Rena dan Ayu, dua PSK tampil anggun menggunakan kebaya di perayaan hari Kartini di Aula Kecamatan Toapaya Asri, Jumat (21/4). F. Choky Nainggolan/batampos.
batampos.co.id – Dua perwakilan lokalisasi Bukit Indah Kilometer 24, yakni Ayu 22, dan Rena 20, berhasil memberikan tampilan memukau, yang mampu mencuri perhatian dari penonton yang hadir dalam acara fashion show yang digelar untuk menyemarakkan peringatan Hari Kartini di Kelurahan Toapaya Asri, Jumat (21/4).
Kedua dara manis ini tampil cantik dan anggun, dengan menggunakan kebaya merah dan kebaya putih, yang tampil percaya diri mengelilingi panggung dengan memperagakan berbagai gaya layaknya seorang model.
Meskipun belum meraih hasil maksimal dalam lomba yang digagas oleh Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kelurahan Toapaya Asri, namun kehadiran mereka berdua justru menjadi daya tarik tersendiri.
Sebab dari dari 16 peserta yang mengikuti lomba dari masing-masing perwakilan Rt se-Kelurahan Toapaya Asri, hanya mereka yang mendapatkan riuh dan tepuk tangan dari penonton yang hadir. Mungkin karena paras wajah yang cantik dibalut make-up wajah yang didesain sedemikian rupa, membuat kedua dara manis yang berpfofesi sebagai PSK itu tampil begitu anggun bak seorang Kartini masa kini.
Mereka berdua mampu bersaing dengan Kartini-Kartini lainnya dalam ajang fashion show tahun ini.
“Ikut meriahkan saja, karena Hari Kartini ini harus dijadikan
momen bagi kita perempuan Indonesia untuk terus berjuang membentuk karakter bagi anak-anak serta lingkungan kita,” ungkap Rena.
Menurut Ketua penggagas acara peringatan Hari Kartini yang juga Ketua TP PKK Kelurahan Toapaya Asri Herlin Primadona, selain acara fashion show yang diikuti perempuan dari masing-masing Rt se-Kelurahan Toapaya Asri, pihaknya juga menggelar lomba baca puisi yang diikuti belasan anak usia dini se-kelurahan.
“Kami sengaja menggelar acara fashion show kebaya, serta lomba
baca puisi untuk anak-anak usia dini. Tujuannya ya sesuai dengan momen Hari Kartini sekarang ini, supaya tauladan pahlawan perempuan bisa menular ke kita semua sebagai generasi penerus bangsa ini,” terangnya.
Ia menjelaskan tema yang diusung kali ini pun, tentunya dijadikan semangat Kartini untuk memperkuat daya cipta dan kreatifitas perempuan saat ini.
“Tentunya semangat Kartini perlu kita teladani, karena perempuan merupakan pejuang bangsa dan menjadi tonggak dalam memperkuat generasi penerus bangsa yang dimulai dari lingkup keluarga,” jelasnya.
Acara yang dimulai sejak pagi ini juga menghadirkan banyak hadiah menarik yang dibagikan untuk seluruh hadirin yang hadir dalam peringatan Hari Kartini tingkat Kelurahan Toapaya Asri.
“Diharapkan, tauladan pahlawan bangsa Raden Ajeng Kartini bisa
menular ke generasi bangsa saat ini khususnya mereka para
perempuan masa kini yang banyak berperan dalam membentuk karakter generasi muda bangsa Indonesia,” imbuhnya. (cr20)
Kapal Chuang Ho 68, berbendera China, yang diduga melakukan kegiatan ilegal eksploitasi bawah laut, diamankan di perairan Anambas, Tarempa, Kamis (20/4. F.Lanal Terempa untuk batampos.
batampos.co.id – Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) Lantamal IV, menangkap kapal Chuang Ho 68, berbendera China, yang diduga melakukan kegiatan ilegal eksploitasi bawah laut, di perairan Anambas, Tarempa, Kamis (20/4) malam. Saat diamankan terdapat barang-barang berupa besi dan tembaga campuran dari bawah laut seberat 1000 ton.
