Kabupaten Bintan, adalah sebuah permata Indonesia yang terletak di persimpangan rute perdagangan internasional menghadirkan peluang unik untuk pengembangan pertanian. Lokasi strategis ini berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, telah lama menjadi pedang bermata dua Bintan. Sementara kedekatannya menawarkan peluang yang menggiurkan, dan juga menghadirkan tantangan unik dalam pengelolaan sumber daya dan pembangunan berkelanjutan. Memasukkan konsep pengembangan agromarine berkelanjutan merupakan pendekatan holistik yang menghembuskan kehidupan baru ke wilayah perbatasan ini. Pada intinya terdapat ide sederhana namun kuat yaitu memanfaatkan sinergi antara pertanian dan sumber daya laut untuk menciptakan ekonomi yang tangguh dan ramah lingkungan.
Kedekatan dengan pasar internasional ini serta pesatnya perkembangan pariwisata di wilayah ini membuka peluang menarik bagi petani di Bintan, khususnya kelompok perempuan. Bayangkan Bintan memproduksi tanaman sayuran secara berkelanjutan menghiasi meja restoran terkenal di dunia Singapura atau memasok pasar Malaysia yang ramai. Tentu akan memperkuat peran wilayah sebagai lintas perdagangan untuk berbagai negara di seluruh dunia. Petani Bintan dapat memanfaatkan rantai pasokan global, menawarkan produk unik dan ramah lingkungan mereka kepada konsumen yang sadar kesehatan di seluruh Asia dan sekitarnya. Keuntungan geografis ini tidak hanya menjanjikan pertumbuhan ekonomi tetapi juga memposisikan Bintan sebagai model pertanian berkelanjutan di daerah perbatasan.
Selain itu, penggunaan inovatif limbah rumah tangga untuk pupuk cair sangat selaras dengan meningkatnya permintaan global untuk produk organik dan berkelanjutan. Karena negara-negara tetangga dan pasar internasional semakin memprioritaskan praktik pertanian ramah lingkungan, maka petani wanita di Bintan perlu disiapkan menjadi pelopor dalam revolusi hijau ini. Keberhasilan mereka dapat mengubah Bintan dari wilayah perbatasan yang tenang menjadi mercusuar inovasi pertanian, menarik perhatian, investasi, dan berpotensi memacu inisiatif serupa di seluruh kepulauan Indonesia lebih luas.
Dalam hal ini perguruan tinggi lokal memiliki peran penting. Karena itu program studi Magister Ilmu Lingkungan UMRAH hadir ingin berkontribusi dalam pembangunan daerah terutama memanfaatkan keuntungan geografis yang unik ini dan menggabungkannya dengan praktik pertanian berkelanjutan, dan menjadikan Kabupaten Bintan berdiri di puncak kebangkitan pertanian kawasan perbatasan. Hal ini sangat beralasan, setelah tiga tahun berturut-turut dosen Magister Ilmu Lingkungan yang diketuai oleh Dr. Khodijah Ismail melakukan penelitian terkait pengembangan Agromarine kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil di Kabupaten Bintan (hibah kompetitif nasional kemendikbudristek RI tahun 2022-2024) serta kegiatan pengabdian kepada masyarakat unggulan prodi yang selalu difokuskan di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Tahun 2024 ini prodi MIL telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat unggulan prodi yang memperoleh hibah kompetitif LP2M UMRAH di Desa Kuala Sempang Kabupaten Bintan. Sasaran Mitra kegiatan ini adalah Kelompok Wanita Tani MANDIRI Kabupaten Bintan. Judul kegiatannya adalah “Peningkatan Kapasitas Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Kuala Sampang dan Produksi Tanaman Pekarangan Melalui Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari Limbah Rumah Tangga”. Kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 3 Agustus 2024 di balai pertemuan Kampung Beringin Desa Kuala Sempang Bintan. Yang hadir dalam kegiatan tersebut adalah dosen-dosen Magister Ilmu Lingkungan beserta mahasiswa Angkatan 2023/2024. Pada kesempatan tersebut Ketua Tim PKMUP MIL Dr. Khodijah Ismail juga menyerahkan bantuan alat pengolah sampah organik menjadi pupuk cair organik (POC) karya tim PKMUP UMRAH tahun 2024 kepada ketua KWT Mandiri ibu Mesra.

Kegiatan ini sangat penting bagi pengembangan kapasitas kelompok Wanita tani mengingat selama ini yang menjadi permasalahan mereka adalah sulitnya akses mendapatkan pelatihan maupun pendampingan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Alat pengolah sampah yang diberikan kepada kelompok diharapkan dapat mengatasi persoalan terbuangnya sampah hasil pertanian yang tidak terjual habis dan membusuk pada saat panen serta rendahnya harga jual. Limbah sampah pertanian yang sering ditemui adalah sejenis kacang panjang, pisang, pepaya dan sayuran lainnya. Dengan alat tersebut kelompok tani dapat mengumpulkannya ke dalam alat tersebut dan dalam waktu 7-10 hari sudah bisa menghasilkan pupuk cair organik.
Selain pemaparan materi yang disampaikan oleh ketua tim, mahasiswa juga terlibat aktif memimpin diskusi seperti cara penggunaan alat yang disampaikan oleh Rio Ardianto. Pada saat diminta menyampaikan permasalahan lain yang dihadapi oleh KWT, ketua KWT Mandiri ibu Mesra menyampaikan bahwa mereka juga membutuhkan pendampingan tulis baca karena banyak ibu-ibu yang belum bis abaca tulis. Hal ini akan menjadi rekomendasi kegiatan selanjutnya untuk peningkatan kapasitas KWT di Bintan yang bisa dikolaborasikan dengan bidang ilmu terkait di UMRAH seperti FKIP.
Solusi inovatif pupuk cair yang terbuat dari limbah rumah tangga dan limbah hasil pertanian ini bukan hanya tentang mengubah kulit pisang dan sisa sayuran menjadi pupuk cair organik tetapi yang lebih penting prodi MIL ingin berkontribusi dalam pembangunan daerah terutama terkait pemberdayaan, keberlanjutan, dan memutus siklus kemiskinan. Kegiatan ini disambut positif oleh ibu-ibu anggota KWT dan mereka berharap sekali adanya keberlanjutan dari kegiatan ini. Karena itu kolaborasi dengan pihak swasta dan pemerintah daerah tentu sangat diperlukan untuk tujuan tersebut. Kegiatan PKMUP ini diakhiri dengan foto bersama.

Oleh
Dr. Khodijah Ismail
(Peneliti Pengembangan Agromarine Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil – Koordinator Prodi Magister Ilmu Lingkungan UMRAH)


batampos – Kepala Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), Muhammad Rudi menghadiri Peresmian Gedung Ketiga PT. Volex Indonesia di Kawasan Industri Sekupang pada Minggu (4/8/2024).

batampos – Wuling Motors (Wuling) menyedot perhatian publik dengan partisipasinya dalam BNI EXPO 2024 bertajuk ‘Wonderful Journey’ yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City hingga 4 Agustus 2024. Di booth A-10, Hall 2, dengan luas 110 meter persegi, Wuling menampilkan koleksi lengkap mobil listrik Wuling EV ABC Stories serta lini produk hybrid terbarunya, menghadirkan pengalaman berkendara masa depan bagi para pengunjung.



