Minggu, 3 Mei 2026
Beranda blog Halaman 12807

Penerbangan Rute Batam – Denpasar Dibuka Kembali

0
 Bandara Internasional Hang Nadim, Batam. F. Yusuf Hidayat/Batam Pos

batampos.co.id – Setelah beberapa hari Bandara Ngurai Rai ditutup akibat erupsi dari Gunung Agung. Angkasa Pura 1 mengeluarkan NOTAM (Notice To Airmen) yang menyatakan bandara tersebut dibuka kembali, tertanggal semenjak Rabu (29/11).
Semua rute ke Denpasar kembali normal. Termasuk Rute langsung Batam menuju Denpasar juga sudah bisa kembali dilayani oleh maskapai Lion Air.

“Sudah kembali normal, sejak pagi tadi,” kata General Manager Operasional Hang Nadim Batam Suwarso, Kamis (30/11).

Ia mengatakan sesuai dengan NOTAM yang dikeluarkan Manager Umum Angkasa Pura 1 no A4300 tertanggal 29 November, menyatakan dicabutnya status penutupan Bandara Ngurah Rai.

Terkait status Bandara Ngurah Rai sudah bisa didarati pesawat. Suwarso mengatakan pihaknya secara berkala memperbaharui informasi kondisi Gunung Agung. “Kalau sewaktu-waktu ada perubahan ke arah buruk, setiap bandara akan dikabari kembali. Tapi sepertinya sudah tak ada lagi (Erupsi,red),” ungkapnya.

Sementara itu Distrik Manager Area Batam M Zaini Bire mengatakan pihaknya sudah kembali menjual tiket Batam ke Denpasar. Ia mengatakan aktivitas Gunung Agung sudah mereda. Tidak ada lagi abu vulkanik dari aktivitas gunung tersebut.

“Kami sudah buka,” ungkapnya.

Ia mengatakan masyarakat sudah kembali bisa memesan tiket di agen-agen perjalanan ataupun langsung ke perwakilan Lion Air. “Baik rute transit atau langsung, sudah kembali baik seperti sediakala,” pungkasnya. (ska)

Satpam Bandara Hang Nadim, Tangkap Kurir Sabu

0
ilustrasi

batampos.co.id – Satuan Pengamanan (aviation security) bandara Hang Nadim kembali mengamankan kurir sabu, Kamis (30/11/2017) pukul 06.35.

Dari tangan Nazaruatuan Pendin petugas mengamankan 721 gram sabu yang terbagi dalam enam bungkus plastik bening.

“Penumpang dari Batam menuju Medan,” kata General Manager Operasional Hang Nadim, Suwarso, Kamis (30/11).

Suwarso mengatakan dari tiket yang diamankan petugas, Nazarudin berencana berangkat ke Medan dengan menggunakan maskapai Lion Air pukul 09.20. Pria asal Aceh Utara ini diamankan saat memasuki pintu terminal keberangkatan Bandara Hang Nadim.

Dibeberkan oleh Suwarso, saat memasuki Walkthrough alat tersebut berbunyi. Sehingga petugas meminta Nazarudin mundur kembali. Lalu diminta berjalan kembali ke Walkthrough. Tapi entah kenapa alat tersebut berbunyi.

“Petugas melakukan pemeriksaan manual,” tutur Suwarso.

Saat mengecek bagian dibawah perut Nazarudin, petugas merasakan ada tonjolan aneh. Kecurigaan petugas bertambah dengan saat melihat tingkat pria 43 tahun ini. Nazarudin terlihat mulai gelisah. Sehingg petugas memberikan kode ke pihak Beacukai, untuk menyiapkan ruang pemeriksaan.

“Saat dibawa diruang pemeriksaan, tonjolan di bawah perut itu ternyata plastik yang berisikan sabu,” ucap Suwarso.

Lalu petugas meminta Nazarudin membuka sepatunya. Ternyata didalam sepatu ada beberapa bungkus sabu. Saat diinterogasi Nazarudin pura-pura linglung. Ia mengatakan tidak mengetahui kalau barang itu adalah sabu.

Setelah beberapa lama diinterogasi, Nazarudin mengakui dirinya disuruh oleh seseorang yang ditemuinya di kawasan Nagoya.

“Dari pengamatan petugas, Nazarudin ini sendiri. Setelah itu kami limpahkan ke pihak Bea Cukai,” ungkap Suwarso. (ska)

Mumuh pun Senang

0

Petugas dari Perusahaan Gas Negara (PGN) Batam melakukan pengecekan jaringan gas bumi sekaligus memberikan edukasi kepada Mumuh salah seorang pemilik rumah makan di Perumahan Bida Asri I Batam Center, Rabu (29/11/2017).

Mumuh kini tidak lagi kesulitan saat akan memasak karena pasokan gas bumi dari PGN bisa mempermudah memasak.

Mumuh mengaku senang menggunakan gas PGN. Yang jelas mudah sebab pasokan terus ada dan lebih murah.

 

Foto/teks: Cecep Mulyana/Batam Pos

Karena Gas Bumi Bukan Sekadar Bahan Bakar

0

Di balik semangat PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) membangun proyek pipa transmisi WNTS di titik Sub Sea Tie In-Batam (SSTI-B) ke Pulau Pemping terdapat optimisme dan keyakinan. Bahwa ke depan, gas bumi bukan sekadar bahan bakar, melainkan akan menjadi bahan baku bagi sejumlah sektor industri di Batam. Proyek ini juga merupakan ‘pengorbanan’ PGN demi keandalan pasokan energi masa depan bernama gas alam.

SUPARMAN, Batam

Sari Astuti bersungut-sungut. Alas setrika baru saja digelar. Setrika listrik yang ujung kabelnya sudah terhubung dengan arus listrik juga baru mulai panas. Namun tiba-tiba…Bleb! Listik padam.

Ia makin geram karena air nasi yang dimasak dengan rice cooker bahkan belum mendidih. Padahal, saat itu jarum jam menunjukkan pukul 10.30 WIB. Artinya, waktu makan siang akan segera tiba.

“Listrik padam tanpa ada pemberitahuan sebelumnya,” gerutu Sari, Kamis (2/11) lalu.

Padahal, jika Sari rajin membaca koran lokal, ia pasti akan mendapati informasi tentang pemadaman listrik yang terjadi hari itu. Sebab PT PLN Batam memasang iklan pengumuman pemadaman listrik bergilir di media cetak tempatan pada Rabu (1/11). Tak hanya itu, sejumlah media cetak maupun siber di Batam, termasuk Batam Pos, juga memuat berita tentang rencana pemadaman listrik tersebut.

Sesuai pernyataan PLN Batam kepada Batam Pos, listrik di Batam akan padam bergilir selama empat hari. Terhitung mulai 3 November hingga 6 November 2017. PLN Batam menyebut hal ini dikarenakan turunnya pasokan gas bumi dari PGN akibat aktivitas perawatan pipa PGN.

Akibat penurunan pasokan gas ini, PLN Batam mengaku kehilangan daya hingga 100 Mega Watt (MW) per hari. Sehingga tak ada pilihan lain bagi PLN Batam selain melakukan pemadaman bergilir kepada para pelanggannya.

“Kami menganggap ini situasi force majeure,” kata Manager Humas PT PLN Batam, Bukti Panggabean, Rabu (1/11) silam.

Bukti mengatakan, saat ini satu dari tiga pembangkit listrik milik PLN Batam menggunakan bahan bakar gas bumi dari PGN. Dalam sehari, konsumsi gas bumi untuk pembangkit listrik PLN Batam itu mencapai 30-40 Billion British Thermal Unit per Day (BBTUD). Sehingga penurunan pasokan gas bumi PGN saat itu sangat berdampak pada produksi setrum PLN Batam.

“Kami terpaksa melakukan pemadaman. Ini tak bisa dihindari,” kata dia.

