batampos.co.id – Jalan Marina City kini sudah bersih dari bangunan dan kios liar. Penertiban yang gencar dilakukan tim Terpadu kota Batam selama ini membuahkan hasil yang baik. Selain dibongkar paksa, pemilik lapak bangunan ataupun kios liar yang dibangun secara permanen di sepanjang jalan menuju kawasan wisata terpadu Marina itu juga bersedia bongkar sendiri.
Pantauan di lapangan sepanjang jalanan tersebut terlihat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Bangunan liar mulai dari simpang Polsek Batuaji hingga samping perumahan Marina Kota Mas sudah ditertibkan oleh tim terpadu belum lama ini. Jalan terlihat lapang.
Begitu juga dengan lapak kios liar lainnya depan perumahan Merlion yang selama ini berdiri berjejer persis dipinggir jalan sudah bersih. Pemilik kios sudah membongkar sendiri bangunan semi permanen yang dipergunakan sebagai tempat jualan mereka selama ini. Lokasi tersebut sebelumnya ramai dengan pedagang yang menjajahkan berbagai macam barang kebutuhan pokok hingga usaha jasa lainnya.
Para pedagang rela meninggalkan lokasi usahanya murni untuk mendukung wacana pemerintah untuk melebarkan jalur jalan tersebut. “Pemerintah yang suruh kami bongkar, katanya jalan ini mau dilebarkan,” ujar Saver, seorang pedagang yang sebelumnya menempati lahan di row jalan itu, Senin (15/5)
Warga yang telah meninggalkan lokasi usaha mereka itupun berharap agar pemerintah secepatnya merealisasikan wacana tersebut, agar jalur jalan menuju pemukiman warga dan kawasan wisata terpadu Marina itu secepatnya dibaguskan. “Jalan ini juga sudah banyak yang rusak. Jadi kalau sudah ditertibkan seperti ini harus segera direalisasikan,” ujar Romi, pedagang lainnya.
Begitu juga dengan warga yang menempati ruli pinggir jalan di simpang Polsek Batuaji. Mereka berharap agar penertiban bangunan liar oleh tim Terpadu sebelumnya tidak disia-siakan. Pemerintah harus secepatnya mewujudkan rencana pelebaran jalan tersebut dan jalan rusak yang berjejer di sepanjang jalan tersebut juga secepatnya diperbaiki.”Karena sudah parah kondisi kerusakan jalan di sini,” ujar Ridho, seorang warga.
Harapan warga itu cukup beralasan. Jalan raya Marina City saat ini kondisinya cukup memprihatinkan. Selain sempit karena hanya satu jalur, jalan tersebut banyak yang rusak. Pantauan di lapangan ada empat titik kerusakan jalan yang cukup parah. Kerusakan jalan mulai terlihat dari simpang perumahan Permata Laguna, Simpang Perumahan Jupiter depan Perumahan Marina Kota Masa dan beberapa titik lainnya di daerah kawasan wisata terpadu Marina.
Camat Batuaji Fridkalter mengakui jika jalan tersebut sudah bersih dari bangunan liar. Itu bertujuan untuk mendukung wacana pemerintah provinsi Kepri untuk melebarkan jalur jalan tersebut.
“Itu wacana dari Pemprov. Memang belum mulai pengerjaanya tapi kan harus dibersihkan dulu (dari bangunan liar) agar nanti saat proyek berjalan tidak terhambat,” ujar Fridkalter.
Kedepannya Fridkalter berharap agar warga tak lagi menempati row jalan itu baik sebagai tempat tinggal ataupun tempat usaha. “Ini untuk kepentingan bersama jadi kita semua wajib mendukung program pemerintah,” imbau Fridkalter. (eja)
batampos.co.id – Pembangunan Pelabuhan Sijantung di Kecamatan Galang telah selesai dilakukan sejak 2016 lalu. Namun hingga saat ini, pelabuhan yang tujuan awalnya untuk memperpendek jalur pelayaran Batam – Lingga itu, tidak juga dioperasionalkan.
Anggota Komisi III DPRD Batam, Muhammad Jefri Simanjuntak menilai, pembangunan pelabuhan ini tidak sesuai perencanaan awal. Padahal, Pemko Batam bersama Pemerintah Provinsi Kepri telah mengkucurkan anggaran yang tidak sedikit untuk pembangunannya.
“Jangan sampai uang yang telah kita keluarkan miliaran rupiah ini sia-sia. Harus ada manfaat bagi masyarakat,” kata Jefri, saat laporan pertanggungjawaban dengan Dinas perhubungan Kota Batam, kemarin.
Politisi PKB itu mengaku harus ada perencanaan yang matang oleh Wali Kota dan Gubernur. Jangan sampai ketika tidak dimanfaatkan malah akan menjadi temuan yang beresiko terhadap pembangunan. Terutama dalam percapaian target RPJMD Wali Kota.
“Supaya dalam membangun, proses kegiatan dengan anggaran memiliki outcome bagi masyarakat,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Dinas perhubungan (Dishub) Kota Batam, Yusfa Hendri mengaku Pelabuhan Sijantung merupakan program propinsi. Termasuk anggarannya dan penyediaan transportasi penghubung Batam-Galang menjadi kewenangan Provinsi Kepri.
