Rabu, 1 April 2026
Beranda blog Halaman 13394

Aceh Kenalkan Diri pada Dunia melalui Sabang Marine Festival III

0

Sabang Marine Festival (SMF) III di Arena Sabang Fair resmi dibuka, Jumat (21/4).

Pembukaan SMF III ini diawali dengan atraksi drumben dari SMP Negeri II Kota Sabang, dan ditutup dengan atraksi para layang bermotor yang terbang mengitari arena Sabang Fair, tempat pembukaan Sabang Marine Festival digelar.

Wakil Ketua Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Bahari Kemenpar Asep Muhammad mengatakan, para wisatawan domestik dan internasional pasti terpukau ketika menyaksikan aquarium raksasa di kepalauan Sabang yang dihuni jutaan biota laut ini.

“Para wisatawan akan menyaksikan aquarium raksasa ciptaan Allah SWT yang dihuni jutaan biota laut dipastikan senang berwisata ke Sabang. Sabang dikenal dengan underwater world-nya dan tempat ideal untuk melakukan aktivitas diving dan snorkeling,” kata Asep.

Kemenpar berharap, semua pihak berperan aktif dalam mempromosikan industri pariwisata Sabang ke dunia Internasional. Pada tahun ini, jumlah kunjungan yacht ke Sabang akan terus meningkat.

“SMF 2017 ini bisa dijadikan sebagai pemanasan bagi Kota Sabang guna menyongsong perhelatan akbar, dimana pada tanggal 2 Desember, kota ini akan menjadi pusat perhatian dunia dengan akan diselenggarakannya rangkaian kegiatan dan puncak acara Sail Sabang 2017 yang akan dihadiri oleh Bapak Presiden RI dan para menteri kabinet kerja, para duta besar, tamu-tamu mancanegara serta para yachters,” ujarnya.

Karena itu, Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Bahari berharap masyarakat setempat berperan aktif ikut menjaga serta memelihara terumbu karang yang ada di bawah laut Pulau Weh.

Menurutnya, prinsip dalam dunia wisata alam yang berbasis bahari, semakin dilestarikan, maka dengan sendirinya kunjungan wisatawan akan meningkat dan bermuaranya pada kesejahteraan terhadap pelaku industri pariwisata itu sendiri dan masyarakat secara umum.

“Masyarakat harus menjaga biota laut Sabang dan jangan sampai rusak, alam dan ekosistemnya, karena itu akan berpengaruh pada pariwisata dan juga berimbas pada perekonomian daerah juga,” ujarnya.

Kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan SMF III, dan mempromosikan industri pariwisata Sabang kepada komunitas yachters dunia. Para pelayar dunia tersebut berasal dari New Zealand, Jepang, Belanda, Australia, Philipina, Amerika Serikat, Denmark, Inggris, Kanada Thailand, Swiss dan Spanyol.

“Syukur Alhamdulillah pada acara Sabang Marine Festival ke-III ini kunjungan kapal yacht ke Sabang terus meningkat dan kita berharap para pelayar dunia ini mempromosikan potensi wisata bahari Sabang ke dunia internasional serta komunitas yacht dunia,” kata Reza.

Reza mengungkapkan, kunjungan Kapal Yacht pada SMF ke-III ini meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini, sebanyak 26 kapal layar dan 10 lagi sedang dalam perjalanan menuju Sabang. Sedangkan tahun 2016 sebanyak 20 kapal yacht, lalu pada tuhun 2015 hanya 17 kapal yacht yang berkunjung ke Sabang.

Kegiatan ini dimulai dari tanggal 19 hingga 23 April 2017, diawali dengan chek in yang melibatkan Karantina, Bea dan Cukai, Imigrasi serta KSOP (CQIP) dalam satu Tim Pelayanan Satu Atap. Hal itu dilaksanakan untuk mempercepat perolehan perizinan dengan pelayanan terbaik yang hanya makan waktu hanya satu jam.

Hadir pada acara pembukaan, Gubernur Aceh yang diwakili Assisten II PemProv Aceh, Syaiba Ibrahim, Mewakili Kapolda Aceh, Dir Polair Polda Aceh, Kepala BPKS Fauzi Husen, Kadis Budpar Provinsi Aceh,  dan sejumlah pejabat teras lainnya.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, Presiden Joko Widodo sudah menempatkan pariwisata dan maritim menjadi sektor prioritas. Selain pangan, energi dan infrastruktur.

“Events pariwisata yang bertema bahari semakin banyak dan beragam. Termasuk Festival ini menuju ke Sail Sabang 2017. Sekali merengkih dayung, dua tiga pulau terlampaui,” kata Arief Yahya. (*)

Investor China Siapkan Dana Rp 13 Triliun untuk Kembangkan Destinasi Morotai

0

Chairman PT Jababeka Darmono mengungkapkan, dua minggu lalu telah ditandatangi Memorandum of Understanding (MoU) dengan salah satu pemain terbesar dari China dalam bidang travel and tourism yang punya 60 hotel bintang di China.

“Mereka berkomitmen akan membangun 300 kamar hotel dalam tempo 1 tahun dan 100 villa di atas tanah seluas 100 hektare untuk pemulaan. Mereka ini terkenal mendatangkan banyak turis asal China ke seluruh dunia,” ujar Darmono dalam Calender of Event Wonderful Morotai Island Festival (CoE WMIF) 2017 di Balairung Gedung Sapta Pesona, Kantor Kemenpar, Jumat (21/4).

“Juli nanti mudah-mudahan bisa sudah ada pencanangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata di morotai,” kata Darmono.

Darmono menambahkan, investasi yang diadakan pada tahap pertama kurang lebih USD 100 juta atau setara Rp 1,3 triliun. Mereka berjanji akan bertahap menaikkan hingga menjadi USD 1 miliar atau setara Rp 13 triliun.

