Selasa, 7 April 2026
Beranda blog Halaman 13334

Kota Tua Ampenan Disulap Jadi Destinasi Wisata Kota Mataram

0

Kota Tua Ampenan, Lombok, NTB ialah kota pelabuhan yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Pemerintah setempat serius menjadikan sebagai salah satu ikon destinasi andalan Kota Mataram.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi inisiatif Kota Mataram itu. Sebuah konsep pembangunan yang berbasis pada akar, simbol, dan visi Mataram.

Menurut dia, gagasan ini perlu segera direalisasi, untuk menjaring wisatawan mancanegara yang semakin melirik Lombok. Terutama originasi Timur Tengah yang selama ini lebih banyak yang terbang ke Thailand dan Malaysia. “Lombok sudah dua tahun berturut-turut dinobatkan sebagai world’s best halal destination, karena itu harus mengoptimalkan semua potensinya,” kata Menteri Arief.

Sejak dua tahun lalu, Ampenan sudah diusulkan menjadi semacam “Bukit Bintang”-nya Kuala Lumpur. Tempat wisata kuliner, arena nongkrong wisatawan, dengan pedestrian yang luas, bersih dan background gedung-gedung tua yang arsitekturalnya masih utuh. Semua syarat atraksi itu ada di Ampenan.

Sedangkan amenitasnya, bisa benchmark ke kawasan Masjid Sultan di Distric Rochor, Singapore. Kota lama, yang dipertahankan seluruh arsitektur bangunannya, dan menjadi destinasi favourit wisatawan.

“Lombok itu sudah menjadi destinasi nomor 9 Asia pilihan travellers di TripAdvisor 2017. Lombok punya pantai-pantai bagus, pasir putih dan pasir pink. Lombok punya underwater yang istimewa. Lombok punya Rinjani, dengan kaldera yang berkelas dunia. Punya pertanian yang subur dan bisa bertanam padi sepanjang tahun. Sebagai destinasi, pulau ini lengkap,” jelas Menpar Arief.

Ampenan, kata dia, akan melengkapi sebagai wisata berbasis heritage, sejarah dan kota pelabuhan yang lebih dekat menyeberang ke Bali. “Apalagi Wisata Bahari Indonesia sedang ngebut dengan berbagai marina atau pangkalan yacht, dan dermaga tempat cruise merapat,” kata dia.

NTB mempunyai Pantai Kuta, Pantai Seger, dan Pantai Tanjung Aan di Lombok. NTB pinya kuliner yang mendunia, ayam taliwang yang kelezatannya tak perlu diragukan lagi.

“Sempurna kalau Ampenan segera hidup sebagai destinasi di Mataran,” sebut Menpar.

Sama seperti Kota Tua Jakarta, Kota Tua Ampenan memiliki puluhan bangunan bersejarah peninggalan era Hindia Belanda.

Tidak hanya bangunan berasitektur Belanda, banyak gedung bernuansa Tiongkok yang masih berdiri.

Ampenan juga memiliki beberapa kampung yang heterogen. Di antaranya, Kampung Tionghoa, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Banjar, Kampung Arab, dan Kampung Bali.

Pada masa lalu, Ampenan merupakan salah satu pusat perekonomian dan perdagangan.

Hal itu terlihat dari sisa-sisa reruntuhan konstruksi armada di pinggiran pantai Ampenan. Reruntuhan itu sudah menjadi salah satu destinasi wisata bagi pelancong.

Selama ini, Ampenan dinilai sebagai titik yang pas untuk menyeberang ke Bali. Dari Karang Asem ke Ampenan hanya butuh satu jam, jauh lebih cepat dan dekat. Jika menyeberang dari Padang Bae ke Lembar butuh lima jam.

Untuk mewujudkan konsep Iconologi Mataram  itu, Wali Kota Mataram Ahyar Abduh sudah menggelar pertemuan dengan beberapa pihak terkait, 12 Mei 2017 lalu. Anggota Tim Percepatan 10 Top Destinasi Prioritas, T Rahmadi melaporkan, para pejabat di Pemkot Mataram dan Pemprov NTB, anggota Tim 10 Kementerian Pariwisata sudah bertemu di Kantor Walikota Mataram.

Pekan lalu juga dilaporkan T Rahmadi, ada   pertemuan antara Wakil Gubernur NTB Bpk H. Muh Amin dengan Executive General Manager Royal Brunei Airlines, Brett McDougall. Mereka membahas rencana pembukaan rute barunya Lombok-Brunei Darussalam di tahun ini.

Hingga saat ini Royal Brunei baru memiliki tiga rute penerbangan di Indonesia, yaitu ke Jakarta, Surabaya, Denpasar. Dalam pertemuan ini hadir pula GM Lombok Internasional Airport yang di dampingi Kadispar Prov NTB, Lalu Faozal. Kebetulan Lombok International Airport masih terbuka dengan slot baru. (*)

Ada Reog di Bromo

0
ilustrasi sumber: eastjavatrip.com

Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dimana lokasi wisata Bromo berada kini juga mengembangkan kesenian sebagai satu bentuk wisata budaya, reog.

Salah satu diantaranya yang kini terus dikembangkan dan eksis adalah Reog Tengger. Pemda memberikan ruang pada reog Tengger untuk berkembang. Koordinator Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Lembaga Desa Wisata (Ladewi) Supriyanto menyebut, reog Tengger sempat mati suri. Namun, karena adat di suku Tengger sangat kental, tidak sulit untuk membangkitkan kesenian ini lagi.

Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam berbagai kesempatan menyebutkan syarat agar  destinasi itu kuat, ada 3A. Ada Atraksi, Akses, dan Amenitas.

“Reog ini masuk dalam kategori atraksi berbasis budaya. Atraksi inilah salah satu yang menjadi daya pikat orang untuk datang ke destinasi itu,” kata Menpar Arief.

Selanjutnya, untuk bisa sampai ke destinasi itu butuh akses, yang menghubungkan ke destinasi itu. Kemudahan, kecepatan, biaya menuju ke destinasi itu juga menjadi faktor penentu sukses pengembangan objek wisata itu.

“Yang terakhir adalah amenitas, hotel, restoran, cafe, restoran, souvenir shop, dan lainnya,” kata Arief Yahya, ketiganya harus saling support.

Kini, reog Tengger terus dikenalkan melalui berbagai acara. Beragam kegiatan warga pun sering mengundang reog Tengger sebagai hiburan. Seperti, khitanan. Lalu pada perayaan Kasada Juli mendatang, dipastikan reog Tengger akan digelar diikuti beberapa desa pemilik ke senian reog. Pagelaran seni tersebut akan dilaksanakan di Gunung Bromo.

“Dengan demikian eksistensi reog Tengger akan semakin terlihat. Bahkan sudah banyak generasi muda yang tergabung di tiap kelompok yang ada di desa,” kata Supriyanto juga Kasi Perencanaan di Desa Jetak Kecamatan Sukapura ini.

Sejalan dengan itu, kata Supriyanto, reog Tengger sangat berpotensi sebagai wisata budaya. Reog Tengger sering jadi kesenian untuk menyambut wisatawan yang datang.

“Tujuan awal membangkitkan kesenian reog ini untuk menyambut tamu atau wisatawan. Serta mempertahankan kesenian yang sudah ada secara turun temurun,” tuturnya.

Camat Sukapura Yulius Christian menambahkan, saat ini tiap desa di Sukapura memiliki kelompok kesenian yang di dalamnya ada reog Tengger. Karena itu, pihaknya berencana mengadakan Festival reog Tengger yang pesertanya tiap desa di Kecamatan Sukapura.

“Ini bagian dari cara untuk terus mengembangkan reog Tengger. Sebab, kesenian ini berpotensi jadi wisata budaya. Selama ini kan, wisatawan yang berkunjung ke Bromo hanya menikmati alamnya. Padahal banyak wisata budaya yang bagus di Tengger,” tuturnya. Harapannya, reog Tengger jadi wisata budaya yang mendukung wisata Bromo.

Keberadaan Reog Tengger sebenarnya diwariskan turun temurun oleh nenek moyang warga suku Tengger di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Namun, kemudian mati suri lantaran tidak ada penerusnya. Kondisi ini menggugah kesadaran pemerintah setempat. Mulai pemerintah ke camatan, hingga desa. Maka pada tahun 2000, reog Tengger kembali dihidupkan. Namun, tidak lama.

Untuk mengantisipasi kevakuman pada tahun 2011-2012 dibentuklah Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Lembaga Desa Wisata (Ladewi) di Desa Jetak dan kelompok-kelompok serupa di tiap desa. Alhasil, tiap desa memiliki komunitas budaya sendiri. Biasanya tak hanya reog, komunitas ini juga menggiatkan jaranan, dan tari-tarian.

Supriyanto menyebut, sebagai kesenian yang mengacu pada reog Ponorogo, atribut dan alat kesenian yang digunakan pada reog Tengger, mirip dengan reog Ponorogo. Yakni dadap atau bulu merak, topeng gonongan, dan caplokan.

Sedang alat musiknya, adalah gendang, gong, saron, kenong, angklung, selendro (gamelang komplit) dan alat orkes. Meski mengacu pada reog Ponorogo, ada beberapa perbedaan yang sifatnya untuk menyesuaikan dengan kondisi daerah, adat dan kesukaan warga setempat. Me ngingat pada era modern ini, kesenian juga harus berkem bang.

“Alat orkes ini merupakan inovasi kami. Mengingat pada era modern ini kesenian juga harus berkembang. Sementara warga Tengger banyak yang suka lagu campur sari. Sehingga alat orkes tersebut digunakan untuk lagu campur sari,” terang lelaki yang juga kasi perencanaan di Desa Jetak ini.

Saat ini, reog Tengger banyak tampil di sejumlah kegiatan. Waktu permainannya tergantung dari yang mengundang. Namun normalnya, 1,5 jam tanpa adegan kalap (trance/kesurupan). Sementara jika menggunakan kalap, bisa 2 jam.

“Terkadang ada pengundang yang tidak suka agedan kesurupan. Sehingga hanya dilakukan biasa saja. Untuk biaya tanggapanya sendiri jika hanya reok sekitar Rp 2 juta,” imbuhnya.

Tidak sekedar tampil di banyak kegiatan. Pelestarian reog Tengger kini dilakukan sistemanis dengan cara diajarkan pada siswa SD. Khususnya di Desa jetak.

“Latihan rutinnya satu minggu dua kali. Biasanya sabtu malam dan minggu malam. Yang terpenting tidak menggangu waktu belajar,” tuturnya.