“Batam hanya diminta mensuport ponton di laut. Sedangkan pengelolaannya domain provinsi,” kata Yusfa.
Dishub sendiri, katanya, berharap pelabuhan Sijantung bisa dimanfaatkan. Apalagi dengan dibukannya jalur tersebut semakin mempermudah wisatawan masuk ke Batam. Sehingga perekonomian Batam pun ikut mengalami kenaikan.
“Namun yang berkembang pelabuhan ini dimanfaatkan untuk angkutan barang, sedangkan untuk orang masih kurang. Padahal dengan adanya pelabuhan inijarak Batam Lingga sendiri jauh lebih dekat,” tuturnya.
Yusfa mengaku tak mengetahui apa yang menyebabkan pelabuhan ini tidak diminati. Namun terkait kekurangan armada transportasi, ia berjanji akan membicarakan dengan pihak terkait, terutama dalam membuka rute trans Batam baru Batam-Galang.
“Tak masalah buka rute baru. Yang penting kita cari jalan keluar bersama-sama,” bebernya.
Untuk saat ini, lanjut Yusfa, pihaknya masih fokus penambahan koridor bus Trans Batam Nongsa-Batamcentre dan Nongsa-Punggur. “Galang-Batam baru ada bus sekolah. Kalau penambahan bus harus dibicarakan dulu dengan stakeholder terkait,” jelasnya. (rng)
Tim saber Pungli Polda Kepri membawa A terduga pelaku pungli dari kantor Pelabuhan Batuampar , Senin (8/5/2017). F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Penyidik Polda Kepri terus mengumpulkan bukti dan keterangan baru terkait dugaan punggutan liat (pungli) di Pelabuhan Batuampar. Sebanyak 11 saksi telah diperiksa dan pemeriksaan saksi lain secara maraton masih terus dilakukan.
Kemarin (Senin, 15/5) penyidik Polda memeriksa empat orang saksi yang merupakan Pengawai Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Perusahaan. Dimana pemeriksaan saksi untuk mengumpulkan keterangan baru dan mempercepat proses pemberkasaan.
“Sudah ada 11 saksi yang kita periksa. Hari ini (kemarin red) ada 4 saksi. Dua dari BP Batam dan dua dari perusahaan,” kata Dirkrimsus Polda Kepri Kombes Pol Budi Suryanto di Polda Kepri.
Dikatakan Budi, penyidik telah berkoordinasi dengan BP Batam dan Perusahaan yang diduga menjadi korban pungli tentang adanya pemeriksaan maraton. “Kita sudah kita kirimkan surat ke BP dan perusahaan. Seminggu ini akan rutin memeriksa saksi,” ujarnya.
Meski sudah memeriksa sebelas saksi, pihaknya masih belum bisa memastikan apakah pungli tersebut dilakukan secara terstruktur atau parsial (sendiri, red). Sehingga tersangka dalam kasus tersebut masih satu orang.
“Tersangka masih satu. Kita masih kembangkan. Jika terbukti terstruktur berarti kemungkinan ada tersangka lainnya. Dan ini yang sedang kita dalami,” jelas Budi.
Diberitakan sebelumnya, Saber pungli menangkap basah Kasatker Terminal Umum Pelabuhan Batuampar, Adil Satiadi usai melakukan pungli kepada salah satu perusahaan. Dari tangan tersangka, polisi mendapati uang Rp 16 juta yang baru diambil dari perusahaan.
Dari hasil penyelidikan, pungli tersebut diduga terjadi setiap hari kerja. Dan dalam satu bulan diperkirakan tersangka memeras perusahaan hingga Rp 1 miliar. Apalagi, dugaan pungli ini sudah terjadi sejak lama. (she)
Crisis Center semakin menjadi fokus perhatian Menteri Pariwisata Arief Yahya. Sebab, semakin banyak kejadian atau peristiwa yang berpotensi “menekan” ekosistem pariwisata di tanah air. Seperti bencana, kecelakaan, wabah, stabilitas politik, dan berbagai hal yang menurunkan kondusivitas berwisata.
Sementara, tahun 2017 ini target yang sudah dilaunching sangat fantastik, 15 juta wisman. Naik 25% dari capaian tahun 2016 yang berjumlah 12 juta wisman.
“Segala situasi yang bisa menekan kepariwisataan kita, harus diantisipasi dengan cermat,” ungkap Arief Yahya.
Bagaimana menghadapi situasi krisis? Langkah strategis apa saja yang harus diambil cepat? Emergency apa saja yang perlu diantisipasi? Koordinasi dengan siapa saja? Pihak mana saja? Agar informasi primer bisa diperoleh tercepat, terakurat, dan bisa menjadi bahan memutuskan kebijakan?
Pariwisata itu, lanjut Arief Yahya, membutuhkan situasi stabil, secure dan safety. Patokannya ada di 14 pilar TTCI – Travel and Tourism Competitiveness Index yang dibuat World Economic Forum (WEF). “Indeks daya saing kepariwisataan itulah yang harus dipantau dengan ketat. Apa saja yang menekan itu, masuk ke tim crisis center,” ungkapnya.
