
batampos – Tiap kali berpapasan dengan Mohammed Sinwar, orang-orang di Jalur Gaza akan lebih pilih menunduk. Sosoknya karismatik, tapi sekaligus juga intimidatif.
Setidaknya tiga kali Israel mencoba membunuhnya. Di antaranya, lewat sniper dan mengebom rumah yang diyakini sebagai kediamannya di Khan Younis, Jalur Gaza. Tak ada satu pun yang membawa hasil.
Tetap saja rumor kematian adik pemimpin Hamas Yahya Sinwar itu berkali-kali beredar. Dan, dengan segera terbantahkan. Tak heran, aura kemisteriusan itulah yang membuatnya dijuluki ”Pria yang Bangkit dari Kematian” alias si ”Mayat Hidup”.
Si ”Pria yang Bangkit dari Kematian” inilah yang diyakini bakal meneruskan kepemimpinan Hamas setelah sang kakak, Yahya, tewas dalam kontak senjata di Rafah, Jalur Gaza, pada Kamis (17/10). ”Ketika kami mengeluarkan ancaman kepada musuh, itu benar-benar akan kami wujudkan,” kata Mohammed dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 2022.
Wawancara tersebut penampilan publiknya yang terakhir. Sebelum kemudian pada Desember tahun lalu IDF (Pasukan Pertahanan Israel) merilis video Mohammed menginspeksi terowongan yang dibangun Hamas.
Mengutip Ynetnews.com, Mohammed matang di lapangan. Lahir di Khan Younis, dia termasuk angkatan awal yang berpartisipasi dalam Intifada Pertama. Mohammed sempat ditahan sembilan bulan di penjara Israel, lalu tiga tahun di penjara Otoritas Palestina sebelum akhirnya kabur pada 2000.
Pria 49 tahun itu salah satu yang mengotaki penculikan prajurit Israel Gilad Shalit pada 2006. Dalam negosiasi pembebasan, Yahya yang tengah dipenjara di Israel termasuk tahanan yang diminta untuk dilepas.
Perang Sulit Berhenti
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan para sekutu boleh berteriak agar kematian Yahya menjadi momentum menuju gencatan senjata. Tapi, kedua pihak, Israel dan Hamas, sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda ke arah tersebut.
”Ini mungkin bukan akhir dari perang, baru awal dari sebuah akhir,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang di awal serangan ke Gaza setahun lalu berjanji menghabisi Hamas sampai ke akar-akarnya, seperti dikutip AFP.
Di sisi lain, sangat mungkin diangkatnya Mohammed sebagai pengganti Yahya menunjukkan Hamas masih akan terus melawan. Sebab, Mohammed dikenal berkarakter keras.
Tak cuma kepada lawan, tapi juga kawan yang dianggap melenceng dari garis perjuangan. Mohammed Shetawi, komandan Brigade Zeitoun, dia eksekusi pada 2016 karena dianggap melakukan pelanggaran moral.
Analis Daniel Levy juga meyakini meninggalnya Yahya tidak akan menghentikan perlawanan Palestina kepada penjajahan Israel. ”Palestina ini gerakan perlawanan yang mengakar di masyarakatnya karena mereka terjajah dan tak bisa mendapatkan hak-haknya,” kata presiden US Middle East Project itu kepada Al Jazeera. (*)

batampos– Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batam nomor urut 2, Amsakar Achmad-Li Claudia Chandra, menggelar pertemuan dengan ratusan emak-emak yang tergabung dalam Perempuan Pejuang Amsakar (PPA) di Golden Prawn pada Jumat (18/10).
“Semua yang kami sampaikan ini berangkat dari hati kami untuk masyarakat,” katanya.







