
batampos – ”Memotong bantuan bagi 2 juta orang di Gaza adalah hukuman kolektif.” Pernyataan itu dikeluarkan oleh Ketua Badan Pengungsi PBB untuk Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini. Sikap itu muncul setelah Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya memutuskan untuk meng-hentikan bantuan ke lembaga yang dipimpinnya.
Manuver AS tersebut dilakukan pasca muncul tudingan Israel. Zionos menyebut ada staf UNRWA yang ikut membantu serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober lalu.
Sekjen PBB Antonio Guterres kemarin (28/1) menyatakan bahwa jika tudingan itu benar, maka dia akan meminta pertanggungjawaban pada setiap staf yang terlibat. ”Setiap pegawai PBB yang terlibat dalam aksi teror akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk melalui tuntutan pidana,” ujar Guterres seperti dikutip The Guardian.
Guterres memberikan rincian tentang anggota staf UNRWA yang diduga terlibat. Dari 12 orang yang dituduh, 9 telah diberhentikan, 1 tewas dan 2 orang lainnya sedang diklarifikasi.
Awalnya hanya AS, Australia dan Kanada saja yang menghentikan bantuan untuk UNWRA. Lalu pada Sabtu (17/1) Inggris, Jerman, Italia, Belanda, Swiss dan Finlandia menyusul. Guterres meminta agar pemerintah yang menghentikan kontribusinya setidaknya menjamin kelangsungan operasi UNRWA saat ini.
Baca Juga: Bayi Terlahir dengan 6 Jari
”Puluhan ribu pria dan wanita yang bekerja untuk UNRWA, banyak di antaranya berada dalam situasi paling berbahaya bagi pekerja kemanusiaan, mereka tidak boleh dihukum. Kebutuhan mendesak dari masyarakat yang putus asa yang mereka layani juga harus dipenuhi,” ujarnya.
Lazzarini di lain pihak menegaskan bahwa memberikan sanksi pada sebuah badan PBB hanya karena tuduhan kriminal terhadap beberapa individu adalah hal yang tidak bertanggung jawab. Utamanya di saat perang, pengungsian dan krisis politik terjadi di Palestina.
”Kehidupan masyarakat di Gaza bergantung pada dukungan ini dan begitu pula stabilitas regional,” tegasnya.
Sementara itu, sekitar 20 ribu penduduk Spanyol turun ke jalan di Madrid pada Sabtu (27/1). Mereka memberikan dukungan pada warga Palestina. Aksi ini dilakukan sehari setelah Mahkamah Internasional (ICJ) mengatakan Israel harus mencegah tindakan genosida dalam perangnya dengan Hamas.
Pemerintah Spanyol telah menjadi salah satu pihak yang paling kritis di Eropa atas serangan Israel terhadap Hamas. Spanyol menjadi salah satu negara yang menyambut baik keputusan ICJ. ”Mereka dalam kondisi tanpa air, tanpa makanan, tanpa apa pun, selama hampir 110 hari. Anak-anak sekarat dan hidup dalam situasi yang sa-ngat sulit,” ujar salah satu demonstran Lobna Elnakhala tentang situasi di Gaza.
Baca Juga: Ini Besaran Gaji dan Rincian Tugas KPPS di Pemilu 2024
Terpisah, para pejabat keturunan Arab di negara bagian Michigan, AS menegaskan tidak akan membahas pemilu 2024 jika masih terjadi genosida di Gaza. Banyak pejabat Arab-Amerika terpilih seperti wali kota dan legislator negara bagian menolak bertemu dengan Julie Chavez Rodriguez, manajer kampanye Presiden AS Joe Biden.
”Sungguh tidak terduga saat ini kita mencoba membicarakan politik elektoral dengan genosida yang sedang terjadi,” ujar Wali Kota Dearborn, Abdullah Hammoud. Dearborn adalah rumah bagi komunitas besar Palestina, Lebanon, Yaman, dan Iraq. Ia dikenal sebagai ibu kota Arab Amerika. Empat wilayah itu sedang diserang oleh AS maupun Israel. (sha/bay)
Sumber: JP Group








