
batampos – Kabar baik bagi para dosen yang ingin melanjutkan studi ke jenjang doktor. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) meluncurkan program beasiswa S3 yang memungkinkan para dosen tetap menjalankan tugas mengajar sambil berkuliah serta mempertahankan penghasilannya.
Program Beasiswa Doktor untuk Dosen Indonesia (PDDI) tahun 2025 ini menawarkan dua pilihan: skema single degree serta joint/double degree. Dengan skema ini, peserta dapat mengikuti perkuliahan di dalam negeri sekaligus memperoleh pengalaman belajar di luar negeri, sesuai kerja sama yang telah dijalin dengan universitas mitra.
Tersedia pula dua jalur studi, yakni program doktor berbasis riset (by research) dan berbasis perkuliahan (by coursework). Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa model by research memungkinkan dosen untuk tetap aktif mengajar tanpa harus meninggalkan kampus sepenuhnya. Dengan cara ini, pendapatan mereka tidak akan terganggu.
“Namun, beban mengajar akan disesuaikan agar tidak mengganggu proses perkuliahan maupun kegiatan riset mereka,” ujar Brian saat peluncuran resmi program di kantor Kemendikti Saintek, Jakarta, pada Minggu (2/6).
Mengatasi Kendala Finansial dalam Studi Doktoral
Brian mengungkapkan, salah satu alasan utama dosen enggan melanjutkan studi ke S3 adalah kekhawatiran terkait pendapatan yang berkurang. Untuk itu, Kemendikti telah melakukan koordinasi dengan para rektor universitas agar program ini bisa dilaksanakan secara fleksibel.
Ia mencontohkan, dosen dari wilayah Sumatera yang mengambil studi di ITB dapat menjalani sebagian besar penelitian di kampus asalnya, hanya perlu tinggal sementara di ITB selama satu hingga dua bulan. Skema ini dianggap realistis dan bisa dijalankan dengan baik.
Tak hanya menjamin penghasilan tetap, para dosen yang mengikuti program ini juga tetap bisa mempertahankan sertifikasi dosen (serdos) mereka. Tahun ini, tersedia kuota 1.100 penerima beasiswa, yang berpotensi ditingkatkan menjadi 2.000, jika kerja sama dengan LPDP disepakati.
Upaya ini penting mengingat jumlah dosen bergelar doktor masih minim. Dari 335.014 dosen di Indonesia berdasarkan data PDDikti, baru sekitar 25% (84.618 orang) yang berpendidikan S3. Sisanya, 75% (249.692 orang) masih berpendidikan Magister (S2).
Syarat Pendaftaran Beasiswa PDDI 2025
Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT) Kemendikti Saintek, Henri Tambunan, menjelaskan syarat umum pendaftaran beasiswa ini. Calon peserta harus merupakan dosen dari perguruan tinggi di bawah Kemendikti Saintek. Selain itu, pelamar wajib memiliki IPK minimal 3,25 pada jenjang magister (skala 4) dan telah mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) dari universitas tujuan. (*)
Artikel Kemendikti Saintek Luncurkan Program Doktor untuk Dosen Indonesia pertama kali tampil pada News.









