Batampos – Sebanyak 133 kardinal dari seluruh dunia berkumpul di Vatikan untuk mengikuti konklaf. Pemilihan Paus, kepala gereja Katolik dimulai Rabu (7/5/2025) hari ini.

Konklaf untuk memilih penerus Paus Fransiskus resmi dimulai sore waktu Vatikan. Para kardinal dari seluruh dunia akan menjalani proses pemilihan rahasia yang selama berabad-abad digunakan guna menentukan pemimpin baru bagi 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia.
Paus Fransiskus wafat sehari setelah Paskah, Senin, 21 April dalam usia 88 tahun. Kepergiannya memicu rangkaian prosesi dan ritus suci , termasuk sembilan hari masa berkabung dan berujung pada konklaf atau proses pemungutan suara tertutup dan rahasia.
BACA JUGA:
Ini Deretan Kardinal Kuat Calon Paus Baru Pengganti Paus Fransiskus
Dari total 252 kardinal, hanya yang berusia di bawah 80 tahun yang diperbolehkan ikut serta dalam konklaf. Kali ini, ada 133 kardinal yang memenuhi syarat untuk memilih. Meskipun ada batas usia, rata-rata usia peserta konklaf tahun ini tetap tinggi, yakni 70 tahun. Hanya 15 kardinal yang berusia di bawah 60 tahun, dan hanya satu orang yang usianya di bawah 50 tahun. Para kardinal ini berasal dari lebih dari 70 negara, termasuk 10 dari Amerika Serikat, dua dari Asia Tenggara, yakni Kardinal Tagle yang dicalonkan menjadi Paus dari Filipina, dan Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo dari Indonesia.
Sebelum konklaf dimulai, seluruh kardinal mengucap sumpah kerahasiaan, menyerahkan ponsel mereka, dan masuk ke dalam penginapan resmi di Vatikan. Selama konklaf berlangsung, mereka tidak memiliki akses ke televisi, surat kabar, internet atau bahkan ke luar basilika St Petrus. Mereka akan terisolasi di bagian dalam dan berkumpul di kapel Sistina sampai konklaf selesai.
Bagaimana Proses Pemungutan Suara dalam Konklaf?
Pemungutan suara pertama dilakukan pada Rabu sore di Kapel Sistina, tepat di bawah lukisan terkenal “Pengadilan Terakhir” karya Michelangelo. Untuk memilih paus baru, dibutuhkan dua pertiga suara dari total peserta.
Melansir Yahoo News!, jika tidak ada kandidat yang mencapai ambang batas tersebut dalam pemungutan suara pertama, para kardinal akan berhenti untuk hari itu dan melanjutkan kembali keesokan harinya. Dalam satu hari, akan dilakukan hingga empat putaran pemungutan suara, yang terbagi dua di pagi hari dan dua di sore hari. Demikian seterusnya hingga paus baru terpilih.
Setelah setiap pemungutan suara, surat suara akan dibakar. Asap yang keluar dari cerobong Kapel Sistina menjadi sinyal bagi dunia:
- Asap hitam berarti belum ada paus yang terpilih.
- Asap putih menandakan telah terpilihnya paus baru.
Asap berwarna tersebut dihasilkan melalui campuran bahan kimia yang ditambahkan saat pembakaran surat suara.
Dalam pemilihan kepala gereja Katolik dan Kepala Negara Vatikan ini, tidak ada batas waktu resmi dalam konklaf. Namun, konklaf dalam tiga pemilihan paus terakhir berlangsung cepat:
- Paus Fransiskus terpilih setelah lima putaran dalam dua hari.
- Paus Benediktus XVI terpilih setelah empat putaran dalam dua hari.
- Paus Yohanes Paulus II terpilih dalam delapan putaran selama tiga hari.
Secara hukum Gereja, siapa pun pria yang telah dibaptis sebagai Katolik Roma bisa menjadi paus. Namun, secara tradisi, paus selalu dipilih dari kalangan kardinal, terutama yang berasal dari Eropa.
Paus Fransiskus, yang berasal dari Argentina, merupakan paus pertama dari luar Eropa dalam lebih dari 1.200 tahun. Paus Fransiskus berdarah Italia. Meski pun begitu, hal ini memberi harapan bagi kandidat dari benua lain seperti Afrika dan Asia.
Konklaf dijalankan dengan kerahasiaan tinggi, prediksi siapa yang akan terpilih sangat sulit dilakukan. Namun, beberapa nama kardinal populer dari berbagai benua mulai disebut-sebut sebagai calon kuat penerus Paus Fransiskus, termasuk Kardinal Tagle dari Filipina. Siapa pun yang terpilih, pasti ada campur tangan Tuhan yang berkuasa. (*)
Reporter: CHAHAYA SIMANJUNTAK
Artikel Sebanyak 133 Kardinal Dunia Berkumpul di Vatikan, Konklaf Pemilihan Paus Baru Dimulai pertama kali tampil pada News.









