Melakukan kebaikan bukan hanya semata-mata untuk mendapat pujian, juga bukan tentang mendapat keuntungan. Tetapi rasa bahagia, karena menjadi orang yang berguna.
Masih menjadi bagian dari Kepulauan Riau, yakni di Kecamatan Bulang, Kelurahan Pulau Setokok, Kampung Melayu Setokok. Terdapat keluarga sederhana yang lahir dan besar di Setokok, memiliki rumah di atas laut, dengan pelantar yang cukup luas, sekitar 20 x 15 meter.
”Nama saya Diana, saya asli Setokok, dan berasal dari keluarga Chinese,” ucap Diana membuka perbincangan.
Ya, wanita inspiratif tersebut adalah Diana, 44, yang kerap disapa Miss Diana. Awalnya menetap di Setokok hingga kelas 6 SD, dan melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di Tanjungpinang. Kemudian kuliah mengambil D3 Bahasa Inggris di Yogyakarta.
”Alhamdulillah saya mualaf di tahun 2001, saat itu usia saya 20 tahun, dan kuliah di Yogya,” ungkap Diana.
Setelah selesai merantau, untuk menimba ilmu, Diana memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya, yaitu di Setokok. Diana mengatakan, saat itu di Setokok datang peneliti dari Singapura dan Jakarta, untuk meneliti tentang kebudayaan Melayu.
”Saat itu saya diajak kerja bareng, dan tugas saya menjadi penghubung antara kantor Singapura dengan Pemko Batam, dan otomatis saya harus bolak-balik Batam-Singapura,” terang Diana.
Tetapi hal tersebut tidak bertahan lama, hanya sekitar satu tahun, ia pulang ke Setokok. Diana mengaku ia tidak betah tinggal di Singapura, ia merindukan kehangatan masyarakat Indonesia, khususnya di tempat ia tinggal.
Setelah itu, Diana mencoba mencari pekerjaan baru di Batam, berbekal kuliah pendidikan Bahasa Inggris, Diana kerap mendapat pekerjaan di bidang mengajar, seperti kursus Bahasa Inggris, dan mengajar di sekolah. Hal itu berjalan cukup lama, hingga beberapa tahun.
”Lalu saya berhenti bekerja karena menikah, dan memutuskan untuk fokus mengurus anak,” ujar Diana.
Diana bercerita, pada tahun 2001 hingga 2002, di Setokok lautnya masih bagus, pasirnya masih putih bersih, dan tidak ada sampah plastik. Dari situ Diana mulai berpikir untuk memulai gerakan kecil, yakni membuat komunitas bernama Kawan Laut di tahun 2016, dengan mengajak belasan anak muda di Setokok. Mereka membuat bank sampah, dan mengajukan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

”Saya coba nawarin warga untuk jualan sampah, dan banyak yang tertarik,” ucapnya.
Setelah jalan kurang lebih 3 tahun, komunitas kawan laut memutuskan untuk off sementara, karena Covid-19 di tahun 2020. Kemudian November 2022, datang PT Seven Clean Seas (SCS) dari Singapura ke Setokok, mereka memiliki kantor di Bali dan Bintan. Sesuai namanya, SCS bergerak di bidang NGO, yakni menjaga kebersihan laut.
”Karena mereka dengar di Setokok ada komunitas Kawan Laut, yang juga konsen di bidang lingkungan dan pembersihan sampah laut,” jelas Diana.
Akhirnya Diana kenalan dengan SCS, dan mereka menawarkan untuk mendukung komunitas Kawan Laut. Diana kemudian merekrut warga tempatan untuk dipekerjakan menjadi kru clean up-nya, dengan jadwal seminggu sekali gotong-royong membersihkan sampah.
”Alhamdulillah sudah berjalan selama dua tahun, dan ini masuk tahun ketiga,” tuturnya.
Setelah jalan beberapa tahun, Setokok tampak jauh lebih baik, selain memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat, lingkungan juga menjadi lebih bersih. Tidak berhenti di situ, setelahnya Diana kembali membuat komunitas bernama Rumah Pelantar di tahun 2020 yang bergerak di bidang edukasi.
”Awalnya karena pelantar di rumah saya cukup besar, saya suka ajak teman-teman saya yang mau berbagi ilmu, inspirasi, ayo ke pelantar, kira-kira bisa mengajar apa, nanti saya yang bagian ngumpulin anak-anak,” terang Diana.
”Alhamdulillah sudah banyak yang datang, ada dari Jakarta, ada guru dari Singapura, guru dari Batam, dan baru saja Dompet Dhuafa mengirimkan da’i ke Setokok,” sebut Diana senang.
Jika melihat perjalanan Diana, memang sangat indah, tetapi tetap saja akan ada banyak kerikil yang ia lalui. Diana mengatakan, bahkan sampai saat ini ia masih bergerak seorang diri, ia masih sulit untuk menemukan masyarakat yang memiliki pemikiran yang sama dengannya, untuk terus memajukan kampung Setokok.
Beberapa kali Diana mulai merasa jenuh, karena melihat respons masyarakat yang tidak begitu support. Sempat terpikir di benaknya, untuk pindah saja ke Batuaji, karena tak mampu sendiri.
”Tapi ternyata Allah mendengar, setiap saya mulai merasa lelah, Allah hadirkan orang-orang baik, uluran-uluran tangan untuk membantu saya bangkit kembali,” ucap Diana terharu, di akhir perbincangan. (*)
Reporter: TIA CAHYA NURANI
Artikel Diana, Pendiri Komunitas Kawan Laut dan Rumah Pelantar di Setokok, Tak Lelah Menjaga Lingkungan dan Berbagi Ilmu untuk Warga Setokok pertama kali tampil pada News.

batampos – Bentrokan pecah antara warga Sembulang Hulu, Pulau Rempang, Batam, dengan puluhan karyawan PT Makmur Elok Graha (MEG), perusahaan pengelola Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City, pada Selasa (17/12) malam hingga Rabu (18/12) dini hari. Sekitar sepuluh orang warga luka-luka, dan belasan sepeda motor rusak.




batampos – Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, bertindak sebagai Inspektur Upacara pada Peringatan Hari Jadi Kota Batam ke-195 Tahun 2024 yang digelar dengan khidmat di Dataran Engku Puteri, Batam Centre, Rabu (18/12/2024).


TIM Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Politeknik Negeri Batam (Polibatam) menyerahkan dua unit perangkat Traffic Light Baton (TLB) kepada SDN 005 Sekupang yang diterima Kepala Sekolah SDN 005 Sekupang, Sri Ningsih, Jumat (13/12/2024).