
batampos – Serangan air keras yang dialami aktivis hak asasi manusia (HAM) Andrie Yunus dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menuai perhatian nasional hingga internasional.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam keras tindakan kekerasan tersebut dan menilai insiden itu tidak seharusnya dialami oleh seorang aktivis kemanusiaan.
Kecaman disampaikan oleh Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk melalui pernyataan yang diunggah di akun media sosial X milik UN Human Rights Office.
“Sangat prihatin atas serangan air keras yang mengerikan terhadap Andrie Yunus,” tulis Volker Türk dalam unggahannya.
Menurutnya, tindakan kekerasan terhadap aktivis HAM merupakan ancaman serius terhadap kebebasan sipil dan demokrasi. Karena itu, PBB menegaskan pelaku harus segera ditangkap dan dimintai pertanggungjawaban secara hukum.
“Mereka yang bertanggung jawab atas tindakan kekerasan pengecut ini harus dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.
PBB juga menekankan pentingnya perlindungan bagi para aktivis kemanusiaan seperti Andrie Yunus. Aktivis HAM dinilai memiliki peran penting dalam menyuarakan kepentingan publik dan memperjuangkan keadilan.
“Para pembela HAM harus dilindungi dalam menjalankan pekerjaan penting mereka dan dapat menyuarakan isu-isu kepentingan publik tanpa rasa takut,” lanjut Volker Türk.
Serangan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus terjadi pada Kamis (12/3) malam usai menghadiri diskusi bertajuk “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia.
Peristiwa tersebut terjadi di kawasan Jalan Salemba, Jakarta. Akibat serangan itu, Andrie Yunus mengalami luka pada sekitar 24 persen bagian tubuhnya.
Saat ini Andrie Yunus masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Kasus tersebut kini menjadi sorotan luas karena menyangkut keselamatan aktivis yang memperjuangkan isu-isu hak asasi manusia di Indonesia. (*)
Artikel PBB Kecam Serangan Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus pertama kali tampil pada News.






batampos – Menjelang arus mudik Lebaran, banyak warga yang meninggalkan rumah selama beberapa hari bahkan hingga lebih dari sepekan. Situasi ini membuat kendaraan yang tidak digunakan, termasuk sepeda motor, berpotensi mengalami penurunan kondisi atau menghadapi risiko keamanan jika tidak dipersiapkan dengan baik.


