Kamis, 9 April 2026

Kabar dari ATB untuk Warga Rusun Tanjunguncang

Berita Terkait

foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Head of Corporate Secretary ATB Maria Y Jacobus menyebutkan, area Tanjunguncang adalah stress area. Dimana pasokan tambahan harus dibantu dari Dam Tembesi.

Namun begitu, ATB saat ini sedang melakukan kajian untuk investasi peningkatan suplay.

Dam Tembesi solusi ideal dalam menyuplai tambahan air ke Tanjunguncang,” kata Maria, saat menanggapi terkait tidak berjalan nya suplai air baik dari pipa ataupun mobil tanki ATB, kemarin.

Diakuinya, untuk perbaikan suplai Tanjunguncang, beberapa rencana sedang dalam kajian. Termasuk juga solusi alternatif agar masyarakat yang berada di lokasi itu tetap tersuplai air bersih.

“Nanti Selasa (23/4) saya update. Diingatin ya,” kata Maria.

Untuk solusi jangka pendek sendiri, ia mengaku pengaturan air sudah dilakukan. pelanggan memang tak bisa mendapatkan air 24 jam karena memang pasokan air bersih kurang ke arah Tanjunguncang.

“Mudah-mudahan dalam tahun ini masalahnya sudah teratasi,” tambahnya.

Selain itu solusi jangka pendek lainnya adalah dengan menggunakan mobil tangki. Mobil tangki baru bisa digunakan jika sudah 1 kali 24 jam total air tidak mengalir sama sekali.

“Untuk ke rusun Tanjunguncang mobil tangki tiap malam hari masih jalan,” jelasnya.

Sebelumnya, krisis air bersih kembali terjadi di rumah susun sewa (rusunawa) Pemko Batam I di Tanjunguncang, Batuaji. Sudah sepekan ini suplai air baik dari pipa ataupun mobil tanki ATB tak jalan.

Ratusan kepala keluarga yang menghuni rusun di simpang PT Batamec itu kembali resah. Mereka kembali kewalahan mendapatkan stok air bersih sebab sejumlah bak penampungan sudah benar-benar kosong.

“Stok terakhir pagi tadi. Saat ambil (dari dalam bak penampungan) saling berebutan sampai perang mulut sesama warga pagi tadi. Sudah seminggu ini baik yang dari pipa ataupun tanki tak muncul lagi,” ujar Andre, penghuni blok C Rusunawa, Kamis (18/4/2019).

Air yang dialirkan melalui pipa pada malam hari terakhir mengalir Sabtu (13/4) lalu, begitu juga dengan pasokan manual menggunakan mobil tanki sudah sepekan tak berjalan. Warga rusun kembali mempertanyakan tanggungjawab pihak ATB sebab persoalan ini terjadi sudah bertahun-tahun dan sepertinya bukan persoalan serius ATB.

“Padahal kami bayar terus biaya beban meteran Rp 45 ribu perbulan (perhunian). Tapi ini dianggap sebelah mata oleh ATB. Mau komplain dan protes yang seperti apa lagi baru mereka tanggap serius. Kemarin ribut di media baru sibuk antar pakai tanki, sekarang lengah dikit kembali tak ngalir,” keluh Anita, penghuni lainnya. (rng)

Update