Ikon Welcome to Batam yang mulai terhalang dengan bangunan ruko. F.Cecep Mulyana
batampos– Pemegang kebijakan di Kota Batam berencana memindahkan landmark ikonik “Welcome to Batam” (WTB) ke lokasi baru. Hal ini diungkapkan langsung oleh Wali Kota sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, Rabu (16/4).
Menurut Amsakar, saat ini keberadaan tulisan raksasa WTB sudah tidak optimal lagi dari sisi visibilitas. Hal ini disebabkan oleh pembangunan gedung-gedung yang menutupi sebagian besar tampilan landmark tersebut.
“Kalau dilihat sekarang sudah separuh tertutup, ada ketinggian gedung yang menutup,” ujarnya.
Untuk itu, pemerintah merencanakan pemindahan lokasi landmark ke kawasan sekitar Bandara Hang Nadim atau Telagapunggur. Lokasi tersebut dinilai lebih strategis dan representatif sebagai titik sambutan bagi para pendatang yang baru tiba di Batam.
“Itu ada di sekitaran bandara dan Punggur, dapat kita gunakan untuk Welcome to Batam,” kata Amsakar.
Tak hanya itu, landmark yang baru juga akan didesain lebih modern dan atraktif. Desainnya akan dibuat dalam empat hingga lima dimensi.
“Nanti dalam lima atau empat dimensi akan kita buat,” kata dia, memberi isyarat bahwa WTB baru akan tampil lebih futuristik.
Namun demikian, rencana ini belum bisa segera direalisasikan. Pasalnya, proyek tersebut belum masuk dalam skema anggaran BP Batam tahun ini.
“Soal realisasi itu sebenarnya tidak masuk dalam posting penganggaran kami sekarang,” katanya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa terdapat tujuh proyek di BP Batam yang saat ini masih “dibintangkan”. Istilah itu merujuk pada penundaan kegiatan karena menunggu kepastian ketersediaan anggaran dari APBN.
“Dibintangkan ini maksudnya jikalau ada tingkat urgensi kegiatan yang lain, maka yang di sana itu lebih dibutuhkan,” ujar Amsakar.
Meskipun begitu, pihaknya memastikan terus menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat guna mencari solusi terbaik agar proyek pemindahan landmark ini tetap bisa dipaksakan. (*)
Gedung Puskesmas Sungai Pelenggut yang sudah selesai dibangun. f. Eusebius Sara / Batam Pos
batampos – Gedung Puskesmas baru Sungai Pelenggut di Kecamatan Sagulung, Kota Batam, telah selesai dibangun. Namun hingga kini, fasilitas kesehatan tersebut belum juga beroperasi. Kondisi ini semakin menambah panjang daftar kebutuhan pelayanan kesehatan di kecamatan terpadat di Batam tersebut.
Saat ini, Kecamatan Sagulung hanya memiliki dua puskesmas aktif, yakni Puskesmas Sungai Langkai dan Puskesmas Sungai Lekop. Kedua puskesmas itu harus melayani seluruh warga Sagulung yang tersebar di beberapa kelurahan, sehingga menimbulkan antrean panjang dan beban kerja tinggi bagi tenaga kesehatan.
Masyarakat, khususnya yang tinggal di Kelurahan Sungai Pelenggut, sangat menantikan operasional puskesmas baru tersebut. Mereka berharap fasilitas itu bisa segera difungsikan untuk mengurangi beban dua puskesmas yang sudah ada dan mendekatkan akses layanan kesehatan bagi warga.
Irma, salah satu warga Sungai Pelenggut, menyampaikan keluhannya.
“Kami harus ke puskesmas di kelurahan lain. Jauh dan antreannya panjang. Kalau yang di sini cepat dibuka, kami sangat terbantu,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmajardi, menjelaskan bahwa Puskesmas Sungai Pelenggut belum bisa beroperasi karena masih dalam tahap pengadaan alat kesehatan dan perlengkapan lainnya.
“Karena sisa waktu di tahun ini kita gunakan untuk pengadaan alkes. Untuk gedung sudah selesai dibangun,” ujar Didi, Rabu (16/4).