Ngantoro, dukun reog di Darwis Ladewi yang juga kasi pemerintahan di Desa Jetak menambahkan, ada beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum reog tampil. Salah satunya adalah ubo rampe dengan isi atau sesaji beragam. Ada gedang ayu, rokok kinangan komplet (jambe, daun siri, kembang telon), jenang wonco (jenang lima warna, yaitu putih, merah, hijau, kuning, dan hitam).

Lalu, sego gulung (tujuh nasi kepel yang tengahnya diisi telur jawa). Kemudian, wedang kopi pahit dan air putih, kembang setaman, pituan (kelapa, beras, dan 5 biji telur mentah) dan janur tujuh sisir. Meski demikian, kadang ubo rampe tiap desa berbeda.

Secara umum reog Tengger, mirip dengan reog Ponorogo. Sebab, pakem utama reog Tengger mengacu pada reog Ponorogo. Misalnya cerita pertarungan Singobarong dengan Kelanaswandana memperebut Dewi Songgolangit, putri Kerajaan Kediri yang terkenal cantik. Kelanaswandana akhirnya menikahi Dewi Songgolangit.

Meski demikian, cerita ini mulai terlupakan di reog Tengger. Warga hanya mengenal, ini kesenian turun temurun. Juga, ada beberapa hal yang membedakan reog Ponorogo dan Tengger. Seperti yang disampaikan Misnan, 54, dukun di Kelompok Seni Jaranan Kreasi Abdhi Budoyo, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.

Warga Desa Ngadisari ini menyebut, reog Ponorogo kekuatannya dari olah kanuragan. Sedangkan reog Tengger khusus untuk kalap/ kesurupan. Reog Ponorogo menurutnya, harus dipelajari dan dilatih khusus. Mengingat kekuatan yang yang didapat dari ilmu kanuragan. Sedangkan reog Tengger relatif bisa dilakukan oleh siapapun. Bahkan, anak kecil sekalipun. Asal secara fisik mampu.

“Saat tampil, dukun akan mengundang makluk lain untuk kalap. Jika sudah kalap, orang bisa dan mampu memainkan reognya. Jika belum kalap, sangat sulit. Sebab, berat dari reog itu men capai 30 kilogram. Dan hanya ditahan de ngan menggunakan gigi,” terangnya.

Hal senada diungkapkan Koordinator Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Lembaga Desa Wisata (Ladewi) Supriyanto. Menurutnya, perbedaan reog Tengger dan Ponorogo terjadi, karena inovasi semata. Misalnya, pengiring lagu. Warga Tengger yang kental dengan adatnya, juga penggemar campur sari. Karena itu, pe ngiring lagu untuk reog yang dimainkan di Desa Jetak, yaitu lagu campur sari.

“Ada beberapa peleburan dan inovasi yang digunakan lantaran menyesuaikan dengan adat di desa,” katanya.

Ngantoro, dukun reog di Darwis Ladewi menambahkan, hingga kini, keberadaan reog Tengger selalu terjaga. Sebab, sejumlah kegiatan masih sering menjadikan reog Tengger sebagai hiburan. (*)

Tiga Tersangka Kurir Sabu Terancam Hukuman Mati

0
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Keri Nixon Manurung (dua dari kanan) Kabid Brantas BNNP Kepri Bubung memberikan keterangan tentang penangkapan barang bukti 21 kg sabu-sabu dengan tiga tersangka yang berhasil diamankan saat ekpos di Kantor BNNP Kepri di Nongsa, Senin (15/5). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Tiga kurir narkoba mengaku diiming-imingi puluhan juta untuk membawa 20 paket sabu seberat 21,5 gram dari Malaysia. Atas perbuataan itu mereka terancam hukuman mati.

Kepala BNNP Kepri Brigjen Pol Nixon Manurung mengatakan ketiga tersangka ditangkap setelah adanya informasi tentang penyelundupan  sabu dari Malaysia ke Karimun. Bermodal informasi dan ciri-ciri pelaku, mulai melakukan pengintaian. Mulai dari hotel hingga usai transaksi penyelundupan sabu.

“Ketiga tersangka memasuki perairan Malaysia dengan kapal. Dan sesampainya di Pelabuhan mereka langsung kita tangkap. Sementara, tekong pembawa kapal berhasil kabur,” kata Nixon kepada wartawan, Senin (15/5) pagi.

Dua dari tiga tersangka berasal dari Madura, sedangkan satunya dari Karimun. Rencananya sabu itu akan dibawa ke Kuala Tungkal (Jambi) menggunakan kapal. Dari dari Kuala Tungkal akan dibawa ke Surabaya dengan transportasi darat. Dari Surabaya barulah dibawa ke Madura.

“Nah dua orang ini diduga akan membawa sabu itu hingga Madura. Sementara yang di Karimun diduga sebagai penunjuk jalan. Namun, itu masih kata mereka. Peran pastinya masih kita lidik,” terang Nixon.

Menurut dia, pengakuan ketiga tersangka mengaku akan diberi imbalan Rp 20 – 50 juta, jika paketan sabu itu sampai kepada orang yang dimaksud. Bahkan saat ini pihaknya telah menetapkan tiga orang sebagai DPO diantaranya Hs, Ji dan U.