Pihak PGN Membenarkan, bahwa pada 4-5 November ada proyek pengerjaan penguatan jaringan pipa gas PGN di Grissik, Sumatera Selatan. Akibat kegiatan ini, pasokan gas bumi ke Batam berkurang antara 40 hingga 50 persen dari suplai normal sebesar 70 MMBTUD. PGN juga mengakui, penurunan pasokan gas bisa terjadi sejak dua hari sebelum dan dua hari sesudah proyek dilaksanakan.

Kondisi semacam inilah yang membuat PGN terus berkomitmen membangun jaringan gas bumi untuk memperkuat pasokan gas alam tersebut ke Batam. Salah satunya melalui proyek pipa transmisi West Natuna Transportation System (WNTS) di titik Sub Sea Tie In-Batam (SSTI-B) ke Pulau Pemping.

Area Head PGN Batam, Amin Hidayat, menjelaskan sesuai namanya proyek SSTI-B ini merupakan pembangunan pipa gas bumi bawah laut yang di-taping dari jalur pipa gas dari Natuna ke Singapura (WNTS). Pipa SSTI-B ini kemudian mendarat di Pulau Pemping, Batam. Panjangnya sekitar 5 kilometer.

Melalui proyek ini, nantinya Batam akan mendapat tambahan pasokan gas bumi dari Natuna sebanyak 100 MMBTUD. Proyek SSTI-B ini diproyeksikan rampung 2018 mendatang. Selama ini kebutuhan gas bumi di Batam dipasok PGN dari sumur gas di Grissik, Sumatera Selatan.

“Sebenarnya gas dari Grissik cukup. Tapi dengan proyek WNTS ini, PGN ingin meningkatkan keandalan energi gas bumi di Batam,” kata Amin Hidayat, Senin (27/11).

Sehingga, kata Amin, ke depan tak perlu lagi ada industri di Batam, khususnya industri pembangkit listrik, yang terganggu akibat pasokan gas yang tersendat. Sebab dengan adanya suplai gas dari Natuna ini, Batam akan memiliki alternatif lain sumber pasokan gas bumi.

Selain industri pembangkit listrik (power plant), keandalan gas bumi di Batam dimaksudkan untuk melayani industri lain dalam skala besar. Sebab volume suplai gas 100 MMBTUD dari Natuna hanya tahap awal saja. Ke depannya pasokan gas bumi dari Natuna bisa ditingkatkan sesuai permintaan konsumen di Batam.

“Industri skala berapapun dapat kami layani,” ucap Amin dengan semangat menggelora.

Amin mengakui, serapan gas bumi di Batam saat ini masih tergolong rendah. Itulah sebabnya, ia menyebut proyek SSTI-B tersebut merupakan bagian dari ‘pengorbanan’ PGN saat ini.

Disebut pengorbanan karena sampai saat ini baru ada satu-dua industri yang menjadi calon konsumen gas bumi PGN yang dipasok dari Natuna itu. Itupun masih calon. Belum ada kontrak yang diteken.

Namun begitu, Amin mengaku pihaknya tetap optimistis bahwa ke depan serapan gas bumi di Batam akan semakin meningkat. Baik dari sektor industri, pembangkit listrik, komersial, hingga rumah tangga.

“Kami tidak bicara demand hari ini. Tapi kami memiliki optimisme terhadap peluang di masa yang akan datang,” katanya.

Amin meyakini, setidaknya ada dua efek besar dari pembangunan pipa gas bumi WNTS bagi Batam. Pertama, akan meningkatkan keandalan energi gas bumi di Batam yang akan mendorong masuknya industri skala besar. Misalnya industri petrokimia (petrochemical) dan industri oleokimia (oleochemical).

Sebab pada 2011 lalu, ada beberapa calon investor di sektor industri petrokimia yang berniat masuk ke Batam. Saat itu, mereka membutuhkan suplai gas bumi sebesar 100 MMCFD. Namun ketika itu PGN belum bisa menyanggupi.

“Tapi ke depan berapapun permintaan industri, kami akan layani,” katanya.

Kalau industri petrokimia dan oleokimia banyak yang masuk ke Batam, maka serapan gas bumi dipastikan akan semakin besar pula. Sebab bagi industri oleokimia dan petrokimia, gas bumi tidak hanya digunakan sebagai bahan bakar, melainkan juga akan menjadi bahan baku bagi industri tersebut.

Dan yang tak kalah pentingnya, kata Amin, masuknya industri skala besar ini juga akan berdampak pada ekonomi secara global. Lapangan kerja akan terbuka lebar. Efek gandanya adalah bergeraknya sektor usaha lainnya. Jika sudah begini, roda ekonomi akan berputar cepat.

Efek kedua pembangunan pipa WNTS, lanjut Amin, akan menjadikan Batam sebagai Hub-Energy untuk wilayah Kepri. Sehingga nantinya pemanfaatan gas bumi tidak hanya terfokus di Batam. Melainkan bisa didistribusikan ke daerah lain di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Bentuknya bisa berupa compressed natural gas (CNG) maupun liquefied natural gas (LNG).

“Bahkan jika memungkinkan, kami bisa membangun pipa gas ke pulau-pulau di wilayah Kepri,” ucap Amin

Amin menjelaskan, proyek pipa gas Sub Sea Tie In-Batam (SSTI-B) dari pipa jalur WNTS merupakan proyek penugasan dari pemerintah. Proyek ini ditargetkan rampung tahun 2018 mendatang.

Pria yang hobi bersepeda ini menambahkan, pipa WNTS merupakan pipa yang menyalurkan gas bumi dari Natuna ke Singapura. Gas tersebut bersumber dari tiga sumur milik tiga Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas, yakni MedcoEnergi, Premier Oil, dan Star Energy.

Sementara gas yang diambil dan disalurkan ke Batam melalui pipa SSTI-B ini merupakan domestic market obligation (DMO) untuk wilayah Kepri. “Ini semacam hak daerah Kepri. Karena tiga sumur gas tersebut berada di wilayah Kepri,” kata Amin.

Proyek SSTI-B ini disambut baik sejumlah pihak. PT Pelayanan Listrik Nasional (bright PLN) Batam salah satunya. Anak perusahaan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) ini melihat pembangunan pipa gas dari WNTS ini menjadi kabar baik bagi dunia usaha dan sektor industri di Batam. Termasuk bagi PLN Batam sendiri yang saat ini merupakan konsumen gas bumi terbesar di Batam.

“Kami happy, karena nantinya bakal ada sumber baru gas bumi. Sehingga ketika satu sumber terhenti, masih ada alternatif lainnya,” kata Direkut Bisnis dan Pengembangan Usaha bright PLN Batam, Khusnul Mubien, Selasa (28/11).

Bahkan Khusnul menyebut, PLN Batam kemungkinan akan menjadi konsumen gas dari Natuna tersebut untuk pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) milik PLN Batam di Tanjunguncang, Batam. Pembangkit tersebut saat ini sudah siap dioperasikan, dan tinggal menunggu pasokan gas.

Khusnul mengatakan, saat ini PLN Batam memiliki empat pembangkit. Dua di antaranya berbahan gas bumi, satu pembangkit berbahan bakar batubara, dan satu pembangkit berbahan bakar minyak (BBM).

Ia mengakui, dengan gas bumi PLN Batam bisa menghemat biaya bahan bakar sekitar 30 hingga 40 persen dibandingkan dengan BBM. Selain itu, pembangkit dengan bahan bakar gas lebih bersih dan ramah lingkungan.

“Pembangkit dengan batubara sebenarnya lebih hemat. Tapi menimbulkan polusi udara,” katanya.

Sayangnya, kata dia, PLN Batam tidak bisa mengganti semua pembangkitnya menjadi pembangkit bertenaga gas. Sebab jika suatu saat pasokan gas terkendala, PLN Batam masih bisa mengandalkan pembangkit lainnya yang tidak berbahan bakar gas.