Penangkapan dilakukan tim WFQR di titik kordinat TW 0420.1830, disebelah barat Pos Angkatan Laut (Posal) Jemaja, Letung dengan jarak sekitar 45 mil.
Panglima Armada RI kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda (Laksda) TNI Aan Kurnia, kapal berbendera China tersebut melakukan beberapa pelanggaran diantaranya, tidak dilengkapi dokumen resmi dari Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan mengenai ijin kerja bawah air.
”Selain itu, tidak mengibarkan bendera Indonesia saat bekerja di wilayah perairan Indonesia serta kru kapal tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah,”ujar Aan, saat dikonfirmasi di Mako Lantamal IV Tanjungpinang, Jumat (21/4).
Dikatakan Aan, di dalam kapal dengan lambung berwarna putih itu dan anjungan berwarna orange tGT 8352 tersebut ditemukan sebanyak 20 orang kru dan terdapat barang bawah laut seperti besi dan tembaga campuran seberat 1000 ton. ”Semua kru nya Warga Negara Asing (WNA) dan sudah diamankan. Operasional kapal tersebut pun langsung dihentikan,”kata Aan.
Saat ini, sambung Aan, seluruh kru dan kapal tersebut diamankan menuju Posal Letung, Lanal Tarempa, guna pemeriksaan lebih lanjut. ”Diperiksa dulu disana, untuk proses hukum selanjutnya. Saya belum bisa menjabarkan keseluruhannya karena jajaran masih melakukan pemeriksaan mendalam,”pungkas Aan.(ias)
Warga korban banjir duduk diatas kursi saat banjir menggenangi rumahnya di dekat Kantor Lurah, Tanjunguncang, Batuaji, Jumat (21/4). Banjir hanya 30 menit sudah merendam rumah warga dan jalan raya. F. Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Belum tuntasnya penanganan banjir di Kota Batam, tidak lepas dari sistem drainase yang buruk. Harus ada perhatian serius dari dinas terkait. Sebab, permasalahan banjir menjadi penyakit kronis yang belum bisa teratasi sampai saat ini.
“Melihat kondisi Kota Batam saat ini harusnya kita sudah memiliki drainase besar yang membelah Kota Batam. Jadi ketika banjir, air hujan dari masing-masing daerah akan masuk ke saluran ini,” ujar anggota komisi III DPRD Batam, Dandis Rajagukguk, kemarin.
Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) memiliki peran sangat penting mengatasi banjir ini. Jadi, bila perencanaan ini diterapkan, maka bisa diketahui topografi dan ketinggian masing-masing daerah. Sehingga pembuatan sistem drainase induk ini bisa disesuaikan.
Permasalahan anggaran tentunya bisa saja diangsur-angsur. Asalkan ada kemauan pasti pembangunan drainase induk bisa diwujudkan.
“Tidak susah kok, hanya kemauan saja. Apalagi Batam daratannya tidak tebal dan luas. Maka ketika air masuk ke saluran induk ini, bisa dialiri ke pantai,” tuturnya.
Anggota Komisi III DPRD Batam, Muhammad Jefri Simanjuntak mengakui, Pemko Batam akan kesulitan untuk mengatasi hal ini. Karena, seluruh wilayah sudah tertutup pemukiman dan industri. “Selain sulit, memakan waktu dan anggaran yang cukup besar,” kata Jefri.
Jefri menyarankan, guna merampungkan masalah banjir, pemko harus bersinergi dengan BP Batam. Bila tidak segera diselesaikan, banjir akan menjadi permasalahan rutin. Beberapa wilayah yang berada di daerah rendah akan selalu menjadi langganan banjir.