Didi memastikan bahwa puskesmas tersebut akan mulai beroperasi pada awal tahun depan. Ia menyebut seluruh proses administratif dan pengadaan akan diselesaikan dalam beberapa bulan ke depan.
Sementara itu, Camat Sagulung, M. Hafiz Rozie, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengusulkan pembangunan satu puskesmas tambahan lagi di Kelurahan Tembesi. Menurutnya, idealnya setiap kelurahan memiliki satu puskesmas, mengingat jumlah penduduk Sagulung yang terus bertambah.
“Lahan untuk puskesmas di Tembesi sudah tersedia, tinggal menunggu persetujuan. Kami harap ini segera terealisasi,” ujarnya.
Dengan total penduduk terbanyak di Kota Batam, kebutuhan akan layanan kesehatan primer di Sagulung semakin mendesak. Pemerintah daerah didesak untuk mempercepat proses operasional puskesmas baru serta menambah fasilitas kesehatan lainnya di kawasan tersebut.
Warga berharap perhatian serius dari pemerintah untuk segera mengoperasikan Puskesmas Sungai Pelenggut serta mewujudkan tambahan puskesmas baru, agar pelayanan kesehatan di Sagulung bisa merata dan tidak menumpuk hanya di dua lokasi. (*)
Pasar seken meubel dan perabotan rumah tangga di Tembesi. Foto. Eusebius Sara/ Batam Pos
batampos – Pasar seken Tembesi, yang dikenal sebagai pusat jual beli furniture dan perabotan rumah tangga bekas, telah lama menjadi destinasi utama warga Batuaji dan Sagulung. Meski tidak sepopuler dahulu, pasar ini tetap bertahan dan menjadi yang terbesar di kawasan tersebut untuk kategori perabotan seken.
Pasar ini menawarkan beragam perabotan rumah tangga seperti kusen, pintu, lemari, sofa, hingga kasur. Semuanya dijual dalam kondisi layak pakai, bahkan sebagian besar telah melewati proses perbaikan sehingga tampak seperti baru. Tak heran bila pasar ini masih ramai dikunjungi, khususnya pada akhir pekan.
Lokasinya yang strategis, berada di dekat jalan R Suprapto Batuaji dan tak jauh dari kawasan Sentosa Perdana (SP) Plaza Sagulung, membuatnya mudah diakses oleh masyarakat. Kemudahan ini menjadi salah satu daya tarik utama pasar seken Tembesi.
Junaidi, seorang pedagang yang telah lama berjualan di pasar ini, mengatakan meskipun pasar tidak sebesar dulu, peminatnya tetap ada. “Sabtu Minggu atau akhir pekan pasti ramai. Sofa, kasur bahkan pintu rumah banyak yang beli di sini,” ujar Junaidi.
Ia menambahkan bahwa barang-barang yang dijual bukan sekadar bekas, melainkan telah diperbaiki agar layak pakai dan menarik secara tampilan. “Kalau pintu misalnya, kami amplas dan cat ulang. Sofa juga dibersihkan atau diganti pelapisnya kalau perlu,” ungkapnya.
Kualitas perbaikan ini menjadi nilai tambah tersendiri. Banyak pelanggan merasa puas karena mendapatkan barang berkualitas dengan harga jauh lebih murah dibanding produk baru. Harga yang terjangkau menjadi alasan utama pasar ini tetap diminati.
Anita, seorang pengunjung yang datang bersama keluarganya, mengaku sering membeli perabotan di pasar seken Tembesi. “Termasuk mesin jahit, saya beli di sini kemarin. Karena saya masih suka mesin jahit yang model lama. Begitu juga perabotan lain, sering beli di sini. Masih bagus kok,” kata Anita.
Menurutnya, selain lengkap, perabotan di pasar ini punya daya tahan yang baik. “Kadang barang-barang lama itu justru lebih awet. Tinggal kita pilih dengan cermat dan pastikan sudah diperbaiki,” tambahnya.