Setelah pasokan gas bumi terjamin keandalannya, sebagai konsumen Khusnul masih memiliki harapan lain. Yakni soal harga gas bumi yang menurutnya harus ditekan lagi. Sebab jika harga gas murah, pihaknya juga bisa menjual setrum dengan tarif yang lebih rendah pula.

“Karena energi primer merupakan komponen terbesar dalam biaya operasional mesin pembangkit,” katanya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing. Pria yang akrab disapa Ayung ini mengatakan, harga gas nasional sebesar 9,6 dolar AS per MMBTU dianggap masih terlalu mahal. Idelanya, kata dia, harga gas untuk industri harus di bawah 6 dolar AS per MMBTU.

Namun ia mengakui, komitmen PGN dalam membangun jaringan gas bumi di Batam cukup baik. Sehingga ia optimistis, ke depan keandalan pasokan gas bumi di Batam akan semakin meningkat.

“Ini akan menjadi salah satu daya tarik investor. Dengan catatan harganya juga harus kompetitif,” katanya.

Ayung menyebut, saat ini sudah ada beberapa industri dan pembangkit listrik (power plant) di Batam yang sudah mengkonversi bahan bakar nya dari BBM ke gas bumi. Setidaknya ada 43 perusahaan sektor industri dan pembangkit listrik di Batam yang sudah menggunakan gas bumi. Mereka tersebar di sembilan kawasan industri di Batam.

Selain menggunakan gas sebagai bahan bakar, beberapa industri di Batam juga sudah memanfaatkan gas alam ini sebagai bahan baku. Misalnya PT Ecogreen Oleochemical yang berada di Kawasan Industri Kabil, Batam.

Ia berharap ke depan makin banyak industri di Batam yang memanfaatkan energi ramah lingkungan ini. Juga, semakin banyak perusahaan baru yang membutuhkan bahan baku gas yang masuk ke Batam.

Seoarng petugas Perusahaan Negara Batam Hitler Simatupang melakukan pemeriksaan Metering Regulating Station (MRS) PGN Megamall Batamcenter, Rabu (22/11). infeksi tersebut untuk memastikan kualitas dan tekanan gas yang sampai ke pelanggan. F Cecep Mulyana/Batam pos

Komitmen dan semangat PGN memperkuat infrastruktur dan pasokan gas bumi didukung banyak pihak. Badan Pengusahaan (BP) Batam selaku pengelola kawasan pedagangan bebas dan pelabuhan bebas Batam merupakan satu di antara sekian banyak intansi yang menyambut gembira komitmen itu.

Deputi II Bidang Perencanaan dan Pengembangan, Yusmar Anggadinata, mengatakan keandalan pasokan gas bumi di Batam menjadi nilai tambah bagi Batam. Sebab dia meyakini, ke depan gas bumi bakal menjadi komoditas yang bukan saja dimanfaatkan sebagai bahan bakar, tetapi juga menjadi bahan baku industri.

“Kami sangat mendukung agenda penguatan pasokan gas bumi di Batam,” kata dia, Rabu (29/11) lalu.

Pria yang akrab disapa Angga ini mengatakan, dengan pasokan energi gas bumi yang cukup, ditambah dengan ketersediaan sarana dan prasana penunjang lainnya, dia yakin investasi di Batam akan ikut tumbuh.

Angga menyebut, komitmen PGN ini sejalan dengan master plan BP Batam untuk mengembangkan Batam sebagai kota aertropolis. Konsep ini, kata dia, memerlukan dukungan infrastruktur dan ketersediaan energi yang memadai. Termasuk ketersediaan listrik.

“Pasokan gas bumi yang melimpah juga bisa dimanfaatkan untuk memperkuat sektor kelistrikan,” katanya.

Dukungan juga digelorakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kepri. Menurut Kepala Bappeda Kepri, Naharudiin, ketersediaan energi merupakan modal utama dalam pembangunan daerah, khususnya pembangunan di sektor perekonomian.

“Ya memang ketersediaan energi adalah kunci percepatan pembangunan daerah,” ujar Naharudiin.

Sedangkan Kepala Bidang Pemanfaatan Energi dan Listrik Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kepri, Mangara, menyebut semangat PGN memperkuat jaringan dan pasokan gas bumi di Batam sejalan dengan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) Kepri. Dia beharap, ke depan serapan gas bumi di Batam dan Kepri terus meningkat seiring dengan komitmen PGN yang terus menambah pasokan gas ke Batam. Termasuk yang melalui pipa WNTS SSTI-B.

Mengenai hal ini, Humas PGN Batam Riza Buana mengatakan, serapan dan pemanfaatan gas bumi memang membutuhkan dukungan dan regulasi dari pemerintah. Menurut dia, pemerintah harus mampu memanfaatkan kondisi kesiapan energi ini sebagai nilai jual untuk menggaet investor.

Khusus di Batam, kata Riza, perlu ada sinergi yang baik dari para pemangku kepentingan. Sebab ibarat sebuah kapal, Batam dikendalikan dua nakhoda. Yakni Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemko Batam.

“Pemerintah harus saling bekerja sama mendatangkan investor,” katanya.

Dengan adanya tambahan pasokan gas bumi dari Natuna melalui proyek SSTI-B ini, Batam nantinya akan surplus energi. Sehingga pemerintah harus mengimbanginya dengan terus menarik investor baru, khususnya untuk industri skala besar. Seperti industri petrokima dan oleokimia.

Sehingga ke depannya gas bumi tidak hanya banyak dimafaatkan untuk bahan bakar, tetapi juga banyak terserap sebagai bahan baku industri. Ia yakin, jika keunggulan Batam dalam hal keandalan energi gas bumi ini dikelola dengan baik, maka akan banyak investor asing di bidang petrokimia dan oleokimia yang tertarik menanamkan modalnya di Batam.

“Batam akan lebih menarik. Karena selain memiliki insentif fiskal, Batam punya ketersediaan sumber energi,” katanya.

 

Disebut Pekerjakan TKA Ilegal, HRD SMOE Bilang …

0
foto: smoe.com

batampos.co.id – PT SMOE disebut memekerjakan Tenaga Kerja Asing tanpa izin.

Informasi beredar menyebutkan bahwa PT SMOE mempekerjakan TKA dalam proyek pembongkaran Kapal Zhen Hua.

Mengetahui informasi tersebut pengawas TKA Disnaker Provinsi Kepri Jafriman, menyelidiki. Hasilnya, tak ada TKA ilegal seperti yang diinfokan.

“Fakta lapangan saya tak temukan seperti yang diinformasikan itu,” katanya saat dihubungi Batam Pos, Kamis (30/11/2017).

Ia mengatakan sudah melakukan pengecekan di PT SMOE, dan ditemukan ada delapan orang TKA. Tapi semuanya memiliki izin yang lengkap.

Sementara itu di kapal crane, Jafriman menemukan juga WN China. Tapi semuanya adalah kru dari Kapal Zhen Hua.

“Mereka juga memiliki izin. Informasi itu tak benar,” ungkapnya.

Tiga orang WN China yang disebut-sebut juga masuk secara ilegal ke Batam. Jafriman menuturkan hal itu juga tak benar. Karena tiga orang itu adalah klien dari proyek pengerjaan kapal crane ini.

“Dan mereka punya dokumen lengkap,” tuturnya.

Manager HRD PT SMOE Eldiansyah pun membantah soal ini.

Ia mengatakan dari informasi yang beredar itu, pihak imigrasi, Polda Kepri, Disnaker Kota dan Provinsi mendatangi PT SMOE.

“Mereka mengecek kebenaran informasi itu. Dan kami persilahkan, dan tak ada yang kami tutup-tutupi,” ucapnya.