Seperti diketahui, pemko Batam mengkucurkan Rp 43,5 miliar untuk program pengendalian banjir dan perbaikan jaringan pengairan di tahun 2017 ini. Anggaran ini dibagi per lima wilayah. Wilayah pertama Batuampar dan Bengkong Rp 10,2 miliar, wilayah dua Lubukbaja dan Batamkota Rp 8,098 miliar dan wilayah tiga, Seibeduk, Nongsa, dan Galang Rp 6,69 miliar.
wilayah empat Sagulung Rp 9,4 miliar dan wilayah lima Sekupang, Batuaji, dan Belakangpadang Rp 3,86 miliar. Untuk pemeliharaan rutin drainase Batam sendiri dianggarkan sebesar Rp2,22 milar. Sedangkan untuk penyusunan Detail Engineering Design (DED) drainase Kota Batam senilai Rp 2,52 miliar. (rng)
Organisasi sayap partai NasDem Garda Wanita Malahayati (Garnita) Kepri foto bersama usai nonton bareng (nobar) film Kartini di Studio XXI Mega Mall Batamcentre, Jumat (21/4). F. Dewi Socowati untuk Batam Pos.
batampos.co.id – Sosok Raden Ajeng Kartini memang sangat menginspirasi, khususnya pada hari kelahiran RA Kartini pada 21 April yang kini diabadikan sebagai Hari Kartini.
Dalam rangka memperingati jasa-jasa perjuangan sosok pahlawan nasional itu, Organisasi sayap partai NasDem Garda Wanita Malahayati (Garnita) Kepri menggelar nonton bareng (nobar) film “Kartini” yang diperankan oleh aktris ternama Dian Sastrowardoyo di Studio XXI Mega Mall Batamcentre, Jumat (21/4).
Para anggota dan pengurus (Garnita) Kepri bersama sejumlah kalangan tampak antusias menyaksikan film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu. Ketua Garnita Kepri, Bedi Dwika Wati ditemui Batam Pos mengaku terharu setelah selesai menyaksikan film Kartini.
“Saya sangat terharu dengan kisah ini, sampai hampir nangis, mungkin yang lain juga terharu saat menyaksikan film ini,” katanya.
Bedi Dwika Wati mengatakan nobar ini sengaja diadakan sebagai ajang silaturahmi, sosialisasi, dan
memaknai Hari Kartini dengan kerja nyata.
“Napak tilas membuka kembali sejarah perjuangan Kartini, diharapkan dengan menonton filmnya bisa memotivasi perempuan Indonesia, Kepri khususnya untuk terus berbuat dan lebih maju lagi untuk Indonesia,” katanya.
Selain itu, tambahnya, Nobar ini juga bentuk kecintaan terhadap produk film Indonesia.
“Dengan menonton film ini setidaknya masyarakat bisa tahu dan mengenal bagaimana perjuangan Kartini. Jadi lewat film ini bisa memberi sedikit pengaruh tentang kesetaraan kepada perlakuan perempuan Indonesia,” ujarnya.
Acara yang dilaksanakan dengan sederhana tapi penuh makna ini juga dijadikan ajang berkompetisi dengan dilakukannya lomba best kebaya, best kartini, best style, best make up, dan miss unique yang dilakukan secara spontan.
“Jurinya pengunjung lain yang hadir di sini, lomba ini kita lakukan dengan spontan, semoga kedepan kegiatan positif akan terus bisa kita buat dan bermanfaat untuk masyarakat sekitar,” ujar Ning Isbandian selaku koordinator acara nobar sekaligus Sekretaris Garnita Kepri. (iwa)
Direktur Politeknik Negeri Batam, Priyono Eko Sanyoto (kiri) bersama Kepala Pusat Layanan Autis Batam Riniatun melakukan penandatangan kerjasama terkait penelitian dan alat terapi bagi penyandang autis di Kampus Politeknik Negeri Batam, Rabu (19/4). F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Pusat Layanan Autis (PLA) Batam telah mengikat kerjasama dengan Politeknik Negeri Batam, Rabu (19/4). Kerjasama dalam hal penelitian dan produksi alat terapi autis ini berlangsung di Gedung Politeknik Negeri Batam, Batamcenter.