Di kawasan Sagulung dan Batuaji sendiri, ada beberapa pasar seken yang terkenal. Pasar Aviari dikenal khusus untuk pakaian dan aksesori bekas, sedangkan untuk meubel dan furniture, warga lebih memilih pasar seken Tembesi serta pasar seken Mandalay.
Keberadaan pasar-pasar seken ini menjadi solusi bagi warga yang ingin menghemat pengeluaran namun tetap mendapatkan barang rumah tangga yang berkualitas. Di tengah tekanan ekonomi, pasar seken seperti Tembesi justru semakin relevan dan dibutuhkan oleh masyarakat. (*)
batampos– Bupati Anambas, Aneng resmi melarang Pegawai Negeri Sipil (PNSatau ASN) untuk mutasi keluar atau pindah dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Anambas sejak 13 Maret lalu.
Hal ini ditegaskan Aneng dengan mengeluarkan Surat Edaran nomor 13 tahum 2025 tentang penghentian sementara permohonan pindah antar instansi di Pemkab Anambas.
“Ya kita hentikan sementara mutasi ASN keluar daerah dalam rangka melakukan penataan kembali pegawai kita,” ujar Aneng, Rabu, (16/4).
Berdasarkan hal ini, Aneng meminta kepada kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk tidak merespon permohonan ASN yang ingin mengajukan pindah keluar daerah.
“Sebelum berkas sampai di BKPSDM, saya larang kepala OPD jangan memberikan rekomendasi. Jadi, kita fokus dulu penataan pegawai agar pelayanan kepada masyarakat lebih maksimal,” kata Aneng.
Ditempat terpisah, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPKPSDM) Anambas, Nurgayah mengatakan sejak diterbitkan SE larangan mutasi keluar daerah, belum ada pegawai yang mengajukan permohonan pindah.
“Tidak ada yang mengajukan pindah keluar daerah. Karena sudah dilarang pimpinan (Bupati),” kata Nurgayah.
Ia mengungkapkan sebelum ada larangan dari Bupati Aneng, terdapat sejumlah pegawai yang sempat mengajukan permohonan pindah. Bahkan, Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Anambas saat itu, Redo Lithrony Forty Gray berhasil pindah ke Pemko Batam.
“Itu masih zaman pimpinan lama (Abdul Haris). Iya itu (pegawai) yang terakhir mutasi keluar. Kalau pegawai yang berkasnya masih proses, nanti tergantung dengan pimpinan saat ini, apakah setuju atau tidak,” jelas Nurgayah.
Saat ini, jumlah pegawai yang berdinas di Pemkab Anambas jumlahnya mencapai 2 ribu yang tersebar di setiap OPD.
“Banyak yang mutasi keluar dari pada mutasi masuk. Tentu hal ini membuat jumlah pegawai kita berkurang,” kata dia.
Ia, menambahkan, saat ini BKPSDM sangat terbuka jika ada pegawai dari luar daerah yang ingin mengabdi di Pemkab Anambas.
“Kalau ada yang mau mengabdi disini kita terima kok. Sejauh ini belum ada pegawai dari luar daerah yang konfirmasi ingin pindah ke Anambas. Tapi kita tetap terbuka, untuk menambah jumlah pegawai kita,” pungkas Nurgayah. (*)
Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kemenag Kota Batam, Syahbudi. Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos
batampos – Dua hari menjelang penutupan pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BIPIH) tahap kedua, sebanyak 151 calon jamaah haji asal Kota Batam belum juga menyelesaikan proses pelunasan. Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam mengimbau seluruh jamaah yang masuk dalam daftar pelunasan tahap kedua untuk segera melengkapi kewajiban administrasi tersebut.
Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Kota Batam, Syahbudi, menyampaikan bahwa pelunasan BIPIH tahap kedua ini dibuka sejak 24 Maret dan akan berakhir pada Rabu, 17 April 2025 pukul 15.00 WIB.
“Total kuota pelunasan tahap kedua untuk Kota Batam sebanyak 293 orang. Hingga hari ini (Senin, 15/4), baru 142 jamaah yang sudah melakukan pelunasan,” kata Syahbudi, Rabu (16/4).