Dan hasilnya, kata Eldiansyah tak ditemukan seperti yang diinformasikan. Ia mengatakan PT SMOE hanya memiliki delapan orang TKA, dan semuanya memiliki dokumen yang lengkap.

Sedangkan 20 orang TKA asing yang diisukan orang tak bertanggungjawab itu, kata Eldiansyah adalah kru kapal crane.

“Mereka itu kru kapal yang mengdrop barang. Mereka juga punya Shore Pass, ijin untuk turun ke daratan,” tuturnya.

Sementara itu tiga WN China yang sering melihat pembongkaran crane di PT SMOE. Eldiansyah mengatakan ketiganya adalah pemiliki barang tersebut. Kedatangan mereka untuk memastikan barang yang dipasok ke PT SMOE tepat waktu dan sesuai pesanan.

“Mereka datang dengan visa bisnis. Dan kami laporkan ke tiga departemen yakni Dinas Tenaga Kerja, Imigrasi dan Polisi terkait kedatangan mereka (WN China,red),” ungkapnya. (ska)

Peran Strategis PGN di FTZ & KEK Batam: Perkuat Infrastruktur Gas, Gairahkan Investasi

0
Proses penyambungan pipa gas alam oleh PGN untuk memperluas jaringan PGN ke seluruh Batam beberapa waktu lalu. Foto: Dalil harahap/batampos/JPG

Ketersediaan energi primer berupa gas alam menjadi kebutuhan dasar di kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ) Batam. Bahkan, transformasi beberapa wilayah menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mulai tahun ini, juga membutuhkan ketersediaan energi primer gas alam yang cukup besar.

RIFKI SETIAWAN-M.NUR, Batam

Pria itu menatap peta Batam-Rempang-Galang (Barelang) di lembaran akhir hasil kajian tentang Transformasi Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Jemarinya lalu menunjuk kawasan Rempang dan Galang atau biasa disingkat Relang.

“Ini sangat cocok semua dijadikan KEK. Di sini lebih mudah karena masih lahan kosong,” ujar pria tadi sambil menunjuk ke peta Rempang-Galang, saat ditemui Kamis (9/11/2017) di lantai delapan Gedung BP Batam di Batam Centre.

Pria itu adalah Lukita Dinarsya Tuwo, kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam yang baru menggantikan Hatanto Reksodipoetro. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Menko Perekomonian itu kemudian menunjuk peta Batam. Ia melihat beberapa wilayah yang akan dialihkan statusnya dari FTZ menjadi KEK.

“Di Kota Batam nanti hanya ada beberapa kawasan yang akan masuk KEK, jadi bentuknya enclave-enclave. Selebihnya tetap berstatus FTZ,” ungkapnya.

Pandangannya lalu kembali tertuju ke peta Rempang-Galang. Di peta itu juga tertera Batam-Rempang-Galang hingga Galang Baru yang telah lama terhubung enam jembatan. Jembatan tersebut dibangun era BJ Habibie menjabat Kepala BP Batam. Habibie saat itu berfikir jauh bahwa Batam kelak akan padat sehingga pembangunan bisa berlanjut hingga ke Rempang-Galang.

“Ini potensial sekali, bisa jadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, selain Kota Batam,” ujarnya.

Rempang-Galang memang jadi primadona. Pulau berjarak 2,5 kilometer di sebelah tenggara Pulau Batam itu memiliki luas 165,83 kilo meter persegi atau 27 persen luas Singapura yang sudah terhubung jembatan dengan Batam. Sedangkan Galang terletak di sebelah tenggara Pulau Rempang dengan luas sekitar 80 kilometer persegi atau 13 persen luas Singapura.

Sejumlah perusahaan sudah menyatakan kesiapannya berinvestasi di sana. Antara lain PT Tanjung Jelita dari Malaysia. Perusahaan ini hendak menanam modal 873 juta dolar Amerika.

Kemudian ada Global Utility Development dari Jepang. Lalu Al Ain Industries dari Arab Saudi yang bergerak di bidang penyulingan minyak. Al Ain siap menggelontorkan 1 miliar dolar Amerika. Ada juga Aquabis dari Australia yang siap dengan uang 15 juta dolar Amerika untuk usaha ikan tenggiri.

Tak hanya itu, dari dalam negeri ada PT Bukaka Barelang Energy Indonesia yang berniat investasi 500 juta dolar Amerika. Lalu ada Batam Marikulture Estate berniat investasi Rp 300 miliar. Kemudian PT Batam Livestock Center Konsorsium dengan Rp 150 miliar siap membangun peternakan kambing dan lainnya.

Paling fenomenal adalah rencana PT Makmur Elok Graha (MEG), Grup Artha Graha. Mereka berencana membuat kawasan wisata ekslusif dengan modal 15 miliar dolar Amerika. Rencana investasi itu selain melibatkan duit miliaran dolar, juga melibatkan Tomy Winata, pengusaha terkenal. Bahkan Pemko Batam dan pihak Tomy sudah pernah meneken nota kesepahaman (MoU) pada 26 Agustus 2004.

Dari maket pengembangan yang ditunjukkan tim Tomy saat itu, Rempang-Galang akan disulap menjadi kota baru yang modern dengan beragam fasilitas. Ada zona pariwisata terpadu eksklusif, ada zona olahraga, zona industri, zona perkantoran dan perbankan, zona industri kreatif, dan lainnya.

Bahkan, Tomy juga berencana membangun sirkuit F1 dan MotoGP dengan lintasan sepanjang tepi laut Rempang-Galang. Namun rencana itu tak terwujud karena status quo Rempang-Galang tak kunjung dicabut.

Namun Lukita meyakinkan persoalan status quo bisa dibicarakan di pusat dan bukan persoalan utama. Justeru persoalan anggaran yang bisa jadi perhatian serius. Ia belum bisa memastikan pemerintah pusat akan menggelontorkan uang dalam jumlah besar untuk membangun infrastruktur di Rempang dan Galang jika jadi KEK.

Tapi, salah satu tugas utamanya dari Menko Perekonomian Darmin Nasution adalah mewujudkan transformasi FTZ ke KEK paling lambat dalam dua tahun ke depan. Baik beberapa zona di Kota Batam maupun di hinterland khususnya Rempang dan Galang.

Jika pusat tak menggelontorkan uang dalam jumlah besar ke zona KEK di Kota Batam hingga ke Rempang-Galang, Lukita tak patah arang. Masih banyak cara lain yang bisa ditempuh. Salah satunya, membentuk konsorsium dengan melibatkan BP Batam, Pemko Batam, Pemprov Kepri, dan BUMN. Bisa juga menggaet Investor.

“Seperti KEK di Lhokseumawe, Aceh, melibatkan sejumlah BUMN,” ujar Lukita.

BUMN bisa mengambil peran sesuai bidangnya. Misalnya, PT Perusahaan Gas Negara (persero) Tbk bisa mengambil peran dalam pembangunan infrastruktur jaringan gas alam ke seluruh zona KEK. Baik di Kota Batam maupun Rempang-Galang.

Dengan begitu, PGN bisa memasok kebutuhan gas alam ke seluruh zona, baik untuk kebutuhan pembangkit lisrik di kawasan itu, maupun untuk bahan baku industri yang ada di dalamnya, terutama industri petrokimia.

Diakui Lukita,  infrastruktur memang sangat penting untuk menarik investor dalam dan luar negeri. Sebagus apapun lokasi suatu kawasan, sehebat apapun dan sebanyak apapun fasilitas serta insentif yang diberikan, tidak akan dilirik oleh investor jika minim infrastruktur.

Terutama infrastruktur yang bersifat dasar seperti listrik dan gas alam. Apalagi ke depan, BP Batam akan menyediakan zona-zona KEK untuk industri berteknologi tinggi dan berskala besar.

Sekadar diketahui, Batam kini memiliki dua status. Pertama sebagai kawasan FTZ di seluruh Kota Batam yang telah ada sejak tahun 2000 hingga saat ini.

