
batampos – Kopi Ramu bukan sekadar bisnis minuman di kafe. Di balik cangkir-cangkir kopi yang disajikan, ada perjalanan transformasi dan makna hidup. Bagi Umar Patek, proyek ini adalah cara untuk menegaskan tekadnya untuk berubah dan memberi kontribusi positif bagi masyarakat. “Saya ingin menunjukkan bahwa saya telah berubah dan bisa memberi manfaat,” ujarnya saat peluncuran Kopi Ramu di Hedon Estate, Surabaya, Selasa malam (3/6).
Sebagai mantan narapidana kasus terorisme, kepercayaan masyarakat bukanlah sesuatu yang mudah diraih. Nama Umar sempat menghiasi daftar buronan internasional akibat keterlibatannya dalam tragedi Bom Bali I tahun 2002. Bahkan pemerintah Amerika Serikat pernah menawarkan hadiah hingga USD 1 juta bagi siapa saja yang bisa menangkap atau memberikan informasi tentang keberadaannya.
Namun hidup membawa babak baru ketika pada awal 2023, seorang dokter gigi bernama David Andreasmito mengunjungi Umar di kediamannya di Porong, Sidoarjo. Setelah beberapa kali ditolak saat menawarkan bantuan, pertemuan itu berubah arah ketika Umar menyuguhkan kopi rempah hasil racikan warisan ibunya. Aroma dan cita rasa unik kopi tersebut membuat David tertarik untuk mengembangkan bisnis bersama Umar.
Meracik Peluang dari Resep Ibu
Dalam dua tahun terakhir, Umar mengembangkan berbagai jenis kopi, termasuk kopi rempah yang menjadi ciri khasnya. Pria kelahiran Pemalang, 20 Juli 1966 ini mengaku sudah menyukai kopi sejak kecil. Melalui kerja sama dengan David, ia mendapatkan pelatihan dan bantuan modal, termasuk mesin pengolah kopi senilai Rp 260 juta.
Nama “Ramu” dipilih sebagai simbol perubahan. “Dulu saya merakit bom, sekarang saya meracik kopi,” kata Umar, mengungkap filosofi nama produknya. Kini, Kopi Ramu telah dipasarkan di beberapa kafe di Surabaya dan Banyuwangi, dengan biji kopi utama berasal dari Bondowoso.
Tak hanya dunia kopi, Umar juga menekuni fotografi makro, hobi yang ia temukan saat menjalani masa hukuman. Ia tertarik saat melihat tayangan televisi tentang fotografi makro menggunakan ponsel dan lensa tambahan. Kini, hasil fotonya sering ia unggah di Instagram pribadinya @umar.potret, menampilkan detail objek seperti serangga, bunga, dan lainnya.
Dukungan yang Tidak Disangka
David mengakui bahwa keputusannya untuk mendukung Umar lahir begitu saja, tanpa perencanaan panjang. Ia bahkan meminta bantuan temannya agar bisa bertemu langsung dengan Umar. Meski sempat mendapat pertanyaan dan kritik atas keputusannya, David tetap yakin. “Saya tidak takut manusia, saya hanya takut Tuhan,” katanya mengenang perbincangan mereka.
Setelah Umar menerima tawaran kerja sama, peran David lebih kepada manajemen dan pemasaran, sementara Umar fokus pada produksi. Semua produk kopi Umar dibeli David dan dijual di kafenya, tanpa niat mencari keuntungan pribadi. “Saya hanya ingin membuktikan bahwa orang bisa berubah, tidak peduli seburuk apa masa lalunya,” ungkap David.
Perubahan Umar juga mendapat pengakuan dari mantan Kepala Densus 88, Komjen Pol Marthinus Hukom. Ia menyampaikan bahwa begitu keluar dari penjara pada akhir 2022, Umar langsung menghubunginya untuk bertemu. “Saya ingin menebus masa lalu dengan menjalani sisa hidup yang lebih baik,” kata Umar dengan mantap. (*/Ramadhoni Cahya)
Artikel Dari Merakit Bom ke Meramu Kopi: Perjalanan Baru Umar Patek Menyapa Hidup pertama kali tampil pada News.




batampos – Kepala BP Batam/Walikota Batam, Amsakar Achmad, beserta keluarga melaksanakan shalat Idul Adha 1446 H/2025 M, pada Jumat (6/6/2025).