Direktur Politeknik Negeri Batam, Priyono Eko Sanyoto mengatakan telah berkunjung dan melihat fasilitas dan alat di PLA Batam. “Banyak alat yang sebenarnya sederhana, tapi kendalanya tidak diproduksi secara nasional,” kata Eko setelah menandatangani nota kerjasama.
Maka seharusnya, lanjut Eko mahasiswa Politeknik Batam bisa memproduksi dan ada alat atau temuan baru yang bisa diproduksi.
Kerjasama ini juga diharapkan bisa membantu PLA Batam yang terkendala kurangnya tenaga terapis. “Kita saat ini memang tidak bisa bantu dalam hal pemenuhan tenaga terapi, tapi hal ini bisa jadi alternatif penyelesainnya,” ungkapnya.
MoU ini memang berisi tentang kerjasama terkait penelitian mahasiswa dan cipta alat. “Tidak menutup kemungkinan, ke depan akan ada kerjasama dengan perguruan tinggi lain, dalam pemenuhan tenaga terapi di PLA Batam,” katanya.
Kepala PLA Batam, Riniatun merasa lega karena dapat bekerjasama dengan Politeknik selama 5 tahun ke depan. “Alhamdulilah, kami sudah jauh- jauh hari mempersiapkan kerjasama ini dan hari ini bisa berjalan lancar,” kata Rini.
Ada beberapa alat yang menjadi prioritas yakni alat terapi wicara dan alat fisioterapi yang dari merupakan produksi luar negeri. “Dari kerjasama ini, mudah-mudahan Mahasiswa Politeknik Negeri Batam bisa memproduksi dan bisa mengembangkan alat yang sudah ada,” harapnya.
Rini juga mengatakan mudah-mudahan dengan tenaga terapis terbaik yang ada saat ini dan kerjasama dengan Politeknik Batam, menjadi langkah awal dalam peningkatan kualitas untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Ke depan diharapkan kerjasama ini, bisa mendapatkan temuan baru dalam segi hal alat bantu terapi untuk anak-anak autis,” pungkasnya. (cr18)
batampos.co.id – Polisi tetapkan Ameng, Direktur PT Sere Trinitas Pratama (STP) sebagai tersangka kasus penggelapan uang muka konsumen perumahan Darussalam.
Pada Jumat (21/4) Ameng diserahkan pihak kepolisian ke kejaksaan negeri Batam.
Ameng diduga telah membuat nasib ratusan konsumen yang sudah bayar menjadi terkatung-katung.
“Benar sudah kami kirimkan tersangka beserta barangbuktinya, hari ini,” kata Ditreskrimum Polda Kepri Kombes Pol, Eko Puji Nugroho pada Jumat (21/4).
Eko mengatakan bahwa uang konsumen perumahan yang digelapkan oleh tersangka ini sebanyak miliaran rupiah. Dimana uang yang didapat tersangka dari penjulan 559 unit rumah di Perumahan Darussalam. Dari ratusan rumah itu, beberapa konsumen yang sudah membayar setengah dari harga rumah.
“Ada juga yang bayar sebesar 10 persen, dan 20 persen dari harga rumah,” ucapnya.
Walau sudah ada pembayaran uang muka dibayarakan oleh konsumen, perumahan tersebut baru dibangun sebanyak 70 unit saja. Berdasarkan hasil audit uang yang digelapkan tersebut pada kisaran Rp 16 miliar.
Eko mengatakan dari kasus ini masih ada satu orang tersangka lagi yakni Abdul Haq selaku Ketua Yayasan Darussalam Residence.
“DPO dia,” ungkap Eko.