Ia menjelaskan, pelunasan tahap kedua diperuntukkan bagi jamaah haji reguler yang termasuk dalam beberapa kategori. Pertama, jamaah yang gagal sistem saat proses pelunasan tahap pertama. Kedua, pendamping jamaah lanjut usia. Ketiga, penggabungan mahram seperti suami-istri, anak dan orang tua kandung, maupun saudara kandung yang terpisah. Keempat, pendamping jamaah disabilitas. Terakhir, adalah jamaah cadangan jika masih tersedia sisa kuota.
“Dari total tersebut, tercatat 11 jamaah merupakan kategori gagal sistem, 28 orang pendamping, dan 254 jamaah merupakan calon haji cadangan,” ujarnya.
Syahbudi menekankan pentingnya pemahaman bagi jamaah cadangan yang ingin melakukan pelunasan. Mereka wajib memenuhi syarat istitaah atau kemampuan secara kesehatan dan melapor ke Kemenag untuk membuka blokir data di sistem Siskohat. Selain itu, jamaah juga harus menandatangani surat pernyataan bersedia berangkat jika mendapatkan kuota.
“Setelah pelunasan dilakukan, jamaah wajib segera menyerahkan bukti pelunasan ke Kantor Kemenag Kota Batam agar proses selanjutnya dapat berjalan lancar,” tambahnya.
Dari grafik perkembangan pelunasan, terlihat bahwa antusiasme pelunasan tinggi terjadi pada 25 dan 26 Maret 2025, masing-masing sebanyak 44 dan 32 jamaah. Namun, tren kemudian menurun drastis hingga hari-hari terakhir pelunasan. Per 15 April 2025, hanya tercatat nol pelunasan.
Kemenag berharap seluruh jamaah yang masuk dalam daftar tahap kedua bisa segera menyelesaikan kewajibannya agar dapat diberangkatkan ke Tanah Suci tahun ini. “Waktu hanya tinggal dua hari. Kami minta semua yang belum lunas segera datang ke bank dan menyelesaikan prosesnya,” tegas Syahbudi. (*)
batampos – Meski momen Lebaran kerap dimanfaatkan masyarakat untuk mencoba peruntungan di kota industri seperti Batam, lonjakan jumlah pencari kerja dari luar daerah belum terlihat signifikan hingga pertengahan April ini.
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam mencatat, sepanjang 9 hingga 14 April 2025, hanya 61 orang ber-KTP luar Batam yang mengurus kartu pencari kerja (AK1) di kantor Disnaker. Jumlah ini menurun drastis dibandingkan awal tahun. Pada Januari tercatat 275 orang, Februari 209 orang, dan Maret 120 orang.
“Sampai 14 April baru tercatat 61 orang yang mengurus AK1 dengan KTP luar Batam. Angka ini masih rendah, jadi belum bisa disimpulkan terjadi lonjakan pasca-Lebaran,” ujar Kepala Disnaker Kota Batam, Rudi Sakyakirti, Rabu (16/4).
Ia menyebutkan, pencari kerja dengan KTP Batam umumnya mengurus AK1 di kantor kecamatan sesuai domisili, sementara mereka yang ber-KTP luar Batam dilayani langsung di kantor Disnaker.
Rudi menduga, sebagian besar pencari kerja dari luar daerah sudah membawa AK1 dari kampung halaman masing-masing sebelum merantau ke Batam. Namun, pihaknya tetap akan melakukan pengawasan lebih ketat ke depan, terutama untuk pencari kerja non-KTP Batam.
“Ke depan, pelayanan bagi pencari kerja non-KTP Batam akan kami perketat. Saat ini kami menunggu terbitnya Perwako dari Provinsi Kepri yang akan mengatur lebih rinci pembatasan tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan, sesuai rencana, pelayanan AK1 hanya akan diberikan kepada warga luar Batam yang telah berdomisili di kota ini minimal satu tahun, dibuktikan dengan surat keterangan dari RT/RW setempat.
Meski demikian, secara keseluruhan jumlah pencari kerja di Batam memang meningkat. Pada Triwulan I 2025, tercatat 6.101 orang mendaftar sebagai pencari kerja, naik 8,02 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pencari kerja laki-laki mendominasi dengan 3.173 orang, sementara perempuan sebanyak 2.928 orang.