“Untuk akomodasi selama di Karimun, masing-masing tersangka dimodali Rp 7,5 juta. Jika barang sampai, maka baru dibayar sesuai perjanjiaan. Ada yang Rp 20 juta dan ada yang Rp 50 juta,” imbuh Nixon.

Dikatakannya, saat ini pihaknya masih terus mengumpulkan keterangan dari ketiga tersangka. Bahkan, berencana ke Madura untuk mencari terduga lainnya. Atas perbuataan itu, ketiga tersangka terancam pasal 114 ayat 2, pasal 112 ayat 2 jo pasal 132 UU narkoba no 35 tahun 2009.

“Ancaman hukuman maksimal adalah hukuman mati atau seumur hidup,” tegas Nixon.

Sementara SA, mengaku terpaksa jadi kurir sabu karena tergiur imbalan Rp 50 juta. Apalagi saat itu kondisi ekonominya sedang sulit.

“Saya tergiur aja. Disuruh jemput sabu ke Karimun, dan dikasih upah Rp 50 juta kalau barangnya sampai,” pungkas SA menyesal. (she)

Horizon Unlimited Indonesia 2017 hanya Ada di Sumbawa

0
sumber:
horizonsunlimited.com

Horizon Unlimited Indonesia 2017 tempat berkumpulnya penggemar otomotif.

Dimana itu? Di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 18-21 Mei mendatang.

Para petualang yang pernah menjelajahi dunia dengan sepeda motor bakal tumplek blek di Sumbawa. Mereka akan mengikuti sebuah event bergengsi bertajuk Horizon Unlimited Indonesia 2017.

Ketua Pelaksana Horizon Unlimited Indonesia Jeffrey Polnaja mengatakan, serangkaian acara akan digelar dalam event itu. Di antaranya adalah mendengarkan pengalaman dan presentasi dari petualang sepeda motor dunia.

“Selain itu, juga ada kegiatan berkendara bersama mengunjungi lokasi-lokasi indah dan menantang di Sumbawa,” ujar Jeffrey.

Horizon Unlimited bukanlah event sembarangan. Para pesertanya pun tak bisa dipandang sebelah mata. Karena itu Menpar Arief Yahya menyambut gembira rencana mereka menjadikan Sumbawa sebagai pilihan untuk riding.

“Event bernuansa sport tourism dan adventure ini akan punya dua impact, yakni direct impact dan indirect atau media value. Point kedua, media valuenya akan jauh lebih besar daripada pendapatan langsung dari events itu sendiri,” jelas Arief Yahya.

Mereka sudah berpetualangan mengelilingi dunia mengendarai sepeda motor.

Jeffrey, misalnya. Dia sudah menjelajahi 97 negara di semua benua.

Di Sumbawa nanti Jeffrey tidak hanya akan menjadi ketua pelaksana. Penjelajah berbendera Ride for Peace (RFP) itu juga akan membeberkan rahasia menaklukkan berbagai masalah selama touring berkeliling dunia.

Selain Jeffrey, banyak petualang jempolan yang bakal menyerbu Sumbawa. Melansir situs resmi Horizon Unlimited, salah satu rider yang bakal datang ke Sumbawa adalah Ted Simon.

Anda dijamin akan berdecak kagum mengetahui sepak terjang Simon. Pada 6 Oktober 2016 ketika usianya menginjak 42 tahun, Ted meninggalkan London dengan motor Triumph Tiger 500 cc. Dia menjelajahi dunia selama empat tahun dengan menempuh jarak 64 ribu mil. Total, Ted singgah di 45 negara.

Dia mengulangi petualangannya pada 27 Januari 2001 saat usianya sudah 69 tahun. Kali ini, dia mengendarai BMW R 80GS menjelajahi 47 negara dengan total jarak tempuh mencapai 59 ribu mil.

Dia mengabadikan petualangan ke dalam buku berjudul Dreaming of Jupiter. Hingga kini, buku itu menjadi insiprasi bagi para penjelajah dunia.

Situs Motorcycle News bahkan menyebut karya Simon sebagai buku penjelajahan dengan sepeda motor terbaik sepanjang sejarah. Yang lebih istimewa, Simon juga akan memutar film tentang perjalanan pertamanya. Film itu mendapat sambutan hangat di Amerika Serikat.

Anda yang datang ke Sumbawa dijamin mendapat suguhan spesial.
Sebab, inilah kali pertama film itu akan diputar di Indonesia! (*)

Mengembalikan Filosofi Pendidikan Bangsa

0

Mengawali tulisan ini, saya ingin mengutip semboyan dari Bapak Pendidikan Bangsa, Ki Hajar Dewantara. Semboyan yang kemudian menjadi pusaka dan ajaran kekal bagi dunia pendidikan Tanah Air. Yakni: Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Pertama, Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing ngarsa berarti di depan, atau orang yang lebih berpengalaman dan atau lebih berpengatahuan. Sedangkan tuladha berarti memberi contoh, memberi teladan. Jadi ing ngarsa sung tuladha mengandung makna, sebagai guru atau pendidik hendaknya mampu menjadi contoh yang baik atau dapat dijadikan sebagai figur sentral bagi siswanya.