Status FTZ Batam diawali dengan terbitnya UU Nomor 1 Tahun 2000, lalu Undang-Undang Nomor 36/2000 yang kemudian diubah beberapa kali melalui Perpu yang dan diundangkan menjadi UU No 44 tahun 2007.

Kedua KEK di beberapa wilayah di Batam dan rencananya seluruh wilayah Rempang-Galang yang mulai digarap tahun ini. Status KEK itu dipayungi UU Nomor 39 tahun 2009.

Status KEK diberikan ke Batam dan Rempang-Galang karena adanya dinamika di pemerintahan dan ekonomi dunia yang terus bergerak dan menuntut perubahan-perubahan di berbagai aspek. Mulai dari perizinan, hingga regulasi berupa insentif bagi setiap investor yang akan menanamkan modalnya di suatu kawasan di suatu negara.

Hal ini ditandai munculnya perjanjian-perjanjian kerja sama perdagangan internasional. Baik bersifat bilateral maupun regional. Contohnya AFTA, MEA, dan berbagai perjanjian kerja sama perdagangan bilateral dan regional lainnya.

Perjanjian-perjanjian perdagangan internasional itu menuntut sejumlah fasilitas-fasilitas yang bisa memperlancar arus barang, jasa, tenaga kerja, teknologi, dan lainnya.

“Kelebihan-kelebihan yang tertuang dalam UU FTZ tidak signifikan lagi untuk memenuhi berbagai hal dalam perjanjian-perjanjian kerja sama perdagangan internasional itu, makanya butuh KEK,” kata Lukita.

Sejatinya, seluruh Kota Batam hingga ke Rempang-Galang akan dialihkan statusnya menjadi KEK. Namun Kota Batam bukan lagi wilayah kosong, sehingga tidak memungkinkan lagi semua dialihkan menjadi KEK. Pemerintah pusat akhirnya mengambil kebijakan, khusus Kota Batam hanya beberapa zona saja yang menjadi KEK, selebihnya tetap FTZ.

Nantinya akan ada zona KEK Industri, KEK Pariwisata, KEK Industri Kreatif, zona marinaerotropolis, dan masih banyak lagi.

Perbedaan FTZ dan KEK ini terletak di fasilitas dan insentif yang diberikan ke para investor. Fasilitas di KEK jauh lebih banyak ketimbang di FTZ. Baik itu soal pembebasan pajak, maupun kemudahan perizinan serta kebijakan fiskal lainnya.

“Kami optimis, banyaknya fasilitas, insentif, dan kemudahan yang diberikan di KEK akan semakin banyak investor berinvestasi di Batam,” ujar Lukita.

Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II Era Presiden Susilo Bambang Yuhoyono pada medio 2010-2014 ini meyakinkan, enam bulan ke depan (pertengahan 2018) KEK Batam (termasuk Rempang-Galang) sudah ada gambaran yang jelas.

“Kami diberi waktu dua tahun mewujudkannya. Kami mengajak berbagai pihak untuk membantu mewujudkannya,” kata Lukita.

***

PGN sendiri menyambut baik duo status Batam itu. Termasuk rencana menjadikan Rempang-Galang sebagai KEK keseluruhan.

“Kalau menarik pipa untuk mengalirkan gas alam ke semua zona KEK termasuk ke Rempang-Galang itu, PGN sangat siap. PGN juga sudah lama menantikan hadirnya industri yang memang membutuhkan gas alam dalam jumlah besar,” ujar Sales Area Head PGN Batam, Amin Hidayat, Senin (27/11/2017).

Amin meyakinkan, berapapun gas untuk industri dan sektor bisnis butuhkan, baik di zona KEK akan datang maupun di FTZ saat ini, PGN selalu siap memasoknya. Apalagi proyek transmisi gas bumi bawah laut dari Natuna, West Natuna Transmission System (WNTS) di Subsea Tie In-Batam (SSTU-B) yang akan mendarat di Pulau Pemping, Belakangpadang, Batam, akan segera rampung.

“Pasokan gas dari Natuna ke Batam bisa ditingkakan hingga 100 BBTUD (British Thermal Unit per Day). Pasokan gas alam ke Batam akan semakin andal,” ujar Amin.

Saat ini pasokan gas ke Batam baru berkisat 50 hingga 70 BBTUD yang dipasok dari sumur di Grissik, Sumatera Selatan.

Direktur Infrastruktur dan Tekonologi PGN, Dilo Seno Widagdo, dalam keterangan resminya Rabu (21/6/2017) lalu menegaskan komitmen PGN menjadikan Batam sebagai kota gas.

Dino melihat Batam sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas yang beberapa wilayahnya akan bertransformasi menjadi KEK, menjadikan Batam lebih kompetitif. Batam akan tetap menjadi pilihan utama investor asing maupun investor dalam negeri untuk berinvestasi.

“Ini salah satu wujud kotribusi PGN dalam mendukung program pemerintah untuk ketahanan dan kemandirian energi dalam negeri,” ujar Dino.

Dari sisi harga, gas alam untuk kebutuhan industri di Batam masih jauh lebih murah dari dua negara tetangga. Di Singapura, harga gas industri sekitar 11 dolar AS per MMBTU. Sedangkan di Malaysia sudah ada yang mencapai 13 dolar AS per MMBTU. Sementara Batam masih menggunakan harga rata-rata nasional 9-10 dolar AS per MMBTU.

Ketersediaan gas alam di Batam diyakini Dino akan semakin membuat ekonomi Batam bergairah. Bahkan bukan hanya Batam, tapi juga Bintan, Karimun, dan kawasan sekitarnya di Kepri, sebab PGN bisa memasok gas alam dalam bentuk gas alam terkompresi (CNG) dalam tabung.

“Batam dan sekitarnya bisa menjadi surga bagi investor berinvestasi,” katanya.

Kontribusi PGN untuk memajukan Batam dari sektor penyediaan energi gas alam sudah dilakukan sejak 13 tahun lalu, tepatnya sejak September 2004. Batam yang kala itu sudah menjadi tujuan investasi masih menghadapi kendalan besar dalam hal ketersediaan energi listrik. BP Batam yang dulu bernama Badan Otorita Batam yang awalnya mengelola listrik kesulitan memenuhi kebutuhan listrik industri yang ada di Batam.

BP Batam akhirnya menyerahkan pengelolaan listrik ke PT Pelayanan Listrik Nasional Batam yang merupakan anak usaha PT PLN (persero). Di awal-awal mengelola listrik di Batam, PT PLN Batam juga kesulitan memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat seiring mengalirnya investasi di Batam. Apalagi, mesin-mesin pembangkit listrik warisan BP Batam semua berbahan bakar diesel (PLTD) yang harga bahan bakarnya terus meningkat.

Sejumlah investor di bidang kelistrikan (Independent Power Produce/IPP) akhirnya digandeng PLN Batam. Listrik yang dihasilkan pembangkit listrik berbahan bakar gas alam milik IPP dibeli PLN Batam lalu didistribusikan ke pelanggan industri, bisnis, dan semua lapisan masyarakat.

Manager Public Relation Bright PLN Batam, Bakti Panggabean menyebutkan beberapa mitra PLN Batam yang pembangkitnya menggunakan bahan bakar gas alam yang memasok listrik ke PLN antara lain; PT Mitra Energi Batam yang menghasilkan daya sebesar 82,1 Megawatt sejak 2005, PT Dalle Energi Batam yang menghasilkan daya sebesar 82,1 Megawatt + 19 Megawatt sejak 2006.

Kemudian ada  PT Indo Matra Power Batam  yang memasok daya sebesar 17,4 Megawatt sejak 2006, dan PT Energi Listrik Batam yang menggunakan daya sebesar 70 Megawatt sejak 2016.

