batampos – Para jemaah haji seluruh dunia menjalani puncak ibadah haji di Armuzna (Arafah Muzdalifah Mina), Sabtu (15/6). Sekitar 2 juta jemaah melaksanakan wukuf di Padang Arafah sejak Jumat (14/6) sore. Semua berjalan lancar.
Seperti biasa, ada tenda khusus bagi rombongan Amirul Hajj sekaligus untuk menyampaikan khotbah wukuf. Tahun ini khotbah wukuf dibawakan oleh Habib Ali Hasan Al Bahar.
Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta itu membawakan pesan mengenai pentingnya akhlak dan jati diri. Setiap jemaah dari penjuru dunia membawa akhlak dan jati diri negara masing-masing. Menurut dia, jemaah haji Indonesia juga harus bisa membawa akhlak dan jati diri selama berada di Arab Saudi.
Habib Ali Hasan lantas menyampaikan bahwa Arafah merupakan tempat untuk membuka hati. Dia mengajak semua jemaah haji untuk terus mengingat dan saling mengingatkan tentang jati diri manusia.
”Keberadaan kita dan semua kita, berbaju putih, berselimut kain ihram, pakaian kita sama, keagungan Arafah betul-betul kita rasakan,” katanya.
Dia menegaskan bahwa Arafah merupakan tempat untuk membuka mata hati. Tempat di mana setiap orang melihat diri sendiri sebagai manusia.
”Kita melihat seluruh saudara umat Islam di seluruh dunia membawa panji kehormatan bangsanya masing-masing,” tuturnya.
Menurut dia, akhlak jemaah haji Indonesia adalah gambaran Islam yang rahmatan lil alamin.
Habib Ali Hasan juga menyampaikan pada momen wukuf, Allah membanggakan ketaatan umatnya kepada para malaikat. Pada momen Arafah, Allah melapangkan pengampunannya.
”Hai malaikatku, lihatlah mereka hamba-hambaku. Dalam keadaan berdebu, dalam keadaan lusuh mereka datang,” katanya.
Sebelum pembacaan khotbah wukuf, Menteri Agama (Menag) sekaligus Amirul Hajj Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan beberapa hal. Antara lain mengenai kuota haji Indonesia yang bertambah cukup banyak tahun ini. Dari kuota dasar 221 ribu menjadi 241 ribu jemaah. Sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara pengirim jemaah haji terbesar.
”Sekaligus rekor pemberangkatan jemaah haji terbesar untuk Indonesia sendiri,” tuturnya.
Yaqut juga mengungkapkan penyelenggaraan haji terkait dengan aturan atau kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah Arab Saudi. Di antaranya, kebijakan pemberian smart card. Dia mengatakan, kebijakan Saudi itu harus dihormati dan dijalankan dengan baik.
Dia menjelaskan, kebijakan smart card itu merupakan upaya Saudi untuk memberikan pelayanan terbaik. Di antaranya, membatasi keberadaan jemaah yang tidak resmi. Keberadaan jemaah yang tidak resmi itu kerap kali mengganggu jemaah yang resmi.
Pagi sebelum pelaksanaan wukuf, Kemenag melaporkan pemberangkatan jemaah dari Makkah menuju Arafah berjalan dengan baik dan sesuai jadwal. Total 553 kloter jemaah berada di Arafah untuk melaksanakan wukuf.
Pemberangkatan jemaah menuju Arafah dimulai sejak Jumat pagi pukul 06.00 waktu setempat. ”Alhamdulillah, pagi tadi (15/6) pukul 03.00 waktu setempat jemaah haji kloter terakhir meninggalkan Makkah menuju Arafah,” kata Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag Subhan Cholid. Dia menuturkan, rombongan terakhir yang berangkat menuju Arafah adalah dari kloter 15 embarkasi Padang. Sementara itu, jemaah yang menjalani safari wukuf diberangkatkan ke Arafah pukul 11.00 waktu setempat.
Subhan mengatakan, sebelum jemaah datang ke tenda-tenda di Arafah, sejumlah petugas haji sudah bersiap di sana. Mereka memastikan seluruh pelayanan sudah siap sebelum jemaah datang. Mulai kesiapan tenda hingga penyediaan makanan atau katering.
Sementara itu, berdasarkan keterangan otoritas berwenang Arab Saudi, tahun ini diperkirakan lebih dari dua juta jemaah akan menjalankan rukun Islam kelima itu, tak terkecuali dari Indonesia.
