. Akibat wawasan yang belum cukup.

Namun setelah SDM lebih siap, tanki-tanki tersebut justru memberi nilai tambah besar dalam upaya menekan angka kebocoran. Sekarang rata-rata angka kebocoran ATB hanya 14 persen pertahun.

Masih terkait dengan kebocoran. Sebelum tahun 2012, kami harus berhadapan dengan 1.600 titik kebocoran setiap bulannya. Namun kami tidak punya data mengenai lokasi kebocoran. Dengan tidak adanya data, kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami seperti kerja dengan peta buta.

Tahun 2012, ATB mulai menerapkan Leakage Monitoring System, dengan melakukan pemetaan titik kebocoran berbasis Geographic Information System (GIS). Sayangnya, upaya kami waktu itu lagi-lagi menemui kegagalan.

Masalahnya masih sama. SDM yang belum siap menerima terobosan. Banyak yang menganggap aplikasi pemetaan hanya membuat kerjaan semakin berat. Bahkan lucunya, beberapa oknum operator lapangan justru merasa terancam.

Kok bisa?

Karena dengan pemetaan tersebut, akan membuat semua menjadi ‘terang benderang’ yang bisa mengganggu ‘kenikmatan’ mereka selama ini.

Tapi sekali lagi, ketika waktunya sudah tepat, saat SDM sudah lebih terbuka menerima teknologi informasi menjadi bagian dari pekerjaan mereka, maka terobosan yang kami buat memberikan nilai tambah yang sangat besar.

Jadi pada dasarnya, semua itu bisa memberikan manfaat bila datang di waktu yang tepat.

Kapan itu? Saat kita sudah punya wawasan yang memadai dan merasa membutuhkan.

Segalanya bila datang pada waktu yang  tidak tepat, tidak akan memberikan nilai tambah apapun. Sudahkah kita membuat keputusan yang tepat karena kebutuhan atau sekedar memenuhi ambisi ?

Mari kita Pikirkan. Salam Kopi Benny.(*)