“Tentu, semua akan berjalan lancar kalau proyek pertama ini mereka merasa disambut dengan baik, didukung sepenuhnya, dan sukses mendatangkan wisman ke Morotai,” tambah Darmono.

Keindahan Tanjung Gorango di Morotai. Foto: istimewa

Sementara, Kemenpar dan Lemenhub telah memberikan komitmen bahwa bandara akan djperbaiki. Runway atau landas pacu akan diperpanjang dan dilebarkan untuk memenuhi standar pesawat 730 yang bisa membawa 130 penumpang.

“Maka juga diperlukan bandara ini menjadi bandara internasional sehingga turis gak perlu mampir dulu ke Manado karena akan menghambat jumlah pengunjung yang lebih banyak,” pungkas Darmono.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengaku gembira mendapat kabar ini. Dirinya mengatakan, kabar MoU ini jauh lebih penting daripada pidatonya saat itu. “Kalau tahu begini saya tidak perlu pidato lagi. Karena kabar MoU itu lebih menggembirakan. Dengan begini Morotai akan segera benar-benar menjadi deatinasi kelas dunia,” kata Menpar Arief Yahya.

Menpar Arief mengungkapkan, saat ini destinasi Morotai memang masih lemah dalam banyak hal. Menurutnya, Morotai tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan keindahan alamnya atau wisata baharinya saja.

“Kalau hanya mengandalakan wisata alam atai baharinya itu kurang. Harus diperkuat 3A-nya. Morotai mulai membenahi aksesbilitasnya dengan mengupayakan bandaranya menjadi bandara internasional, pembangunan homestay-nya juga sudah berjalan. Dan terakhir Atraksinya harus diperbanyak yang kelas dunianya,” jelas Menpar Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya menambahkan, percepatan pembangunan Morotai juga dalam upaya menjadikan Morotai sebagai destinasi kelas dunia dengan mengandalkan pada potensi alam, budaya, dan wisata buatan manusia serta didukung oleh unsur atraksi, amenitas, dan aksesibilitas yang memadai.

“Sebagai destinasi prioritas, target kunjungan wisman ke Morotai tahun ini sebanyak 11 ribu, ditargetkan akan meningkat menjadi 500 ribu pada 2019,” tutup Menpar Arief Yahya. (*)

Mancing di Morotai Tak Sekadar Dapatkan Ikan

0

Menpar Arief Yahya meresmikan Calender of Events Wonderful Morotai Island Festival (CoE WMIF) 2017 , Jumat malam, (21/4/2017).

Menpar Arief Yahya didampingi Wakil Gubernur Maluku Utara (Malut) Muhammad Natsir Thaib, mengikuti peluncuran itu. CoE WMIF 2017 itu  akan berlangsung selama enam bulan dari Mei hingga Oktober 2017.

Morotai menampilkan enam event unggulan yang bertumpu pada daya tarik wisata alam (nature), wisata budaya (culture), dan wisata buatan manusia (man-made). Menpar Arief Yahya mengapresiasi penyelenggaran WMIF 2017 itu.

“Tujuannya, mempromosikan dan meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) ke Morotai, Maluku Utara (Malut),” kata Arief Yahya.

“Kita menyadari Morotai ini masih lemah dalam 3 A (Amenitas, Aksesbilitas, dan Atraksi). Atraksinya tahun ini punya enam. Ini harus dipilih salah satu untuk dijadikan kelas dunia. Saya senang yang dipilih event mancingnya, karena bila memilih atraksi bawah lautnya harus hati-hati karena banyak saingannya,” kata Menpar Arief Yahya dalam sambutannya.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, untuk saat ini destinasi Morotai belum bisa maksimal menjaring wisman. Tahun ini, Morotai ditargetkan mendatangkan 11 ribu wisman, sementara targetnya hingga 2019 sebanyak 500.

“Kegiatan event ini menargetkan kunjungan 135 wisman dan 540 wisnus ke Morotai. Morotai baru bisa mendatangkan wisman 11 ribu. Kunjungan wisatawan ini sangat berarti bagi pariwisata Malut,” kata Menpar Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya menambahkan, Pulau Morotai ditetapkan pemerintah sebagai satu di antara 10 destinasi prioritas atau sebagai “Bali Baru”. Saat ini dilakukan percepatan pembangunan dalam menjadikan Morotasi sebagai destinasi kelas dunia dengan mengandalkan pada potensi alam, budaya, dan wisata buatan manusia serta didukung oleh unsur atraksi, amenitas, dan aksesibilitas yang memadai.

“Tapi jangan khawatir, pembangunan di Morotai terus berjalan. Apabila bandarnya sudah bisa dilandasi pesawat besar, kunjungan wisman akan naik drastis. Kita lihat contoh Bandara Silangit untuk Danau Toba, begitu ditetapkan jadi bandara internasional, kunjungan wismannya melesat naik,” ungkap Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, kegiatan WMIF 2017 merupakan upaya untuk meningkatkan unsur atraksi sedangkan percepatan pembangunan amenitas dan aksesibilitas saat ini tengah berlangsung dan melibatkan instansi terkait. Dia memaparkan bahwa kemajuan unsur aksesibitas sudah dirasakan wisatawan, dimana bila pada awal triwulan 1/2016 tidak ada penerbangan regular ke Morotai, sekarang sudah penerbangan dua kali per hari dengan kapasitas 72 tempat duduk.