Menpar pun menetapkan Tim Crisis Center itu sebagai program prioritas 10 besar. Karena itulah, Biro Hukum dan Komunikasi Publik, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) tentang Penyusunan Pedoman Penangan Krisis Kepariwisataan.
FGD yang dibuka sekaligus sebagai keynote speech oleh Sekretaris Kemenpar Ukus Kuswara berlangsung di Hotel Mellinium Jakarta, Rabu (16/5).
Sekretaris Kemenpar Ukus Kuswara mengatakan, program pemerintah dalam pembangunan lima tahun ke depan akan fokus pada sektor; infrastruktur, maritim, energi, pangan, dan pariwisata. Penetapan kelima sektor ini dengan pertimbangan signifikansi perannya dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang terhadap pembangunan nasional.
Dari lima sektor tersebut, kata Ukus Kuswara, pariwisata ditetapkan sebagai leading sector karena dalam jangka pendek, menengah, dan panjang pertumbuhannya positif. Hal ini terlihat peran pariwisata dunia dalam memberikan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global mencapai 9,8%; kontribusi terhadap total ekspor dunia sebesar US$ 7,58 triliun dan foreign exchange earning sektor pariwisata tumbuh 25,1%; serta pariwisata membuka lapangan kerja yang luas yakni 1 dari 11 lapangan kerja ada di sektor pariwisata.
“Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menyebut pariwisata sebagai cara yang paling mudah, murah, dan cepat untuk untuk meningkatkan devisa, PDB, dan menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Karena itu harus dijaga agar tetap kondusif,” kata Ukus Kuswara.
Presiden Joko Widodo mentargetkan pertumbuhan pariwisata nasional dua kali lipat pada 2019; memberikan kontribusi pada PDB nasional sebesar 8%, devisa yang dihasilkan Rp 280 triliun. Lalu menciptakan lapangan kerja di bidang pariwisata sebanyak 13 juta orang, jumlah kunjungan wisman 20 juta. Wisnusnya, 275 juta, dan indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di ranking 30 dunia.
Angka itu membaik dari posisi sekarang atau tahun 2017 di ranking 42 –sebelumnya tahun 2014 di ranking 70 kemudian tahun 2015 meningkat di ranking 50 dunia.
Ukus Kuswara menjelaskan, di balik keunggulan pariwisata sebagai leading sector ternyata industri jasa ini sangat rentan terhadap berbagai krisis barik bersumber dari bencana alam, wabah penyakit, maupun keamanan terutama terorisme.
“Jika barbagai acaman krisis ini tidak tertangani secara baik akan berdampak signifikan bagi kepariwisataan nasional dengan menurunn kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia,” kata Ukus Kuswara.
“Saya menyambut baik diselenggarakan FGD untuk menyusun pedoman dalam penanganan krisis kepariwisataan dengan melibatkan tim dari pusat krisis kementerian/lembaga pemerintah dan non-pemerintah yang merupakan stakeholder pariwisata,” kata Ukus Kuswara.
Kegiatan FGD Penyusunan Pedoman Penangan Krisis Kepariwisataan dimaksudkan antara lain menyiapkan dasar-dasar yang dibutuhkan bagi CCP menyangkut pola kerja, sistem dan kelembagaan; mengindentifikasi pesan kunci (key message) terkait krisis; mendorong keterlibatan stakeholder dalam crisis center; memperoleh umpan balik (feedback) dari masyarakat/wisatawan; serta penyedian prosedur pengelola krisis dalam meminimalisir dampak dan penangan krisis dapat lebih optimal.
FGD diisi dengan diskuni panel yang menghadirkan nara sumber dari Pusat Data Informasi dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyampaikan paparan dengan tema “Pemetaan Potensi Bencana di Destinasi Pariwisata” dan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dr.Sutupo Purwa Nugroho dalam paparan “Best Practice Penangan Krisis Kesehatan”.
Acara FGD diikuti 60 perserta dari PIC (Person In Charge) TCC setiap Deputi Kemenpar, PIC kementerian/lembaga dan asosiasi, Dinas Pariwsiata, serta Tim Pengelola TCC Kemenpar. (*)
batampos.co.id – Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, 13-14 Mei 2017 juga membuat momentum istimewa. Yakni memberikan penghargaan atau reward pada tujuh desa wisata di Indonesia. Benar-benar sudah incorporated.
Terpilihnya desa tersebut berdasarkan penilaian telah mampu menjalankan roda perekonomian melalui Desa Wisata dalam Desa Wisata Award 2017. Pemberian reward itu dilaksanakan dalam rangkaian acara Expo BUMDes Nusantara 2017, yang berlangsung di Kota Bukittinggi, Sumbar.
Desa wisata merupakan salah satu program Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Tahun 2017.
Adapun desa yang berhasil memperoleh reward itu adalah,
Desa wisata jejaring bisnis Tamansari Banyuwangi,
Desa wisata agro Malang Pujon Kidul,
Desa wisata Iptek Seigentung Gunung kidul.
Desa wisata budaya, Ubud Gianyar Bali,
Desa Wisata Alam NTT Kabupaten Ende,
Desa wisata kreatif Teluk Meranti Pelalawan Provinsi Riau,
Desa wisata maritim Bontagula Bontang Kalimantan Timur.
