batampos – Untuk pertama kalinya dalam lebih dari sepuluh tahun masa kepemimpinannya, Presiden Tiongkok Xi Jinping tidak menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS. Pertemuan yang berlangsung selama dua hari ini diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brasil, mulai Minggu (7/7), di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global.
Ketidakhadiran Xi berlangsung di saat yang cukup krusial bagi BRICS—yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Kelompok negara berkembang ini tengah berpacu menyusun strategi menyikapi rencana Presiden AS Donald Trump untuk menerapkan tarif tinggi per 9 Juli, serta dinamika baru akibat dukungan militer AS terhadap Israel dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Meski Xi tidak hadir secara langsung, Tiongkok tetap mengirimkan perwakilan resminya, yaitu Perdana Menteri Li Qiang. Para pengamat menilai bahwa absennya Xi tidak serta-merta menunjukkan penurunan komitmen Tiongkok terhadap BRICS.
“BRICS tetap menjadi instrumen penting dalam strategi Beijing untuk menghindari dominasi aliansi Barat yang dipimpin AS,” ujar Chong Ja Ian, pengajar di National University of Singapore, dikutip CNN pada Senin (7/7).
Namun, Chong juga menyampaikan bahwa dalam konteks saat ini, prioritas utama Xi tampaknya bergeser ke dalam negeri, terutama dalam upaya mengatasi berbagai tantangan ekonomi. Selain itu, dengan kemungkinan berkurangnya tekanan dari Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump, keterlibatan langsung Xi dalam forum BRICS menjadi kurang mendesak.
Minim Harapan Hasil Signifikan
Faktor lain yang turut memengaruhi keputusan Xi adalah rendahnya ekspektasi terhadap capaian konkret dalam KTT tahun ini. Xi sendiri telah mengadakan kunjungan bilateral ke Brasil pada November 2024 dalam rangka KTT G20 dan menerima kunjungan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva di Beijing pada Mei 2025.
“Diplomasi tingkat tinggi yang telah dijalankan sebelumnya mungkin menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menunjuk Li Qiang sebagai delegasi,” imbuh Chong.
Isu Dedolarisasi dan Energi
Di tengah tekanan internal seperti ketegangan dagang dengan Amerika dan persiapan pertemuan politik penting dalam negeri, Xi mempercayakan Li untuk memperkuat kemitraan energi dengan anggota BRICS penghasil minyak, sekaligus mendorong penggunaan yuan digital dalam transaksi internasional.
Brian Wong dari University of Hong Kong menegaskan bahwa ketidakhadiran Xi tidak semestinya diartikan sebagai pengabaian terhadap BRICS. Platform ini, menurutnya, tetap menjadi saluran strategis dalam upaya dedolarisasi global—terutama bagi negara-negara seperti Rusia dan Iran yang dikenai sanksi berat oleh AS.
Putin Juga Absen, Modi Jadi Sorotan
Selain Xi, Presiden Rusia Vladimir Putin juga tidak hadir secara fisik dalam pertemuan ini. Ia hanya berpartisipasi secara virtual mengingat status hukumnya di Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Sebagai negara penandatangan Statuta Roma, Brasil berkewajiban menahan Putin jika ia hadir secara langsung atas tuduhan kejahatan perang terkait invasi Ukraina.
Dengan ketidakhadiran dua pemimpin besar, perhatian publik dan media pun tertuju kepada Perdana Menteri India Narendra Modi, yang dijadwalkan hadir secara langsung dan menjadi salah satu tokoh sentral dalam pertemuan tersebut. (*)
Artikel Xi Jinping Tidak Hadir pada KTT BRICS pertama kali tampil pada News.

batampos – Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa posisi cadangan devisa nasional pada akhir Juni 2025 mengalami sedikit peningkatan menjadi USD 152,6 miliar dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar USD 152,5 miliar. Kenaikan tipis ini bersumber dari penerimaan negara melalui sektor pajak, jasa, dan hasil penerbitan surat utang global oleh pemerintah.


batampos – BP Batam kembali memfasilitasi pergeseran lima Kepala Keluarga (KK) terdampak pengembangan kawasan terpadu Rempang Eco-City ke hunian baru di Tanjung Banon, Kamis (3/7/2025).



batampos-Daihatsu kembali menyapa pelanggan setianya melalui Daihatsu Kumpul Sahabat Palembang yang digelar pada Minggu, 6 Juli 2025, di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan.