“Begitu pula unsur amenitas, Morotai memiliki 24 cottages dan tahun ini akan dibangun 100 homestay desa wisata,” ujar Arief Yahya.

foto: pulaumorotaikab.go.id

Wakil Gubernur Malut Muhammad Natsir Thaib mengatakan, Pemerintah Kabupaten Morotai menetapkan event Wonderful Morotai Island Festival atau Festival Pesona Morotai sebagai event tahunan yang diluncurkan oleh Menpar Arif Yahya pada Juni tahun lalu. Hal ini kemudian dilanjutkan dengan gelar perdana event WMIF dengan menggelar event Fishing Morotai dan Festival Budaya Bahari pada Oktober 2016.

“Bersyukur morotai menjadi salah satu jajaran kepulauan yang menjadi perhatian pemerintah pusat untuk pengembangan segala potensi yang dimilikinya. Launching CoE WMIF 2017 ini sekaligus untuk menetapkan Wonderful Morotai Island Festival sebagai branding pariwisata Morotai,” kata Natsir.

Natsir menjelaakan, keelokan pulau Morotai mulai dari lautan pantai yang eksotis sampai kisah sejarah PD II menjadikan Morotai layak menjadi destinasi wisata kelas dunia.

“Posisi pulau Morotai sangat strategis karena di utara Morotai diapit negara Jepang, Korea, China, Taiwan, Filipina. Di barat ada Singapura dan negara ASEAN. Di selatan ada Australia dan Selandia Baru. Di timur ada republik kepulauan pelau dan negara-negara kepulauan di Pasifik,” ungkap Natsir.

Kondisi ini, lanjut Natsir, menyebabkan Morotai seperti sebuah mutiara di bibir pasifik yang menawarkan keindahan dalam berwisata. Destinasi wisata ini akan lebih bergejolak jika ada peran investor yang masuk dan membangun amenitas di pulau Morotai.

“Aksesibilitas dan fasilitas publik terus dibangun pemerintah untuk menghidupkan Morotai sebagai destinasi kelas dunia. Morotai Islands Festival 2017 merupakan satu upaya untuk mendorong pembangunan percepatan destinasi pariwisata di kawasan timur Indonesia, khususnya di Malut. Untuk itu, atas nama Pemprov Malut dan Pemkab Morotai berterima kasih dan apresiasi kepada pemerintah pusat atas terselenggaranya kegiatan ini,” tutup Natsir.

WMIF 2017 dimeriahkan enam event unggulan.

Pertama, lomba foto bawah laut (underwater) yang berlangsung di Perairan Morotai Selatan pada 15-19 Mei 2017. Event ini dimaksudkan untuk menjaga serta melindungi terumbu karang dan biota laut lainnya. Selain itu sebagai ajang untuk memperkenalkan keindahan alam bawah laut Morotai serta tantangan bagi penyelam dalam mengeksplorasi berbagai jenis sisa-sisa peninggalan peralatan Perang Dunia II yang ada sekitar perairan Morotai. Ditargetkan event ini akan dikunjungi 25 wisman dan 100 wisnus.

Kedua, Festival Pante yang dikemas dalam beberapa kegiatan di antaranya Lomba Timba Laor, Lomba Renang, Lomba Perahu Hias, Lomba Katinting, dan Lomba Renang Tradisional yang akan berlangsung di Morotasi Selatan pada 3-6 Mei 2017. Target kegiatan ini sebanyak 20 wisman dan 80 wisnus.

Ketiga, festival musik dan tari tradisional yang dikemas dalam beberapa kegiatan lomba musik, Yangere, Musik Bambu Tada (Hitadi), Lomba Masamper, Lomba Tarian Tide-Tide, dan Lomba Tarian Cakaleleber. Kegiatan berlangsung di Morotai Selatan pada 8-12 Agustus 2017.

Keempat, Fishing Morotai sebagai lomba mancing berskala internasional yang berlangsung di perairan Morotai pada 25-27 Agustus 2017. Targetnya diikuti 25 wisman dan 100 wisnus.

Kelima, Festival Pesona Kirab Nusantara Morotai dalam rangka memperingati HUT RI berlangsung di Morotai Selatan pada 14-15 Agustus 2017. Targetnya 20 wisman dan 80 wisnus.

Keenam, Morotai Beach Run, kegiatan marathon yang diikuti peserta dari dalam negeri dan mancanegara yang berlangsung di Morotai Utara pada 26-27 Oktober 2017. Target pengunjung 25 wisman dan 100 wisnus. (*)

Menangkan Persaingan Global Harus dengan Standar Global

0

Geliat perekonomian di lokasi wisata Wakatobi membuat Kementerian Pariwisata (Kemenpar) serius membina SDM-SDM pariwisata berkelas internasional.

Deputi Kelembagaan Kemenpar, Ahman Sya melakukan perjanjian kerja sama (MoU) dengan Direktur Poltekpar Makassar, Muhadjir membangun SDM pariwisata di Wakatobi.

Ahman menjelaskan, Kemenpar akan mempercepat penyiapan dan pengadaan SDM pariwisata handal di Wakatobi, melalui kegiatan pelatihan dasar SDM pariwisata, gerakan sadar wisata dan sertifikasi kompetensi SDM pariwisata.

Dalam keterangan pers di Gedung Sapta Pesona, Gedung Kemenpar, Kamis, (20/4) kemarin, Ahman meminta Kab. Wakatobi mengoptimalkan kesempatan ini. Mempercepat pertumbuhan SDM pariwisata berkualitas menjadi tujuan utama di samping membangun infrastruktur.

Langkah membina dan mempersiapkan SDM  ini penting, mengingat Menteri Pariwisata, Arief Yahya telah menetapkan Wakatobi sebagai destinasi wista bahari kelas dunia. Terlebih, Wakatobi masuk dalam daftar 10 destinasi prioritas Indonesia dari Presiden Joko Widodo.