Kedua, Ing Madya Mangun Karsa. Mangun karsa berarti membina kehendak, kemauan dan hasrat untuk mengabdikan diri kepada kepentingan umum, kepada cita-cita yang luhur. Sedangkan ing madya berarti di tengah-tengah, yang berarti dalam pergaulan dan hubungannya sehari-hari secara harmonis dan terbuka. Jadi ing madya mangun karsa mengandung makna bahwa pamong atau pendidik sebagai pemimpin hendaknya mampu menumbuh-kembangkan minat, hasrat dan kemauan anak didik untuk dapat kreatif dan berkarya, guna mengabdikan diri kepada cita-cita yang luhur dan ideal.

Ketiga, Tutwuri Handayani. Tutwuri berarti mengikuti dari belakang dengan penuh perhatian dan penuh tanggung jawab berdasarkan cinta dan kasih sayang yang bebas dari pamrih dan jauh dari sifat authoritative, possessive, protective, dan permissive yang sewenang-wenang. Sedangkan handayani berarti memberi kebebasan, kesempatan dengan perhatian dan bimbingan yang memungkinkan anak didik atas inisiatif sendiri dan pengalaman sendiri, supaya mereka berkembang menurut garis kodrat pribadinya.

Dalam bahasa singkatnya, seorang guru itu harus mampu menjadi panutan atau teladan, mampu menumbuhkan semangat kreatifitas siswa, dan mampu memberikan dukungan atau motivasi bagi siswa-siswinya.

Semboyan ini sekaligus memberikan gambaran, betapa konsep dan filosofi pendidikan itu tidaklah rumit. Melainkan sangat simple jika para guru memahami tugas dan fungsinya.

Tapi pertanyaannya kemudian adalah, mengapa saat ini pendidikan kita masih sering menjadi sorotan karena hal-hal yang negatif? Kita tahu, masih banyak cerita dan berita seputar dunia pendidikan yang membuat geleng-geleng kepala. Bukan karena prestasi, tetapi karena kasus-kasus yang seharusnya tak perlu terjadi.

Mulai dari kasus kekerasan, baik yang dilakukan guru kepada murid dan sebaliknya, kasus perkelahian antarsiswa, hingga kasus-kasus amoralitas.

Seharusnya, di era sekarang ini, dengan sarana dan infrastruktur yang semakin lengkap, dunia pendidikan nasional akan semakin baik dari hari ke hari. Sebab dari jumlah guru saja, saat ini sudah semakin banyak. Begitu juga dengan jumlah gedung sekolah, jelas terus bertambah dan menjangkau hingga pedalaman.

Dari segi kesejahteraan guru, tentu semakin hari juga semakin baik. Belum lagi perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi, seharusnya menjadi pendukung penting bagi keberhasilan pendidikan di Tanah Air.

Namun faktanya, itu tadi, masih banyak hal-hal memprihatinkan di dunia pendidikan negeri ini. Apanya yang salah? Banyak jawaban yang langsung menyalahkan perkembangan zaman. Bahwa kemajuan teknologi informasi turut andil dalam menggiring generasi muda ke sisi yang negatif. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga jamak terjadi di negara lain, bahkan negara-negara maju.

Bisa jadi benar. Tapi bisa saja kesalahan ada pada pola pengajaran para guru. Bahwa para guru tidak mengikuti rambu-rambu seperti yang disampaikan Bapak Pendidikan Bangsa ini, Ki Hajar Dewantara. Mereka tidak mau atau tidak mampu menjadi teladan, inisiator, dan motivator yang baik bagi para siswanya.

Guru Bukan Sekadar Mengajar

Berdasarkan semboyan Ki Hajar Dewantara di atas, jelas sudah bahwa tugas seorang guru bukan sekadar mengajar atau menanamkan aspek akademik. Tetapi juga harus mampu mendidik dan mempersiapkan anak didiknya agar bisa menyelesaikan persoalan kehidupannya secara mandiri dan positif.

Dalam sistem belajar mengajar, seorang guru harus mampu menjadi komunikator, sahabat yang dapat memberikan nasihat-nasihat, motivator sebagai pemberi inspirasi dan dorongan, pembimbing dalam pengembangan sikap dan tingkah laku serta nilai-nilai, dan sebagai orang yang menguasai bahan yang diajarkan.

Guru di sekolah tidak hanya berperan sebagai transmiter dari ide, tetapi juga berperan sebagai transformer dan katalisator dari nilai dan sikap. Bila dirinci lebih detil lagi, sebenarnya ada beberapa peran sentral seorang guru, antara lain:

-Informator. Yakni sebagai pelaksana mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.

-Organisator. Pengelola kegiatan akademik, silabus, workshop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Organisasi komponen-komponen kegiatan belajar harus diatur oleh guru agar dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri guru maupun siswa.

-Motivator. peran sebagai motivator penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus mampu memberikan rangsangan, dorongan serta reinforcement untuk mengembangkan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika dalam proses belajar.
Pengarah atau Director. Guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.

-Inisiator. Guru sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar. Ide-ide yang dicetuskan hendaknya adalah ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didik.

-Transmiter. Dalam kegiatan belajar mengajar guru juga akan bertindak selakuk penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan.

-Fasilitator. Guru wajib memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar misalnya dengan menciptakan susana kegiatan pembelajaran yang kondusif, seerasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar mengajar berlangsung efektif dan optimal.

-Mediator. Mediator ini dapat diartikan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. Misalnya saja menengahi atau memberikan jalan keluar atau solusi ketika diskusi tidak berjalan dengan baik. Mediator juga dapat diartikan sebagai penyedia media pembelajaran, guru menentukan media pembelajaran mana yang tepat digunakan dalam pembelajaran.

