
batampos – Wukuf di Arafah pada 5 Juni mendatang makin dekat, tinggal seminggu lagi. Di balik persiapan pergerakan lebih dari 200 ribu jemaah haji Indonesia menuju Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), ada satu tantangan besar yang tidak bisa disepelekan: evakuasi jemaah haji di tengah kepadatan ekstrem, khususnya di kawasan terowongan Mina.
Kepala Satuan Operasional Armuzna, Kolonel Laut Harun Ar Rasyid, mengungkapkan bahwa sistem evakuasi jemaah di terowongan Mina harus dirancang seefektif mungkin. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan pergerakan ambulans dan padatnya jemaah.
“Ambulans memang ada di beberapa titik, tapi karena padatnya jemaah, ambulans tidak selalu bisa langsung bergerak membawa pasien ke rumah sakit. Dirawat di tempat dulu,” jelas Harun saat orientasi lapangan bersama tim PPIH Daker Madinah, Rabu (28/5) dini hari.
Oleh sebab itu, tim PPIH menggunakan sistem estafet evakuasi yang sudah terbukti ampuh pada penyelenggaraan haji tahun-tahun sebelumnya. Saat petugas di pos Ad Hoc atau Mobile Crisis Rescue (MCR) mendapati jemaah yang pingsan atau kelelahan, mereka akan melakukan penanganan cepat di lokasi terdekat.
“Jemaah yang mengalami masalah tidak langsung dibawa jauh-jauh, tapi ditangani dulu di pos ambulans terdekat. Kalau memang perlu penanganan lebih lanjut, baru diteruskan dengan estafet ke yang lain,” ujar Harun.
Untuk informasi, di Mina ada beberapa terowongan dengan masing-masingnya memiliki panjang minimal 1 km. Setelah itu ada ruang terbuka, dan beberapa memiliki jalur evakuasi yang bisa digunakan untuk ambulans berlalu lalang ke rumah sakit. Nah, di sana bisa leluasa apakah perlu mengambil alat bantu untuk dibawa ke tenda Misi Haji Indonesia atau lainnya.
“Selain ada ambulans dari teman-teman kesehatan, juga ada pelayanan kesehatan dari Kementerian Haji Arab Saudi,” jelasnya.
Orientasi lapangan itu dilakukan secara menyeluruh, termasuk menyisir lantai 3 Mina, yang tahun ini akan menjadi area kerja tim PPIH Daker Madinah. Petugas berjalan kaki dari tenda jemaah, melewati terowongan Mina, dan berhenti tepat di depan area Jamarat, tempat utama pelaksanaan lempar jumrah.
“Supaya tahu seperti apa medan sesungguhnya. Jadi, begiitu ada jemaah haji kita yang membutuhkan pertolongan atau terlepas dari rombongannya, kita bisa langsung memberikan pertolongan dan bantuan,” tegasnya.
Di sepanjang perjalanan, Harun menunjukkan titik-titik penting yang akan menjadi checkpoint selama proses puncak haji berlangsung. “Mulai dari pos Ad Hoc, MCR, hingga jalur-jalur kritis yang harus kita jaga bersama. Semua harus sudah hafal di luar kepala,” tegasnya.
Mengingat kepadatan ribuan jemaah pada 10 Dzulhijjah (6 Juni), terutama saat Jumrotul Aqabah, kesiapan mental, fisik, dan strategi petugas menjadi kunci. “Ini bukan hanya soal logistik atau fasilitas, tapi soal keselamatan nyawa. Kita harus all out,” kata Harun serius.
Dengan konsep estafet ini, Harun berharap seluruh tim bisa mengurangi potensi kemacetan evakuasi di jalur-jalur sempit Mina. “Dengan adanya orientasi ini. Kami harapkan petugas bisa mengantisipasi dan memitigasi untuk kegiatan-kegiatan yang akan kita laksanakan nanti,” tuturnya.
Di balik setiap langkah strategis ini, ada satu tujuan besar: memastikan seluruh jemaah Indonesia bisa menjalankan ibadah puncak hajinya dengan selamat, lancar, dan penuh khusyuk. (*)
Sumber: JP Group
Artikel Sistem Estafet Evakuasi Jadi Strategi Penyelamatan Jemaah Haji Saat Terowongan Mina Penuh Sesak pertama kali tampil pada News.









batampos – Daewoong Pharmaceutical, perusahaan farmasi asal Korea Selatan, secara resmi meluncurkan produk unggulan mereka, Nabota, di pasar estetika medis Indonesia melalui ajang WeSWAM 2025 yang berlangsung di El Royale Hotel, Bandung, pada 25–27 April 2025.
dan metode pengeringan vakum, yang memungkinkan tingkat kemurnian lebih dari 98%. Keunggulan ini mempercepat efek kerja produk dan menurunkan kemungkinan resistensi. Nabota telah mendapat persetujuan dari berbagai badan regulasi internasional termasuk FDA (Amerika Serikat), EMA (Eropa), Health Canada, dan BPOM Indonesia, serta kini digunakan di lebih dari 80 negara.