Perumahan Darussalam ini bermotokan cicilan tanpa bunga. Dimana para konsumen dapat menyicil rumah, tanpa harus dibebankan bunga. Sehingga hal inilah menarik para konsumen untuk menyicil rumah tersebut. Tapi dalam perjalanannya uang yang distorkan para konsumen ini, tak disetorkan dengan pemilik yang membangun Perumahan Darussalam.
“Pelapornya adalah managemen PT STP yang baru, yang merasa sangat dirugikan dengan tindakan para tersangka,” ujar Eko. (ska)
batampos.co.id – Sebanyak 70 pelaku usaha pariwisata yang tergabung dalam Asosiasi Pelaku Usaha Pariwisata Indonesia (ASPPI) melakukan kunjungan kerja ke Bintan, Kamis (20/4).
Kunjungan kerja para pelaku usaha pariwisata ini bertujuan untuk melihat potensi destinasi pariwisata yang ada di Kabupaten Bintan, sekaligus mengenalkan gerakan kepariwisataan yang digagas oleh ASPPI, yakni Triangle Tourism Travel Mart (3TM).
“Lewat 3TM ini, ASPPI ingin mencoba menggali dan meng-explor pariwisata yang ada di propinsi Kepulauan Riau, khususnya Bintan, untuk dipromosikan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Kabupaten Bintan, Adi Prihantara, di Aula kantor bupati bintan.
Adi mengaku senang, Bintan bisa terpilih menjadi salah satu tujuan kunjungan bagi para pelaku usaha pariwisata. Kunjungan ini juga sekaligus sebagai bentuk ajang silaturahmi diantara Pemkab Bintan, dengan para pelaku usaha pariwisata.
Adi menjelaskan dalam meningkatkan pariwisata, tentunya perlu adanya sebuah media promosi yang baik dan terorganisir, seperti yang dilakukan oleh Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), yang memang didalamnya banyak pelaku usaha pariwisata dari berbagai kota di indonesia untuk dapat memberikan indormasi terkait destinasi-destinasi pariwisata yang ada di Kabupaten Bintan.
“Kunjungan ini sangat membantu Pemkab Bintan, untuk bisa mensukseskan program Pemerintah Pusat, dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Dimana capaian target Bintan, tahun ini (2017,red) sebanyak 350.000 kunjungan wisatawan,” terangnya.
Menurutnya kawasan pariwisata Bintan untuk pasar domestik saat ini memang belum banyak dikenal, karena selama ini target promosi yang dilakukan oleh pengusaha perhotelan di Kawasan Lagoi, kebanyakan dipromosikan di luar negeri. Maka dari itu Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, saat ini sedang menggenjot promosi khusus wisatawan domestik.
Adi berharap kedepan, dengan banyaknya pelaku-pelaku usaha pariwisata, seperti yang tergabung dalam Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI), Tentunya dapat memberikan nilai tambah kunjungan wisatawan yang akan berkunjung ke Bintan.
“Pemkab Bintan akan terus berupaya melakukan pembenahan terhadap destinasi-destinasi wisata yang masih butuh pembenahan, agar dapat dijadikan tujuan wisata. Terlebih bagi para wisatawan domestik yang akan berkunjung di pulau Bintan,” imbuhnya. (cr20)
Mustar, bersama keluarganya, tidur pulas di trotoar jalan depan Hotel Novotel Jl. R Soekamto Palembang.
Istri dan anaknya tidur di dalam gerobak yang dianggap sebagai rumah sekaligus tempat mereka mengantungkan nasib mencari barang bekas menyambung hidup hari demi hari.
Keluarga Besar Mustar mengaku terpaksa melakukan ini karena tuntutan ekonomi, mereka keliling mencari barang bekas kemana kaki melangkah, terkadang malam telah larut dan kaki tak sanggup untuk pulang ke rumah sewaan di daerah Kertapati mereka terpaksa bermalam di jalan.
Menjelang subuh mereka kembali kerumah karena kedua anaknya yang masih kecil harus sekolah di SDN 74 Kertapati Palembang.
batampos.co.id – Meskipun sejumlah anggota Komisi VI DPR RI meminta usulan kenaikan gaji pimpinan BP Batam, namun mereka tetap mendukung berbagai upaya BP membereskan persoalan lahan di Batam.
