
batampos – Banyak yang bertanya hasil laut apa yang istimewa di daerah Kepulauan Riau (Kepri), sehingga bisa menjadi pendorong tumbuhnya ekonomi di daerah perbatasan Indonesia ini?
Satu diantaranya adalah gonggong atau yang dikenal dengan nama latin strombus canurium (ganus). Boga bahari ini, menjadi menu andalan bagi setiap rumah makan laut atau restauran seafood di wilayah ini.
“Seperti sayur tanpa garam, akan terasa hambar. Begitu juga rumah makan seafood tanpa gonggong, terasa tidak istimewa,” ujar Adelia, pemilik Rumah Makan Mama Adel yang berlokasi di Jembatan III Dompak, Tanjungpinang, Sabtu (9/12/2023).
Sembari melayani tamu yang datang, perempuan yang akrab disapa Mama Adel ini mengatakan, kebanyakan pelanggan yang datang ke rumah makannya ini, selalu konfirmasi lewat sambungan telpon.
“Sebelum mereka datang, selalu bertanya apakah gonggong tersedia. Ini menunjukan bahwa makan laut ini menjadi ikon kuliner di Provinsi Kepri,” jelasnya.
Diceritakannya, rumah makannya ini memang tidak melakukan budidaya gonggong. Namun makan laut lezat yang biasanya disantap dengan campuran cabai, terasi, dan asam jawa ini bisa didapat dari nelayan yang mencari gonggong.
“Untuk satu kilo gram gonggong dari nelayan dibeli seharga Rp15 ribu. Daya tahan gonggong ini juga cukup lama, asalkan selalu berada di dasar sungai atau laut,” ungkapnya.
Rumah makan yang berada di pesisir pantai Jembatan III Dompak, Tanjungpinang ini menyimpan gonggong dalam satu keramba yang selalu terendam air laut.
“Selain direbus dan dijamah bersama sambal belacan (terasi,red) , gonggong bisa juga ditumis dengan bumbu pedas,” ucapnya.
Hal senada juga diutarakan Umi Laila, pemilik Rumah Makan Seafood Umi yang berlokasi di Jembatan II Dompak, Tanjungpinang atau di depan Pelabuhan Roro Dompak.
“Alam di Pulau Bintan telah memberikan makanan lezat berupa siput gonggong. Makan laut ini, tentunya satu keistimewaan bagi kami bergerak di bidang rumah makan,” ujar Umi.
Rumah makan ini, menawarkan satu porsi gonggong dengan harga Rp60 ribu. Adapun gonggong yang djual di sini selain direbus juga bisa dimasak sambal cabai ijo,dan goreng tepung.
“Alhamdulillah, banyak tamu-tamu yang datang ke Tanjungpinang menyinggahi Rumah Makan Seafood Umi. Tentu ini akan memberikan dapak positif bagi usaha kami. Dalam satu hari terkadang bisa diatas 10 kg gonggong,” jelasnya.
Tingginya peminat gonggong, secara tidak langsung telah memberikan dorongan tumbuhnya ekonomi Provinsi Kepri. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri, Darwis Sitorus mengakui sektor rumah makan ada kontribusinya.
“Ekonomi Provinsi Kepri pada triwulan III-2023 (y-on-y) tumbuh sebesar 4,88 persen. Kondisi ini didorong oleh beberapa sektor,” ujar Darwis Sitorus.
Meskipun tidak secara rinci menjelaskan, menurut Darwis rumah makan masuk dalam kategori yang turut andil dalam mendorong pertemuan ekonomi Provinsi Kepri.
“Rumah makan masuk pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum. Andil pertumbuhannya adalah 0,25 persen,” jelasnya.
Gonggong Berikan Efek Ganda Bagi UMKM
Penjabat Walikota Tanjungpinang, Hasan mengatakan, siput gonggong telah menjadi ikonnya Provinsi Kepri. Apalagi juga sudah berdiri Gedung Gonggong di Kota Tanjungpinang.
“Semakin berkembangnya rumah makan seafood atau makan laut, tentu akan memberikan dampak bagi peningkatan ekonomi daerah,” ujar Hasan, Jumat (8/12/2023) lalu.
Pria yang juga Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Kepri ini menegaskan, rumah makan seafood telah memberikan banyak kontribusi bagi kepentingan daerah.