Guna membangun tenaga pariwisata terampil, pihak terkait akan menggandeng Kementrian Kelautan dan Perikanan membangun Akademi Komunitas Pariwisata. Akademi ini akan terintegrasi dengan Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan milik KKP.

“Rencana ke depan, Akademi ini menjadi Sekolah Tinggi Perikanan dan Pariwisata, ucap Ahman.

Penerimaan mahasiswa baru akan mulai tahun akademik 2017/2018, dengan jumlah  peserta didik angkatan pertama sebanyak 75 orang untuk  jenjang D-1 dan D-2 dengan program studi berbasis ekowisata atau wisata bahari, sesuai dengan potensi wisata bahari Wakatobi.

Pemda Sulawesi Tenggara memberi usulan agar Akademi itu nanti membuka  program studi perhotelan. Ahman melanjutkan, pemda setempat sedang mengkaji rencana ini.

Para lulusan Akademi itu nanti bisa langsung terjun ke lapangan. Kemenpar menunggu para alumni untuk mengisi dan mengabdikan diri pada berbagai sektor parawisata di Kabupaten Wakatobi.

Mengenai tenaga pengajar, Ahman Sya menjelaskan, bila Kemenpar sudah menyiapkan dosen dan kurikulum. Para pengajar tersebut berasal dari perguruan tinggi milik Kemenpar terdekat  (Poltekpar Makassar.

“Kami juga telah memiliki hasil rekruitmen penyetaraan dari industri melalui proses Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sesuai pedoman dari Kemristek Dikti,” katanya.

Menpar Arief Yahya mengapresiasi kerjasama antara Kemenpar dan Poltekpar Makassar untuk mencetak SDM profesional untuk pengembangan potensi pariwisata di Wakatobi.

“Representasi Pentahelix (ABGCM), Akademisi, Bisnis, Government, Community, dan Media harus dipakai untuk memajukan pariwisata,” ujar pria asal Banyuwangi ini.

Mantan Dirut Telkom ini juga mengatakan, sejak bertugas  di PT Telkom dia  komitmen membangun investasi SDM.

“Sangat penting untuk win the future customers (memuaskan konsumen di masa mendatang). Karena itu sekolah perguruan tinggi pariwisata sudah sangat relevan.”

Mentri lulusan Surrey University,  Inggris ini berpesan, SDM pariwisata nanti harus menggunakan standar global, mengacu pada standar regional disebut ASEAN MRA (Mutual Recognition Arrangement) atau  Kompetensi selevel ASEAN.

“Kalau ingin bersaing di level global, gunakan global standard juga,” kata Menpar Arief Yahya menambahkan. (*)

 

Presiden Jokowi Dijadwalkan Hadiri Wakatobi Wave 2017, Anda….?

0

Wakatobi Wonderful Festival and Expo 2017 atau disingkat Wakatobi Wave 2017akan digelar pada 19-22 Oktober 2017.

Acara ini bakal menyajikan berbagai acara kebudayaan dan aneka perlombaan.

Wakatobi Wave diharapkan bakal dihadiri Presiden Joko Widodo.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Wakatobi Nadar menjelaskan, dalam event Wakatobi Wave 2017 disemarakan festival budaya seperti prosesi adat karya secara massal, tari kolosal, dan prosesi kabuengan massal.

“Nanti juga kita buat side event untuk menyemarakannya, nanti akan ada kegiatan lomba bahari seperti Triatlon, underwater fotografi competition, dan yang berbeda adalah panjat pinang di laut. Selain itu juga ada seminar bahari, rencananya event ini akan dilaksanakan selama 4 hari,” ungkap Nadar usai meluncurkan Calender of Event Wakatobi 2017, di Balairung Soesilo Sudarman, Kantor Kementrian Pariwisata, Kamis (20/4).

Wakatobi Wave ini sudah dilaksanakan semenjak 2015. Pemerintah berharap angka kunjungan wisata yang bakal menghadiri sekitar 3-4 ribu orang baik dari nusantara maupun mancanegara.

“Target pesertanya, tentu sangat tergantung pada persiapan kita selama kurang lebih enam bulan untuk mempromosikan dan mempublikasi event ini,” ucap Nadar.

Pada event Wakatobi Wave 2017 ini akan menjadi istimewa, sebab Presiden Joko Widodo direncanakan akan hadir. Kehadiran Presiden Jokowi ini merupakan momentum yang paling tepat untuk memperkuat branding wakatobi sebagai destinasi marine tourism Indonesia.

“Kami juga bakal mengemas event ini dengan merangkul teman-teman pelaku industri wisata, khususnya dive operator yang sudah merencanakan dan menginisiasi kegiatan. Yang mungkin bisa melibatkan presiden untuk mejadi semacam influencer pariwisata Wakatobi, khususnya bahari. Rencana nantinya mungkin ada semacam dive spot yang akan kita dedikasikan untuk presiden,” ujarnya.

Secara letak geografis, Wakatobi memiliki keterwakilan yang kuat sebagai ikon wisata bahari Indonesia. Karena wisata bahari kategorinya ada tiga, pertama bentang lautnya, pantainya, dan bawah lautnya.

“Wakatobi memiliki ketiganya dan kalau dirangking oleh Kemenpar kita masuk dalam lima besar. Sedangkan beberapa destinasi marine lainnya hanya punya dua atau satu cluster saja,” pungkasnya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Eshty Reko Astuti menambahkan, destinasi Wakatobi dari hari ke hari terus bersolek untuk pariwisata Indonesia. Setian bulan selalu ada event sebagai jurus menarik wisatawan untuk mengunjungi kabupaten maritim di Indonesia itu.

“Wakatobi Wave merupakan puncak dari kegiatan festival di Wakatobi, dan event ini masuk dalam kalender pariwisata nasional. Jika ditotal sepanjang tahun di Wakatobi memiliki 16 event, yang paling besar adalah Wakatobi Wave. Sehingga event Wakatobi ini jelas akan kami dukung untuk promosikan,” ujar Esthy.

