Harga adalah apa yang kamu bayar. Nilai adalah apa yang kamu dapat. (Warren Buffet)

Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei adalah seorang penggemar mobil mewah. Dan bukan sembarang mobil yang dikoleksi oleh seorang sultan. Beliau tercatat oleh Guinnes Book of the Record sebagai kolektor Rolls-Royce terbanyak di Dunia. Tak tanggung-tanggung, Sultan Brunei punya 500 Rolls-Royce.

Anda pasti setuju bahwa Rolls-Royce itu mobil Sultan. Mobil ini tak dimiliki oleh sembarangan  orang kaya. Hanya yang benar-benar tajir melintir yang punya.

Ngapain sih punya mobil Rolls-Royce sebanyak itu? Apa 1 aja gak cukup?

Menurutnya, Rolls-Royce telah menjadi simbol kekayaan sesungguhnya. Dia punya mobil mahal dari berbagai merek yang bisa Anda bayangkan. Namun koleksinya tidak akan berharga bila tidak dilengkapi oleh Rolls-Royce.

Begitulah Rolls-Royce. Telah menjadi simbol kemakmuran bagi para orang kaya di seluruh dunia. Ketika seseorang turun dari mobil yang satu ini, rasanya kita tak perlu lagi meragukan statusnya. Dia sudah pasti sekaya Sultan.

Desainnya yang elegan, dibangun dari material-material premium, dan jumlahnya yang langka membuat Rolls-Royce dianggap sebagai produk yang sangat high class dan exclusive. Imej yang belum tentu melekat pada mobil mewah lainnya.

Biasanya sebuah Rolls-Royce dibuat atas pesanan khusus. Dibangun sebagai karya seni dengan kualitas detail yang sangat tinggi dan presisi. Masa produksinya butuh waktu  setidaknya 4 bulan. Terkadang bisa lebih 1 tahun. Tergantung finishing seperti apa yang Anda inginkan.

Itulah mengapa Rolls-Royce sangat eksklusif dan istimewa. Jumlahnya terbatas. Perusahaan hanya menjual sekitar 4.000 unit dalam setahun di seluruh dunia. Sangat sedikit dibandingkan dengan mobil domestik.

Data bisnis.com menunjukkan kapasitas pabrik mobil Toyota di Sunter bisa mencapai 195,000 mobil per tahun. Artinya keluar 1 mobil tiap 2,7 menit! Wow.

Rolls Royce juga dibangun dengan material-material pilihan. Untuk menjaga kualitasnya, beberapa bagian dikerjakan dengan tangan manusia.

Bukan mesin. Joknya saja membutuhkan 75 meter persegi kulit pilihan. Itu setara dengan 350 lembar kulit yang diambil dari 20 Banteng. Anda bisa bayangkan? Hanya untuk sebuah kualitas dan exclusivitas.

Jadi adalah wajar bila kualitas dan kemewahan itu harus diganjar dengan harga selangit. Mobil asal Inggris ini dibanderol setidaknya USD 500 ribu di Negara asalnya.

Kalau di Indonesia, harganya bisa lebih dari  Rp 15 miliar. Anda bisa beli sekitar 75 mobil Multi Purpose Vehicle (MPV) yang sering Anda temui di Showroom.

Anda pasti sadar, kita dituntut untuk memahami bahwa tidak ada harga murah untuk mendapatkan barang dengan kualitas tinggi. Ada harga, ada kualitas. Siapapun akan maklum, bahwa untuk membeli produk dengan kualitas sedemikian tinggi, harus rela merogoh kantong yang sangat dalam.

Tapi sayangnya, ATB tak seberuntung Rolls-Royce.

Mengapa?

Air merupakan kebutuhan pokok manusia. Sehingga air tidak dapat dikomersialkan semaunya. Air juga mengemban fungsi sosial. Sehingga air harus dijual dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat.

Jika Rolls-Royce dapat menjual produk berkualitasnya dengan harga yang mahal, maka ATB tidak bisa melakukan itu. Air bersih yang merupakan produk yang demikian dibutuhkan ini sering tidak mendapat apresiasi.