Menurut Eko Putro Sandjojo, pemberian penghargaan pada desa ini merupakan pertimbangan dari Mendes PDTT bagi desa yang telah mampu mengelola dana yang telah disalurkan, dan terbukti meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat desa, sehingga mampu menampung, mengkonsolidasi, dan mewadahi kegiatan usaha ekonomi desa.
“Hadirnya BUMDes menjadi jawaban untuk menggerakkan ekonomi desa. Disisi lain, dana desa yang disalurkan merupakan program utama pemerintah yang menggelontorkan dana langsung ke desa, sehingga desa bersangkutan mampu berkembang secara mandiri, termasuk di sektor pariwisata,” terang Eko Putro Sandjojo.
Eko Putro Sandjojo menambahkan, dana desa telah meningkatkan status desa menjadi maju dan berkembang. Tahun lalu tercapai 11 ribu desa berkembang yang awalnya tertinggal dan 7.000 desa maju. Melebihi target RPJM 2019 yaitu 5.000 desa berkembang dan 2.000 desa maju.
“Dana desa terus membuktikan hasilnya yaitu terbangunnya jalan desa sepanjang 66.884 km, jembatan sepanjang 511,9 km, embung sebanyak 686, saluran irigasi sebanyak 12.596. Di samping itu penyerapan dana desa dari 80% menjadi 99,89%,” ungkapnya.
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengatakan, keberhasilan desa wisata peraih penghargaan ini terbukti mampu mengembangkan potensi pariwisata dan juga potensi sumber daya lokal melalui pola pemberdayaan masyarakat atau Community Based Tourism.
“Ini prestasi yang sangat membanggakan, keberhasilan desa wisata ini tentunya harus menjadi contoh bagi desa yang lainnya di Indonesia, dan ini juga menjadi bagian Indonesia Incoporated untuk membangun pariwisata Indonesia,” kata Menpar Arief Yahya.
Program Desa Wisata, kata Menpar Arief Yahya, juga nyambung dengan rencana membangun 100.000 homestay di 2019, yang dimulai 2017 ini. Desain arsitektur rumah nusantara di homestay juga semakin relevan untuk segera diimplementasi.
“Kelak, ketika Desa Wisata itu sudah siap jual, akan langsung dipromosikan, lalu selling platform-nya juga dimasukkan dalam DMP atau Digital Market Place. Maka Desa Wisata itu bisa berfungsi ganda. Bisa sebagai amenitas dengan homestay, akomodasi di rumah penduduk yang sudah sadar wisata. Juga bisa sebagai atraksi, karena berada dalam atmosfer kehidupan masyarakat desa yang hommy, kaya dengan sentuhan budaya, dan nuansa kekeluargaan yang belum tentu bisa ditemukan di negara lain,” terang Menpar Arief Yahya. (*)
Kemenpar boyong para Penyedia Bisnis atau Biro Perjalanan asal India melancong ke Jogjakarta dan Bali pada tanggal 15 hingga 19 Mei 2017, mendatang dalam agenda Familiarization Trip, atau Perjalanan Wisata Pengenalan atraksi di destinasi..
Deputi Pengembangan Pemasaran Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana didampingi Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pasar Asia Pasifik Kemenpar Vinsensius Jemadu mengatakan, kegiatan Famtrip dengan mengundang Biro Perjalanan Pasar India ini adalah salah satu bentuk promosi destinasi yang efektif. Mereka bisa mengenal lebih jauh karakter destinasi.
Ada prinsip: seeing is believing! Ketika sudah melihat, merasakan sensasinya, mereka baru yakin. Keyakinan itulah yang diharapkan Biro Perjalanan tersebut akan sekaligus menjual paket wisata Indonesia ke negara asal peserta setelah mengikuti FamTrip.
“Kegiatan ini terintegrasi dengan event “Jogja Travel Mart” pada tanggal 15-16 Mei 2017 dimana para peserta famTrip akan bertindak selaku buyer pada event tersebut,”ujar Pitana yang juga diamini Vinsensius.
Lebih lanjut Vinsensius menambahkan, Jogja Travel Mart 2017 yang telah berlangsung selama 8 tahun ini telah berhasil mengundang 843 buyer yang terdiri dari 327 domestic buyer dan 507 internasional buyers. Pada tahun 2017, Jogja Travel Mart yang ke 8 ini akan mengusung tema “Jogya The Unforgettable Journey”. Kegiatan akan mengambil tempat di area Bangsal Kepatihan untuk program welcome dinner dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2017 dan Business meeting 16 Mei 2017 di Sahid Rich Hotel.
Pria yang biasa disapa VJ itu memaparkan, Jogja Travel Mart akan dihadiri 88 seller (51 Hotel, 36 Biro Perjalanan dan 1 Restoran) serta 144 buyer (35 buyer domestik serta 109 buyer international berasal dari 14negara), diantaranya : Netherland, Hungaria, India, laos, Malaysia, Oman, Philipines, Polandia, Singapore, Spain, Thailand, USA, Vietnam dan South Korea.
“Nantinya saat berada di Jogjakarta, peserta Famtrip akan diperkenalkan kepada destinasi wisata yang memilikisejarah dan keindahan Candi terbesar dunia yaituBorobudur dan Prambanan pada tanggal15-16 Mei 2017. Setelah itu, rombongan akan bergerak ke Bali untuk menikmati kulineran khas Bali disamping juga masakan khas India,” ujar VJ.
