
batampos – Pengamat penerbangan Gerry Soejatman mengomentari pilot dan kopilot Batik Air yang tertidur dalam penerbangan dari Kendari, Sulawesi Tenggara ke Jakarta, pada 25 Januari 2024 lalu. Gerry menyatakan bahwa pilot tertidur saat fase cruising hal yang biasa.
“Pilot tidur di fase cruising itu hal biasa dilakukan, namun satu-satu bergiliran. Ini dikarenakan microsleep sangat berguna ketika sedang letih,” kata Gerry dalam cuitan pada akun media sosial X, dikutip Minggu (10/3).
“Yang masalah adalah kalau keduanya ketiduran,” sambungnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpunnya, kata Gerry, kopilot mengaku bahwa memang sedang kurang istirahat karena membantu istrinya mengasuh bayi kembar yang baru berusia satu bulan.
“Seharusnya, ketika ini terjadi, kaptennya harus menilai apakah dia sendiri cukup atau tidak istirahatnya? Jika memang kurang istirahat, maka dia atau kopilotnya, atau dua-duanya minta diganti,” ucap Gerry.
Ia menyebut, yang menjadi permasalahan yakni kondisi kerja dan kedisiplinan istirahat pilot. Menurutnya, dari segi waktu penjadwalan terbang mereka sepertinya tidak ada masalah, termasuk juga untuk kebutuhan istirahat di penerbangan dini hari.
“Butuh ditelusuri mengenai corporate attitude mengenai masalah pilot fatigue, dan ini masalah kompleks,” tegasnya.
Ia menekankan, dirinya sangat tidak setuju jika jalan keluarnya hanya memberikan sanksi kepada pilot dan manajemen maskapai. Padahal, ada resiko sistemik yang harus diselesaikan, dan justru kebijakan mudah memberikan sanksi akan menghambat perbaikan, karena masalah Pilot Fatigue harus membutuhkan analisa dan solusi kualitatif, bukan kuantitatif.
“Karena membutuhkan awareness dan kesadaran dimana butuh pilot yang fatigue diberi pengakuan dan perlindungan dari sanksi guna bisa memberikan keterangan sepenuh-penuhnya agar bisa dicarikan solusi yang sistemis,” papar Gerry.
Namun, jika memang masalah fatigue ini diakibatkan oleh kesengajaan atau keteledoran berdasarkan perilaku yang tidak bertanggung jawab oleh pilot, maka wajar bila diberikan sanksi disiplin.
“Yang patut dipertanyakan, kalau pilotnya ngaku kurang istirahat, reaksi perusahaan bagaimana? Terus, seharusnya si kapten juga sadar kalau dirinya sendiri kurang istirahat. Kalau diem saja, kopilotnya juga tidak tahu kondisi rekannya,” imbuhnya.
Sementara itu, pihak maskapai Batik Air langsung menonaktifkan pilot dan kopilot yang tertidur selama penerbangan Kendari-Jakarta. Insiden ini terjadi pada Kamis, 25 Januari 2024, karena tidak dapat dihubungi selama 28 menit.
Corporate Communications Strategic of Batik Air, Danang Mandala Prihantoro mengatakan keputusan itu merupakan bentuk keseriusan perusahaan terhadap pentingnya aspek keselamatan serta dalam rangka menjalankan investigasi yang menyeluruh.
“Pada 26 Januari 2024, Batik Air mengambil tindakan preventif dengan menonaktifkan (membebastugaskan) sementara pilot penerbangan nomor ID-6723, rute Kendari ke Jakarta yang bertugas pada 25 Januari 2024,” ucap Danang, Sabtu (9/3).
Danang menyatakan, pihaknya juga menerapkan seluruh rekomendasi keselamatan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Bahkan, Batik Air juga memperkuat program pembinaan dan meningkatkan prosedur keselamatan operasional penerbangan terhadap semua awak pesawat.
“Dengan kebijakan waktu istirahat yang memadai, Batik Air menekankan kembali pemahaman akan pentingnya memaksimalkan waktu istirahat bagi awak pesawat agar tetap dalam kondisi prima sebelum melaksanakan tugas terbang,” ucap Danang.
Menurutnya, Batik Air selalu mempertahankan standar tertinggi dalam keselamatan penerbangan. “Batik Air berkomitmen untuk selalu berkoordinasi dengan Regulator, awak pesawat dan pihak-pihak terkait lainnya dalam meningkatkan standar keselamatan penerbangan,” tegas Danang.
Sebelumnya, KNKT merilis laporan investigasi atas insiden pilot dan kopilot Batik Air yang tertidur selama penerbangan Kendari-Jakarta. Dokumen investigasi ini dirilis pada 27 Februari dan ditandatangani oleh Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono pada akhir Februari 2024. KNKT menyebutkan pada penerbangan pertama dari Bandara Soetta dijadwalkan berangkat pukul 02.55 WIB dan awak pesawat harus masuk pukul 01.25 WIB.
“Selama persiapan penerbangan, kopilot memberi tahu pilot yang bertugas bahwa dia tidak beristirahat dengan cukup,” seperti dikutip dari dokumen KNKT.
Saat penerbangan ke Kendari, kapten pilot menyarankan kopilotnya untuk tidur sejenak, karena mengeluh kurang istirahat. Kopilot sempat tidur 30 menit, penerbangan dan pendaratan di Kendari masih lancar. Ketika menunggu transit, kedua pilot sempat memakan mie instan.
Lalu kru bersiap untuk proses terbang kembali ke Jakarta, pesawat dengan nomor penerbangan BTK6723 dikomandoi kopilot yang bertugas sebagai pilot yang menerbangkan pesawat (pilot flying). Setelah lepas landas, setengah jam kemudian kapten pilot (pilot monitor) meminta izin untuk istirahat. Lalu kopilot pun mengerjakan tugas sebagai pilot monitor sekaligus pilot flying.
Komunikasi masih terjalin dengan pemandu lalu lintas udara seperti soal cuaca dan status penerbangan. Hingga pada pukul 02.11 atau sekitar 28 menit setelah transmisi dengan pilot terakhir, kapten pilot terbangun dan sadar bahwa pesawat tidak berada di jalur penerbangan yang seharusnya.
“Kapten pilot kemudian melihat kopilot tidur dan membangunkannya,” tutup laporan tersebut. (*)
Sumber: JP Group






batampos – Dikabarkan sebelumnya bahwa upaya perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas belum menemui solusi yang substansial. Di sisi lain, bantuan terus diupayakan bisa mengalir ke Gaza. Sejumlah negara berupaya membuka jalur yang lebih lebar untuk bantuan bisa masuk ke Gaza, baik melalui jalur darat maupun laut. Upaya tersebut ikut didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