Kecamatan Sagulung menjadi wilayah dengan jumlah pencari kerja terbanyak, yakni 1.467 orang. Sementara 603 di antaranya berasal dari luar Batam.
Rudi memastikan, ketersediaan lapangan kerja di Batam tetap terbuka. Sejak awal April, 26 lowongan kerja telah diinformasikan ke Disnaker, baik untuk posisi operator maupun jabatan manajerial, teknis, akuntansi, dan administrasi.
“Perusahaan besar di Muka Kuning juga sedang mempersiapkan rekrutmen besar-besaran sekitar Juni nanti, dengan estimasi kebutuhan sekitar 1.700 tenaga kerja,” tutup Rudi. (*)
Jalan rusak menuju Kantor Kecamatan Sagulung mulai diperbaiki. f. Eusebius Sara / Batam Pos
batampos – Setelah sekian lama dikeluhkan warga, perbaikan jalan rusak menuju Kantor Kecamatan Sagulung yang dikenal dengan nama Jalan Puteri Hijau akhirnya mulai dikerjakan. Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Batam turun langsung ke lapangan untuk memulai proses perbaikan pada ruas jalan yang selama ini dipenuhi lubang dan membahayakan pengendara.
Pengerjaan tahap awal dimulai dengan proses penimbunan lubang-lubang besar yang tersebar di sepanjang jalan. Setelah itu, dilakukan pelapisan ulang dengan aspal tambal guna memperbaiki permukaan jalan agar kembali rata dan aman dilalui.
Proyek perbaikan ini dimulai dari simpang empat Puteri Hijau yang terhubung langsung dengan Jalan R. Suprapto. Di lokasi tersebut, saat ini juga sedang berlangsung proyek pelebaran jalan yang menjadi bagian dari pengembangan infrastruktur wilayah Sagulung secara menyeluruh.
“Pengerjaan kita targetkan selesai hari ini karena hanya fokus pada penambalan jalan berlubang. Kalau cuaca mendukung, semua bisa rampung lebih cepat,” ujar seorang pekerja yang ditemui di lokasi, Rabu (16/4).
Perbaikan ini tak hanya sebatas tambal sulam, tetapi juga menjadi bagian dari rencana besar normalisasi drainase di kawasan tersebut. Camat Sagulung, M. Hafiz Rozie, mengatakan bahwa proyek ini merupakan respons pemerintah terhadap usulan masyarakat yang sudah lama mengeluhkan kondisi jalan dan sistem saluran air yang buruk.
“Ini akomodasi dari aspirasi warga. Jalan ini memang butuh perbaikan, dan drainasenya juga harus dibenahi. Ini penting untuk mencegah banjir yang sering terjadi saat musim hujan,” jelas Hafiz.
Menurutnya, proyek ini dilaksanakan secara bertahap menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran pemerintah daerah. Meskipun tidak bisa sekaligus selesai dalam waktu singkat, namun progres perbaikan akan terus dipantau hingga tuntas.
Selain itu, Hafiz juga mengimbau masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan, terutama agar tidak membuang sampah sembarangan. Hal ini penting agar saluran air yang sudah diperbaiki tidak kembali tersumbat.
“Kalau masyarakat tidak membuang sampah sembarangan, maka kerja perbaikan drainase ini tidak sia-sia. Kita butuh dukungan dari semua pihak agar hasil pembangunan ini bisa dirasakan jangka panjang,” tambahnya.
Dengan dimulainya perbaikan Jalan Puteri Hijau, masyarakat Sagulung kini bisa mulai berharap pada kenyamanan berkendara yang lebih baik serta lingkungan yang lebih tertata. Pemerintah pun berharap sinergi antara warga dan aparat dapat mempercepat pembangunan di wilayah ini. (*)
Sekertaris Daerah Kabupaten Lingga melakukan rapat koordinasi dengan beberapa Kepala OPD membahas persiapan pelaksanaan MTQH Ke XI Tingkat Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2025, Senin (14/4). F. Vatawari/BATAM POS
batampos– Kabupaten Lingga menjadi tuan rumah dalam perhelatan Akbar Musabaqoh Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) yang ke XI tingkat Provinsi Kepulauan Riau tahun 2025. Untuk mempersiapkan segala sesuatunya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lingga melakukan rapat koordinasi bersama beberapa Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk membahas berbagai bentuk persiapan nantinya. Rapat koordinasi ini dilaksanakan di Ruang Rapat VIP Kantor Bupati Lingga pada Senin (14/4).