VJ mengatakan, Kemenpar kembali akan membuat mereka puas. Pasalnya, Setelah itu rombongan akan diboyong ke desa wisata Leke Leke di Bedugul dimana merupakan lolasi yang siap untuk disambangi wisatawan India dalammelakukan aktivitas Tubing.
“Nantinya para penyedia biro perjalanan India ini dapat menikmati keelokanpanorama dan budaya tradisional Jogja dan Bali yang padaakhirnya terdorong untuk membuat dan menjual paketproduk wisata baru ke India setelah mengikuti FamTrip ini,” harap pria murah senyum ini.
Seperti diketahui, Kemenpar mentargetkan kunjungan wisatawan India sebesar 546.000 pada tahun 2017 ini bisa dapat tercapai. Menteri Pariwisata Arief Yahya meminta kepada seluruh timnya untuk bisa memberikan pelayanan terbaik, penjelesan terbaik, pemilihan destinasi yang tepat dengan pasar, mengetahui karakter dan kebiasaan Wisman dengan cermat.
“Berikan mereka keberhasilan sentuhan yang terasa di saat datang ke Indonesia. Biarkan mereka merasakan kehangatan dan keindahan Indonesia saat melaksanakan Famtrip,”kata Menpar Arief Yahya. (*)
Kota Tua Ampenan, Lombok, NTB ialah kota pelabuhan yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pemerintah setempat serius menjadikan sebagai salah satu ikon destinasi andalan Kota Mataram.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi inisiatif Kota Mataram itu. Sebuah konsep pembangunan yang berbasis pada akar, simbol, dan visi Mataram.
Menurut dia, gagasan ini perlu segera direalisasi, untuk menjaring wisatawan mancanegara yang semakin melirik Lombok. Terutama originasi Timur Tengah yang selama ini lebih banyak yang terbang ke Thailand dan Malaysia. “Lombok sudah dua tahun berturut-turut dinobatkan sebagai world’s best halal destination, karena itu harus mengoptimalkan semua potensinya,” kata Menteri Arief.
Sejak dua tahun lalu, Ampenan sudah diusulkan menjadi semacam “Bukit Bintang”-nya Kuala Lumpur. Tempat wisata kuliner, arena nongkrong wisatawan, dengan pedestrian yang luas, bersih dan background gedung-gedung tua yang arsitekturalnya masih utuh. Semua syarat atraksi itu ada di Ampenan.
Sedangkan amenitasnya, bisa benchmark ke kawasan Masjid Sultan di Distric Rochor, Singapore. Kota lama, yang dipertahankan seluruh arsitektur bangunannya, dan menjadi destinasi favourit wisatawan.
“Lombok itu sudah menjadi destinasi nomor 9 Asia pilihan travellers di TripAdvisor 2017. Lombok punya pantai-pantai bagus, pasir putih dan pasir pink. Lombok punya underwater yang istimewa. Lombok punya Rinjani, dengan kaldera yang berkelas dunia. Punya pertanian yang subur dan bisa bertanam padi sepanjang tahun. Sebagai destinasi, pulau ini lengkap,” jelas Menpar Arief.
Ampenan, kata dia, akan melengkapi sebagai wisata berbasis heritage, sejarah dan kota pelabuhan yang lebih dekat menyeberang ke Bali. “Apalagi Wisata Bahari Indonesia sedang ngebut dengan berbagai marina atau pangkalan yacht, dan dermaga tempat cruise merapat,” kata dia.
NTB mempunyai Pantai Kuta, Pantai Seger, dan Pantai Tanjung Aan di Lombok. NTB pinya kuliner yang mendunia, ayam taliwang yang kelezatannya tak perlu diragukan lagi.
“Sempurna kalau Ampenan segera hidup sebagai destinasi di Mataran,” sebut Menpar.
Sama seperti Kota Tua Jakarta, Kota Tua Ampenan memiliki puluhan bangunan bersejarah peninggalan era Hindia Belanda.
Tidak hanya bangunan berasitektur Belanda, banyak gedung bernuansa Tiongkok yang masih berdiri.
Ampenan juga memiliki beberapa kampung yang heterogen. Di antaranya, Kampung Tionghoa, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Banjar, Kampung Arab, dan Kampung Bali.
Pada masa lalu, Ampenan merupakan salah satu pusat perekonomian dan perdagangan.
Hal itu terlihat dari sisa-sisa reruntuhan konstruksi armada di pinggiran pantai Ampenan. Reruntuhan itu sudah menjadi salah satu destinasi wisata bagi pelancong.
Selama ini, Ampenan dinilai sebagai titik yang pas untuk menyeberang ke Bali. Dari Karang Asem ke Ampenan hanya butuh satu jam, jauh lebih cepat dan dekat. Jika menyeberang dari Padang Bae ke Lembar butuh lima jam.
Untuk mewujudkan konsep Iconologi Mataram itu, Wali Kota Mataram Ahyar Abduh sudah menggelar pertemuan dengan beberapa pihak terkait, 12 Mei 2017 lalu. Anggota Tim Percepatan 10 Top Destinasi Prioritas, T Rahmadi melaporkan, para pejabat di Pemkot Mataram dan Pemprov NTB, anggota Tim 10 Kementerian Pariwisata sudah bertemu di Kantor Walikota Mataram.