Layanan air bersih terbaik yang telah diberikan ATB–bahkan telah diakui sebagai yang terbaik di Indonesia, hanya dihargai Rp 3,5 perliter!

Murah banget kan? Saya yakin anda semua tidak pernah sadar telah membayar semurah itu untuk barang yang sangat berkualitas.

Celakanya di satu sisi, pelanggan menuntut agar ATB memberikan produk yang sangat berkualitas. Baik dari kualitas air maupun layanan.

Namun di sisi lain, ATB tetap diminta memberikan tarif yang murah. Sungguh sangat ironis nasib si tukang ledeng. Dan ini terjadi hampir merata di seluruh Indonesia.

Dengan cakupan layanan telah mencapai 99,5% dan kontinyuitas aliran hingga 23,7 jam perhari pun terkadang masih banyak pelanggan yang tidak puas. Padahal mereka lupa kalau air yang mereka nikmati hanya ditebus dengan Rp 3,5 perliter.

Tapi itu seolah-olah tidak cukup. Banyak yang menuntut agar ATB menyalurkan air siap minum, selama 24 jam dan dengan tekanan yang memadai. Bahkan ada yang minta agar tekanan air ATB mencapai lantai 3 rumahnya.

Apakah masuk akal mendapatkan produk seperti itu dengan harga Rp 3,5 perliter?

Salah satu perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Batam menjual produk ukuran 20 liter dengan harga Rp 10.000. Itu artinya, 1 liter sama dengan Rp 500. Harganya sekitar 140 kali lipat dari harga air ATB. Dan itu artinya pelanggan membeli dengan rela untuk mendapatkan kualitas dengan harga yang lebih mahal.

Seandainya tarif air ATB Rp 100 perliter saja, saya bisa jamin air yang sampai ke rumah Anda siap minum. Masih saya tambah bonus mengalir 24 jam dan dengan tekanan yang cukup.

Mau?

Saya gak yakin anda siap menerima tawaran saya. Hitung – hitung mending tetap Rp. 3,5 perliter sajalah. Toh sebenarnya kualitas dan layanan yang diterima sudah sangat memadai. Ya kan?

Secara teknis ATB sangat mampu bila memang dibutuhkan untuk membuat air siap minum dengan layanan yang sangat memuaskan.

Masak perusahaan sekelas ATB gak mampu. Kami sudah pernah membuktikannya di Dam Baloi. ATB mengolah air baku dengan kualitas yang sangat buruk – nyaris seperti septic tank, menjadi air minum.

Paradigma air adalah merupakan anugerah Tuhan yang tak perlu diolah untuk dikonsumsi itu salah. Itu harus diluruskan. Untuk bisa menghasilkan air yang berkualitas, kami harus mengolahnya dengan metodologi yang tepat dan cermat.

Untuk memastikan air yang diterima pelanggan memenuhi kualitas yang ditentukan, ATB harus melakukan lebih dari 5.500 kali pengujian untuk ratusan parameter setiap bulannya.

Standar yang digunakan juga tidak main-main. American Public Health Association (APHA) dan standard WHO. Metode ini sudah disesuaikan dengan kondisi di Indonesia melalui Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Apakah hasil penelitian ini valid dan bisa dipertanggungjawabkan?

Laboratorium ATB sudah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN). Akreditasi ini merupakan pengakuan dan jaminan dari KAN bahwa Laboratorium Pengujian ATB telah berstandar internasional.

Jadi, apa yang dilakukan ATB sudah lebih dari standar yang disyaratkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes RI) Nomor 492 tahun 2010. Sehingga, dapat dipastikan kualitas air ATB terjaga.

Belum lagi ATB berkewajiban menjaga dan memelihara pipa sepanjang 4.166 KM. Panjang itu sama dengan 4 kali panjang pulau jawa, dan lebih panjang dari Benua Australia. Memangnya mudah?

Dan itu semua hanya dibayar Rp 3,5 perliter.

Masihkan bisa  kita dapatkan barang dengan kulitas tinggi dengan harga murah selain di ATB?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)