Bakti mengatakan, efisiensi pemakaian gas tergantung dari harga kontrak gas untuk masing-masing pembangkit serta nilai konsumsi gas untuk masing-masing pembangkit.

“Pembangkit yang sudah mengkombinasikan gas dan uap memiliki efisiensi yang paling baik,” ungkapnya.

Tak hanya pembangkit milik mitra, PLN Batam juga membangun power plant sendiri berbahan bakar gas sejak 2012, berkapasitas 3 x 8,1 Megawatt di Panaran. Bahkan sejak  2017, PLN juga telah membangun PLTG lainnya dengan kapasitas 2 x 40 Megawatt. Keduanya ada di Panaran, Tanjunguncang. Namun gasnya dipasok anak usaha PLN Batam dari pusat pertemuan gas di Pulau Pemping ke Panaran.

Tak hanya pembangkit listrik mitra PLN Batam yang menggunakan gas alam yang dipasok oleh PGN, sejumlah kawasan industri di Batam yang memiliki pembangkit listrik sendiri sudah lama beralih ke gas alam yang juga dipasok PGN.

Batamindo Industrial Park contohnya. Kawasan industri pertama dan terbesar di Batam itu sudah memilih gas untuk pembangkit listrik di kawasan itu sejak November 2005.

“Iya, alasnya gas alam lebih ekonomis, efisien, dan juga ramah lingkungan,” ujar Tjaw Hoeing, manager General Affair PT Batamindo Investment Cakrawala, Rabu (15/11/2017) di Wisma Batamindo.

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri menjelaskan, awalnya Batamindo menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Namun butuh biaya besar untuk mencukupi kebutuhan listrik di kawasan tersebut karena harga bahan bakar solar yang terus meningkat.  “Akhirnya beralih ke gas yang dipasok PGN,” katanya.

Pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) milik Batamindo memiliki kapasitas awal 7 Megawatt. Sejak menggunakan gas, kapasitasnya ditingkatkan menjadi 125 Megawatt. Kapasitas yang cukup besar ini membuat PLN Batam pernah membeli listrik dari Batamindo saat mereka kekurangan daya, ketika ada perawatan di sumur gas Grissik, Sumatera Selatan beberapa tahun lalu.

“Saat ini, listrik yang kami hasilkan hanya dikonsumsi di dalam kawasan industri Batamindo saja,” papar pria yang akrab disapa Ayung ini.

Ia mengaku Batamindo masih setia pada PGN untuk memasok gas ke kawasan industri yang ia kelola. Dalam sehari, power plant milik Batamindo mengkonsumsi gas rata-rata 11,800 MMBTU/hari.

“Kontrak di Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) dengan PGN Batam selama lima tahun dan untuk harga sudah tertulis dalam kontrak tersebut. PGN sangat bagus dalam melayani” ungkapnya.

Selama menjadi pelanggan PGN Batam, Ayung mengatakan puas, meski aliran gas PGN pernah berhenti dua hingga tiga jam beberapa waktu lalu, akibat perbaikan pipa di sekitar Panaran.

“Ada juga penjatahan gas karena adanya proses pemeliharaan dan perbaikan namun aliran tidak berhenti total. Itu terjadi awal November 2017,” ungkapnya.

Sales Area Head PGN Batam Amin Hidayat menyebutkan, tak hanya mitra PLN Batam dan Batamindo yang menjadi pelanggan PGN. Hampir semua kawasan industri di Batam sudah dialiri gas alam. Antara lain, Kawasan Industri dan pusat bisnis Panbil, Kawasan Industri Tunas, Latrade Industrial Park, Kawasan Industri Kabil, Kawasan Industri Executive, Kawasan Industri Cammo, Kawasan Industri Taiwan, Kawasan Industri Bintang, dan masih banyak lagi.

Gas yang dipasok ke kawasan industri itu tidak hanya digunakan untuk pembangkit listrik. Banyak juga tenant di kawasan industri itu yang menggunakan gas alam untuk proses produksi. Baik sebagai bahan bakar, pemanas, maupun bahan baku produk.

Sejumlah pelanggan komersial juga telah dilayani PGN. Mulai dari mall, hotel, restoran, hingga pelanggan rumah tangga. “Pelanggan komersial ada 53, industri 43, dan rumah tangga lebih dari 3.497,” sebut Amin.

Industri umumnya pelanggan dengan tingkat konsumsi gas yang cukup besar. PGN berharap di Batam nanti muncul industri seperti PT Pupuk Sriwijaya di Palembang yang konsumsi gasnya sangat besar. Selain untuk pembangkit listrik, gas juga jadi bahan baku utama pembuatan pupuk.

“Kita menanti industri petrochemical dan sejenisnya,” kata Amin.

Harapan PGN itu diamini  Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri, Achmad Makruf Maulana. Namun ia melihat yang paling mendesak adalah penguatan pembangkit listrik tenaga gas. Sebab, dari segi ketersediaan listrik untuk kebutuhan industri di Batam belum maksimal. Padahal kegiatan ekonomi terus berputar.

“Pengusaha sangat menyukai gas sebagai tenaga pembangkit listrik. Gas dinilai sangat efisien dan ramah lingkungan,” ujar Makruf, Rabu (29/11/2017).

Pemilik Kawasan Industri Wiraraja Industrial Park Kabil Batam ini juga mengatakan persaingan industri dengan negara tetangga dalam mendatangkan investor sangat ketat. Maka dukungan pembangkit listrik yang bagus jelas dibutuhkan untuk menarik minat investor agar menanamkan modalnya di Batam, selain status FTZ dan KEK.

“Kompetitor sudah buat pembangkit sendiri. Maka saya juga mau buat pembangkit listrik tenaga gas untuk kebutuhan Wiraraja,” jelasnya.

Makruf mengakui gas lebih ekonomis, efisien dan ramah lingkungan. Juga tidak membutuhkan banyak tempat untuk membangun pembangkitnya.

“Saya berencana membangun pembangkit berkapasitas 2 Megawatt untuk tahap awal. Sekarang lagi diurus perizinannya. Nanti akan dikembangkan sesuai kebutuhan industri Wiraraja yang menempati lahan seluas 55 hektare,” jelasnya.

Namun Makruf menyayangkan jaringan pipa PGN yang belum mencapai Wiraraja. Ia berharap PGN membangun jaringan pipa gasnya ke seluruh kawasan industri di Batam, termasuk ke Wiraraja.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam, Jadi Rajagukguk juga mendorong masuknya investor yang seperti yang diinginkan PGN. Apalagi infrastruktur gas alam di Batam sudah hampir merata ke semua wilayah.

“Persyaratan mutlak untuk menggairahkan investasi adalah dengan membangun infrastruktur. Terutama pembangkit listrik. Gas alam adalah sumber energi yang tepat karena efisien dan ramah lingkungan,” katanya,  Rabu (29/11/2017).

Ia meyakini Batam akan makin baik ke depannya ditandai dengan masuknya investor asing. Apalagi angin segar yang dibawa BP Batam yang tengah merumuskan konsep Kawasan EKonomi Khusus (KEK) diyakini akan membawa perubahan signifikan untuk Batam, Rempang dan Galang (Barelang).

Ia juga menyarankan PGN sengera membangun jaringan gas alam ke Rempang dan Galang yang tak lama lagi akan segera menjadi KEK. Sehingga, begitu persoalan legalitas selesai, ratusan investor yang telah menunggu lama untuk berinvestasi di Rempang-Galang bisa langsung tancap gas.

Harapan senada juga diungkapkan Deputi II BP Batam Bidang Perencanaan dan Pengembangan Badan Pengusahaan Batam, Yusmar Anggadinata. Ia mendukung penuh pengembangan PLTG di Batam karena dua tahun lagi, Batam memasuki era KEK hingga ke Rempang Galang. Di era tersebut, kebutuhan listrik akan sangat tinggi untuk mencukupi kebutuhan industri.