Pelaksanaan rapat koordinasi ini dipimpin langsung oleh Sekertaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lingga, Armia dan dihadir oleh beberapa Kepala OPD yang bersangkutan.
Saat dikonfirmasi Batampos, Sekda Kabupaten Lingga, Armia mengatakan dalam rapat koordinasi ini ada beberapa hal yang menjadi pokok pembahasan yang harus dipersiapkan sebagai tuan rumah dalam pelaksanaan MTQH Ke XI Tingkat Provinsi Kepri nantinya.
“Memang benar, pada Senin 14 April 2025 kami telah melakukan rapat koordinasi dengan beberapa kepala OPD. Dalam rapat tersebut kami membahas berbagai hal teknis untuk pelaksanaan MTQH Tingkat Provinsi Kepri nantinya,” ujar Armia, Selasa (15/4).
Armia mengungkapkan, ada beberapa hal yang menjadi pokok pembahasan pada rapat koordinasi ini mulai dari kesiapan tranportasi bagi para kafilah, kesiapan tempat penginapan hingga lokasi acara yang kondusif.
“Sebagai tuan rumah, kita harus memastikan para kafilah yang datang dari berbagai kabupaten/Kota merasa nyaman selama berada di kabupaten Lingga. Mulu dari tempat tinggal mereka, transportasi mereka hingga lokasi acara harus dipersiapkan secara matang,” ungkapnya.
Selanjutnya, Sekda Lingga menambahkan tidak hanya persiapan teknis, kita juga membahas terkait kesiapan peserta dari kafilah kita sendiri untuk bertanding pada kegiatan MTQH Ke XI Tingkat Provinsi Kepri tahun 2025 nantinya.
“Dari hasil rapat koordinasi ini, kita akan melakukan Pemusatan Latihan (TC) bagi peserta kafilah Kabupaten Lingga untuk menghadapi pertandingan nantinya. Sebagai tuan rumah peserta kita harus siap semaksimal mungkin untuk bertanding,” tambah Armia.
Armia menjelaskan untuk waktu pelaksanaan MTQH Ke XI Tingkat Provinsi Kepri Tahun 2025 Pemkab Lingga masih menunggu informasi dan rapat koordinasi dengan LPTQ Provinsi Kepri terkait waktu yang pasti untuk kegiatan ini. (*)
Calon penumpang di Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang, Rabu (16/4). F. Mohamad Ismail/BATAM POS
batampos– Pesawat Garuda tujuan Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang, menuju Bandara Soekarno Hatta Jakarta menunda keberangkatan. Hal ini, disebabkan ban depan pesawat Boeing 737 tersebut mengalami kerusakan.
Ban depan pesawat tersebut diduga copot saat melakukan pendaratan atau lending di Bandara RHF Tanjungpinang, pada Rabu (16/4) sekitar pukul 08.30 WIB. Kendati demikian, semua penumpang dengan total 163 orang mendarat dengan selamat.
“Bahkan secara umum penumpang yang datang, tidak terlambat dan semuanya dalam kondisi aman,” kata Pejabat pengganti sementara GM Bandara RHF, Zaini Ahmad.
Pesawat tersebut, harusnya kembali melakukan penerbangan ke Jakarta pada pukul 09.20 WIB. Karena insiden tersebut, Pesawat Garuda yang direncanakan membawa 106 penumpang dari Bandara RHF itu, terpaksa melakukan penundaan penerbangan atau delay.
Terlebih, pesawat ini harus melakukan perbaikan. Bahkan, kata dia pihak Maskapai Garuda masih menunggu kedatangan sparepart untuk memperbaiki ban depan pesawat, yang mengalami kerusakan tersebut.
