batampos – Orkes Melayu (OM) Lorenza tampil dalam event J-Fest Vol. 9 di Jatim International Expo, Surabaya, akhir Maret lalu. Penonton memenuhi venue, mengenakan dandanan jadoel, dan asyik berjoget santai menikmati suguhan lagu-lagu dangdut klasik yang dibawakan selama sekitar satu setengah jam malam itu.
Menariknya, bukan hanya generasi X (kelahiran 1965–1980) atau yang lebih senior dan generasi milenial (kelahiran 1981–1996), tapi juga banyak kawula muda usia belasan hingga 20-an tahun—generasi Z—yang larut dalam kemeriahan penonton OM Lorenza.
Penampilan mereka necis dan jadoel abis. Celana cutbrai, kemeja bermotif abstrak hingga berwarna cerah, sepatu pantofel, serta topi pet menjadi ciri khas. Beberapa di antaranya bahkan membawa radio usang yang dipanggul di bahu. Mereka berbaur dengan penonton dari generasi orang tua dan om-pakde mereka, larut berdendang dan berjoget bersama.
Salah satu penonton muda itu adalah Gilang Ahmad Ramadhan, remaja asal Lamongan yang kini duduk di bangku kelas XI SMA. Ia datang khusus ke Surabaya untuk menyaksikan penampilan perdana OM Lorenza di kota itu.
“Mungkin saya tergolong penggemar baru, setelah tahu dari TikTok. Tampilan unik dan musiknya yang asyik, itu yang bikin jatuh hati sama grup ini,” ungkapnya.
Hal serupa diungkapkan oleh Moch Rasya Aditya, yang datang bersama empat temannya dari Geluran, Sidoarjo. Mereka kompak berdandan ala fesyen jadoel.
“Sekarang usia saya baru 20 tahun. Memang belum lahir di era tenarnya dangdut klasik tahun 80-an, tapi vibe-nya beda. Seru! Jadi penasaran dan akhirnya nonton langsung ke sini,” kata Rasya yang juga penggemar dangdut.
Fenomena OM Lorenza menyebar cepat dari Sukoharjo ke kota-kota lain. Grup orkes Melayu asal Kampung Ngemul, Sidorejo, Bendosari, Sukoharjo yang terbentuk sejak awal 2000-an itu kini “terlahir kembali” di era media sosial.
Mereka membangkitkan kembali era dangdut jadoel, membangun nostalgia untuk penggemar lama sekaligus memperluas jangkauan fans lintas generasi.
Grup ini awalnya digagas oleh Budi Aeromax, lalu sejak 2012 dikelola oleh Murjiyanto. Dari panggung ke panggung di kampung-kampung, kehadiran OM Lorenza menjadi angin segar di tengah “gempuran” genre dangdut kekinian.
Yang jadoel kini justru menjadi pengalaman “baru” yang menarik perhatian. Irama kendang fiber, petikan mandolin, dan seruling bambu menghadirkan elemen dangdut klasik yang sarat nostalgia.
Lagu “Tambal Ban” oleh Usman Bersaudara yang kerap dibawakan OM Lorenza kembali viral di tahun 2024–2025. Lagu “Luntang-Lantung” oleh Latif M dan Rita Sugiarto, serta lagu-lagu Elvy Sukaesih dan raja dangdut Rhoma Irama yang mereka cover pun kian dikenal kalangan muda.
Aris Hidayat, salah satu penggemar OM Lorenza dari kalangan wong lawas, juga tak mau ketinggalan berjoget dan berdendang. Warga asal Babat, Lamongan itu secara khusus datang ke Surabaya untuk bernostalgia.
“Saya memang penggemar berat orkes Melayu. Salah satunya ya OM Lorenza ini. Serunya, mereka bisa ‘mengumpulkan’ penggemar dari beragam usia. Semuanya enjoy,” ujar Aris sambil berjoget.
Popularitas OM Lorenza bukan sekadar tren sesaat. Menurut Joko Lodank, salah satu personel sekaligus pengisi suara grup ini, basis penggemar mereka kini tumbuh pesat di berbagai daerah.
“Di Solo Raya, tempat kami berasal, ada beberapa komunitas fans militan. Mereka sering ikut kami sampai ke luar kota,” tuturnya.
Pasca libur Lebaran, jadwal manggung OM Lorenza makin padat. Mulai awal April hingga akhir bulan ini, hampir semua jadwal sudah penuh. Bahkan, jika lokasi berdekatan dan mudah diakses, mereka bisa tampil di lebih dari satu tempat dalam sehari.
Terjauh, kata Joko, mereka sudah manggung hingga ke Malang dan Jakarta. Ia menilai, kebangkitan orkes Melayu ini tak lepas dari kerinduan masyarakat akan era keemasan dangdut klasik.
“Banyak yang ingin bernostalgia. Tapi yang mengejutkan, banyak juga anak muda yang penasaran dan akhirnya jatuh cinta,” ujar Joko.
Mau menyaksikan keseruan mereka? Cek di youtube ya ….. (*)
Artikel Asyiknya Fans Lintas Generasi OM Lorenza pertama kali tampil pada News.