batampos – Partai Aksi Rakyat (PAP) kembali menegaskan dominasinya dalam perpolitikan Singapura sejak masa kolonial Inggris hingga kini. Dalam pemilu terbaru yang digelar Sabtu (3/5), partai yang dibentuk oleh tokoh besar Lee Kuan Yew tersebut kembali keluar sebagai pemenang tanpa tergoyahkan.
Menurut laporan The Straits Times edisi Minggu (4/5), PAP berhasil meraih 65,57 persen suara, meningkat dibandingkan perolehan sebelumnya yang sebesar 61,24 persen.
Dengan capaian ini, PAP yang kini dikomandoi oleh Perdana Menteri Lawrence Wong berhasil mengamankan 87 dari total 97 kursi parlemen. Kemenangan ini memberikan legitimasi politik yang kuat bagi Wong dalam debutnya sebagai pemimpin pemerintahan sekaligus ketua partai.
Sementara itu, Partai Pekerja mempertahankan jumlah 10 kursi parlemen, sama seperti dalam pemilu sebelumnya. Padahal, di tengah situasi global yang tidak menentu, tekanan ekonomi, serta kepemimpinan Wong yang masih terbilang baru (sekitar satu tahun menjabat), banyak yang memprediksi bahwa PAP akan kehilangan kursi.
“Ini menunjukkan bahwa rakyat masih menaruh kepercayaan pada pemerintah,” kata Wong dalam konferensi pers dini hari, dikutip dari AFP.
Daerah-daerah yang sempat diprediksi menjadi arena persaingan ketat—seperti Punggol GRC, Tampines GRC, dan Jalan Kayu SMC—semuanya berhasil direbut oleh PAP. Hasil akhir diumumkan sekitar pukul 23.00 waktu setempat (lebih cepat satu jam dari WIB). PAP juga sukses menang mutlak di East Coast GRC dan West Coast–Jurong West GRC, yang sebelumnya diperkirakan akan berlangsung sengit.
Wong menggantikan posisi Lee Hsien Loong—putra pendiri Singapura—pada Mei 2024. Sebelumnya, Wong menjabat sebagai Menteri Keuangan dan mendapat banyak pujian atas kontribusinya dalam mengelola tim penanganan Covid-19. Pemilu kali ini menjadi tantangan pertamanya sebagai pemimpin tertinggi negara, apalagi dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu dan meningkatnya dukungan untuk oposisi, khususnya dari kalangan pemilih muda.
Di masa mendatang, Wong akan dihadapkan pada berbagai tantangan berat, mulai dari tingginya biaya hidup, kelangkaan hunian, potensi resesi, hingga ancaman kehilangan pekerjaan akibat dampak perang dagang internasional, terutama yang disebabkan oleh kebijakan tarif tinggi dari Amerika Serikat.
Menurut Mustafa Izzuddin, akademisi dari Universitas Nasional Singapura, hasil pemilu ini mencerminkan keinginan rakyat akan stabilitas. “Pemilih sudah membuat keputusan mereka: mereka menginginkan kepastian, kesinambungan, dan memilih memberikan mandat kuat kepada PM Lawrence Wong,” jelasnya kepada CNN.
Sementara itu, analis dari Council on Foreign Relations, Joshua Kurlantzick, menilai kemenangan besar PAP tak lepas dari kecenderungan masyarakat untuk tetap memilih yang telah mereka kenal. “Di tengah gejolak global, rakyat memilih tetap berada di zona aman ketimbang mengambil risiko dengan partai baru,” tuturnya.
Ketua Partai Pekerja, Pritam Singh, menyampaikan ucapan selamat kepada PM Wong atas keberhasilan mengamankan mandat besar untuk lima tahun mendatang. Singh juga mengakui bahwa Pemilu 2025 merupakan pertarungan yang berat bagi partainya.
Dalam wawancara singkat di Pasar Eunos, Singh mengatakan bahwa sistem politik di Singapura memang menjadi tantangan besar bagi partai oposisi mana pun. Meski begitu, ia tetap bangga atas kerja keras timnya selama masa kampanye.
Dari Jakarta, Presiden Prabowo Subianto turut menyampaikan ucapan selamat kepada PM Wong dan menyatakan harapannya agar hubungan bilateral Indonesia-Singapura semakin diperkuat di bawah kepemimpinannya.
“Saya percaya pemerintahan baru ini akan melanjutkan kesuksesan dalam memimpin Singapura,” ujar Prabowo. (*)
Artikel Kemenangan Telak PAP dalam Pemilu Singapura 2025 pertama kali tampil pada News.