-Evaluator. Guru memiliki tugas untuk menilai dan mengamati perkembangan prestasi belajar peserta didik. Guru memiliki otoritas penuh dalam menilai peserta didik, namun demikian evaluasi tetap harus dilaksanakan dengan objektif. Evaluasi yang dilakukan guru harus dilakukan dengan metode dan prosedur tertentu yang telah direncanakan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.

Semoga kita, para guru, juga terus belajar supaya bisa menjadi seorang pendidik yang baik. Karena jika direnungi dengan seksama, tugas guru tidak hanya mulia, tapi juga sangat berat untuk urusan tanggung-jawab dalam menyiapkan generasi penerus bangsa. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2017. Semoga pendidikan di Tanah Air semakin baik. (*)

 

 

Penulis: Yuasnil
Kepala Sekolah SDN 002 Sungai Beduk, Batam

DPRD Batam Kritisi Capaian Realisasi Fisik Triwulan Pertama

0
Sejumlah pengendara bermotor melintas melintas di Jalan Nong Isa Batamcenter yang berlubang, Selasa (28/2). Ada beberapa titik lubang yang berlum diperbaiki di jalan tersebut. F. Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Penyerapan anggaran dan realisasi fisik per Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemko Batam ternyata belum maksimal. Sampai triwulan pertama 2017 ini realisasi baru diangka 11 persen. Padahal idealnya serapan anggaran tersebut sudah berada di angka 20 persen.

Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBM SDA) misalnya. realisasi program fisik baru diangka 7,91 persen. Padahal OPD ini salah satu yang paling banyak memiliki banyak program fisiknya.

DBM SDA sendiri memiliki 44 program kegiatan dengan total anggaran Rp 356,2 miliar. Adapun rincian ialah pembangunan, pemeliharaan jalan dan jembatan Rp 230 miliar, peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan Rp 46 miliar, program pengendalian banjir dan perbaikan jaringan Rp 43 miliar, pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana hinterland Rp 16,7 miliar, pelayanan administrasi perkantoran Rp 24 miliar dan sarana prasarana aparatur Rp 2,9 miliar.

“Begitu juga dari 217 paket di DBM SDA, sampai triwulan pertama terealisasi 15 paket,” ujar Ketua Komisi III DPRD Batam, Nyanyang Haris Pratamura.

Nyanyang sendiri mengaku sudah mewanti-wanti agar anggaran yang sudah dikucurkan untuk DBM SDA bisa terealisasi maksimal.

“Jangan sampai apa yang sudah kita anggarkan ini tidak terealisasi dan menjadi Silpa. Realisasi fisik ini kan menyangkut kebutuhan masyarakat Batam,” jelasnya.

Tak jauh beda, realisasi program Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Batam baru mencapai 11 persen. Dari total Rp 19,2 miliar anggaran yang dikucurkan, tersealisasi Rp 2,1 miliar.

Anggota Komisi IV DPRD Batam Bobi Alexander Siregar mengatakan, minimnya serapan ini disebabkan karena belum jalannya proyek fisik. OPD tersebut mengaku terkendala masalah lelang pengadaan barang dan jasa. “Triwulan pertama, kegiatan fisik dinsos belum dimulai,” tuturnya.

Adapun kegiatan yang ada di dinsos diantaranya, bantuan rehabilitasi rumah tidak layak huni, bantuan sosial akreditas lembaga kesejahteraan sosial, penyuluhan sosial, bimbingan terhadap organisasi sosial, bantuan penangulangaan orang terlantar, pelayanan kesejahteraan lanjut usia, pelayanan sosial penyandang disabilitas, program bantuan pangan non tunai dan lainnya.

“Banyak kegiatan fisik yang dinanti. Untuk itu kita minta dinsos harus komitmen,” tambahnya.

Untuk dinas pendidikan dan dinas kesehatan yang juga memiliki kegiatan fisik, sampai saat ini belum melaporkan serapan anggarannya “Dinkes sudah dua kali kita panggil. Kalau disdik rencananya laporan realisasi akan disampaikan  Rabu ini, (18/5),” tutur politisi Hanura itu.

Anggota Banggar DRRD Batam, Aman mengaku belum semua OPD yang melaporkan serapan anggaran triwulan pertama. Namun dari data yang masuk belum satupun yang mencapai target. “Saya lihat di LPSE, kegiatan fisik masih berputar pada konsultan perencanaan. Padahal idealnya 20 persen dari anggaran sudah terserap di tirwulan pertama ini,” sebutnya.

Ia menilai, keterlambatan pembahasan APBD 2017 kemarin menjadi salah satu penyebab minimnya serapan anggaran fisik ini. APBD disahkan Januari dan baru dievaluasi Gubernur satu bulan setelahnya. Dikembalikan lagi ke banggar. Sehingga Maret baru bisa digunakan. Program fisikpun belum bisa jalan mengingat harus dilakukan konsultasi perencanaan dan proses lelang.

“Satu bulan lelang, akhirnya Mei program fisik baru bisa dimulai,” kata Aman.

Ditambahkan dia, hal ini sebenarnya bisa diantisipasi jika proses penyusunan RKA oleh pemko lebih cepat.

