Kecerdasan tanpa ambisi adalah burung tanpa sayap. (Salvador Dali)

Kita tentu mengenal nama besar Adolf Hitler yang sempat membuat Eropa gentar. Namun Adolf Hitler masih belum bisa disandingkan dengan Napoleon Bonaparte.

Demikian pula Napoleon juga akan terlihat kecil bila dibandingkan dengan Julius Caesar. Dan Julius Caesar sendiri, belum bisa menandingi kehebatan The Great Iskandar Zulkarnaen.

Tapi tahukah Anda, kalau nama-nama besar tadi masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebesaran seorang Genghis Khan?

Siapa sih Genghis Khan ini?

Genghis Khan adalah pendiri kekaisaran Mongolia yang sempat membuat dunia gemetar. Namun, dibalik kebesarannya itu, seorang Genghis Khan tidak datang dari latar belakang kehidupan yang mewah. Dia datang dari seorang yang bukan siapa-siapa.

Dia adalah anak dari kepala suku Kiyad. Salah satu suku dari bangsa Mongolia yang hidup mengembara. Nama lahirnya adalah Temujin. Artinya Berwatak Keras.

Saat dia masih kecil, ayahnya meninggal karena diracun oleh musuh. Sepeninggal ayahnya Temujin  diusir dari sukunya oleh orang yang hendak mengambil alih hak-nya sebagai penerus kepala suku. Ia hidup menggelandang bersama ibunya. Tidak punya apa-apa.

Beranjak remaja, Temujin berkali-kali hendak dibunuh. Ditangkap, disiksa, kabur. Demikian berulang-ulang. Namun remaja satu ini memang punya watak yang keras, seperti namanya.

Di dalam dirinya ada sebuah ambisi besar yang tidak terbendung. Ambisi yang dibalut oleh nilai-nilai bangsa Mongolia. Seperti yang diajarkan oleh ayahnya sejak dia kecil. Itulah yang membuat Temujin tak mau menyerah dengan keadaan.

Temujin berjuang dan mengumpulkan kekuatannya sendiri, sampai akhirnya berhasil memperjuangkan haknya untuk memimpin suku Kiyad. Tidak sampai disitu, Temujin juga berhasil menyatukan seluruh suku Mongolia di bawah kekuasaannya.

Dari situlah dia membentuk kekaisaran Mongolia yang terkenal itu. Temujin kemudian dianugerahi gelar “Genghis Khan”. Artinya, Maha Kuasa. Khan dari segala Khan. Atau mungkin arti sederhananya adalah Raja dari semua Raja.

Kelak, setelah kematian Genghis Khan, Mongolia menjadi kerajaan yang tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya kerajaan yang kekuasaannya mendekati dominasi atas seluruh dunia. Meliputi Tiongkok, Mongolia, Rusia, Korea, Vietnam, Burma, Kamboja, Timur Tengah, Polandia, Hungaria, Arab Utara, dan India Utara.

Anda bisa melihat bagaimana ambisi seseorang bisa menjadi energi untuk meraih sebuah pencapaian yang sangat luar biasa. Namun, ambisi seseorang bisa jadi realitas bila didukung karakter dan kemampuan. Karena layaknya seekor burung hanya akan bisa terbang bila memiliki sayap.

Anda tentu tidak menganggap Genghis Khan hanya modal ambisi tanpa didasari kemampuan kan?

Dia punya jurus yang disebut dengan Blitzkrieg, atau serangan kilat. Inilah yang jadi senjata andalan seorang Genghis Khan untuk mewujudkan ambisinya. Jurus ini pula yang kemudian diadopsi oleh Adolf Hitler saat dominasi Nazi sangat besar dan menggetarkan Eropa.

Lalu bagaimana bila sebuah Ambisi tidak dibarengi dengan kemampuan dan kapasitas yang memadai?

Tanpa kemampuan, Anda akan cenderung menghalalkan segala cara untuk menggapai ambisi Anda. Dan bila perlu dengan mengorbankan orang lain. Itulah yang disebut sebagai “Ambisius”.