“Belum bisa pastikan lepas atau pecah, karena masih investigasi oleh pihak Garuda,” tambahnya.
Sementara itu, General Manager Garuda Indonesia Tanjungpinang, Ikhsan mengatakan ada sebagian penumpang Garuda tujuan Jakarta yang diterbangkan menggunakan maskapai Batik Air.
Kendati demikian, dirinya mengaku belum mendapatkan data pasti jumlah penumpang yang diberangkatkan menggunakan Batik Air. “Ada beberapa yang berangkat menggunakan maskapai lain dan berapa yang masih menunggu,” sebutnya.
Selain mencarikan alternatif, penumpang yang masih menunggu tetap mendapat kompensasi berupa makan siang, voucher, cemilan dan uang berjumlah Rp300 ribu.
“Tapi untuk proses penerbangan, kami masih harus menguji dulu. Kalau lebih dari 4 jam delay, akan mendapat kompensasi,” pungkasnya. (*)
Di tengah derasnya arus modernisasi, masih terdapat profesi klasik yang kini cukup langka. Meskipun kini jarang ditemui, profesi juru kisah, masih tetap bertahan di tengah gemuruh perubahan zaman. Juru kisah tetap setia merangkai kata demi kata, kemudian menyampaikannya melalui tutur lisan.
***
Juru kisah Amrie Poerbha Yogya Sayektie atau Kak Aam saat berkisah di SMPN 8 Tanjungpinang. F. Dokumentasi pribadi Kak Aam
Juru kisah merupakan profesi klasik sebagai penjaga cerita, pewarta masa lalu dan pengikat ingatan kolektif yang disampaikan dari mulut ke mulut. Melalui kata-kata, intonasi, dan ekspresi.
Profesi juru kisah menghadirkan banyak manfaat. Selain melestarikan budaya, juru kisah juga melatih daya dengar, imajinasi, hingga empati para pendengarnya.
Dalam dunia pendidikan, kisah-kisah yang disampaikan juru kisah, dapat membantu pendengar terutama anak-anak, agar memahami nilai moral dan sejarah dari cerita dengan cara yang menyenangkan.
Di balik kata dan suara yang merdu, para juru kisah memainkan peranan penting dalam melestarikan tradisi tutur lisan serta sejarah yang tak tertulis. Juru kisah tidak hanya pencerita, melainkan penjaga warisan budaya bercerita yang telah ada sejak lama.
Meskipun saat ini, zaman telah berubah dan semakin berkembang, peran juru kisah tetap relevan sebagai media penyampaian identitas, budaya dan karakter masyarakat serta kisah-kisah inspiratif lainnya.
Di berbagai daerah di Indonesia, juru kisah dikenal dengan sebutan yang bervariasi, seperti pendongeng, pengisah, atau tukang cerita. Profesi ini telah ada dari generasi ke generasi dan kerap menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Melalui cerita-cerita rakyat, legenda dan kisah sejarah serta kisah inspiratif islami, juru kisah mengajak pendengarnya untuk merenungi nilai-nilai kehidupan, keberanian, serta kearifan lokal.
Para juru kisah terbiasa menggabungkan seni retorika, ekspresi wajah, dan gestur tubuh yang dinamis. Menggunakan teknik verbal sehingga cerita yang disampaikan menjadi lebih hidup dan bermakna. Setiap intonasi dan jeda berbicara, merupakan hasil latihan tutur lisan yang mendalam.
Selain itu, keharmonisan dan kekuatan cerita yang disampaikan, menjadi magnet tersendiri yang mampu membawa pendengar terhanyut dalam kisah-kisah yang penuh inspirasi.
Meskipun mempunyai peran penting, profesi juru kisah kini menghadapi tantangan di era digital dan modernisasi. Minat masyarakat yang kini tergoda oleh hiburan modern seperti film, serial televisi, dan media sosial, membuat tradisi tutur lisan, harus bersaing dengan gaya hidup masa kini.
Para juru kisah pun mendapatkan tantangan tersendiri dan mendapati bahwa perannya, harus bertransformasi dan mengikuti perkembangan zaman, agar profesi yang dijalani, tetap bertahan dan menarik bagi generasi muda.