Salah satunya soal pencabutan izin alokasi lahan-lahan yang dibiarkan terlantar tak dibangun oleh pemiliknya. Anggota Komisi VI setuju keberadaan lahan-lahan terlantar itu ikut menambah lesu perekonomian Batam.
“Kesimpulannya, DPR RI dukung pencabutan lahan terlantar,” ujar Deputi II BP Batam, Junino Tjahja di kantor BP Batam setelah pertemuan dengan Komisi VI DPR RI, Kamis (20/4).
Tak hanya bertemu dengan BP Batam, anggota Komisi VI DPR RI juga menggelar pertemuan dengan Wali Kota Batam dan jajarannya. Pertemuan tersebut juga dihadiri Gubernur Kepri Nurdin Basirun, Wali Kota Batam Rudi, dan sejumlah pejabat lainnya.
Dalam pertemuan itu, Junino menjelaskan bahwa pihaknya memberikan pemaparan mengenai kondisi Batam saat ini. Potensi ekonomi yang mampu diraup tidak bisa dimaksimalkan karena Batam kekurangan lahan. Salah satu penyebabnya keberadaan lahan terlantar yang tak kunjung dibangun.
Selain mendukung pencabutan lahan tidur, pertemuan tersebut juga membahas mengenai tumpang tindih kewenangan antara Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan BP Batam. Junino menilai bahwa tumpang tindih itu bisa diselesaikan oleh pemerintah pusat.
“Lebih ke arah bagaimana memberikan solusi mengenai kewenangan,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Kepala BP Batam, Hatanto Reksodipoetro mengatakan dalam pertemuan ini pihaknya menjelaskan berbagai langkah yang mereka lakukan dalam membenahi Batam.
“Ada pertanyaan mengenai masalah lahan dan pelabuhan maka kami jelaskan. Soal perizinan juga,” jelasnya.
Di pelabuhan, BP Batam mencoba melakukan penegakan hukum untuk meningkatkan pendapatan. Kemudian di lahan, mereka mencoba menerapkan sistem online untuk penataan administrasi.
Ketua Komisi VI DPR RI, Teguh Juwarno juga mendukung BP Batam dan akan berupaya menyelesaikan persoalan Batam secara menyeluruh.
“Memang diperlukan ketegasan dari pemerintah pusat untuk selesaikan persoalan ini,” jelasnya.
Ia juga melihat BP Batam sudah melakukan upaya pembenahan. “Pembenahan akan kita dorong untuk hidup sehingga kinerja akan terus diperbaiki. Misalnya soal pendataan lahan yang amburadul,” katanya.
Sebelumnya Deputi III BP Batam Eko Santoso Budianto menyebutkan, saat ini lahan yang belum dialokasikan tersisa 900 hektare. Jumlah yang sangat sedikit. Sementara, ada 7.719,73 Hektare lahan terlantar yang belum dibangun. BP Batam ingin memaksimalkan lahan terlantar tersebut agar tidak menganggu pembangunan ekonomi Batam.
BP Batam telah melakukan pemanggilan terhadap 174 pemilik 192 titik lahan-lahan terlantar di Batam. Dan setelah diverifikasi maka delapan titik telah dibatalkan alokasinya. Sembilan titik akan dibatalkan untuk kemudian direalokasikan kembali ke pemilik awal dan dua titik akan dibatalkan.
ilustrasi lahan. foto: dalil harahap / batampos
“11 titik tercatat sedang progres pembangunan seperti Putera Sawang Industri, Rexvin Putera Mandiri, Cakrawala Utama Mandiri, Bumi Abadi Tegar, dan lainnya,” jelas Eko.