Esthy juga mengamini ucapan Menteri Pariwisata Arief Yahya, dimana makin banyak event di suatu daerah, maka pendapatan per kapita daerah itu akan bagus dan indeks kebahagiaannya lebih tinggi.

“Tapi memang kegiatan nantinya banyak, tahun ini Wakatobi akan dibuat parade, wisata bahari, termasuk kuliner. Bentuk dukungan Kemenpar adalah promosi baik dalam bentuk offline maupun online,” pungkas Esthy. (*)

BP Batam Cabut MoU Pengelolaan Pantai Melur

0

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam telah mengirim surat pemutusan kerjasama Memorandum of Understanding (MoU) kepada Pemerintah Kota (Pemko) Batam terkait pengelolaan Pantai Melur, namun belum mendapat tanggapan sama sekali.

“Kami telah mengirim surat dengan nomor B-3090/KA/11/2016 mengenai perihal evaluasi pengelolaan Pantai Melur. Intinya meminta pemutusan kerjasama,” kata Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Purnomo Andiantono, Jumat (21/4).

Pihak BP Batam mengaku kecewa dengan Pemko Batam. Pasalnya Pantai Melur yang diserahkan kepada Pemko Batam pada tahun 2008 itu malah diberikan kepada pihak ketiga, yakni pengelola Pantai Melur sekarang, PT Glory Point.

Imbasnya banyak aset milik BP Batam seperti musala, gazebo, toilet dan lainnya sudah rata dengan tanah karena diubah jadi pantai tempat wisata oleh pengelolanya sekarang.

“Pemko Batam tidak melakukan sesuai dengan yang disepakati,” katanya.

Aset-aset milik BP Batam tercatat juga sebagai aset-aset milik negara. Dan yang paling mengecewakan bahwa Pantai Melur tersebut seolah-olah dialokasikan padahal sudah jelas status wilayah tersebut masih status quo dan bahkan BP Batam belum bisa mengelolanya.

“Untuk saat ini kami serahkan status quo ke pemerintah pusat, kami tinggal melaksanakannya saja. Namun untuk Pantai Melur, MoU-nya harus diputuskan segera,” pungkas Andi.

Menanggapi hal ini, Wakil Walikota Batam, Amsakar Ahmad membantah telah mengalokasikan Pantai Melur ke swasta. Justru lokasi pariwisata tersebut diklaim pihak lain.

“Ada orang yang mengatakan itu tanah dia. Tapi saya belum ada informasi terkini tentang hal ini,” kata Amsakar, Jumat (21/4).

Hal senada diungkapkan Assisten Pemerintahan Pemko Batam Syuzairi. Menurutnya, pengakuan pihak lain karena telah membayar ganti rugi ke masyarakat yang memiliki alas hak.

“Itulah sebabnya Pemko tak bisa melanjutkan. Lahan tersebut penguasaan sebelumnya oleh masyarakat baru diambil oleh perusahaan,” ujarnya.

Menurutnya, Pemko Batam telah melakukan pembangunan di lokasi wisata tersebut melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam. Tak ingin bermasalah pihaknya menghentikan proyek tersebut.

“Kios-kios kami bangun di situ,” ucapnya.

Ditanya apakah Pemko Batam akan melanjutkan pengelolaan pantai tersebut. Untuk memutuskan ini, pihaknya terlebih dahulu akan bertemu dengan BP Batam juga Badan Pertanahan Nasional (BPN).

“Kita lihat perkembangannya dulu, khusunyas tentang status lahan itu,” pungkasnya. (cr13/leo)

Kamp Vietnam Direncanakan Jadi Kawasan Wisata Ziarah

0

batampos.co.id – Kamp Vietnam menjadi target pengembangan destinasi pariwisata di Batam oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Kepri. Target ini ditetapkan setelah melalui kajian penuh terhadap potensi pariwisata di Batam. Selain Kamp Vietnam, Pulau Abang, Pulau Funtasy Island dan lainnya juga dianggap sangat berpotensi untuk dikembangkan.

“Kamp Vietnam layak jual. Kami akan buat wisata ziarah. Karena nanti pada bulan enam ada ziarah kubur. Dan akan kami tangkap kesempatan itu dan saat ini konsepnya sedang dibuat,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar di Hotel Harmoni One Batam Centre, Kamis (20/4) saat press conference di acara Seminar Tata Kelola Destinasi Pariwisata yang digelar oleh Kementerian Pariwisata.

Ia mengungkapkan akan segera bekerjasama dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam yang saat ini masih mengelola Kamp Vietnam. Selain itu akan mengajukan izin hubungan diplomatik dengan luar negeri untuk memudahkan pengembangan kawasan tersebut.

“Konsepnya bagus. Kami akan bawa ke Kementerian dan meminta izin hubungan diplomatik. Pasti mereka sangat mendukung sekali,” katanya lagi.

Batam katanya merupakan tiga pintu masuk utama pariwisata di Indonesia selain Jakarta dan Bali dan menjadi perhatian utama pemerintah pusat.

“Kami sampaikan apresiasi atas perhatian dari pemerintah pusat yang sangat mendukung kemajuan pariwisata di daerahnya,” tambahnya lagi.

Di tempat yang sama, Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Pariwisata, Oneng Setya Harini mengatakan infrastruktur berikut sarana dan prasarana di Batam sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi destinasi pariwisata.

“Pasar wisatawan dari negara tetangga seperti Singapura juga sangat mungkin digarap dari sisi ini. Tinggal SDM dan masyarakatnya dipersiapkan dan kapasitasnya ditingkatkan. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton, karena pariwisata harus meningkatkan kesejahteraan mereka,” jelasnya.