Beberapa juru kisah kini mulai mengadopsi teknologi dalam menyampaikan kisah. Juru kisah masa kini, memanfaatkan media digital atau media sosial untuk merekam cerita, menghadiri workshop literasi digital dan bahkan mengadakan pertunjukan virtual.
Bercerita Membangkitkan Imajinasi Pendengar Salah seorang juru kisah di Tanjungpinang yakni Amrie Poerbha Yogya Sayektie, 41 mengatakan juru kisah, pendongeng atau pencerita, merupakan salah satu profesi yang saat ini cukup langka dan kini jarang ditemui.
Juru kisah bukan hanya sekadar bercerita dan menyampaikan narasi. Tetapi soal bagaimana membangkitkan imajinasi pendengar terutama anak-anak, terkait cerita yang disampaikan dengan cara yang hangat dan menarik.
Menurut juru kisah yang akrab disapa Kak Aamiin ini, bercerita sambil berdakwah, juga dapat memotivasi anak-anak menjadi lebih baik dan islami. Belajar sambil bermain, apalagi belajar sambil mendengarkan cerita inspirasi, merupakan sebuah motivasi bagi anak-anak atau siapapun.
Kak Aam yang juga berprofesi sebagai pendakwah ini mengaku, berkisah atau bercerita menjadi sarana dakwah yang menyenangkan. Bercerita dapat menyampaikan ajaran agama atau nilai-nilai kebaikan kepada anak-anak.
“Anak-anak atau orang dewasa sekalipun dapat mencerna pesan-pesan yang positif dari sebuah cerita atau dongeng yang dikisahkan oleh juru kisah,” katanya kepada Batam Pos.
Menurut pendapat Kak Aam, juru kisah juga mampu membentuk anak yang berakhlak dan berkarakter. Melalui sajian kisah islami seperti kisah nabi, kisah di Alquran serta cerita fiksi Islami, dapat memotivasi anak-anak sehingga dapat membentuk karakter yang baik.
Menurutnya, kisah Islami juga meningkatkan keimanan anak-anak. Sehingga bercerita juga menjadi sarana komunikasi yang positif bagi orang tua untuk menyampaikan pesan moral kepada anak-anak. Menjadi motivasi untuk menyiapkan masa depan anak-anak.
“Bahkan anak-anak dapat mencontoh serta mengubah perilakunya secara positif dalam keseharian,” ujar Kak Aam.
Meskipun dihadapkan pada tantangan zaman, profesi juru kisah tetap berdiri teguh sebagai pilar penyampaian informasi yang positif. Dengan mengedepankan keaslian, kreativitas, dan inovasi, juru kisah membuktikan bahwa cerita tidak hanya hidup di buku sejarah, melainkan juga dalam hati setiap pendengarnya.
Sehingga, Menurut Kak Aam, keberadaan juru kisah merupakan bukti nyata bahwa di balik kemajuan teknologi, nilai-nilai tradisional akan terus menyinari menuju masa depan yang penuh makna.
“Kami percaya, selama masih ada yang ingin mendengar cerita, profesi ini akan tetap hidup,” kata Kak Aam.
Kak Aam menegaskan, untuk menjaga keberlangsungan profesi juru kisah, ia akan terus berusaha memperkenalkan profesi ini kepada semua kalangan di Tanjungpinang. Caranya berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain, masjid, perumahan hingga Pondok Pasantren (Ponpes).
“Kegiatan bercerita ini mendapat respon yang baik di tengah masyarakat. Anak-anak pun berekspresi menerimanya dengan senang hati,” terang lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.
Tak hanya itu, untuk memperkenalkan profesi langka ini kepada generasi muda, Kak Aam juga aktif memberi pelatihan bagi siapapun yang ingin menjadi juru kisah dan motivator dan pembawa acara.
“Kami juga menggelar kajian parenting. Memberi pelatihan berkisah di Sabarmen Training Centre Tanjungpinang. Bagi yang ingin belajar menjadi juru kisah, silahkan datang,” ajak anggota komunitas Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia ini. (*)