Kemudian 13 titik tengah dalam proses perizinan, 76 titik sedang dalam tahap tindakan evaluasi kelanjutan. Tindakan evaluasi kelanjutan ini bermakna lahan tersebut tengah dalam tahapan SP 1 hingga SP3. Lalu 42 titik belum punya Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dan ini terkait dengan praktek mafia lahan, dimana banyak lahan hutan lindung maupun area DPCLS (daerah penting dalam cakupan luas bernilai strategis) yang tidak boleh dialokasikan malah diberikan ke pengusaha oleh oknum pejabat BP Batam.
Terakhir ada 24 titik lahan masih dalam tahap sengketa. Dengan kata lain ini bagian dari praktik konspirasi mafia lahan dimana oknum pejabat BP Batam memberikan Penetapan Lokasi (PL) kepada berbagai pihak untuk satu titik lahan atau dua titik lahan dengan koordinat yang saling tumpang tindih. Dan ini merupakan warisan para pejabat BP Batam yang terdahulu.
“Ini jadi masalah kami musti menentukan siapa pemiliknya. Harus ada yang mengalah dalam hal ini dengan konsekuensi kami balikkan UWTO sesuai dengan areal lahannya yang tumpang tindih,” katanya.
Untuk sembilan titik lahan terlantar yang direalokasikan, BP Batam menggunakan pencabutan berskala prioritas. Dengan kata lain, pemilik lahan terlantar awal harus menerima ketentuan lahannya akan dicabut. Namun mereka diberikan prioritas untuk mengajukan kembali permohonan pengalokasian lahan.
Syarat-syaratnya adalah mengajukan permohonan kembali dalam tempo 10 hari setelah pencabutan izin alokasi lahannya. Jika diterima BP batam maka harus bayar Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) selama setahun.
“Kemudian harus buat rencanan bisnis dalam kurun waktu 3 bulan. Jika kami anggap masuk akal harus membangun dalam tempo waktu 6 bulan. Kami akan mengawasinya,” jelasnya. (leo)
batampos.co.id – Dua pegawai PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Telagapunggur-Batam, Fendy Rhofiek Nugroho dan Defi Andri, yang ditangkap pada Rabu (20/4) lalu mampu mengumpulkan uang pungli sebesar Rp 4 juta per hari. Uang hasil pungli itu diduga disetorkan ke atasan kedua pelaku.
“Mereka memberikannya setiap bulan. Saat ini masih kita dalami keterangan mereka terkait aliran dana itu,” ujar Kapolda Kepri Irjen Sam Budigusdian saat ekspos kasus tersebut di Mapolresta Barelang, Kamis (20/4) siang.
Uang tersebut dipungut dari sopir angkutan barang yang hendak menyeberang dengan kapal roll on-roll off (roro).
“Korbannya pihak ASDP sendiri dan juga masyarakat,” katanya.
Sam menjelaskan, kronologis penangkapan ini bermula dari informasi masyarakat bahwa telah terjadi indikasi pungli di Pelabuhan Penyeberangan Roro Telagapunggur. Dari informasi tersebut, kemudian dilakukan penyelidikan oleh Tim Saber Pungli.
“Sehingga pada hari Rabu tanggal 19 April 2017 sekira pukul 13.00 WIB, penyidik melakukan tangkap tangan terhadap Fendy setelah menerima uang dari saksi,” katanya.
Uang yang diserahkan saksi itu merupakan uang pembayaran tarif muat kendaraan yang sebelumnya telah masuk terlebih dahulu tanpa menggunakan tiket ke kapal roro KMP Lome tujuan Tanjungbalai Karimun. Selanjutnya, petugas menggeledah dan menemukan dokumen manifes dan laporan pendapatan yang tidak sesuai.
Selain itu, petugas juga menemukan uang hasil pungli selama sembilan hari, mulai dari 11 April sampai 18 April yang disimpan dalam berangkas sebesar Rp 37 juta. Artinya, rata-rata per hari kedua pelaku mampu mengumpulkan uang pungli sebesar Rp 4 juta. Kemudian petugas kembali melakukan pengembangan dan mengamankan supervisor pelabuhan penyebrangan, Defi Andri.