Daerah perbatasan memiliki banyak keunggulan yang dapat dikembangkan menjadi destinasi pariwisata. Salah satu tren wisata yang bisa dikembangkan di wilayah perbatasan adalah wisata halal karena menunjukkan tren peningkatan. Hal tersebut dapat dilihat dari kunjungan wisatawan muslim dari negara-negara timur tengah ke Indonesia, seperti Pulau Lombok.

“Selain itu, mayoritas kunjungan wisatawan ke Indonesia, 60 persennya adalah untuk menikmati wisata budaya. Budaya merupakan aset penting sehingga harus dijaga sebaik-baiknya,” katanya.

Gereja Katolik peninggalan pengungsi Vietnam di Desa Sijantung, Pulau Galang, Batam, Kepulauan Riau.

Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Purnomo Andiantono merespon positif. Menurutnya Kamp Vietnam memiliki banyak sejarah karena merupakan saksi sejarah salah satu pengungsian terbesar di dunia yakni migrasi 250 ribu warga Vietnam ke Pulau Galang akibat perang antara Vietnam dengan Amerika.

“Kamp Vietnam menjadi salah satu aset wisata yang dikelola BP Batam. Kami terus melakukan pembenahan disana karena juga merupakan salah satu pemasukan untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang masuk ke kas negara,” katanya.

Memang sampai saat ini belum ada komunikasi dengan Pemprov. Namun jika Pemprov Kepri bersedia mengembangkan Kamp Vietnam, mereka akan membantu.

“Sarana dan prasarana seperti jalan kesana sudah bagus. Dan berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 Tahun 2011, Kamp Vietnam merupakan situs sejarah yang harus dijaga kelestariannya,” pungkasnya.

Museum Wisata Sejarah Kemanusiaan atau yang akrab disebut Kamp Vietnam tersebut asri dengan pepohonan, meski jalannya telah beraspal. Pohon-pohon itu pun menjadi habitat para monyet. Setiap ada mobil yang melintas, monyet keluar dari persembunyian, lalu menunggu makanan dilempar dari mobil.

Sebuah monumen kemanusiaan berdiri tak jauh dari pintu masuk. Monumen patung wanita itu dibangun atas dasar simpati kepada pengungsi yang bernama Tinh Nhan. Patung tersebut menjadi sebuah bentuk penghormatan.

Tak lama setelah melewati monumen itu, terbentang Pemakaman Nghia Trang. Pemakaman yang berisi sekitar 563 nisan tersebut merupakan kuburan para pengungsi yang meninggal karena faktor usia atau penyakit.

Pemakaman itu terawat. Temboknya bercat putih bersih. Di altar makam terdapat buahbuahan dan hio yang terbakar separo. Gulungan-gulungan kertas putih yang berisi angka-angka berserakan. Ternyata, ada pula yang mencari peruntungan di makam.

Selanjutnya, dua perahu menarik perhatian. Konon, itu adalah perahu asli yang digunakan para pengungsi untuk melintasi Laut China Selatan.  (leo)

Pelabuhan Batuampar lebih Kuno dari Pelabuhan Tanjungperak Awal Abad 20

0

batampos.co.id – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI berjanji akan mendorong pemerintah pusat membenahi Pelabuhan Batuampar. Pelabuhan bongkar muat ini dianggap sangat penting dan menjadi prioritas sebagai poros pengembangan dunia maritim Indonesia.

“Batam itu potret Indonesia. Tiap tahunnya ratusan ribu kapal lewat di depan Pelabuhan Batam. Batam strategis, namun pelabuhannya sangat darurat,” ujar Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo Soekartono di Kantor Pelabuhan BP Batam, Jumat (21/4).

Bambang menganggap Pelabuhan Batuampar lebih kuno daripada Pelabuhan Tanjungperak di awal abad ke-20. “Karena di Tanjungperak yang dulunya merupakan pelabuhan terbesar se-Asia terdapat jalur kereta api yang terintegrasi dengan industri. Di Batam tak ada,” jelasnya.

Jika dilihat dari skala keuntungan yang harus diraih, Batam berada pada posisi jeblok. Bambang menggambarkan bahwa dalam setahun ada 100.000 kapal yang lalu lalang di Selat Malaka. Kapal-kapal tersebut membawa muatan dengan ukuran sekitar 85 juta Teus.

Singapura mampu menangkap 40 juta Teus, padahal hanya memiliki garis pantai sepanjang 10 mil. Namun Bambang mengakui segi pelayanan dan infrastruktur, negeri jiran tersebut memang nomor wahid.

Negeri tetangga lainnya, Malaysia yang memiliki garis pantai untuk kegiatan kapal sebesar 230 mil kebagian 35 juta Teus dari pelabuhan-pelabuhannya. Contohnya pelabuhan Tanjungpelepas dapat 20 juta Teus, Portklang dapat 12 juta Teus, dan Penang dapat 4 juta Teus.

Lalu bagaimana dengan Indonesia. Dengan total garis pantai 600 mil meliputi wilayah Kepri dan pantai Sumatera, Indonesia hanya kebagian tidak lebih dari 1 juta Teus. Batam kebagian 350 ribu Teus, sedangkan pelabuhan Belawan di Medan kebagian 400 ribu Teus.

Apa yang sebenarnya terjadi? Bambang mengakui tata kelola manajemen BP Batam terdahulu sangat buruk. Penuh konspirasi dan hanya mementingkan diri sendiri sehingga pembangunan terhambat.