“Kita tak menyalahkan pemko atau DPRD, karena keterlambatan ini karena belum padu serasinya persepsi pemko melalui musrembang dan DPRD dengan reses. Sehingga kalau ini bisa lebih cepat, pembahasan cepat dan program fisik bisa kita gesa lebih cepat juga. November ketok APBD, Januari sudah mulai running semua kegiatan fisik,” kata Aman.

Ia berharap keterlambatan pengesahan APBD tahun lalu bisa menjadi pelajaran Pemko dan DPRD dalam menyamakan persepsi. Sehingga tidak mengangu serapan anggaran fisik. “Harus kita mulai dari sekarang. Kepada OPD pun kita minta untuk menggesa serapan anggarannya,” jelas Aman. (rng)

Walikota Batam Pastikan Pelebaran Jalan Tidak Ada Kendala

0
 Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Pelebaran jalan yang tengah dilakukan oleh Pemerintah Kota Batam berdampak pada sebagian bangunan baik milik pemerintah maupun swasta.

Walikota Batam, Muhammad Rudi mengatakan untuk proses pelebaran tahap dua ini, memang ada beberapa bangunan yang berdiri diatas daerah yang terkena pelebaran, seperti papan iklan yang berada di tepi jalan, vidiotron, halte, kios liar hingga kantor kelurahan Kampung Seraya, Batuampar.

“Untuk kios sebagian sudah mulai mereka bongkar sendiri, sedangkan halte dan lainnya bertahap,” kata Rudi, (15/5) saat meninjau pembangunan jalan layang di Simpangjam.

Mantan Wakil Walikota Batam ini juga memastikan pelebaran lima titik jalan berlangsung dengan baik. Kelima jalan yang akan dilebarkan diantaranya jalan simpang planer hoter- simpang the hill hotel, simpang baloi center- simpang apartemen harmoni, jalan underpass- simpang telkom pelita- simpang irinco, simpang jam- simpang BNI/ Rosdale, dan simpang BNI- frengky.

“Sejauh ini tidak ada masalah, Pak Yumasnur juga telah melakukan sosialisasi kepada mereka yang terdampak pelebaran. Inikan untuk kita semua jadi saya mohon dukungannya lah,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad menambahkan pihaknya tengah mendata aset milik pemerintah yang terdampak pelebaran, selanjutnya akan dilaporkan kepada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Kepri.

Akibat pelebaran ini terjadi otomatis terjadi pengurangan nilai aset, dan itu harus terdata. “Nanti kita akan bentuk tim khusus untuk pendataan ini,” sebut mantan Kepala Disperindag Kota Batam ini.

Amsakar mengungkapkan memasuki tahun kedua masa kepemimpinan Rudi- Amsakar, pihaknya masih memfokuskan pada pembangunan infrastruktur, terutama jalan.

“Bertahap kami benahi, kalau Batam punya infrastruktur yang bagus, pasti akan berdampak kepada kunjungan wisatawan, dimana mereka merasa nyaman berjalan di Batam. Tidak tertutup kemungkinan tahun depan kami mulai membenahi sektor pariwisata,” terang pria yang akrab disapa Am ini. (cr17)

Ujian Sekolah Berbasis Nasional Tingkat SD Berjalan Lancar

0

batampos.co.id– Pelaksanaan Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) hari pertama di SDN 001 dan SDN 002, Batamkota berjalan lancar, Senin (15/5).

Ketua Panitia USBN SDN 002 Batam, RD Sudihartawanto mengatakan USBN tahun ini diikuti oleh 113 peserta dengan menggunakan enam ruang kelas. “Sebanyak 106 dari sekolah kami dan 7 siswa dari SDS Veritas,” kata Sudi.

Mengenai pelaksanaan ujian berlangsung lancar tanpa kendala. “Ada 50 soal pilihan ganda yang harus diselesaikan siswa. Ujiannya baru saja selesai dan lancar,” ujarnya.

Ketua Panitia USBN SDN 001, Safnizal mengatakan telah menyiapkan para siswanya jauh-jauh hari sebelum pelaksaan ujian. Bahkan, selesai ujian panitia juga melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap kelengkapan data siswa.

“Kami ingin menghindari agar tidak ada data siswa yang lupa diisi atau keliru,” kata Safnizal.

Pelaksanaannya sendiri menggunakan 8 ruang kelas dengan total 156 peserta ujian dengan rincian 79 siswi dan 77 siswa. “Juga ada dua peserta dari homeschooling dari STIPAK Batam,” sebutnya.

Murid SD 010 Batam Kota sedang mengerjakan mata pelajaran Bahasa Indonesia pada Ujian Sekolah Berbasis Nasional, Senin (15/5). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Sebelumnya, kata Safni para siswa dibekali terlebih dahulu dengan try out dan penambahan jam pelajaran. “Kami adakan penambahan jam pelajaran di hari senin hingga rabu. Lalu, untuk mendorong nilai siswa yang kurang bagus, kami tambahkan pelajaran lagi di hari kamis,” ungkapnya.

Mengenai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), Kepala SDN 001 Batam, Yendri Sarman mengatakan tidak ada penambahan rombel. “Kita tetap mengikuti rombel terdahulu yakni 24 rombongan belajar,” kata Yendri.