Pekan lalu juga dilaporkan T Rahmadi, ada pertemuan antara Wakil Gubernur NTB Bpk H. Muh Amin dengan Executive General Manager Royal Brunei Airlines, Brett McDougall. Mereka membahas rencana pembukaan rute barunya Lombok-Brunei Darussalam di tahun ini.
Hingga saat ini Royal Brunei baru memiliki tiga rute penerbangan di Indonesia, yaitu ke Jakarta, Surabaya, Denpasar. Dalam pertemuan ini hadir pula GM Lombok Internasional Airport yang di dampingi Kadispar Prov NTB, Lalu Faozal. Kebetulan Lombok International Airport masih terbuka dengan slot baru. (*)
Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dimana lokasi wisata Bromo berada kini juga mengembangkan kesenian sebagai satu bentuk wisata budaya, reog.
Salah satu diantaranya yang kini terus dikembangkan dan eksis adalah Reog Tengger. Pemda memberikan ruang pada reog Tengger untuk berkembang. Koordinator Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Lembaga Desa Wisata (Ladewi) Supriyanto menyebut, reog Tengger sempat mati suri. Namun, karena adat di suku Tengger sangat kental, tidak sulit untuk membangkitkan kesenian ini lagi.
Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam berbagai kesempatan menyebutkan syarat agar destinasi itu kuat, ada 3A. Ada Atraksi, Akses, dan Amenitas.
“Reog ini masuk dalam kategori atraksi berbasis budaya. Atraksi inilah salah satu yang menjadi daya pikat orang untuk datang ke destinasi itu,” kata Menpar Arief.
Selanjutnya, untuk bisa sampai ke destinasi itu butuh akses, yang menghubungkan ke destinasi itu. Kemudahan, kecepatan, biaya menuju ke destinasi itu juga menjadi faktor penentu sukses pengembangan objek wisata itu.
“Yang terakhir adalah amenitas, hotel, restoran, cafe, restoran, souvenir shop, dan lainnya,” kata Arief Yahya, ketiganya harus saling support.
Kini, reog Tengger terus dikenalkan melalui berbagai acara. Beragam kegiatan warga pun sering mengundang reog Tengger sebagai hiburan. Seperti, khitanan. Lalu pada perayaan Kasada Juli mendatang, dipastikan reog Tengger akan digelar diikuti beberapa desa pemilik ke senian reog. Pagelaran seni tersebut akan dilaksanakan di Gunung Bromo.
“Dengan demikian eksistensi reog Tengger akan semakin terlihat. Bahkan sudah banyak generasi muda yang tergabung di tiap kelompok yang ada di desa,” kata Supriyanto juga Kasi Perencanaan di Desa Jetak Kecamatan Sukapura ini.
Sejalan dengan itu, kata Supriyanto, reog Tengger sangat berpotensi sebagai wisata budaya. Reog Tengger sering jadi kesenian untuk menyambut wisatawan yang datang.
“Tujuan awal membangkitkan kesenian reog ini untuk menyambut tamu atau wisatawan. Serta mempertahankan kesenian yang sudah ada secara turun temurun,” tuturnya.
Camat Sukapura Yulius Christian menambahkan, saat ini tiap desa di Sukapura memiliki kelompok kesenian yang di dalamnya ada reog Tengger. Karena itu, pihaknya berencana mengadakan Festival reog Tengger yang pesertanya tiap desa di Kecamatan Sukapura.
“Ini bagian dari cara untuk terus mengembangkan reog Tengger. Sebab, kesenian ini berpotensi jadi wisata budaya. Selama ini kan, wisatawan yang berkunjung ke Bromo hanya menikmati alamnya. Padahal banyak wisata budaya yang bagus di Tengger,” tuturnya. Harapannya, reog Tengger jadi wisata budaya yang mendukung wisata Bromo.
Keberadaan Reog Tengger sebenarnya diwariskan turun temurun oleh nenek moyang warga suku Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Namun, kemudian mati suri lantaran tidak ada penerusnya. Kondisi ini menggugah kesadaran pemerintah setempat. Mulai pemerintah ke camatan, hingga desa. Maka pada tahun 2000, reog Tengger kembali dihidupkan. Namun, tidak lama.
Untuk mengantisipasi kevakuman pada tahun 2011-2012 dibentuklah Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Lembaga Desa Wisata (Ladewi) di Desa Jetak dan kelompok-kelompok serupa di tiap desa. Alhasil, tiap desa memiliki komunitas budaya sendiri. Biasanya tak hanya reog, komunitas ini juga menggiatkan jaranan, dan tari-tarian.
Supriyanto menyebut, sebagai kesenian yang mengacu pada reog Ponorogo, atribut dan alat kesenian yang digunakan pada reog Tengger, mirip dengan reog Ponorogo. Yakni dadap atau bulu merak, topeng gonongan, dan caplokan.
Sedang alat musiknya, adalah gendang, gong, saron, kenong, angklung, selendro (gamelang komplit) dan alat orkes. Meski mengacu pada reog Ponorogo, ada beberapa perbedaan yang sifatnya untuk menyesuaikan dengan kondisi daerah, adat dan kesukaan warga setempat. Me ngingat pada era modern ini, kesenian juga harus berkem bang.