“Penting. Sekarang kan baru 533 Megawatt. Nanti Batam akan butuh kapasitas minimal 6000 Megawatt untuk penuhi semua sektor termasuk industri manufaktur, pariwisata, perdagangan, dan transportasi seperti Light Rail Transit (LRT),” kata Yusmar Anggadinata.

Pria yang akrab Angga ini meyakinkan BP Batam saat ini serius menyusun konsep yang tepat untuk menciptakan KEK yang membuat Batam memiliki daya saing tinggi dengan negara tetangga.

“Batam harus menjadi surga investasi, maka perlu didukung oleh gas alam, baik untuk kebutuhan pembangkit listrik maupun bahan baku produksi industri,” tegasnya.

Sekadar diketahui, investasi asing yang ada di Batam hingga 16 Agustus 2016 masih didominasi oleh Singapura. Jumlah proyek Singapura di Batam tercatat  449 dengan nilai investasi 5,36 miliar dolar Amerika.  Secara total menempati 48 persen dari total investasi asing.

Gabungan penanaman modal asing (PMA) dari beberapa Negara selain Singapura yang tercatat di BP Batam ada 191 proyek dengan nilai investasi 1,26 miliar dolar Amerika, ditambah 185 proyek dengan nilai investasi 724,5 Juta dolar Amerika.

Ada juga PMA dari Malaysia sebanyak 72 proyek dengan nilai investasi 434,3 Juta dolar Amerika. Lalu Australia 34 proyek dengan nilai investasi 78 juta dolar Amerika. Menyusul  Luxemburg satu proyek senilai 216 Juta dolar Amerika.

Total investasi asing di Batam mencapai 932 proyek dengan nilai 8,07 miliar dolar Amerika.

Sementara dari Januari hingga Agustus 2017, berdasarkan Izin Usaha yang dikeluarkan nilai proyek PMA yang masuk Batam baru 44 dengan nilai investasi 486,4 juta dolar Amerika. Belum termasuk aplikasi investasi yang menggunakan layanan 123J sebanyak 12 proyek dengan nilai investasi 145,3 juta dolar Amerika.

Total investasi asing dari Januari-Agutus 2017 mencapai 56 proyek dengan nilai investasi 631,7 juta dolar Amerika.

Sedangkan realisasi investasi dalam negeri (PMDN) yang tercatat di Badan Penanaman Modal Pemko Batam, triwulan I 2016 mencapai Rp 35,2 miliar. Hingga akhir 2016 meningkat sampai 500 persen. Lalu triwulan I 2017 total investasi Rp 21,1 miliar dari proyeksi Rp 459,9 miliar.

“Kalau FTZ dan KEK terealisasi, saya yakin ekonomi Batam akan lebih baik lagi. Investasi akan semakin banyak yang masuk, baik asing maupun dari dalam negeri,” ujar Gubernur Kepri Nurdin Basirun pekan lalu.

Ia juga mengapresiasi peran PGN Batam yang telah menyediakan gas alam baik untuk pembangkit listrik maupun bahan baku dalam proses produksi sejumlah industri di Batam hingga Bintan dan Karimun.

“Inovasi penyaluran gas oleh PGN menggunakan CNG ke Karimun dan Bintan untuk beberapa industri sangat membantu menghidupkan dua kawasan itu yang selama ini terkendala listrik,” kata Nurdin.

CNG (compressed natural gas) adalah penyaluran gas alam terkompresi dalam bentuk tabung.

Gubernur berharap semakin banyak kawasan di Kepri yang dilayani gas alam PGN, baik dengan membangun infrastruktur jaringan gas menggunakan pipa maupun menggunakan CNG. Pemerintah akan berupaya menggandeng investor agar mau membangun pembangkit listrik tenaga gas alam di wilayah lainya di Kepri.

“Saya yakin ekonomi Kepri ke depan akan lebih maju lagi,” ujarnya.

PGN sendiri sempat menyalurkan gas dalam bentuk CNG ke pembangkit listrik di Dompak, Tanjungpinang yang jadi pusat pemerintahan Provinsi Kepri. Namun untuk sementara terhenti karena pembangkit listrik tenaga gas di sana sedang relokasi.

“Tak lama lagi kami juga akan memasok CNG ke beberapa industri di Karimun,” ujar Amin. ***

 

Pilih Gas Bumi untuk Tekan Modal

0

Fahrulrozi dan Ricarno, petugas dari Perusahaan Gas Negara (PGN) Batam melakukan pengecekan jaringan gas bumi sekaligus memberikan edukasi kepada Eem Suhartini, pemilik rumah makan Favorit di Perumahan Bida Asri I Batamcenter, Rabu (29/11).

Pengecekan ini bertujuan untuk memastikan keamanan sambungan dan juga kelancaran aliran gas bumi ke pelanggan.

Bagi Eem, beralih ke gas bumi membuat ia bisa menekan modal usaha.

Foto/teks: Cecep Mulyana/Batam Pos

Dibalik Nama Cantik Badai Mengerikan

0
ilustrasi angin. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Badai tentu mengerikan tetapi sebutan untuk tiap badai sangatl;ah cantik.

Mulai dari Badai Katrina dan terbaru Siklon Tropis Cempaka.

The Met Office, sebuah kantor layanan Meteorologi di Inggris, mengatakan bahwa menamai badai-badai ini menjadikan orang lebih sadar akan bahaya badai itu sendiri. Jika sedang terjadi badai di sebuah negara, orang-orang akan lebih mudah untuk mengikuti berita di TV, Radio, atau Media sosial.

“Kami telah melihat bagaimana penamaan badai lebih meningkatkan kesadaran akan cuaca buruk sebelum badai menyerang” ujar Ryan staf dari The Office Met dikutip BBC, Kamis (30/11).

Penelitian mengungkapkan bahwa badai yang dinamai perempuan lebih mengerikan daripada yang dinamai laki-laki, sebab nama perempuan terlihat lebih menyakitkan. Seperti perubahan nama dari Charlie ke Eloise bisa melipatgandakan jumlah korban tewas.

Sementara, hasil penelitian dari University of Illinois and Arizona State menganalisa lebih dalam nama-nama badai dari seorang perempuan. Dikutip Independent, mereka mengatakan bencana alam dikaitkan dengan jenis kelamin sesuai dengan peran sosial dan ekspektasi masyarakat. Mereka juga menambahkan bahwa angin topan di Amerika Serikat dengan nama perempuan lebih mematikan.

Tak hanya di Amerika Serikat, bencana badai di Indonesia juga memiliki nama. Nama-nama badai di Indonesia lebih unik lagi yaitu dari nama bunga yang identik dengan keindahan.

Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Harry Tirto Djatmiko mengungkapkan bahwa nama Cempaka dalam siklon tropis terlahir sejak Senin lalu (27/11). Tiap siklon tropis sudah diberikan nama.

“Indonesia dan badan meteorologi di seluruh dunia punya kesepakatan dalam memberikan nama. Siklon Tropis itu badai, Cempaka itu namanya yang diberikan,” kata Harry Rabu malam (29/11).

Menurut WMO (World Meteorilogical Organization), nama yang unik dianggap lebih mudah diingat ketimbang angka atau istilah teknis lainnya. Banyak pihak sepakat bahwa penamaan badai dapat memudahkan media dalam melaporkan isu siklon tropis, serta meningkatkan kewaspadaan warga.

Dalam memberi nama siklon tropis yang terjadi di Indonesia, BMKG sudah menyiapkan nama Anggrek dan Bakung. Masing-masing abjad memiliki alternatif. Misal, nama Anggrek telah digunakan, maka kemudian Anggur menjadi pilihan nama.

Untuk mempermudah, nama siklon diurutkan dari A sampai Z.

