Di tangan mereka yang tak sekadar melihat, tetapi juga merasakan, limbah bisa bertransformasi menjadi sesuatu yang berharga. Paralon bekas yang dulunya hanya seonggok pipa usang tak terpakai, bisa diolah menjadi kerajinan bernilai seni tinggi.
Lewat sentuhan kreatif dan ide-ide yang terus dieksplorasi, barang sisa itu beralih rupa, menjadi suvenir yang tak hanya memanjakan mata tetapi juga membawa pesan lingkungan.
Di sudut kkota Tanjungpinang, seorang pria bernama Azman Syah membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batas. Di Galeri Insan Mulia Handycraft, sebuah galeri kecil yang berdiri di Perumahan Griya Hang Tuah Permai, Azman menghidupkan paralon-paralon tua menjadi produk kerajinan yang penuh keindahan dan nilai ekonomi.
”Semua ini dimulai dari rasa ingin tahu. Ketika melihat video di YouTube tentang kerajinan dari paralon, saya merasa tertantang untuk mencoba,” kenangnya, matanya berkilat antusias.
Paralon-paralon yang dulunya dianggap sampah tak berguna, kini menjadi bahan baku utama bagi Azman.
Dengan tangan terampil dan tekad kuat, ia mampu menciptakan berbagai kerajinan, mulai dari tempat tisu hingga miniatur kapal Lancang Kuning yang sarat akan kearifan lokal.
Dari miniatur vespa hingga hiasan lampu, tak ada batas bagi imajinasinya. Ia bahkan pernah membuat sketsa wajah dari potongan paralon yang diproses sedemikian rupa sehingga menyerupai relief tiga dimensi.
”Semua limbah punya potensi. Yang dibutuhkan hanyalah ide kreatif dan kesabaran untuk mengolahnya,” kata Azman, dengan suara lembut yang penuh keyakinan.
Proses pembuatan kerajinan dari paralon bekas ini memang tidak mudah. Setiap langkah membutuhkan ketelitian dan waktu. Azman biasanya memulai dengan mengumpulkan paralon bekas dari sekitar, atau bahkan membelinya jika stok kurang.
Kemudian, ia menentukan desain dasar yang ingin dibuat. Sketsa-sketsa sederhana yang digoreskan di atas kertas akan menjadi panduan dalam memotong paralon.
Memotong paralon bukanlah pekerjaan yang sembarangan. Alat-alat seperti gergaji ukir dan gerinda potong digunakan untuk membentuk bahan sesuai dengan sketsa.

F. Yusnadi Nazar/Batam Pos
Setelah potongan siap, paralon dipanggang di atas api untuk melenturkannya, memungkinkan bahan itu dibentuk sesuai keinginan. Aroma bakaran plastik menguar di udara, tetapi hasil akhirnya adalah permukaan yang halus dan siap dipoles.
Sentuhan terakhir adalah lapisan cat pernis yang menambahkan kilau serta keindahan pada produk jadi.
”Proses ini bisa memakan waktu satu hingga dua hari, tergantung pada tingkat kesulitan desainnya,” ujar Azman.
Hasilnya? Sebuah karya yang tidak hanya memikat secara estetis, tetapi juga membawa cerita—cerita tentang tangan yang sabar dan jiwa yang gigih.
Azman bukan hanya pengrajin biasa. Kepiawaiannya dalam mengolah limbah telah membawa namanya berkibar di berbagai ajang kompetisi. Karyanya pernah menjuarai berbagai lomba, mulai dari Pekan Inovasi Nasional 2016 di Padang hingga Dekranasda Fest 2024. Setiap penghargaan yang diterimanya bukan hanya bukti kemampuan teknis, tetapi juga pengakuan terhadap kreativitas tanpa batas.
Selain itu, Azman juga tak segan berbagi ilmu. Di SMA Negeri 7 Tanjungpinang, ia menjadi mentor bagi siswa-siswanya, mengajarkan cara mengubah limbah menjadi kerajinan bernilai seni. Dengan penuh semangat, ia membimbing generasi muda agar bisa melihat potensi dalam setiap barang bekas yang seringkali diabaikan.
Namun, di balik keberhasilan itu, Azman masih menyimpan harapan besar. Ia berharap pemerintah dan pihak-pihak terkait dapat lebih mendukung usaha kecil seperti yang ia jalani.
Dengan dukungan yang tepat, kerajinan paralon bekas ini bisa berkembang lebih luas dan membawa dampak positif bagi perekonomian lokal. Wisatawan yang datang ke Tanjungpinang pun bisa membawa pulang produk-produk kerajinan ini sebagai oleh-oleh, sebuah simbol keindahan yang lahir dari kepedulian terhadap lingkungan.
”Jika kita bisa melihat keindahan dalam limbah, maka kita bisa menciptakan sesuatu yang jauh lebih berarti,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Di tangan Azman, paralon bekas tak lagi sekadar sampah. Ia telah berubah menjadi karya seni, menjadi bukti bahwa kreativitas adalah kunci untuk mengubah dunia, satu potong paralon bekas pada satu waktu. (*)
Reporter : YUSNADI NAZAR