“Alat orkes ini merupakan inovasi kami. Mengingat pada era modern ini kesenian juga harus berkembang. Sementara warga Tengger banyak yang suka lagu campur sari. Sehingga alat orkes tersebut digunakan untuk lagu campur sari,” terang lelaki yang juga kasi perencanaan di Desa Jetak ini.
Saat ini, reog Tengger banyak tampil di sejumlah kegiatan. Waktu permainannya tergantung dari yang mengundang. Namun normalnya, 1,5 jam tanpa adegan kalap (trance/kesurupan). Sementara jika menggunakan kalap, bisa 2 jam.
“Terkadang ada pengundang yang tidak suka agedan kesurupan. Sehingga hanya dilakukan biasa saja. Untuk biaya tanggapanya sendiri jika hanya reok sekitar Rp 2 juta,” imbuhnya.
Tidak sekedar tampil di banyak kegiatan. Pelestarian reog Tengger kini dilakukan sistemanis dengan cara diajarkan pada siswa SD. Khususnya di Desa jetak.
“Latihan rutinnya satu minggu dua kali. Biasanya sabtu malam dan minggu malam. Yang terpenting tidak menggangu waktu belajar,” tuturnya.
Ngantoro, dukun reog di Darwis Ladewi yang juga kasi pemerintahan di Desa Jetak menambahkan, ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum reog tampil. Salah satunya adalah ubo rampe dengan isi atau sesaji beragam. Ada gedang ayu, rokok kinangan komplet (jambe, daun siri, kembang telon), jenang wonco (jenang lima warna, yaitu putih, merah, hijau, kuning, dan hitam).
Lalu, sego gulung (tujuh nasi kepel yang tengahnya diisi telur jawa). Kemudian, wedang kopi pahit dan air putih, kembang setaman, pituan (kelapa, beras, dan 5 biji telur mentah) dan janur tujuh sisir. Meski demikian, kadang ubo rampe tiap desa berbeda.
Secara umum reog Tengger, mirip dengan reog Ponorogo. Sebab, pakem utama reog Tengger mengacu pada reog Ponorogo. Misalnya cerita pertarungan Singobarong dengan Kelanaswandana memperebut Dewi Songgolangit, putri Kerajaan Kediri yang terkenal cantik. Kelanaswandana akhirnya menikahi Dewi Songgolangit.
Meski demikian, cerita ini mulai terlupakan di reog Tengger. Warga hanya mengenal, ini kesenian turun temurun. Juga, ada beberapa hal yang membedakan reog Ponorogo dan Tengger. Seperti yang disampaikan Misnan, 54, dukun di Kelompok Seni Jaranan Kreasi Abdhi Budoyo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.
Warga Desa Ngadisari ini menyebut, reog Ponorogo kekuatannya dari olah kanuragan. Sedangkan reog Tengger khusus untuk kalap/ kesurupan. Reog Ponorogo menurutnya, harus dipelajari dan dilatih khusus. Mengingat kekuatan yang yang didapat dari ilmu kanuragan. Sedangkan reog Tengger relatif bisa dilakukan oleh siapapun. Bahkan, anak kecil sekalipun. Asal secara fisik mampu.
“Saat tampil, dukun akan mengundang makluk lain untuk kalap. Jika sudah kalap, orang bisa dan mampu memainkan reognya. Jika belum kalap, sangat sulit. Sebab, berat dari reog itu men capai 30 kilogram. Dan hanya ditahan de ngan menggunakan gigi,” terangnya.
Hal senada diungkapkan Koordinator Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Lembaga Desa Wisata (Ladewi) Supriyanto. Menurutnya, perbedaan reog Tengger dan Ponorogo terjadi, karena inovasi semata. Misalnya, pengiring lagu. Warga Tengger yang kental dengan adatnya, juga penggemar campur sari. Karena itu, pe ngiring lagu untuk reog yang dimainkan di Desa Jetak, yaitu lagu campur sari.
“Ada beberapa peleburan dan inovasi yang digunakan lantaran menyesuaikan dengan adat di desa,” katanya.
Ngantoro, dukun reog di Darwis Ladewi menambahkan, hingga kini, keberadaan reog Tengger selalu terjaga. Sebab, sejumlah kegiatan masih sering menjadikan reog Tengger sebagai hiburan. (*)
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Keri Nixon Manurung (dua dari kanan) Kabid Brantas BNNP Kepri Bubung memberikan keterangan tentang penangkapan barang bukti 21 kg sabu-sabu dengan tiga tersangka yang berhasil diamankan saat ekpos di Kantor BNNP Kepri di Nongsa, Senin (15/5). F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Tiga kurir narkoba mengaku diiming-imingi puluhan juta untuk membawa 20 paket sabu seberat 21,5 gram dari Malaysia. Atas perbuataan itu mereka terancam hukuman mati.
Kepala BNNP Kepri Brigjen Pol Nixon Manurung mengatakan ketiga tersangka ditangkap setelah adanya informasi tentang penyelundupan sabu dari Malaysia ke Karimun. Bermodal informasi dan ciri-ciri pelaku, mulai melakukan pengintaian. Mulai dari hotel hingga usai transaksi penyelundupan sabu.