Pekerja dermaga bongkar muat barang Batu Ampar saat bekerja, Batuampar. F.Rezza Herdiyanto Untuk Batam Pos

Namun dengan pembenahan yang dilakukan manajemen BP Batam saat ini, Bambang yakin akan ada perubahan sehingga Komisi 6 DPR RI akan mendorong pemerintah pusat untuk segera mengucurkan anggaran pembangunan pelabuhan Batuampar.

Bambang memperkirakan total anggaran untuk membangun pelabuhan terbesar di Batam tersebut mencapai Rp 6 triliun. Dana tersebut sudah meliputi pembangunan dermaga curah, dermaga penumpang, terminal curah dan penumpang, termasuk juga proses pendalaman laut di sekitar pelabuhan tersebut.

Sebelumnya, DPR RI menolak rencana pembangunan Light Rail Transit (LRT) yang diajukan BP Batam karena biayanya terlalu mahal. Ia menyarankan agar BP Batam membangun kereta api gerbong untuk mobilitas dari pelabuhan dan bandara ke kawasan industri. Karena biayanya lebih murah.

“Transportasi berbasis rel hanya makan anggaran Rp 2 triliun. Rp 1,5 triliun saja bisa buat untuk 20 rangkaian dan 1 rangkaian terdiri dari 30 gerbong. Pengembangan transportasi juga harus memikirkan skala prioritas,” jelasnya.

Ia juga akan mencoba koordinasi dengan pihak terkait pipa gas yang banyak terdapat di bawah laut di pelabuhan tersebut. “Seharusnya pipa ditanam 5 meter di wilayah laut yang keras, bukan di dekat pelabuhan,” jelasnya lagi.

DPR RI berjanji akan membawa progres ini dimulai dari mempresentasikannya di depan Badan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Di tempat yang sama, Staff Ahli Deputi III BP Batam, Nasrul Amri Latif mengatakan BP Batam sudah melakukan banyak pembenahan hingga saat ini.

“Batam itu mimpi besar Indonesia. Tugas kami adalah membuat semuanya berjalan dengan baik dan merealisasikan pembangunan pelabuhan tersebut,” katanya.

Ia menuturkan sudah banyak aksi yang dibuat BP Batam untuk menata pelabuhan di Batam. Dimulai dari restrukturisasi manajemen, perbaikan sistem dan penetapan tarif baru untuk jasa pelabuhan.

Menanggapi hal ini, salah satu pengusaha pelayaran Batam, Osman Hasyim mengungkapkan hal yang bagus jika BP Batam berniat melakukan pembenahan.”Kita juga setuju, tapi mereka juga harus komunikatif,” ujarnya.

Jika komunikasi terjalin dengan baik, maka pihak pengusaha pelayaran berjanji akan membantu BP Batam untuk mencari investor.

“Untuk sekarang mari kita tunggu. Jangan hanya bicara soal pembenahan pelabuhan maupun bandara. Sekarang sudah banyak tenant kabur, jadi kita tunggu aksinya, terutama tarif pelabuhan  yang akan keluar 25 April nanti,” pungkasnya.(leo)

Kapal Cina Tangkapan TNI Kabur

0

batampos.co.id – Jajaran Pos Angkatan Laut (Posal) Jemaja, Anambas, berhasil menangkap kapal berbendera Cina di kawasan tersebut, Kamis (20/4). Namun jelang tengah malam, kapal yang diduga telah mencuri ‘harta karun’ berupa benda muatan kapal tenggelam (BMKT) di wilayah perairan Anambas tersebut kabur.

Hal ini disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, saat menggelar konferensi pers di rumah dinasnya di Jakarta, Jumat (21/4). Kata Susi, kapal tersebut merupakan kapal jenis grab hopper dredger atau kapal keruk.

“Beratnya sekitar 8 ribu GT (gross tonage),” kata Susi.

Namun Susi memastikan, 20 anak buah kapal (ABK) dari kapal tersebut sudah diamankan. Mereka terdiri dari 16 warga Cina, tiga warga India, dan satu warga Malaysia.

Susi menjelaskan kronologi penangkapan kapal tersebut. Pada Kamis (20/4) pagi, anggota Posal Jemaja, Anambas, menerima laporan adanya aktivitas kapal mencurigakan 45 mil dari Pos AL Jemaja.

Sebanyak empat anggota Posal Jemaja kemudian melakukan pengawasan dan akhirnya masuk ke kapal tersebut.

Sekitar pukul 18.30 WIB, sebanyak 20 kru kapal ditangkap. selanjutnya, tiga anggota Posal Jemaja membawa ke-20 ABK ke darat untuk dimintai keterangan. Sementara satu personel Posal Jemaja berjaga-jaga di sekitar lokasi sambil menunggu bantuan kapal perang untuk menarik kapal keruk tersebut.

Namun, saat kapal bantuan tiba pukul 23.30 WIB, kapal keruk tersebut sudah kabur. Dugaan sementara, nakhoda kapal bersembunyi saat personel TNI AL melakukan inspeksi dan melakukan penangkapan para kru kapal. Sehingga, saat matahari terbenam, kapal tersebut melarikan diri karena jarak ke perairan internasional hanya sekitar 5 menit saja.

’’Saat melakukan penangkapan, ABK di sana mengaku bahwa kapten sedang ada di darat. Jadi, kami merasa bahwa sudah aman sehingga kapal dibiarkan dijangkar sambil diawasi,’’ imbuh Wakil Kepala Staff AL (Wakasal), Laksda TNI Achmad Taufiq.

Dia mengakui, jumlah personel yang melakukan penangkapan terlalu sedikit. Sehingga penangkapan kapal keruk tersebut tidak berjalan dengan maksimal.

Taufiq menjelaskan, satu personel Posal Jemaja yang bertugas menjaga kapal di tengah laut hanya mengawasi dari kejauhan dengan menggunakan kapal nelayan. Sebab jika ditinggal di atas kapal keruk, justru akan lebih berbahaya.

