
batampos-Legislator Komisi II DPRD Provinsi Kepri, Rudy Chua mengatakan, persoalan defisit air baku di Pulau Bintan seperti bom waktu. Karena sampai saat ini, angka defisit tersebut sudah menyentuh diatas 500 liter perdetik berdasarkan pendataan Balai Wilayah Sungai (BWS).
“Persoalan defisit air ini harus menjadi atensi oleh Pemerintah Daerah. Jangan sampai kondisinya sama seperti listrik yang berakhir dengan aksi unjuk rasa,” ujar Rudy Chua, Jumat (21/6) di Tanjungpinang.
Politisi Partai Hanura ini mengatakan, pembangunan infrastruktur Waduk Kawal sudah selesai sebelum pandemi Covid-19 lalu. Namun, terkendala pendistribusiannya, karena untuk melakukan interkoneksi ke Waduk Gesek membutuhkan pipa sepanjang 22 kilo meter (km).
BACA JUGA: Cuaca Panas, Air Baku di Waduk Sei Bati Menyusut
“Kalau Waduk Kawal terinterkoneksi bisa menyediakan 15.000 meteran baru baru untuk masyarakat Tanjungpinang. Karena kapasitas produksi bisa diangka 400 liter perdetik,” jelasnya.
Lebih lanjut katanya, defisit yang terjadi saat ini, masih tertutupi dengan banyaknya pembangunan sumur dan sumor bor. Namun baginya ini adalah persoalan serius yang harus segera ada solusinya. Maka dari itu, Kepala Daerah harus melakukan lobi-lobi sehingga penyediaan infrastruktur pipa bisa ditangani lewat APBN.
“Kebutuhan anggaran untuk infrastruktur pipa sepanjang 22 km cukup besar, karena diatas Rp150 miliar. Maka harus terus dilakukan lobi-lobi ke Pemerintah Putsa,” tegasnya.
Pembina Ikatan Muda Tionghoa (ITM) Provinsi Kepri ini juga mengatakan, berdasarkan data Perumda Tirta Kepri, layanan air bersih di Tanjungpinang masih berjumlah 17.000 rumah tangga dan kantor. Sementara itu, daftar tunggu sudah diatas 20 ribu.
Ditambahkannya, kebutuhan real penduduk Tanjungpinang saat ini seharusnya 700 liter perdetik. Namun sampai saat ini baru bisa dipenuhi berkisar 300 liter perdetik. Menurutnya, minumum harus mencapai 500 liter perdetik. Adapun sampai saat ini, sistem distribusi air masih bergilir.
“Kita butuh keandalan sumber daya air. Karena pembangunan terus berkembang. Jangan sampai Tanjungpinang dikepung sumur bor, karena sulitnya mendapatkan air,” tutupnya.(*)
Reporer: Jailani