SDN 001 Batam sendiri memiliki total 943 siswa dengan 13 ruangan kelas. “Untuk proses belajar mengajar, karena kurangnya ruang kelas, sementara kami adakan dua shift,” ujarnya. (cr18)

Dua Pria Mengaku Terpaksa nJambret sebab Tak Kerja Lagi

0
ilustrasi

batampos.co.id – Sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, membuat  Yusuf, 38 nekat menjambret bersama dengan temannya, Hari Arya, 28. Dari pengakuannya kepada polisi, Yusuf telah melakukan aksinya sebanyak puluhan kali.

“Saya begini tidak mempunyai kerja lagi. Sebelumnya saya kerja di PT sebagai operator forklift. Selama ini sudah main sebanyak 25 kali,” ujar Yusuf saat ditemui di Mapolresta Barelang, Senin (15/5).

Dijelaskan Yusuf, dari puluhan aksinya itu, hapir sebagaian besar aksinya dilakukan di kawasan Nagoya. Untuk sasaran dalam melancarkan aksinya itu, ia dan temannya menyasar pengendara wanita maupun laki-laki yang sedang lengah. Yusuf pun bertugas sebagai eksekutor.

“Saya saat tidak punya uang baru main. Biasanya dapat ponsel langsung saya jual ke konter,” ucapnya.

Diakui Yusuf, hasil penjualan ponsel itu dibagi dua dengan rekannya. Selama aksi jambretnya yang telah berlangsung selama 8 bulan, ia paling besar mendapatkan uang Rp. 1 juta dan paling kecil mendapatkan Rp. 400 dari hasil penjualan ponsel hasil jambret tersebut.

“Istri selama ini tidak tahu saya jambret. Dia tahunya selama ini saya kerja di pasar ikan,” katanya.

Aksi penjambretan Yusuf pun akhirnya berakhir, Kamis (2/5) lalu. Ia ditangkap oleh warga di depan Laundry Extra Qilo Komplek Windsor Phase. Akibat penangkapan itu, kepala Yusuf mengalami robek dan harus menerima 15 jahitan akibat hantaman dari benda tumpul.

“Kemarin itu, saya sama istri. Karena tidak ada uang lagi, saya mau main dan istri sama anak saya ditinggal di Simpang Rujak. Dia nunggu disana dari jam 7 sampai jam 12 malam,” katanya.

Istri Yusuf pun kemudian dijemput oleh sanak saudaranya dan memberi tahukan bahwa Yusuf telah ditangkap warga dan dikeroyok massa karena menjambret.

Diakuinya, malam itu ia terpaksa menjambret karena ia sangat membutuhkan uang dan berusaha meminjam uang kepada temannya pada malam itu. Namun, usahanya untuk meminjam uang tidak membuahkan hasil.

“Istri saya sudah pulang ke Siantar. Dia tahu saya ditangkap polisi. Semenjak tertangkap dia belum melihat saya. Saya tahunya dia pulang, saat dia meniitipkan baju saya sama polisi,” imbuhnya menahan tangis.

Sementara itu, Kapolresta Barelang AKBP Hengki mengatakan, minimnya lapangan pekerjaan di Kota Batam menjadi salah satu faktor terjadinya kejahatan jalanan. Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah daerah harus bahu membahu untuk mengatasi masalah ini.

“Terkait dengan masalah kejahatan jalanan, merupakan tugas bersama pemerintah daerah untuk mengatasi masalah ini. Sementara untuk pelaku usaha saya himbau untuk memasang CCTv agar dapat membantu kita apabila terjadinya tindak pidana,” katanya. (cr1)

Mayat Laki-laki Ditemukan Mengapung di Laut

0
Anggota polisi dan warga mengevakuasi mayat Mr X dari laut Tiangwangkang, Sagulung, Senin (15/5). Mr X ditemukan dengan kondisi membusuk lalu mengapung yang ditemukan oleh warga Tiangwangkang. F. Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Sesosok mayat berjenis laki-laki ini ditemukan warga mengapung di perairan laut dekat kampung Tiangwangkang dan Pulau Panjang oleh nelayan setempat, Senin (15/5) sekitar pukul 10.30 WIB.

Silas, 47, saksi mata, mengatakan penemuan berawal saat ia mengantar salah seorang warga menuju Pulau Panjang menggunakan pompong. Namun, tak berapa lama atau sekitar 20  mil dari bibir pantai (kampung Tiangwangkang, Barelang) ia melihat benda mengapung. Setelah didekati, ternyata benda itu sesosok mayat dalam posisi telentang.

“Saya kaget. Saya kira patung, tetapi setelah ditengok lebih dekat ternyata mayat,” ujar Silas.

Meski dalam kondisi panik, Silas mengikat tali ketubuh mayat tersebut dan membawanya ke tepi. Sampai ditepi, ia langsung berteriak memanggil warga.

“Saya takut mayat itu terbawa arus makanya saya ikat,” katanya.

Sementara saat mayat ditemukan, mulutnya terikat tali tas warna hitam dan memakai jaket warna hitam serta  BH yang terlilit di dadanya. “Bagian tubuhnya sudah memutih, wajahnya pun sudah sulit dikenali,” jelasnya.

Kapolsek Sagulung AKP Hendrianto mengatakan mayat tersebut ditemukan tanpa identitas. Jasad korban pun sudah tak bisa lagi dikenali. “Kira-kira sudah tiga hari dalam laut,” ujar Hendrianto.

Untuk proses identifikasi dan menyelidiki penyebab kematiannya, polisi langsung mengevakuasi jasad pria itu ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda. (cr19)