ATB telah berhasil mencatatkan Batam sebagai kota dengan pelayanan air terbaik di Indonesia. Setelah berhasil di Batam, lalu apa selanjutnya? ATB punya ambisi untuk menjangkau Indonesia. Tidak hanya Batam.

ATB memiliki ambisi untuk membuat Indonesia memiliki layanan air yang baik.

Untuk mendukung tujuan tersebut, Tahun 2019 lalu, perusahaan menambah tagline “ATB Tak Terganti”, dengan misi baru “ATB For Indonesia”.

Mungkin banyak yang bertanya, ada apa dengan tag line “Tak Terganti”? Mengapa diganti? Sebenarnya tidak ada penggantian tag line. Akan tetapi sebuah penguatan misi buat ATB.

Tag Line “ATB Tak Terganti” sebenarnya sering ditafsirkan dengan tidak tepat. Seolah – olah ATB tidak ingin diganti untuk tetap mengelola  air di Batam. Padahal sesungguhnya adalah kemampuan ATB Tak Terganti oleh operator air manapun di Indoneisa. Dan memang hingga hari ini kami masih merupakan yang terbaik dari semua operator yang ada. Dan masih tetap ATB Tak Terganti!

Dengan modal kemampuan itulah kemudian kita memiliki misi agar dapat menjangkau layanan air di Indonesia. Sehingga misi kita menjadi ATB for Indonesia.

Apakah ini sebuah Ambisi? Atau Ambisius?

Tentu saja kami tidak Ambisius. Tapi ATB memang telah punya karakter dan kemampuan yang dibutuhkan untuk menggapai cita-citanya.

Apa itu?

Selama kurun waktu 5 tahun belakangan ini, ATB telah berkembang dari perusahaan lokal, menjadi perusahaan dengan daya saing nasional atau malah international. Hal ini dibuktikan melalui sejumlah pengakuan dari berbagai lembaga-lembaga kredibel dalam dan luar negeri.

Salah satunya datang dari Badan Standarisasi Nasional (BSN) yang menganugerahi perusahaan ini dua kali SNI Award kategori Platinum. ATB jadi satu-satunya perusahaan swasta lokal yang mendapat penghormatan tersebut. Bersanding dengan perusahaan BUMN dan perusahaan terbuka lainnya.

Pencapaian-pencapaian tersebut tidak didapat tanpa kemampuan dan karakter. ATB memiliki sebuah keunggulan berupa Smart Water Management System yang diimplemetasikan dalam teknologi ATB Integrated Water Operation Management System berbasis SCADA.

Teknologi tersebut telah mendapat Paten dari Kementerian Hukum dan HAM RI pada Oktober 2019 lalu. Inilah keunggulan yang tak dimiliki oleh perusahaan air bersih lain di Indonesia, bahkan mungkin di dunia.

Keunggulan inilah yang akan menjadi andalah ATB untuk bisa melebarkan sayapnya di Indonesia. Tentu saja juga didukung oleh SDM yang qualified dan berkualitas.

Kenapa merambah pasar Nasional jadi proyeksi atau target?

Karena ATB sangat sadar bahwa, pelayanan air di Indonesia masih belum baik. Rata – rata cakupan pelayanan hanya 65% dan tingkat kebocoran masih di angka 34%. Bandingkan dengan Batam yang memiliki cakupan  99.5% dan tingkat kebocoran hanya 14%.  Sehingga sungguh tidak fair jika keunggulan yang dimiliki ATB hanya dinikmati oleh Batam.

Jadi bukan semata-mata hanya masalah komersial. Tapi adalah bagian dari upaya ATB untuk ikut berbakti dan mengabdi bagi negeri tercinta Indonesia.

Kami yakin, teknologi yang telah mendapat Paten tersebut bisa digunakan utnuk meningkatkan layanan air bersih di Indonesia. Saat ini Umbulan dan Lampung telah menjadi bagian dari kontribusi ATB.

ATB punya kemampuan dan karakter untuk mendukung ambisinya. Semoga niat ATB membantu Indonesia merupakan ambisi dan bukan menjadi sekedar ambisius.

Lalu layakkah mereka yang tanpa kemampuan dan karakter untuk terus mengejar ambisinya?

Mari kita pikirkan. Salam Kopi Benny. (*)