“Ketiga tersangka memasuki perairan Malaysia dengan kapal. Dan sesampainya di Pelabuhan mereka langsung kita tangkap. Sementara, tekong pembawa kapal berhasil kabur,” kata Nixon kepada wartawan, Senin (15/5) pagi.
Dua dari tiga tersangka berasal dari Madura, sedangkan satunya dari Karimun. Rencananya sabu itu akan dibawa ke Kuala Tungkal (Jambi) menggunakan kapal. Dari dari Kuala Tungkal akan dibawa ke Surabaya dengan transportasi darat. Dari Surabaya barulah dibawa ke Madura.
“Nah dua orang ini diduga akan membawa sabu itu hingga Madura. Sementara yang di Karimun diduga sebagai penunjuk jalan. Namun, itu masih kata mereka. Peran pastinya masih kita lidik,” terang Nixon.
“Untuk akomodasi selama di Karimun, masing-masing tersangka dimodali Rp 7,5 juta. Jika barang sampai, maka baru dibayar sesuai perjanjiaan. Ada yang Rp 20 juta dan ada yang Rp 50 juta,” imbuh Nixon.
Dikatakannya, saat ini pihaknya masih terus mengumpulkan keterangan dari ketiga tersangka. Bahkan, berencana ke Madura untuk mencari terduga lainnya. Atas perbuataan itu, ketiga tersangka terancam pasal 114 ayat 2, pasal 112 ayat 2 jo pasal 132 UU narkoba no 35 tahun 2009.
“Ancaman hukuman maksimal adalah hukuman mati atau seumur hidup,” tegas Nixon.
Sementara SA, mengaku terpaksa jadi kurir sabu karena tergiur imbalan Rp 50 juta. Apalagi saat itu kondisi ekonominya sedang sulit.
“Saya tergiur aja. Disuruh jemput sabu ke Karimun, dan dikasih upah Rp 50 juta kalau barangnya sampai,” pungkas SA menyesal. (she)
Horizon Unlimited Indonesia 2017 tempat berkumpulnya penggemar otomotif.
Dimana itu? Di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 18-21 Mei mendatang.
Para petualang yang pernah menjelajahi dunia dengan sepeda motor bakal tumplek blek di Sumbawa. Mereka akan mengikuti sebuah event bergengsi bertajuk Horizon Unlimited Indonesia 2017.
Ketua Pelaksana Horizon Unlimited Indonesia Jeffrey Polnaja mengatakan, serangkaian acara akan digelar dalam event itu. Di antaranya adalah mendengarkan pengalaman dan presentasi dari petualang sepeda motor dunia.
“Selain itu, juga ada kegiatan berkendara bersama mengunjungi lokasi-lokasi indah dan menantang di Sumbawa,” ujar Jeffrey.
Horizon Unlimited bukanlah event sembarangan. Para pesertanya pun tak bisa dipandang sebelah mata. Karena itu Menpar Arief Yahya menyambut gembira rencana mereka menjadikan Sumbawa sebagai pilihan untuk riding.
“Event bernuansa sport tourism dan adventure ini akan punya dua impact, yakni direct impact dan indirect atau media value. Point kedua, media valuenya akan jauh lebih besar daripada pendapatan langsung dari events itu sendiri,” jelas Arief Yahya.
Mereka sudah berpetualangan mengelilingi dunia mengendarai sepeda motor.
Jeffrey, misalnya. Dia sudah menjelajahi 97 negara di semua benua.
Di Sumbawa nanti Jeffrey tidak hanya akan menjadi ketua pelaksana. Penjelajah berbendera Ride for Peace (RFP) itu juga akan membeberkan rahasia menaklukkan berbagai masalah selama touring berkeliling dunia.
Selain Jeffrey, banyak petualang jempolan yang bakal menyerbu Sumbawa. Melansir situs resmi Horizon Unlimited, salah satu rider yang bakal datang ke Sumbawa adalah Ted Simon.
Anda dijamin akan berdecak kagum mengetahui sepak terjang Simon. Pada 6 Oktober 2016 ketika usianya menginjak 42 tahun, Ted meninggalkan London dengan motor Triumph Tiger 500 cc. Dia menjelajahi dunia selama empat tahun dengan menempuh jarak 64 ribu mil. Total, Ted singgah di 45 negara.
Dia mengulangi petualangannya pada 27 Januari 2001 saat usianya sudah 69 tahun. Kali ini, dia mengendarai BMW R 80GS menjelajahi 47 negara dengan total jarak tempuh mencapai 59 ribu mil.
Dia mengabadikan petualangan ke dalam buku berjudul Dreaming of Jupiter. Hingga kini, buku itu menjadi insiprasi bagi para penjelajah dunia.
Situs Motorcycle News bahkan menyebut karya Simon sebagai buku penjelajahan dengan sepeda motor terbaik sepanjang sejarah. Yang lebih istimewa, Simon juga akan memutar film tentang perjalanan pertamanya. Film itu mendapat sambutan hangat di Amerika Serikat.
Anda yang datang ke Sumbawa dijamin mendapat suguhan spesial.
Sebab, inilah kali pertama film itu akan diputar di Indonesia! (*)