“Tapi kalau itu sudah habis kami usulkan nama buah. Sementara ini yang kami usulkan nama bunga. Tapi baru C, sampai Z masih sangat jauh,” jelas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R Prabowo.

BMKG menyatakan ada tujuan khusus dalam menamai siklon tropis dengan nama bunga. Yakni, agar siklon tropis yang sifatnya merusak tidak dianggap menjadi sesuatu hal yang buruk. (iml/rgm/JPC)

Setiap Tahun, Harga Properti di Cikarang Naik 25 %

0

batampos.co.id – Minimnya ketersediaan tanah serta membludaknya peminat properti di Jakarta, akhirnya membuat banyak pencari properti kini mulai melirik mencari properti di pinggiran Jakarta, salah satunya adalah kawasan Cikarang.

Cikarang merupakan ibukota dari kabupaten Bekasi, area ini belakangan memang pamornya kian bersinar seiring dengan munculnya banyak pusat industri di sana, padahal jika ditarik mundur 10 tahun kebelakang, kawasan ini terbilang tidak populer alasannya karena jauh dari Jakarta dan minimnya sarana infrastruktur.

Karena tumbuhnya daya beli properti di Cikarang, makanya tak heran kenaikan harga properti di sana setiap tahunnya tumbuh sekitar 25% angka ini pun diperkirakan akan terus naik seiring dengan masifnya pembangunan infrastriuktur di sana.

Pasar properti di Cikarang makin prestisius sejak masuknya pengembang besar yang membangun berbagai proyek properti, salah satunya adalah PT Lippo Cikarang Tbk, yang mengembangkan proyek berskala kota mandiri yang diberi nama Meikarta. Proyek ini dikembangkan di atas lahan seluas 500 hektar, untuk tahap pertama pembangunan mereka memasarkan apartemen yang dijual seharga Rp 127 jutaan.

Sejak dipasarkan, ternyata apartemen ini cukup mendapat respons yang sangat positif dari pasar, hal ini dapat dilihat dari terjualnya 150.000 unit apartemen sejak pertamakali dipasarkan Mei 2017 lalu.

Sementara menurut Mart Polman, Managing Director Lamudi Indonesia, kawasan Cikarang nantinya akan menjadi hunian favorit bagi ekpatriat. Pasalnya di sana berdiri ribuan perusahaan nasional maupun internasional yang memperkerjakan ribuan karyawan baik lokal ataupun karyawan asing.

“Para ekspatriat di sana, tentunya tidak ingin mencari rumah di wilayah Jakarta, mereka ingin mecari rumah yang dekat dengan kantor mereka,” ujar Mart.

Menurut Mart di Cikarang saat ini diperkirakan ada sekitar 21 ribu orang pekerja asing, mereka membutuhkan tempat hunian, wisata dan lifestyle. Sebelumnya, sebagian besar dari ekspatriat tersebut tinggal di rumah tapak yang tidak sesuai dengan standar, dan ketika ada penawaran apartemen yang sesuai dengan yang diinginkan mereka langsung memborongnya.

“Pekerja asing itu sangat menjunjung tinggi kualitas, jadinya ketika ada apartemen yang sesuai dengan apa yang mereka inginkan mereka langsung memborongnya” kata Mart. (*)

HM. Sani Menjadi Tauladan Pegawai Kepri

0
Sekdaprov Kepri TS Arif Fadillah menyerahkan penghargaan kepada warga saat peringatan hari Korpri, Rabu (29/11). F. Humas Pemprov Kepri untuk Batam Pos.

batampos.co.id – Momentum Peringatan Hari Korpri ke-46 menjadi media evaluasi bagi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemprov Kepri. Sekretaris Daerah, TS. Arif Fadillah mengharapkan seluruh ASN bisa meneladi mendiang HM. Sani yang tulus mengabdi sampai ke akhir hayat.

Hari Korpri ke-46 Tingkat Provinsi Kepri dipusatkan di lapangan Kantor Gubernur Kepri, Tanjungpinang, Rabu (29/11) pagi. Beragam kegiatan digelar pada kesempatan itu. Mulai dari upacara sampai berziarah ke Taman Makan Pahlawan, Tanjungpinang.

“Hari ini (kemarin,red) adalah hari ulang tahun Korpri ke -46. Berbagai kegiatan sudah kita gelar untuk meningkatkan kapasitas ASN di lingkungan Pemprov Kepri,” ujar Sekda Arif usai menziarahi pusara HM. Sani, kemarin.

Dimatanya, sosok HM. Sani adalah birokrat sejati yang tulus mengabdi. Bahkan bentuk pengabdian HM. Sani ditunjukannya sampai keakhir hayat. Atas dasar itu, segala dedikasi yang sudah diberikan HM. Sani bisa menjadi tauladan bagi seluruh ASN Kepri untuk memberikan yang terbaik dalam bekerja dan mengisi pembangunan di Kepri.

“Ayahanda HM. Sani adalah pemimpin Kepri yang memberikan contoh dan tauladan dalam menjalankan roda pemerintahan,” papar Arif yang ditemani sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Kepri.

Sementara itu, saat menjadi Inspektur Upacara, dalam amanatnya Sekda Arif mengatakan bahwa Peringatan HUT Korpri harus menjadi momentum untuk melakukan refleksi, menjaga soliditas dan solidaritas. Menjadi momentum melakukan lompatan besar demi mencapai kemajuan bangsa Indonesia.

“Korpri harus menjadi pilar utama pemersatu bangsa dan negara Indonesia dengan aparatur sipil negara sebagai agen perekat kebinekaannya. Kita ingin Korpri menjadi organisasi dengan budaya yang penuh inovasi dan kreativitas, yang moderen dan efisien, yang melayani dengan jiwa dan semangat Pancasila,” ujarnya.

Mewujudkan salah satu sila pada Pancasila yakni sila ke-5, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Lebih lanjut katanya, Pembangunan harus dilakukan dari pinggiran dan dari desa-desa, dimulai dengan pemerataan infrastruktur fisik hingga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Oleh karena itu, peran Korpri menjadi sangat vital. Korpri harus bisa menjadi penghubung antara masyarakat dengan pemerintah.

Apalgi di era persaingan terbuka saat ini banyak tantangan yang harus di hadapi. lnovasi dan perkembangan teknologi global tidak hanya membawa kemudahan pada kehidupan sehari-hari, tetapi bahkan mampu mengubah lanskap ekonomi, kehidupan sosial politik, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara. Dunia swasta telah menyadari hal tersebut, dan mulai berlari dengan sangat cepat.

“Bersama-sama Korpri harus benar-benar memahami peta kompetisi ke depan salah satunya dengan menuntaskan program pembangunan nasional melalui inovasi yang berlandaskan pada moralitas publik yang berdasar Pancasila,” jelasnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, diharapkan kepada Anggota Korpri agar terus memperbaiki diri, tinggalkan cara-cara rutin dan perkuat semangat debirokratisasi. Jangan berhenti berinovasi, manfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan terobosan layanan publik yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.

“Apalagi sekarang sudah membentuk Koperasi Usaha Bersama (KUB) Korpri. Sehingga bisa memudahkan dalam mendapatkan atribut-atribut korpri. Artinya tidak perlu berbelanja ke luar lagi,” tutup Sekda.

Disela-sela kegiatan tersebut, juga dilakukan penyerahan Piagam Penghargaan berupa Purna Bhakti kepada satu orang PNS dan Penghargaan ASN -PTT Berprestasi sebanyak 12 orang.

Selain itu adala pemberian penghargaan kepada tujuh orang Atlet ASN peraih perunggu pada kejuaraan Pornas Korpri 2017 cabang bulutangkis. Kemudian pemberian penghargaan kepada 28 orang Atlet dan Pelatih berprestasi di Kepri, acara ditutup dengan Penandatangan MoU antara Koperasi Amanah Tuah Bintan dengan Pemprov Kepri.(jpg)