
batampos – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah mengapresiasi pemerintah atas pencapaian APBN 2023. Menurutnya, capaian APBN di tengah tantangan global yang tidak menentu, merupakan bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang unggul dan bisa bekerja keras.
“Tahun 2020 lalu kita dihajar pandemi Covid-19, namun kita bukan bangsa yang mudah menyerah. Tahun 2021 ekonomi kita bangkit, bahkan pendapatan negara melampaui target. Untuk pertama kalinya dalam 12 tahun terakhir, saat itu kita mengakhiri puasa penerimaan pajak rendah,” kata Said dalam keterangannya, Minggu (31/12).
Menurutnya, APBN 2023 tetap sehat meski situasi global tengah dirundung perang di berbagai kawasan yang membuat harga komoditas bergejolak, bahkan terjadi disrupsi pangan dan energi. Namun, target asumsi ekonomi makro tetap bisa dicapai.
“Kita masih bisa mempertahankan prestasi pencapaian pendapatan negara,” tegas Said.
Ia mengutarakan, selama tiga tahun berturut-turut sejak pandemi, pendapatan negara tembus di atas 100 persen. Bahkan, belanja negara terkelola dengan baik, serta realisasi defisit APBN juga lebih rendah dari target.
“Pencapaian ini makin meyakinkan saya, bahwa sesungguhnya kita adalah bangsa yang unggul, dan bisa bekerja keras. Apa yang kita capai dalam tiga tahun terakhir ini melampaui negara negara maju,” ucap Said.
Menurutnya, pada 2023 harga komoditas ekspor Indonesia tidak setinggi pada 2022 lalu. Namun, Indonesia masih berhasil surplus neraca perdagangan selama 44 bulan terakhir.
“Kita juga menjalankan reformasi struktural pada sektor perpajakan, kita sahkan Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan. Situasi inilah yang membuat pendapatan negara 2023 mengulang kisah sukses sejak 2021 lalu,” papar Said.
Ketua DPP PDI Perjuangan itu menyebut, dalam menghadapi situasi ekonomi dan keuangan global yang tidak menentu, Badan Anggaran DPR dan pemerintah sepakat, melalui APBN 2023, dan 2024 memberikan perlindungan maksimal bagi keluarga miskin.
“Kita posisikan APBN sebagai shock absorber, berperan penahan guncangan.
Itu sebabnya anggaran perlindungan sosial kita tebalkan pada tahun 2023 dan 2024. Oleh karena itu kebijakan ini jangan disalah gunakan sebagai kebijakan sinterklas pada masa pemilu,” ujar Said.
Ia mengungkapkan, penebalan anggaran perlindungan sosial (perlinsos) karena negata telah berhasil menjaga daya beli rumah tangga. Padahal, Indonesia pengaruh inflasi terhadap tingkat kemiskinan sangat besar.
“Oleh sebab itu, inflasi yang menjadi momok di banyak negara selama dua tahun terakhir mampu kita kendalikan cukup baik. Tren angka inflasi sepanjang 2023 terus turun, dari awal tahun inflasi mencapai 5,2 persen menjadi 2,9 persen pada Desember 2023,” tegasnya.
Meski Pemilu 2024 membuat dinamika baru di tengah situasi nasional, namun komitmen Badan Anggaran DPR tetap kukuh dan solid dalam mengawal seluruh kebijakan fiskal, dan target asumsi ekonomi makro, pendapatan serta belanja negara di 2023 dan 2024.
“Kami berpandangan, pemerintah adalah kawan strategis, kewajibannya tegak lurus pada pencapaian APBN sehat, memberikan manfaat bagi perbaikan kesejahteraan rakyat. Kewajiban kami meletakkan kamera panoptikon atas pelaksanaan APBN. Sepemahaman kami, komitmen itu sama-sama kami buktikan selama ini,” pungkasnya.(*)
Reporter: JP Group