“Mereka juga turut menekan angka pengangguran terbuka di daerah. Kontribusi lainnya adalah dari penerimaan pajak,” jelasnya.
Baginya, keberadaan gonggong di alam Provinsi Kepri ini adalah satu keberkahan. Meskipun terus dikonsumsi, namun populasinya tetap terus terjaga.
“Gonggong bukan saja dijadikan sebagai santapan makan besar. Namun juga telah dikemas menjadi keripik gonggong dan lainnya. Gonggong juga sudah menjadi brand batiknya Tanjungpinang, yakni Batik Gonggong,” tutup Hasan.
Bukan hanya isi siput gonggong ini yang bisa dinikmati kelezatannya. Namun cangkangnya yang unik juga bisa disulap menjadi kerajinan tangan yang bernilai jual.
Hal tersebut dilakukan Irwansyah, 35, yang membuka galeri Gonggong Emas Handycraft di Jalan Bhayangkara, Gang Rokan, Tanjungpinang.
Dengan ketekunan dan keuletannya, limbah buangan diubah menjadi produk kerajinan seperti tepak sirih, tempat tisu, jam dinding, asbak, miniatur plakat, gantungan kunci dan hiasan dinding dan masih banyak lagi.
Hanya bermodal kulit gonggong, kerang, pasir pantai, lem, triplek bekas, bahan pewarna, cat pernis dan alat pemotong seperti gerinda potong dan gergaji ukir, semua limbah diolah menjadi kerajinan yang mampu bersaing dan menjadi karya seni bernilai jual tinggi.
Proses pembuatan kerajinan tangan berbahan dasar limbah ini tidaklah sulit, tapi membutuhkan ketekunan dan kreatifitas untuk menciptakan suatu produk kerajinan.
“Membuatnya tidak sulit, tapi butuh ide kreatif dan pemikiran yang matang,” katanya.
Untuk harganya, Irwan mengatakan kerajinan tangan buatannya sangat terjangkau. Mulai dari harga Rp4.000 hingga Rp500 ribu untuk setiap produk kerajinan.
“Tidak begitu mahal, sesuailah dengan bentuk dan motifnya,” ucapnya.
Irwan mengatakan banyak potensi yang dapat digali di Tanjungpinang untuk berkarya dan menjadi suatu keharusan untuk membangun Tanjungpinang dari sektor ekonomi.
“Gonggong telah memberikan efek ganda pastinya. Bukan hanya dagingnya bisa kita nikmati, tetapi cangkangnya juga bisa kita olah,” tutupnya.
Tantangannya, Belum Ada Budidaya Secara Masif
Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) Tanjungpinang memberikan atensi terkait keberadaan gonggong di Provinsi Kepri ini. Lantaran belum adanya upaya budidaya secara masif.
“Sampai sejauh ini, kita masih bergantung dengan kebaikan alam yang selalu menyediakan gonggong yang lezat dan penuh gizi,” ujar Akademisi Umrah dari Fakultas Kelautan dan Perikanan, Adiyta Hikmat Nugraha, Minggu (10/12/2023) di Tanjungpinang.
Diakuinya, dari sekian banyak makanan laut atau boga bahari yang ada di wilayah ini, gonggong menjadi satu nama yang diklaim sebagai magnet wisata kuliner di Provinsi Kepri.
“Setidaknya ada empat jenis gonggong, yaitu gonggong ayam berukuran kecil dan berwarna hitam, gonggong cangkang tipis berwarna putih,” jelasnya.
Jenis lainnya adalah gonggong bercangkang tebal warna putih, dan gonggong merah bercangkang tebal. Semuanya dapat dimakan. Disebutkan, gonggong ini mengandung gizi tinggi, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak.
“Daerah-daerah penghasil gonggong di Provinsi Kepri diantaranya adalah Bintan, Tanjungpinang, Lingga dan Anambas,” paparnya.
Ditambahkannya, tantangan saat ini adalah bagaimana gonggong ini bisa dilakukan budidaya secara masif. Baginya, ini perlu campur tangan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Persoalan kita saat ini adalah, gonggong belum berhasil dibudidaya secara masif. Sementara makan ini sudah menjadi brandnya wisata kuliner di Provinsi Kepri,” tutup Wakil Dekan I Fakultas Kelautan dan Perikanan Umrah ini. (*)
Reporter: JAILANI