Terkait penanggulangan, Direktur Jenderal Pengawasn Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Eko Djalmo, mengatakan pihaknya segera mengirimkan notice ke Interpol untuk membantu pengejaran terhadap kapal berbendera Cina itu. Pasalnya, laporan sementara dari pihak Posal Jemaja, ada sekitar seribu ton benda metal yang sudah berada di atas kapal.

’’Saat ini, 20 ABK sudah kami tahan yakni 5 di Tarempa dan 15 di Jemaja. Dan kami juga akan segera mengirimkan red notice agar Interpol bisa turun tangan,’’ tegasnya.

Memang, pihaknya belum mengidentifikasi apa sebenarnya yang diangkat oleh kapal tersebut. Namun, dia mencatat ada dua titik BMKT yang dekat dengan lokasi penangkapan kapal. Pertama, ada lokasi kapal Seven Skies, bangkai kapal kelas supertanker sepanjang 262 meter. Kapal asal Swedia yang tenggelam 1969 itu juga dikabarkan sempat dijarah pada 2015 lalu.

Yang kedua adalah titik BMKT Kapal Igara asal Jepang. Kapal yang tenggelam pada 1873 itu memuat 127 ribu ton bijih besi asal Brasil. Saat tenggelam, nilai kapal beserta muatan tersebut mencapai 25 juta dolar AS atau sekitar Rp 325 miliar.

Bahkan, pada 2005, perusahaan pengangkutan bangkai kapal International Cargo Recoveries Limited (ICRL) sempat mengambil 60 ribu ton bijih besi dan memperoleh pendapatan 2,5 juta dolar AS. Sehingga, saat ini masih ada lebih 60 ribu ton bijih besi yang tersisa di sana.

Sementara Panglima Armada RI kawasan Barat (Pangarmabar), Laksamana Muda (Laksda) TNI Aan Kurnia, memberikan keterangan yang berbeda. Menurut dia, kapal berbendera Cina itu ditangkap oleh Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) Lantamal IV Tanjungpinang.

Nama kapal tersebut Chuang Ho 68. Kapal tersebut diduga melakukan kegiatan ilegal eksploitasi bawah laut di perairan Anambas. Saat diamankan, kapal tersebut memuat besi dan tembaga campuran dari bawah laut seberat 1.000 ton.

Laksda Aan, mengatakan kapal tersebut ditangkap karena melakukan beberapa pelanggaran. Di antaranya, tidak dilengkapi dokumen resmi dari pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan mengenai izin kerja bawah air.

”Selain itu, tidak mengibarkan bendera Indonesia saat bekerja di wilayah perairan Indonesia serta kru kapal tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah,” ujar Aan, saat dikonfirmasi di Mako Lantamal IV Tanjungpinang, Jumat (21/4).

Dia membenarkan ada 20 kru kapal yang saat ini masih ditahan di Anambas.

“Semua kru nya warga negara asing. Operasional kapal tersebut pun langsung dihentikan,” kata Aan. (bil/ias)

Naomi Butuh Uluran Tangan

0
Kapolsek Batuaji, Kompol Sujoko, saat menyerahkan bantuan.
foto: dalil harahap / batampos

batampos.co.id – Naomi Kanza Yulia Rizal, 1, terbaring lemah di atas kasurnya di ruang bougenville Rumah Sakit Otorita Batam, Sekupang.

Disamping pembaringannya, Nuriah, sang nenek menemani. Sesekali, sarung yang dimenutupi tubuh cucunya ia perbaiki.

“Naomi sudah dirawat beberapa hari di sini (RSOB, red),” kata Nuriah memulai perbincangan, Sabtu (22/4).

Ia menceritakan sang cucu mengidap penyakit kelainan jantung. Penyakit tersebut sudah bersarang sejak Naomi belum genap satu tahun. Kondisi Naomi pun kian memperihatinkan.

Anak semata wayang, Ola Yulia ini hanya memiliki berat badan 3 kilogram. Tentu sangat memprihatinkan, melihat umur Naomi yang sudah setahun.

“Kondisinya seperti inilah. Naomi hanya bisa terbaring,” kata Nuriah sedih.

Nuriah yang ditemui di RSOB Sekupang, mengaku tak bisa berbuat banyak. Sebab tak memiliki biaya. Naomi juga tak memiliki kartu jaminan kesehatan seperti BPJS. Sehingga, segala biaya ditanggung sendiri. Sementara, menurut informasi dari dokter yang menangani cucunya, Naomi harus menjalani operasi. Operasinya pun bukan di Batam, melainkan harus ke Rumah Sakit Harapan Kita di Jakarta.

“Kami sendiri tak punya biaya. Biaya pengobatannya ini dari teman-teman ibunya Naomi,” ucapnya terbata.

Naomi di kasur.
foto: dalil harahap / batam pos

Kehidupan Naomipun semakin berat karena tak memiliki ayah lagi. Sebab, menurut pengakuan Nuriah, anaknya sudah bercerai dengan suaminya. Sedangkan Ola hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

“Gajinya tak seberapa. Hanya cukup buat makan saja,” ungkapnya.

Nuriah pun berharap ada uluran tangan dari masyarakat untuk meringankan beban mereka dalam pengobatan cucunya.

Sementara itu, Kapolsek Batuaji, Kompol Sujoko beserta rekan wartawan dan pewarta foto yang ada di Batuaji menyerahkan sedikit bantuan kepada Naomi. Bantuan tersebut diterima dan disambut baik oleh Nuriah.

“Bantuan ini tak seberapa, tapi semoga bermanfaat bagi Naomi,” ujar Eusibius Sara, salah satu wartawan yang menyerahkan bantuan. (cr19)