”Sebanyak 213.275 JCH dari tanah air telah tiba di Arafah. Mereka menempati 1.169 tenda yang ditempatkan di 73 maktab. Hari ini (kemarin, red) mereka sudah melaksanakan wukuf,” ujar Kepala Satgas Arafah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Ali Machzumi.
Sesuai tahapan yang sudah ditentukan, seluruh jemaah haji melaksanakan ibadah puncak haji hingga 13 Dzulhijjah (19 Juni). Dimulai wukuf di Arafah, mabid (bermalam) di Muzdalifah, serta melaksanakan mabid di Mina dan lempar jumrah selama empat hari.
Sejauh ini, pelaksanaan lancar, sesuai persiapan yang dilakukan Kementerian Agama (Kemenag) RI. Meski sempat ada dinamika adanya ribuan jemaah yang belum memiliki kartu nusuk.
Kepala PPIH Arab Saudi Daker Makkah, Khalilurrahman, menjelaskan bahwa para jemaah yang sebelumnya belum punya kartu nusuk (smart card) yang menjadi tiket masuk ke Arafah, tetap bisa masuk menggunakan visa resmi saat menjalani pemeriksaan dari petugas mashariq (penyedia layanan haji yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi).
”Meskipun tidak punya smart card, sepanjang mereka punya visa dan resmi. pihak Masyariq menjamin tetap bisa ke Arafah,” ujarnya.
Pasca pemberlakuan kartu nusuk, skema pemberangkatan para jemaah memang lebih ketat. Saat hendak naik bus, semua jemaah menjalani scan kartu. Jika kartunya terverifikasi, jemaah boleh masuk. Setelah itu, pintu bus lantas disegel dulu sebelum berangkat.
Dinamika lain yang terjadi jelang pelaksanaan puncak haji di Arafah adalah mulai masuknya orang-orang tak dikenal ke Arafah. Tak terkecuali ke tenda-tenda milik jemaah Indonesia. Namun, semua bisa diatasi dengan baik.
Mengutip dari Asharq al-Awsat, pergerakan jamaah menuju Mina berjalan relatif lancar dengan diawasi ribuan petugas keamanan.
Pemerintah Arab Saudi menyediakan layanan komprehensif, memobilisasi semua sumber daya untuk menawarkan layanan terbaik, memastikan para jamaah dapat melakukan ibadah mereka dengan mudah dan nyaman. Termasuk kenyamanan di Masjid Al-Khaif di Mina yang dipenuhi jemaah.
Kementerian Urusan Islam Arab Saudi meluncurkan peningkatan besar-besaran pada pendingin ruangan (AC) masjid, menambahkan lebih dari 780 unit baru, dan 73 sistem pemurnian udara.
Perbaikan ini memastikan aliran udara segar yang konstan dan menjaga suhu di dalam tetap nyaman pada 20 derajat Celcius.
Masjid Al-Khaif di Mina telah lama menjadi fokus para pemimpin Muslim. Diperluas pada tahun 1987, sekarang memiliki empat menara, penerangan canggih, AC, dan karpet. Ini juga mencakup kompleks toilet dengan lebih dari seribu fasilitas.
Para jjemaah yang bepergian ke Gunung Arafah juga mendapatkan manfaat dari layanan luas yang disediakan berbagai sektor pemerintah untuk memastikan kenyamanan dan kemudahan selama perjalanan spiritual mereka.
Di Masjid Namirah di Arafah, jamaah melaksanakan salat Zuhur dan Asar secara jamak qasar, setelah mendengarkan khotbah Arafah dari Syekh Maher Al-Muaiqly, Imam Masjidil Haram.
Khotbah tersebut diterjemahkan ke dalam 20 bahasa, menunjukkan komitmen Arab Saudi terhadap kepemimpinan, toleransi, moderasi, dan perdamaian global.
Saat matahari terbenam, jamaah berangkat ke Muzdalifah, tempat mereka melaksanakan salat Maghrib dan Isya. Mereka bermalam di sana hingga Minggu subuh.
Pada Hari Raya Iduladha, para jemaah akan melempar batu ke tiang jumrah, melakukan penyembelihan kurban, mencukur kepala, lalu pergi ke Masjidil Haram untuk melakukan Tawaf al-Ifadah dan Sa’i antara Safa dan Marwah. (*)