“Saudara Defi Andri ini merupakan atasan yang menyuruh (Fendy) melakukan pungli yang dimaksud,” tuturnya.
Para tersangka pungli di ASDP, Batam
Dari hasil penangkapan ini diamankan barang bukti berupa uang pembayaran dari saksi sebesar Rp 4.800.000 yang merupakan pembayaran dari saksi tanpa menggunakan tiket, Rp 3.352.000 yang merupakan pembayaran tidak menggunakan tiket, dan manifes kapal tujuan Tanjungbalai Karimun. Kemudian uang hasil pungli sebesar Rp 37.000.000 dan satu buah brankas penyimpanan uang.
“Saksi yang telah kita periksa sebanyak enam orang. Baik itu dari saksi penumpang maupun saksi penangkap. Uang sebesar Rp 37 juta itu didapatkan kedua tersangka selama sembilan hari,” katanya.
Lebih lanjut Sam mengatakan, modus operandi dalam melakukan praktik pungli itu ialah dengan cara menilai golongan kendaraan atau angkutan menjadi lebih tinggi dan memaksa pengguna jasa membayar sesuai keinginan dari oknum tersebut. Selain itu, kedua oknum itu juga melakukan modus dengan melaporkan jumlah pendapatan tiket yang tidak sebenarnya, dan kemudian dimuat di dalam manifes kapal.
“Jadi modusnya ada dua, yang pertama dengan menaikkan golongan kendaraan dan yang kedua dengan tidak melaporkan jumlah tiket yang sebenarnya,” terangnya.
Saat ditanya apakah uang hasil pungli itu mengalir ke atasan kedua pelaku, Sam mengaku belum bisa menjawabnya. Sebab, saat ini penyidik masih melakukan pengembangan terkait aliran dana kepada atasan mereka.
Sam menambahkan, kedua tersangka dikenakan pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 dan atau pasal 5 dan atau pasal 11 dan atau pasal 12 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tidak Pidana Korupsi.
“Hukuman penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp 200 juta dan paling banyak Rp 1 miliar,” imbuhnya.
Sumber Batam Pos menyebut, praktik pungli di Pelabuhan ASDP Telagapungur ini sudah berlangsung sejak lama. Para sopir angkutan barang yang hendak menyeberang dengan kapal roro terpaksa mengikuti permainan oknum ini supaya urusan mereka lancar.
“Sebab kalau tidak bayar, akan lama bisa masuk ke kapal roro,” kata sumber.
Pecat Pelaku Pungli
Kasus pungli di pelabuhan ASDP Telagapunggur membuat Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Hatanto Reksodipoetro, gerah. Dia meminta kedua pelaku dihukum dan dipecat.
“Pungli dia. Berhentikan saja. Kan sanksinya ada,” jelas Hatanto di Gedung BP Batam, Kamis (20/4).
Hatanto tidak ingin ada lagi praktik pungli ataupun korupsi terjadi di aset yang masih mereka kelola seperti Pelabuhan Telagapunggur. Meskipun ASDP adalah Persero yang tidak memiliki hubungan langsung dengan BP Batam, sekecil apapun tindakan negatif harus segera disingkirkan karena bisa merusak citra Batam di mata dunia luar.
Pria nomor satu di BP Batam ini mengambil contoh pembenahan yang sudah dilakukan BP Batam di Bandara Hang Nadim. “Sudah banyak pembenahan di bandara. Ada yang saya kembalikan ke Kementerian Perhubungan, ada yang saya turunkan pangkatnya, ada yang saya turunkan gajinya. Bukan baru sekarang saya lakukan pembenahan,” tambahnya.
Ia meminta ASDP segera melaksanakan prosedur yang berlaku. “Laksanakan saja. Kalau berbuat harus tahu konsekuensinya,” pungkasnya. (cr1/ska/leo)