batampos.co.id – Seorang pria berusia 23 tahun di Singapura terinfeksi Covid-19 meski telah divaksinasi dua suntikan. Ahli kesehatan menegaskan hal itu memang bisa terjadi karena sistem imun setiap orang berbeda.

Ahli juga mengatakan bahwa meski vaksin tidak menghentikan infeksi, kemungkinan besar vaksin tersebut akan mengurangi keparahannya. Berita tentang seorang pekerja migran yang tertular Covid-19 meski telah divaksinasi penuh telah menimbulkan beberapa kekhawatiran. Akan tetapi ahli penyakit menular mengatakan bahwa hal itu tak perlu dikhawatirkan.

Pada Minggu (11/4), infeksi pertama dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan Singapura. Pria berkewarganegaraan India berusia 23 tahun itu telah menerima dosis vaksin Covid-19 pada 25 Januari dan 17 Februari. Kasus serupa juga telah dilaporkan sebelumnya.

Baca Juga: Wakil Wali Kota Batam Positif Covid-19, Begini Kondisinya…

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengatakan pada April, bahwa dari 2.479 orang yang divaksinasi dalam sebuah penelitian, tiga telah terinfeksi Covid-19 setelah mereka divaksinasi penuh. Di Jepang, seorang pekerja rumah sakit yang telah menyelesaikan rejimen vaksinasi dipastikan terinfeksi pada 11 April.

Di Singapura selama tiga bulan terakhir, Kemenkes telah mencatat setidaknya tiga kasus terpisah dari orang yang dites positif terkena virus setelah dosis pertama. Untuk tiga kasus ini, Kementerian mengatakan bahwa ada kemungkinan seseorang terinfeksi sebelum atau setelah vaksinasi, karena biasanya membutuhkan beberapa minggu bagi seseorang untuk membangun kekebalan setelah menerima suntikan.

Dilansir dari Today Online, Kamis (15/4), Ahli Penyakit Menular Singapura, dr. Hsu Li Yang dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock di Universitas Nasional Singapura (NUS) menjelaskan mengapa pria itu bisa tertular setelah divaksinasi 2 dosis. Menurutnya mereka yang sistem kekebalannya terganggu dan yang memiliki sistem kekebalan normal, kadang-kadang tidak dapat memberikan respons yang memadai setelah terpapar virus.

“Ini berlaku untuk semua vaksin, tidak hanya vaksin Covid-19, jadi tidak perlu dikhawatirkan,” katanya seperti dilansir dari Straits Times, Kamis (15/4).

Ahli lainnya, Associate Professor Alex Cook, Wakil Dekan penelitian di NUS Saw Swee Hock School of Public Health, mengatakan bahwa kasus pria itu menjadi yang pertama bahwa divaksinasi lengkap namun masih terinfeksi. “Bagi saya, itu tidak perlu dikhawatirkan,” katanya.

Kemenkes mengatakan meski vaksin tidak sepenuhnya mencegah Covid-19, namun itu dapat mencegah kasus yang lebih serius. Ahli spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena dr. Leong Hoe Nam mengatakan vaksin memiliki kemampuan untuk menekan keparahan. Misalnya, kasus Covid-19 yang berpotensi parah bisa menjadi kasus sedang jika orang tersebut divaksinasi, dan kasus sedang bisa menjadi kasus ringan, dan seterusnya.

“Jika orang tersebut diketahui terkena infeksi tanpa gejala setelah divaksinasi. Ini kabar baik karena dia bisa jadi jika tak divaksinasi, merupakan kasus yang cukup parah dengan risiko meninggal dan pastinya dirawat di rumah sakit,” katanya. (jpg)